Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 45


__ADS_3

Sekitar 10 menit, Diana keluar dari kamarnya, dan melaporkan kerjaan ke ruangan Fred.


"Pak Fred, aku sudah menghubungi asisten Handoko, malam nanti, jam 7 kita akan bertemu. Tempatnya sama seperti hotel yang kemarin waktu pertama kali kita ketemu itu".


Fred sedang melihat dokumen dari kantor, dia hanya menjawab, "Baik."


Diana melihat Fred masih melihat laptopnya, dia tidak berkata apa-apa, ketika sedang ragu untuk memberikan obatnya, tiba tiba pria itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arahnya, "kesini"


Diana berjalan ke depan, Fred kemudian memutar laptopnya menghadap ke Diana dan bertanya, "sebelumnya laksa perkasa grup ingin bekerja sama dengan pertama Jaya Group kita, dokumen perencanaan yang mereka kirim, kamu pernah lihat kan? Ini dokumen rencana kerja sama yang baru dari mereka. Kamu lihat dulu dan coba periksa apakah ada Kesalahannya".


Diana kemudian mengambil laptopnya, dan mencoba melihat dari awal semua dokumennya. Kemudian dia menoleh ke Fred dan berkata dengan muka serius, "dokumen perencanaan ini kelihatannya sama persis dengan yang kemarin, tidak ada perubahan yang penting".


Sebelum datang ke kota B, dia telah melihat semua dokumen kerja sama dengan laksa perkasa grup yang dua terima. Dokumen perencanaan yang baru ini selain ada penambahan beberapa item yang tidak terlalu penting, tidak ada lagi yang baru.


"Selain itu?" Fred melanjutkan pertanyaannya


"Kalau mau disimpulkan, syarat yang mereka berikan itu terlalu biasa, kalau beneran butuh kerja sama dengan perusahaan jenis ini, aku rasa perusahaan Graha Nusa lebih cocok. Walaupun lebih kecil dari laksa perkasa, tapi dalam dunia bisnis, perusahaan Graha Nusa mempunyai citra yang baik. Dan laksa perkasa mempunyai tingkat kepercayaan yang rendah dan tentunya memberikan citra yang buruk juga ke costumer. Kalau kita melakukan kerja sama, mungkin akan mempengaruhi proyek ini".


Diana berkata dengan serius dan mengucapkan setiap poin yang ada.


Fred kemudian meletakkan laptopnya di meja kecil di samping, bersandar ke sofa dan kemudian menoleh ke arah Diana, "Benar yang kamu katakan."


Diana saja mengerti terus mengapa otak Jeff itu malah tidak bisa kepikiran sama sekali?


Tatapannya jatuh ke muka Fred, dia tertawa, "Ada informasi dari kantor, katanya Jeff mau tanda tangan kerja sama dengan laksa perkasa group."


"Apa?" Setelah mendengarnya, Diana langsung mengerutkan dahinya, waktu itu dia tidak sengaja mendengar video meetingnya Fred yang sedang membicarakan bahwa Jeff membeli satu lahan yang bermasalah. Sekarang dia mau tangan lagi dengan perusahaan yang tidak cocok, bukankah dia sedang mengacaukan semuanya?

__ADS_1


Diana melihat reaksi Fred, ada senyum di sudut bibirnya, "Kenapa?"


Diana sedikit panik, "jika Jeff menandatangani kerja sama dengan laksa perkasa group, pihak yang paling rugi adalah Pratama Jaya. Pak Fred, kamu sudah tau ini jual beli yang merugi, kenapa tidak menahannya?"


Fred melihat Diana yang tergesa-gesa, dia tertawa dan dengan santai berkata, "sebelum berangkat, aku sengaja memberikan kuasa penuh ke Jeff dan Kusuma, tujuannya adalah melihat apa yang akan mereka lakukan".


Baru saja selesai ngomong, Diana langsung mengerti, ternyata Fred sengaja! Sengaja memberikan kuasa penuh ke Jeff dan Kusuma, kalau begini selain bisa mengetes mereka berdua, ketika muncul masalah, tidak ada urusan sama sekali dengannya.


Jeff membuat keputusan yang merugikan pihak perusahaan, hanya membuktikan bahwa dia tidak mempunyai kemampuan apapun.


Fred menggunakan strategi ini, bisa membuktikan seberapa jauh kemampuan mereka di depan orang tua mereka, beneran trik yang sangat hebat.


Diana mengerti sekarang, di dunia bisnis, banyak hal yang tidak bisa dipikirkan dari satu sisi saja.


Diana menoleh, kemudian melihat Fred yang melanjutkan melihat dokumen di laptopnya, dengan pelan berkata, "Pak Fred aku sudah mengerti, kalau tidak ada hal lain, aku keluar dulu".


Diana pelan-pelan membalikkan badannya, dia berjalan keluar, saat dia memasukkan tangan ke kantongnya, dia baru ingat kalau ada sebuah obat. Dia melihat sekilas ke arah Fred, Fred masih menundukkan kepalanya. Diana kemudian mengeluarkan obat itu dan meletakkan di mejanya.


Setelah itu, Diana pura-pura tidak terjadi apa-apa dan berjalan keluar, belum sampai pintu keluar, langsung terdengar suara, "Diana..."


Langkah Diana terhenti, dia mengerutkan alisnya, mendengar ada suara langkah kaki dari belakang, tidak tau harus membalikkan tubuhnya atau tidak, atau lanjut saja jalan ke depan...


Fred berjalan ke dekat meja, dia mengambil kotak dari meja itu, melihat sekilas ke kotak itu.


Obat batuk Runfei Capsule?


Diana menoleh dan pelan-pelan membalikkan tubuhnya. Dia menatap mata pria yang sedikit bingung itu, kemudian tersenyum kepadanya, "Aku melihamu batuk, tadi minta tolong orang hotel untuk mencarikan obatnya".

__ADS_1


Pria ini menatanya sebentar, kemudian melihat ke arahnya.


Diana menurunkan kepalanya, mendengar suara kaki yang semakin dekat, dia tidak berani mengangkat kepalanya.


Fred mendekati nya, satu tangannya menekan ke dinding, menahan jalan keluarnya, dia menoleh ke arah Diana, suaranya sedikit serak, "sejak kapan kamu perhatian denganku begini?"


Nafas Diana tidak teratur dan juga tidak berani mengangkat kepalanya. Dia memaksa menjawab, "kalau pak Fred sakit, nanti bisa menunda kerjaan".


Ekspresi Fred jadi sedikit suram, dia bertanya, "Jadi maksud kamu, kamu memberikan obat untukku, karena takut kalau aku sakit dan akan menunda kerjaan?"


Diana mendengar ketidak puasan dari suara pria itu, dia mendongak sedikit, hanya untuk melihat dagu pria itu yang jelas dan dia mengambil napas dalam-dalam, dan telapak tangannya sedikit berkeringat. "Jika presiden Fred sakit, proyek fiesta--"


Fred mengerutkan keningnya, mengangkat tangannya dengan licik, membulatkan pinggangnya, menekannya dengan lembut ke dirinya sendiri, langsung menyela apa yang belum selesai.


Diana mengambil napas dalam-dalam, mendongak dan memandangi tatapannya, dan melihat bahwa Fred tampak sedikit tidak bahagia dan wajahnya sedikit kusut, tetapi tidak sedingin biasanya di siang hari.


Fred menahan emosinya, dan suaranya tidak nyaring, "Apakah kamu meremehkan kesehatan fisik saya?"


"Aku, tidak..." Mata Diana bingung, dan dia tidak pernah berfikir dia akan mengatakannya.


Tentu saja dia tidak bisa mengatakan 'ya, setelah semua, tidak ada pria yang bisa mentolerir pertanyaan orang lain tentang kebugaran fisiknya, belum lagi, kebugaran fred tidak baik...


Diana dengan cepat mencari alasan, tetapi tanpa sadar pipinya memerah. Dia sangat cemas sehingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Fred memperhatikan warna kulit wanita di lengannya secara bertahap berubah merah. Dia tidak bisa menahan diri untuk menekan bibirnya. "Diana, saya pikir kamu peduli dengan aku, obat ini, saya menerima nya".


Diana hanya merasa bahwa jantungnya berdetak ke tenggorokannya. Dia mengangkat matanya dan melihat pria itu melangkah ke balkon. Dia menarik napas panjang dan dengan tenang mengeluarkannya.

__ADS_1


Memberikannya obat adalah hal yang masuk akal. Dia adalah sekretaris Fred, yang bertanggung jawab atas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Diana hanya ingin membalas Budi, apakah salah?


__ADS_2