Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 41


__ADS_3

Diana berenang terburu-buru, dan langsung menabrak dada orang itu, di waktu yang bersamaan, kakinya mulai terasa kram dan sangat sakit.


Badannya dengan cepat tenggelam ke bawah, kepalanya mulai tidak terlihat, air pun menutupi pandangannya.


Tangannya memukul sembarangan ke segala arah, dan dia menarik tubuh orang disampingnya, "To.. tolong"


Satu tangan yang bertenaga langsung menarik lengannya, dengan sekuat tenaga menariknya keluar dari air.


Diana segera mencoba bernafas kembali, dan mulai sadar, dia membasuh mukanya, saat matanya terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan sebuah tatapan yang begitu berbinar.


Diana langsung badannya langsung kaku, melihat Fred yang mukanya datar, dia tiba-tiba terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


Kok bisa ada dia?


Fred dengan tatapan dingin melihatnya, sepertinya ingin berbicara sesuatu, tetapi dia mengerutkan alisnya, dan mengurungkan niatnya.


"Kakiku kram" Diana berusaha menjelaskannya, kedua tangannya masih memegang bahunya Fred. Dengan gaya yang sedikit mesra menempel ditubuhnya, tapi sekarang dia juga tidak bisa melepaskannya, kalau dia melepaskann nya, kakinya masih kaku dan dia juga pastinya akan tenggelam lagi.


Wanita ini sekarang seperti koala yang menempel ditubuhnya. Kulitnya yang putih terlapisi Kilauan air, sangat menyeliaukan, baju renang model bikini berwarna emas muda itu membuat kulitnya semakin enak dipandang. Membuat orang susah mengalihkan pandangannya. Fred mengerutkan alisnya, dia hanya merasa bagian tubuh yang ditempel olehnya mulai terasa panas dan bergairah.


Muka Diana juga memerah, dua tangan kecilnya masih di bahu pria itu, bagian tubuh atas pria itu begitu kekar, bahunya sangat bidang.


Diana kesusahan untuk memegangnya, dan tidak boleh juga melepaskannnya. Sekarang dia berada di posisi yang sulit, tetapi dia melihat tatapan Fred yang aneh dan mukanya semakin memerah.


Diana menundukkan kepalanya sambil berkata, "kamu boleh tidak menarik aku ke atas".


Fred tidak berkata apa-apa, dia hanya mengulurkan tangannya dan memegang pinggang Diana, sambil berenang dia menariknya ke arah pinggir kolam.


Setelah Diana berada di pinggir kolam, tangannya memegang pinggiran kolam, barulah dia bisa menghela nafas panjangnya.


Diana mengira hanya karena dia belum cukup pemanasan diawal, tapi ternyata kakinya Beneran kram, dan yang lebih tidak disangka lagi, dia bertemu Fred disini.


Setelah naik ke atas, Diana dengan kaki yang sedikit pincang duduk di kursi, di samping kolam renang, kemudian mencoba mengurut kakinya yang kram.


Fred yang duduk disamping langsung melemparkan handuk kering ke arahnya.

__ADS_1


Diana menangkapnya dan melap tubuhnya, lalu ketika dia ingin berterima kasih ke Fred dan mengangkat kepalanya, dia melihat Fred berdiri disampingnya dengan mata dingin menatapnya.


"Kenapa?" Tatapannya membuat Diana sedikit tidak enak.


Fred berjalan ke depan, dari atas melihat ke Diana, lalu berkata dengan nada dingin, "Diana, kamu sengaja ya? Aku sudah sering melihat trik seperti ini".


Ekspresi Diana berubah, dia melihat Fred dan tidak bisa berbicara apa-apa.


Untuk apa dia pura-pura kram? Biar bisa ditolong olehnya? Memangnya Diana semurahan itu?.


Ekspresi Diana menjadi dingin, kemudian dia meletakkan handuk disamping kursinya, dan menatap ke arah Fred, "Pak Fred, aku tidak sebodoh itu untuk bercanda dengan nyawa aku sendiri".


Setelah selesai ngomong, tidak menunggu Fred menjawab, Diana langsung berjalan ke ruang ganti baju.


Diana hanya ingin santai berenang saja, siapa yang tau kalau kakinya bakal kram? Kenapa Fred menganggap dia sengaja melakukan kejadian seperti ini?.


Diana mengigit bibir bawahnya, di hatinya muncul sedikit rasa sedih. Dia pun mempercepat langkahnya.


Fred berdiri di tempat, melihat punggung wanita itu yang semakin jauh dan dia mengerutkan alisnya.


Dan dia pun otomatis menganggap kalau Diana tadi sengaja melakukan hal itu. Sengaja bertemu di kolam renang dan berpura-pura kram, supaya bisa mendekatinya.


Namun ketika melihat reaksi Diana, kali ini sepertinya dia yang terlalu banyak berpikir.


....


Kessokan harinya, setelah Diana bangun, dia segera pergi mandi dan setelah beberes, dia pun menunggu perintah dari Fred.


Kemarin Fred sudah bilang, kalau hari ini anaknya Handoko, Linda akan datang. Jadi Diana tetap harus menjadi sekretaris Fred dengan baik.


Kemarin dia Berpisah dengan fred di kolam renang, setelah kembali ke kamar, dia sangat susah untuk tidur. Di hatinya masih saja mengingat apa yang dikatakan oleh Fred, walaupun sudah tidur, sewaktu bangun tadi masih saja hatinya tertekan dan emosi masih menyelimuti dirinya.


Setelah semuanya hampir selesai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Halo, room service, mau antar sarapan".

__ADS_1


Diana membuka pintunya, melihat pelayan itu mendorong trolinya, dia bingung.


Dengan bingung Diana melihat ke arah pelayan, "saya tidak memesan sarapan".


"Bapak yang di sebelah yang memesan, silahkan dinikmati". Pelayan itu tersenyum, kemudian dengan cepat berjalan keluar kamar.


Diana melihat sarapan yang enak itu, jangan-jangan karena kata-kata semalam, Fred merasa bersalah? Makanya sekarang dia memesankan sarapan untuknya. Tapi mana mungkin dia di beli hanya dengan sebuah sarapan?.


Selang tidak lama kemudian, Diana menerima pesan


"Selesai sarapan, jam 9 kita berangkat".


Diana melihat jam, masih ada setengah jam, harusnya cukup untuk dia sarapan.


Diana menyelesaikan sarapannya, dan menunggu sampai detik terakhir baru berjalan keluar. Dia mendorong pintu kamar dan melihat Fred yang berdiri didepan pintu.


Mukanya santai, dia melihat ke Diana, dan tidak berbicara apa-apa.


Diana mengerti, Fred adalah orang yang sangat tepat waktu, dia tidak pernah telat, dan dia selalu datang lebih awal 5 sampai 10 menit setiap janjian.


Setiap kali keluar, Diana selalu mengikuti waktunya Fred, dan juga selalu siap lebih awal untuk menunggunya, tapi kali ini dia sengaja untuk keluar pas-pasan dengan waktunya.


Karena ucapan Fred semalam, Seperti sebuah jarum yang menusuk ke dadanya. Dalam waktu singkat tidak bisa hilang sakitnya.


Mereka berdua saling bertatapan, ketika tatapannya bertemu, mereka langsung mengalihkannya, dan tidak berbicara apa-apa, lalu Fred melangkah menuju lift dan di ikuti oleh Diana dibelakangnya.


Suasananya sedikit tegang, sampai mobil pun mereka berdua tidak berbicara sepatah katapun.


Mobil melaju ke cafe dipusat kota B, sebelum turun dari mobil, Fred akhirnya berbicara, "Nanti ketika bertemu dengan Linda, kamu tidak perlu ngomong banyak, cukup disamping ku dan ikuti aku".


"Baik", Diana menjawabnya dengan biasa.


Mereka berdua turun dari mobil, beriringan memasuki cafe. Diana melihat sekeliling, pandangannya jatuh ke seorang wanita yang memakai jaket denim dan rambutnya diikat ekor kuda.


Umurnya sekitar 20 tahun, hidung mancung, mata yang besar, wajah yang begitu khas, dan dandanannya bergaya Eropa, seharusnya dia anaknya Handoko.

__ADS_1


__ADS_2