Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 30


__ADS_3

Setelah satu jam, mereka berangkat ke hotel dekat sini untuk bertemu dengan Daniel di kafe dekat hotelnya.


Setelah lewat lima menit, Diana masih belum melihat Daniel.


Fred duduk di sofa dengan muka tenang, sama sekali tidak ada ekspresi terburu-buru.


Diana sedang memikirkan, apakah harus menelepon Daniel lagi?


Saat sedang berpikir, tiba-tiba handphonenya berdering. Ia langsung melihat handphonenya dan ternyata Daniel yang menelepon.


"Sekretaris Diana, mohon maaf nih, ada sedikit perubahan rencana. Sekarang aku harus menemani bos untuk menghadiri suatu acara dan sedang terburu-buru. Sepertinya tidak bisa ketemuan."


Diana mengerutkan dahinya. "Pak Daniel, kita kan sudah janji. Aku dan Pak Fred sudah berada di lantai satu hotelmu."


Daniel merasa sedikit tidak enak. "Sekretaris Diana, begini saja. Saya lewat sama sekalian menjelaskan ke Pak Fred."


Ketika baru mau bicara, Diana melihat pria berusia sekitar 40-an dengan seorang asing berjalan ke arahnya. Tangannya sedang memegang handphone.


Diana menatapnya dan langsung tahu bahwa dia pasti adalah Daniel.


Daniel juga mengenalinya. Dia melambaikan telepon yang digenggamnya, setelah itu dia menutup teleponnya. Dengan segera, dia mengatur orang asing itu untuk duduk sebentar, lalu melangkah menuju ke arah mereka.


Setelah dia datang, Diana sudah menjelaskan situasinya ke Fred.


Daniel dengan ekspresi tersenyum langsung menyapa Fred, "Pak Fred, apa kabarmu? Saya adalah orang yang bertanggung jawab atas proyek Fiesta. Daniel, terakhir kali ketemu dengan Pak Kusuma. Sekarang bertemu dengan Anda, ternyata berbeda."


Fred dengan segera berdiri dan memberikan salam. "Pak Daniel, apa kabarmu? Merupakan kebanggaan bagi saya Anda dapat meluangkan sedikit waktu untuk bertemu dengan saya."


Daniel menghela nafas. "Pak Fred, sungguh sangat maaf sekali. Sekretaris Diana sudah menelepon aku berkali-kali untuk memastikan ketemuan, tapi aku tidak tahu bahwa bos besar hari ini tiba-tiba datang dan aku harus menemaninya ke sebuah acara. Sepertinya hari ini sudah tidak bisa lanjut ngobrol lagi."


Diana melihat ke arah orang asing yang duduk tidak jauh darinya. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia pernah melihat sejarah data proyek Fiesta. Sejak awal, founder dari proyek Fiesta adalah orang asing. Apakah orang itu?


"Pak Daniel, Pratama Jaya Group kami dan proyek Fiesta sudah berunding beberapa kali. Kamu pasti sudah memahami. Kami kesini juga tidak berencana mengganggu Anda. Kalau boleh, berikan kami kesempatan selama 15 menit. Kalau tidak bisa, kami juga tidak akan mengganggu lagi."

__ADS_1


Fred berbicara dengan sangat sopan walaupun dengan Daniel. Daniel juga tidak bisa segera menolaknya. Dia melihat Fred lalu berbalik ke arah orang asing itu. Sekarang sedikit ragu. "Ini... bos kami masih menungguku, sepertinya..."


Diana melihat bahwa dia mau menolak lagi. Dengan segera berkata, "Pak Daniel, Anda takut mengganggu waktu bos Anda? Aku mengerti. Kalau tidak, tolong beri kami kesempatan. Biar kami meminta kesempatan ke bos Anda. Jika dia setuju memberikan 15 menit, kita bisa melanjutkan obrolan. Jika tidak bisa, kami juga tidak akan mempersulit Anda. Bagaimana menurut Anda?"


Ucapan dari Diana dengan segera menutup mulut Daniel yang mau menolak mereka. Lalu dia melihat ke arah Diana dan Fred. "Baiklah, bos kami orang Italia dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Aku coba tanyakan dulu ke dia. Kalau dia ingin memberikan waktu ke kita, aku akan ngobrol sebentar dengan kalian."


Diana tersenyum lalu berkata, "Pak Daniel, aku mengerti sedikit bahasa Italia. Kalau tidak, biar saya saja yang bicara langsung dengan beliau? Biar lebih tulus bukan?"


Daniel ragu sejenak, kemudian segera mengangguk. "Baiklah."


Diana tersenyum, kemudian langsung berjalan ke arah orang asing itu. Daniel sepertinya sedikit khawatir. Dengan segera dia mengikuti langkahnya.


Fred melihat kepercayaan diri Diana dan pikirannya pun melayang. Gerak-gerik wanita itu di luar perkiraannya, nada tegas dan sikap percaya diri. Fred juga ikut melangkah ke depan. Saat mendekat, dia melihat Diana dengan bahasa Italia yang lancar sedang mengobrol dengan orang asing itu.


Dia dulu tahu kalau Diana kuliah jurusan bahasa. Fokus utamanya adalah bahasa Perancis, tapi dia tidak menyangka kalau Diana bisa bahasa Italia.


Diana tadi di depan Daniel merendahkan diri, kalau dia cuma bisa sedikit bahasa Italia. Tapi dilihat dari bahasa dan suaranya, dia terlihat tidak hanya mengerti sedikit, tapi bisa dibilang sangat mengerti.


Diana sudah mengobrol dengan orang asing itu dan saling berjabat tangan. Chirst menatap dia dengan mata bersinar sambil berkata, "Nona Diana, sangat senang bertemu dengan Anda. Saya sudah lama tidak mendengar bahasa Italia. Dan juga bahasa Italia kamu mempunyai sedikit nada dari daerah asal saya, Napoli."


Kebetulan sekali karena Diana bisa bahasa Italia, membuat dia akrab dengan pria yang jauh dari kampung halamannya ini. Dan juga karena ada logat Napoli membuat mereka semakin akrab.


Diana selain basa-basi dengan Chirst, dia juga tidak lupa dengan urusan resminya. Dia menjelaskan maksud kedatangannya kepada Chirst dan juga memperkenalkan Fred yang berdiri di sampingnya.


Chirst melihat ke arah Fred, menyapa dengan bahasa Inggris yang ramah. "Hello, Mr. Fred. Aku adalah Chirst, pemilik dari proyek Fiesta. Saya dengar dari Nona Diana kalau Anda tertarik sama salah satu tanah kami. Kalau ada kesempatan, kita bisa membicarakannya secara langsung."


Tatapan Fred sedikit ragu. Dia tidak kepikiran bahwa Diana hanya mengobrol beberapa kata dengannya dan orang ini langsung mau membahas proyek ini dengannya.


Fred dengan muka santai dan sopan dia menyapa Chirst dan segera dengan singkat menjelaskan niatnya.


Chirst sama sekali tidak seperti Daniel yang begitu terburu-buru. Justru dia malah mempersilahkan Fred duduk untuk mengobrol.


Daniel, yang berada di samping, merasa agak aneh ketika Chirst langsung menahan dia sambil mengingatkan, "Boss, kita masih ada satu acara yang harus dihadiri. Kalau tidak segera berangkat, kita tidak akan keburu."

__ADS_1


Chirst dengan santai melambaikan tangan, "Acara itu tidak begitu penting."


Daniel tidak tahu harus berkata apa selain menunggu di samping mereka. Fred dan Chirst mengobrol selama 20 menit sebelum akhirnya selesai. Fred berdiri, berjabat tangan dengan Chirst dan Diana, dan semua orang saling berpamitan di depan pintu.


Setelah mobilnya pergi, Diana merasa lega. Percakapannya malam itu lebih baik dari yang ia bayangkan. "Saya tidak tahu kalau kamu bisa berbicara bahasa Italia dengan lancar," kata Fred dengan sangat tertarik.


"Aku lumayan tertarik dengan bahasa Italia. Dulu pernah pergi ke Italia dan sangat menyukai negara itu. Setelah pulang dari sana, aku langsung mencari guru untuk mengajari bahasa itu," jawab Diana.


Fred tersenyum dan sekarang lebih santai dibandingkan sebelumnya. Dia berkata sambil berjalan, "Kerjamu tadi bagus."


Pujian itu jarang diberikan, sehingga Diana tidak langsung menjawab. Fred berkata lagi, "Butuh apa? Hadiah?"


Diana mengikuti Fred keluar dari kafe sambil tersenyum. Dalam keadaannya saat ini, satu-satunya yang ia inginkan adalah orangtuanya sehat. Tidak ada permintaan lain.


Mereka berjalan keluar bersama-sama. Fred berhenti dan menunggu jawaban dari Diana. Diana menoleh, melihat Fred dalam keadaan baik, ia ragu sejenak, kemudian menjawab, "Kalau tidak, traktir aku minum saja?"


Malam di Kota B berbeda dari Kota H. Udara dingin membuat orang ingin sedikit mabuk. Fred tertawa dan menjawab, "Minum tidak masalah. Tapi kalau sudah mabuk nanti, jangan berharap aku akan membawamu pulang."


Mereka kemudian bersama-sama pergi ke bar yang berada di lantai bawah tanah setelah makan ringan di restoran. Bar ini nyaman, dan setelah memilih tempat di pojokan, Diana memesan whisky dan Fred sedikit ragu. Namun, ia semakin penasaran dan ingin melihat seberapa mahir Diana dalam minum.


Diana membuka jaketnya dan kemejanya yang berbentuk V menampakkan kecantikan tubuhnya. Setelah whisky-nya datang, Diana langsung meminumnya. Dari sudut pandang Fred, ia melihat hidung mancung Diana. Sebelum ia dapat berpikir, Diana menoleh ke arahnya, dan mata mereka saling bertatapan. Diana memegang erat gelas di tangannya sambil bercanda dan berkata, "Fred, kalau kita tidak mendapatkan proyek Fiesta, bagaimana pulang ke kantor?"


Fred membalas, "Siapa bilang kita tidak bisa?"


Diana meneguk whisky-nya lalu berkata, "Aku hanya bilang kalau tidak bisa. Sebab, orang pasti akan melakukan kesalahan, bukan?"


Sebelumnya, Pratama Jaya Group adalah sebuah pejuang yang selalu menang, tetapi setelah Diana bergabung menjadi pegawai di perusahaan itu, ia menyadari bahwa hal itu tidak berlaku selamanya. Mereka juga bisa melakukan kesalahan, dan menghadapi suatu masalah yang kompleks, seperti proyek Fiesta ini. Beberapa orang di kantor itu tidak bisa menyelesaikannya.


Fred berkata sambil minum, "Berbuat salah tidak apa-apa. Yang penting adalah belajar dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya. Tidak mendapatkan satu proyek kecil tidaklah berarti, tapi ada beberapa tindakan yang fatal, satu kali saja melakukan, maka sudah tidak bisa diselamatkan lagi."


Diana mulai merasa gelisah setelah mendengar kata-kata Fred. Tanpa sengaja, ia teringat pada ayahnya dan kesalahan fatal yang telah dilakukannya. Pilihan yang telah diambilnya tidak bisa dikembalikan lagi.


Sambil berfikir, Diana menghabiskan minumannya dan memesan satu lagi. Fred bisa merasakan isi hati Diana dan berkata, "Minum tidak bisa menyelesaikan masalah."

__ADS_1


Setelah menghabiskan segelas lagi, perut Diana mulai terasa panas. Dalam sekejap, ia merasa pikirannya kosong. "Kalau terus-menerus sadar, pasti akan sangat letih. Kadang-kadang kita harus sedikit bersantai, kan?" Lalu Diana menatap Fred dan tertawa ringan. "Fred, kamu itu terlalu sadar akan hidup..."


Fred melihat Diana yang menggenggam gelasnya, merasa ia tidak terlalu mahir dalam masalah minum. Meskipun baru dua gelas, ia telah mengobrol tanpa batasan. Setelah minum, muka Diana memerah, merasa kepalanya sedikit berat. Namun, ia merasa lebih santai daripada sebelumnya.


__ADS_2