
Fred mengangkat alisnya, dan langsung mengambil telepon selulernya. Dia melirik layar, wajahnya menjadi serius.
"Kita sudah keluar, tidak ada masalah".
"Itu hanya pria yang berani gegabah. Kamu akan mengakhirinya".
Setelah dia mengucapkan beberapa patah kata, dia langsung menutup telepon. Diana yang berada di sampingnya mendengarkan kata-kata ini dan mungkin menebak sesuatu.
Tampaknya Fred tidak siap. Dia sudah memikirkan rencana buruk sebelum pergi ke ruangan. Orang-orang juga sudah di atur.
Benar saja, dia menganggap semuanya Terlalu sederhana.
Fred menyimpan ponsel, dan tanpa sengaja melihat Diana yang di sampingnya, dengan ekspresi serius lalu berkata dengan santai, "Tanah ini, hampir bisa kita menangkan".
Diana mengangkat kepalanya dengan ragu dan menatap nya, "Bagaimana?"
Meskipun Ryan kalah pada game sebelumnya, dia jelas adalah bajingan, dia pasti tidak akan melakukan apa yang ia katakan, dan sekarang jika di lihat dari sifatnya pasti tidak akan dengan mudah melepaskan mereka.
Fred bersandar di kursinya dan menjawab sesuka hati, "alasan mengapa tanah ini terus di tekan adalah karena pamannya Ryan adalah wakil walikota dan sekarang dia membuat kekacauan denganku secara pribadi, tidak mengaku salah, bukan berarti paman nya tidak mengaku kalah".
Diana tidak mengerti, ketika ia berbalik, ia menemukan bahwa mobil telah tiba di pintu hotel, tetapi pertanyaan yang sudah di bibirnya tidak di tanyakan.
Setelah mobil berhenti, Diana segera keluar dari mobil, dia hampir jatuh ke tanah, untungnya dia memegang mobil, sehingga dia tidak jatuh.
Begitu dia berdiri tegak, dia berbalik dan melihat Fred sedang menatap nya. Diana mengambil napas dalam-dalam, menutup ekspresi di wajahnya, dan bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Fred tidak berhenti memperhatikan nya, Fred berjalan menuju anak tangga, lalu Diana mengikuti nya sambil menahan rasa sakit.
Fred memiliki kaki panjang dan langkah yang besar, satu langkahnya sama dengan dua langkah Diana, bahkan jika dia mempercepat langkahnya dia tetap tidak dapat mengikuti langkah pria itu.
Sambil menggertakan giginya, dia ragu-ragu sambil terus mengejar, dan tiba-tiba Fred berhenti di depan pintu kaca di pintu masuk lobi.
__ADS_1
Perasaan Diana berdegup kencang dan sedikit senang.
Apakah dia sedang menungguku?
Diana melangkah maju, dan setelah mendekat, dia melihat pria itu menatap ponselnya, dan kemudian tiba-tiba ia tersadar bahwa pria itu tidak sedang menunggunya.
Jejak ke gembiraan yang semula ada di hatinya tiba-tiba lenyap. Perasaannya kosong, dan dia mengikuti Fred yang melalui lobi dan naik lift.
Mereka tinggal di lantai yang paling tinggi, hanya ada mereka berdua di lift, tidak ada suara sama sekali, Diana memandangi angka lift tersebut, perasaan nya menjadi sedih.
Ketika dia berada di dalam ruangan Ryan tadi, ia masih teringat dengan jelas adegan dimana Fred melindunginya tetapi setelah keluar, Fred seketika berubah menjadi acuh tak acuh, ini membuatnya sulit untuk menerima.
Ketika dia keluar dari lift dan melewati pintu Kamarnya, Diana melepas jaket jas nya dan mengembalikannya kepada Fred.
Dia menurunkan pandangannya, menarik emosinya, berkata-kata dengan nada hormat yang membuat jarak di antara mereka.
Alis Fred mengencang, ia memandang Diana yang sedikit menunduk dan pakaian yang diserahkan kepadanya, ia tak menyambut pakaian itu.
Fred melangkah maju, menatap dahinya yang halus, berpikir sejenak lalu berkata dengan dingin, "Ada apa?"
Diana mengangkat kepalanya lalu menatap Fred, dan pura-pura tenang, "Tidak apa-apa, pak Fred, aku akan kembali untuk istirahat dulu".
Diana berkata, sambil mendorong jasnya ke Fred dan berbalik untuk pergi, tapi dia ditarik begitu saja saat baru mau melangkah.
"Pergi ke kamarku, temani aku minum segelas, ada hal yang perlu aku bicarakan".
Diana mengerutkan keningnya, tetapi akhirnya menolak untuk berbicara. Dia ragu-ragu sejenak dan akhirnya setuju.
Saat Fred memasuki kamarnya, Diana duduk di sofa, menyaksikan Fred menggantung jas nya.
Fred memperhatikan mata Diana yang menghindar, dengan diam-diam mengangkat bibirnya lalu berjalan ke sisi lemari, mengenakan lengan pendek dan pergi ke lemari anggur untuk mengambil sebotol anggur.
__ADS_1
Dia datang dengan botol dan gelas kemudian menuangkan Diana setengah gelas, "anggur bersoda rendah, tidak akan mabuk".
Diana meraih untuk mengambilnya. Dia mendengarnya mengatakan itu dan memikirkan kemabukan waktu itu, pipinya agak panas.
Fred duduk di sofa di seberangnya, meminum anggur dan berbicara dengan santai, "Jika tidak ada yang tak terduga terjadi, wakil walikota Kota B, yaitu Handoko, akan menemui kita besok, aku akan memberitahumu saat ini supaya kamu bisa bersiap-siap".
Diana yang mendengar ucapan Fred itu, tidak bisa untuk tidak bertanya, "Mengapa?'
Kita hari ini baru berantem dengan Ryan, Handoko adalah pamannya. Mengapa bisa mengajak kita untuk bertemu?
Fred dengan lembut mengguncang gelas anggur di tangannya, "kejadian yang terjadi hari ini terlalu besar. Handoko pasti akan tau, yang mempertaruhkan juga Ryan, lalu dia kalah namun tak mau mengakui nya, jika Handoko mempertahankan tanah itu, rakyat yang jelas akan berkata bahwa dia sedang mendahulukan keponakannya. Walaupun dia menyayangi keponakannya itu, namun dia tidak akan mempertaruhkan karir nya, asalkan ada sebuah surat resmi dan laporan ke polisi itu Sudah lebih dari cukup, dia pasti akan menyelesaikan masalah ini".
Diana tiba-tiba menyadari nya, tidak heran kalau Fred baru saja mengatakan bahwa Ryan hanya seorang pecundang yang tak bernyali.
Jika demikian, jika dia menyuruh pamannya terus menekan tanah itu secara diam-diam seperti sebelumnya, itu akan membuat grup Pratama tak berdaya, tetapi dia tidak sanggup mengambil langkah lebih dulu, akhirnya ia menjatuhkan pegangan, dan benar-benar kehilangan ke unggulannya.
Ryan sama dengan mengusir pamannya sendiri ke dalam dilema. Tanah itu, tak peduli dia ingin melepaskan nya atau tidak, hari ini harus tetap di lepaskan.
Fred mundur selangkah, dan dia benar-benar tinggi. Jika dia tidak menjelaskan, Diana mungkin tidak akan mengerti permasalahan ini sama sekali selama dua hari dua malam.
Diana memandang Fred dengan gembira dan berkata dengan lembut, "Jadi kita telah memenangkan tanah itu?"
Mata Fred menunjukkan senyum, "Benar sekali, semua sudah beres".
"Hebat", kata Diana, ia menatap pria itu dengan mata yang cerah. Wajah kecil yang baru saja kusut karena kelelahan tiba-tiba berubah menjadi ceria setelah mendengar ucapan Fred tadi.
Melihat ekspresi semangat dari Diana, Fred merasa sedikit gatal.
Fred tiba-tiba meletakkan gelas anggur nya di atas meja dan mengeluarkan suara "Dar!". Diana tampak ketakutan dengan ekspresi tegas ketika ia memandang Fred.
Fred bangkit tanpa melihat Diana, melintasi meja kopi, dia membungkuk, mengulurkan kedua tangannya, langsung memegangi kepala Diana lalu mencium kening Diana.
__ADS_1
Pikiran Diana sekarang kosong, seluruh badannya membeku, dia hanya duduk tegak dan sama sekali tidak berani bergerak.