
Sudah di tolak berkali-kali, Diana akhirnya putus asa menggunakan cara seperti ini, ia berjalan minggir, mengeluarkan telepon genggamnya untuk menelpon kantor asisten direktur Wu.
"Halo, aku sekretaris Diana, dari perusahaan Pratama Jaya, aku sekarang sedang di Lantai bawah perusahaanmu, ingin bertemu dengan direktur Wu, untuk menjelaskan masalah kemarin, Apakah bisa?"
"Pak Fred yang menyuruhmu datang?"
"Tidak, ini kemauan saya sendiri yang ingin datang kesini, masalah kemarin itu karena kesalahanku--"
Dengan tegas memotong pembicaraan Diana, "mohon maaf, kalau menjelaskan dan minta maaf, masih perlu pak Fred saja yang datang."
Ingin Fred yang meminta maaf? Sepertinya kali ini pemimpin direktur Wu bersungguh-sungguh, tapi permintaan ini terlalu keras, bagaimana bisa mereka dibilang sebagai teman bisnis lama, dan membuat rumit masalah sampai seperti ini, terlalu memalukan.
Diana menghirup napas dalam-dalam, pergi ke lobi dan duduk disofa, berpikir sejenak, dan akhirnya mendapatkan ide.
Diana menelpon asisten direktur Wu lagi.
Sudah menelepon 2 kali, tidak ada yang mengangkat, Diana tetap kukuh, lanjut menelpon ketiga kalinya, dan akhirnya diangkat.
"Sekretaris Diana, aku sudah bilang, direktur Wu tidak bertemu dengan siapa pun, kecuali kalau pak Fred kalian datang sendiri kesini."
"Mohon maaf, tolong bantu aku memberitahukan kepada direktur Wu, masalah ini adalah tanggung jawabku, tidak ada hubungannya dengan pak Fred, aku akan sabar menunggu tanggapannya, sampai dia bersedia untuk bertemu denganku, waktu direktur Wu sangat berharga, tapi aku punya waktu banyak, aku akan menunggunya selesai bekerja, kalau hari ini ia tidak ingin bertemu, besok aku akan datang lagi, sampai direktur Wu ada waktu dan aku akan berhenti, aku akan menelepon untuk menanyakan ini Setiap setelah lewat 1 jam, agar tidak melewatkan waktu longgar direktur Wu, terima kasih."
Diana selesai berbicara, menutup telepon tanpa ragu, ia menggenggam erat telepon genggamnya, Kedua telinganya dapat mendengar suara detakan hatinya.
Perkataan tadi, ia mengatakannya dengan nekat dan baru bisa mengatakan itu, Meskipun ada beberapa ancaman, tapi karena kondisinya yang seperti ini, ia mau tidak mau melakukan seperti ini.
Diana menunggu 1 jam di sofa, sambil menghitung-hitung waktu untuk menelpon asisten direktur Wu, lalu menunggu lagi.
Setelah 2 jam kemudian, Diana menghitung waktu dan akan menelepon asisten direktur Wu, telepon genggamnya langsung berdering dahulu.
__ADS_1
Tangan Diana terguncang, menerima telepon secara refleks, keluarnya suara asisten direktur Wu, nada suaranya lebih lembut dari pada saat ditelepon pertama kali, "Direktur Wu sudah memikirkan ini, setuju bertemu denganmu, mohon kamu ke atas."
Diana langsung senang, dan menjawab dengan segera, "Terima kasih!"
Sampai di ruangan direktur Wu, Diana bertemu dengan direktur Wu, berjalan ke depan dengan sopan dan rendah hati.
"Mohon maaf direktur Wu, aku meminta maaf kepada anda atas ketidak pedulianku dan kelalaian yang aku buat."
Diana bersikap dengan tulus, dan tidak bicara apa pun lagi, pandangan direktur Wu tergerak, tubuhnya duduk dengan tegak.
Direktur Wu mengangkat pandangannya ke arah Diana, dan menanyakan, "kamu itu sekretarisnya pak Fred?"
"Benar, aku belum lama diperusahaan itu, banyak hal diperusahaan yang belum begitu saya pahami, belum mengerti kebiasaan anda, hanya mendengar kalau anda suka makanan yang setengah matang, dan memesan restoran tersebut, aku tidak memikirkan begitu dalam, aku sudah merusak suasana hati anda, dan hal ini tidak ada hubungannya dengan pak Fred."
Wajah direktur Wu menjadi dingin, menatapnya lama, Berbicara dengan tenang, "Anak muda, masih baru di perusahaan bukanlah alasan kesalahanmu."
"Aku paham, jadi aku datang kemari, meminta maaf kepada direktur Wu, semoga direktur Wu bisa memberikanku kesempatan sekali lagi."
Direktur Wu tetap menatapnya, tiba tiba menyipitkan matanya, dan berhenti sejenak, bertanya secara menggelegar, "Kamu anaknya Hartono?"
Hati Diana tercekik, melihat ke arah direktur Wu, "Iya."
Alis direktur Wu berkerut, tidak berbicara dalam waktu lama, lalu setelah itu, bertanya lagi, "Bagaimana ayahmu?"
Merasakan kepahitan yang tidak bisa dijelaskan, Diana dengan tidak sadar mengepalkan tangannya, tapi mukanya tetap tenang menjawab, "Keadaannya belum jelas."
Mengatakan dengan mudah seperti itu, termasuk keadaan yang tidak bisa dijelaskan.
Direktur Wu terlihat lebih luwes, "Dulu aku pernah bekerja sama dengan ayahmu, kerja sama yang bagus, aku bersimpati saat ia terjadi masalah."
__ADS_1
Diana hanya mendengarkan, mendongakkan kepalanya dengan cepat, memandangnya dengan menantikan sesuatu.
direktur Wu sudah bisa melihat apa yang ingin Diana katakan, dan langsung bicara, "Hanya saja masalah kali ini, aku tidak bisa membantu."
Dengan cepat, matanya yang sangat berharap menjadi hilang, keluarga Tanoe tejadi masalah, semua teman baik menghilang, Jangankan orang lain, teman teman itu bahkan tidak bisa menolong.
Diana terdiam, langsung berbicara, "Terima kasih banyak atas perhatiannya direktur Wu, dengan perhatian anda, aku yakin ayahku juga senang."
Direktur Wu mendengarkan, merasa maaf, berhenti lama, lalu berkeluh, "Sudahlah, begini saja, aku berikan 1 kontak kepadamu, aku kenal orang ini, kabarnya ia agak pintar, tapi ada bayarannya, jika kamu membutuhkan, bisa menelponnya."
Pandangan Diana menjadi berkilau, memandang ke arah direktur Wu, berbicara dengan semangat, "Terima kasih banyak direktur Wu."
Direktur Wu mencari cari di lacinya, dan pada akhirnya mengeluarkan selembar kartu nama, dan diberikan kepada Diana.
Diana menerimanya dengan kedua tangannya, melihat kartu nama itu, seperti sudah menangkap sebuah pertolongan, sekarang Diana masih tidak jelas dengan keadaan ayahnya yang dipenjara, kalau bisa cari orang yang mencari informasi, itu adalah hal bagus.
Diana masih ingin berterima kasih kepada direktur Wu, tapi direktur Wu melambaikan tangannya, "Kamu pergi lah."
Diana sempat ragu, tiba tiba ia baru ingat dengan tujuannya kesini, "Kalah begitu direktur Wu, soal masalah kemarin bagaimana..."
Raut wajah direktur Wu menjadi ramah, melihat Diana yang mengigit bibirnya, dengan setengah bercanda mengatakan, "Hanya Masalah sepele, aku masih perlu menghiraukan soal itu? Pergilah, aku akan janjian dengan pak Fred di lain waktu."
Diana tersenyum dan mengangguk kepalanya, lalu ia berdiri dan melangkah keluar dari ruangan direktur Wu.
Setelah keluar dari gedung kantor Wealth Finance, Diana merasa lega.
Bagaimanapun juga, perjalanannya ini tidak sia-sia, tidak hanya sudah bisa mengobrol dengan direktur Wu, tapi tak di duga juga mendapatkan kontak yang bisa mencarikan informasi.
Diana menggenggam erat kartu nama itu dalam tangannya, sampai berkeringat.
__ADS_1
Sebenarnya dugaan ingin memohon Fred untuk mendengarkan masalah soal ayahnya, tapi setelah kembali dari kota B, Fred belum membicarakan masalah ini, Diana juga tidak enak untuk mengingatkan soal itu.
Kalah sekarang ada solusi untuk mencari informasi, Diana tentunya mengambil kesempatan ini.