
Diana mengigit bibirnya dan selalu merasa kalau ada sesuatu yang menyangkut di dadanya. Dia melihat ke nomor yang ada di barat telepon, dan memasukkan hapenya ke dalam tasnya.
Sepertinya Fred tidak peduli tentangnya sama sekali. Dia mengajak untuk keluar bersamanya sebagai tugas, tapi dia sedang makan malam dengan perempuan lain.
...
Disisi lain Bella duduk di sofa dari butik yang terkenal di dalam mall, dan menghapus rekaman telepon. Dia hanya menaruh telepon kembali ketempatnya, dan melihat keatas, dia melihat Fred keluar menuju kearahnya.
Fred berkata dengan pelan, "ayo pergi."
Bella tersenyum, dan dia dengan cepat berdiri dan berjalan menuju sebelah Fred, dan bertanya, "Kak, apa hadiah untuk guru Kin sudah dibungkus?"
Tidak ada perasaan lebih dari Fred, dan bicara dengan biasanya, "Aku baru saja mengambil kotak itu dan pegawai toko itu sedang membungkusnya."
Mereka berjalan sampa kasir, dan hadiahnya sudah dibungkus. Pegawai toko itu memberikan kotak hadianya kepada Fred. Fred mengambilnya dan memberinya kepada Bella. Bella ragu untuk sementara waktu dan mengambil kotak hadiah tersebut, "Kak, kamu..."
"Biarkan kotak hadiah itu disimpan ditempatmu dulu, tunggu sampai acara ulang tahunnya, nanti baru kamu bawa saja."
Wajah Bella memucat dan dia bertanya, "Bukannya kamu mau pergi bersama? Guru Kin sudah dua tahun tidak bertemu denganmu. Setiap kali kita bertemu dengannya, dia selalu khawatir denganmu, kamu juga tau kalau badannya semakin lama semakin lemah, terutama tahun ini...."
Semakin dia bicara, dia semakin diam, dan Fred cemberut saat dia mendengar kata-katanya.
Guru Kin adalah seorang guru yang membawanya saat dia kuliah. Waktu itu, timnya telah diatur untuk membawa mereka mengikuti perlombaan dan kegiatan. Fred dan Bella adalah salah satu anggotanya. Fred telah belajar banyak dengan guru Kin.
Saat pertama kali lulus, dia sering menjenguk guru Kin, tapi setelah dia semakin sibuk dan tidak pernah menjenguknya lagi, tapi setiap tahun hadiah ulang tahun dan liburan selalu diantarkan tepat waktu.
Alis Fred mengendur, dan pada akhirnya muncul gejolak dimatanya. Dia berbaring kesamping dan melihat Bella dan berkata, "Aku akan pergi ke acara ulang tahunnya, dan aku akan meletakkan hadiahnya ditempamu dulu."
"Baiklah!"
__ADS_1
Bella berjalan keluar dari mall dengan Fred, dan bertanya dengan santai, "Kak, makan dimana kita?"
"Pergi yang dekat saja." Fred berkata, dan memikirkan Diana tanpa sepengetahuannya. Dia menghilang dari perusahaan lagi sore ini, tanpa memberitahunya terlebih dahulu, tanpa melaporkan sama sekali, bahkan tidak ada kabar telepon dan SMS.
Tampaknya keberanian perempuan ini sangat tebal.
Saat dia berjalan menuju depan mobil, dia membuka pintu mobil dan masuk kedalam, dan tiba tiba bergerak melirik untuk melihat Bella, dan bertanya dengan dingin, "Dimana Diana pergi sore ini, apa kamu tau?"
Bella membeku, matanya bersinar dengan tidak wajar, lalu dia melihat Fred dengan panik, dan dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak tau."
Pada awalnya, Fred hanya menanyakan dengan biasanya, tapi dia melihat Bella bertanggung jawab, dia cemberut dan berhenti melihat bella.
Dia merendahkan suaranya dan bertanya lagi, "Yakin kamu tidak tau?"
Bella panik, berpikir kalau Fred mengerti apa yang dia pikirkan, dan dia menggelengkan kepala, "Aku benar-benar tidak tau."
Pada hari biasa, dia sangat berhati-hati di depan muka Fred, dan sekarang dia sangat ketakutan, yang dia lihat dengan jarak yang dekat.
Reaksi seperti ini sangat tidak biasa, Fred dapat melihatnya, tentu saja, dan secara intuitif mengatakannya kalau hal ini tidak beres.
Fred menaikkan alis matanya, melihat Bella, dan melihat dia panik, dan mengambil tas hadiah. Lihat, pada sementara waktu, dia mengerti, "Bella!"
Dia memanggil namanya dengan suara yang dingin, diikuti Setengah maju, melihat luru kepadanya, "Kamu berbohong."
Dia sedang mengalami kesusahan di dunia bisnis beberapa tahun. Dia telah melihat terlalu banyak orang dan hal. Matanya telah terlatih dengan tajam dan transparan. Dia dapat melihat apa yang terjadi di masa lalu.
Bella tidak bisa membantu, tapi mendengkur. Dia berdiri, tapi tidak berani melihat kearah Fred, dia memalingkan wajahnya kebawah ke sepatu kulitnya.
Saat Fred melihat niat Bella untuk tidak berbicara, suaranya tiba tiba bertambah keras, "katakan yang jujur, kemana Diana pergi!"
__ADS_1
Bella bergidik dan mencengkram tangannya, "Aku.... Aku meminta dia untuk mengirimkan materi brosur kepada pabrik percetakan."
Fred mendengar itu matanya tiba-tiba menggelap. Pabrik percetakan itu terletak di pinggiran kota di bagian selatan, dan dia akan datang kembali dengan sendirinya, dimana ini akan memperlambat waktu yang banyak.
Dia tidak ragu lagi, hanya memegang hapenya untuk menelpon Diana, telepon masuk, tapi tidak ada yang mengangkat pada waktu yang lama.
Alis mata Fred membelit, dan perasaan yang tidak memasuki hatinya.
Kenapa Diana tidak menjawab telepon, kalah dia baik-baik saja? Ini tidak beres.
Fred tidak dapat menahannya lagi. Dia menarik pintunya, dan sedang masuk ke dalam mobil, tapi tiba tiba terpikirkan sesuatu, "Masalah ini, jelaskalah kepadaku dihari yang lain."
Fred selalu benci kongkalikong diantara teman sepekerja di dalam perusahaan.
Insiden haru ini, tidak menyebut apa ini terjadi oleh Bella, bahkan ini adalah orang lain, dia masih meminta Bella untuk sebuah penjelasan.
Setelah dia masuk kedalam mobil, dia langsung memerintahkan supir Rudi untuk menuju pinggirran selatan dari kota, dan pada waktu yang sama, dia memanggil pengikutnya, mengizinkan mereka untuk menelpon nomor teleponnya secara langsung.
Dua pelah menit selanjutnya, Diana sisi kanan kaki tidak bekerja. Dia tidak dapat menghentikan mobil dan menjadi lebih kecil hati, dia berjalan menuju kasur bunga, dan tidak peduli dimana itu, dia duduk.
Dia mengapai teleponnya, dia melihat beberapa lebih telepon yang tidak diangkat.
Itu adalah Fred yang menelponnya dan bahkan berkali-kali.
Di masa lalu, diana terbiasa dengan antar jemput saat masih berada di keluarga Tanoe. Dia punya supir sendiri kemanapun dia pergi.
Dia tidak pernah bertemu dengan situasi seperti ini.
Tanpa disadari tiba tiba hujan turun.
__ADS_1
Dia memakai jas dan rok dikakinya. Dia memperlihatkan bawah kakinya sedang membeku dan tidak memiliki kesadaran. Di tambah lagi, ada luka di kaki kanan dan betisnya. Dia duduk disana bergetar.
Namun, tiba tiba sebuah cahaya menerangi langsung kearahnya. Diana menaikkan mata secara tidak sadar, mengikuti sumber cahayanya, dan melihat mobil sedang mendekatinya dengan pelan, tapi cahayanya terlalu terang dan dia hanya bisa mihat garis besar dari mobil itu, dan yang lainnya tidak dapat dilihat secara jelas.