
Kedua tangan Diana memegang erat tangan Fred, Diana mengerakkan badannya, tanpa disangka tiba-tiba Diana menangis di dalam mimpinya.
"Papa jangan pergi---- papa...."
Diana yang gemetar membuat Fred merasa sedikit bingung. Fred melihat ke arahnya, Diana yang sedang tertidur itu mengerutkan alisnya...
Ini pertama kalinya dia melihat Diana begitu lemah, saat pertama kali bertemu Diana di depan rumah, Jeff. Diana sangat berantakan, kecewa, tapi tetap berusaha kuat dan sombong di depannya.
Tapi sekarang, diana hanyalah seorang putri kecil yang merindukan papanya. Ko
Melepaskan semua egonya, dia bukan putri kesayangan keluarga Tanoe, bukan juga sekretaris yang begitu hebat, dia hanyalah seorang perempuan kecil.
Hati Fred melunak, dia dengan pelan merapikan rambut Diana, dan pelan-pelan menepuk punggungnya.
Setelah itu, Diana kemudian terdiam, tidak terdengar suara tangisannya lagi. Tapi tangan yang menarik lengannya Fred itu masih belum dilepaskan.
Fred juga tidak bisa apa-apa, dia sekarang hanya bisa tidur dengan tangan yang didekap oleh Diana.
Malam semakin larut, Fred mengulurkan tangannya yang satu lagi, pelan-pelan menutup lampu dinding itu...
Beberapa jam kemudian, Diana mengerakkan badannya, dia membuka matanya, kepalanya masih sedikit pusing dan berdenyut. Ketika dia memegang kepalanya, tiba-tiba dia mendengar suara nafas disampingnya.
Badannya langsung tegang, dia sadar sepertinya dia lagi memeluk sesuatu.
Sambil meraba-raba dia mendapati sebuah lengan yang lumayan kekar di sana, ia langsung terkejut dan seketika sadar.
Diana pelan-pelan melepaskan tangannya, menegakkan tubuhnya, dengan mengandalkan sedikit cahaya yang masuk dari jendela, dia baru sadar disampingnya ada seorang pria yang tertidur. Wajah yang begitu kelihatan jelas lekukannya, dari badannya juga tercium aroma yang khas, kalau bukan Fred siapa lagi?
Diana menatapnya, dia bengong sesaat, kemudian pelan-pelan teringat, ingatan terakhir dia adalah dia dan Fred sedang berada di bar, kemudian Fred di tarik pergi oleh Linda, kemudian dari badannya tercium sebuah bau, dia melihat sekeliling, kemudian mencium bau itu lagi, lalu dia merasa badannya melemah, dan kehilangan kesadaran.
Selain itu, dia tidak ingat apa apa lagi.
Tentang bagaimana dia pulang, dan bagaimana bisa dia memeluk tangan Fred, Sambil tertidur. Diana sama sekali tidak tau.
__ADS_1
Diana melihat keluar. Keadaan nya masih gelap, sepertinya hari belum lagi.
Dia kembali ke posisi tadi, sambil mendengarkan suara nafas pria disamping nya itu, timbul rasa aman yang tidak bisa dikatakan.
Tidak terasa, Diana tertidur kembali, ketika dia bangun, matahari pun sudah terbit.
Di ranjang, Fred sudah tidak berbaring disana.
Diana bangun, lalu melihat ke ranjang yang kosong, dia meraba tempat kosong di sampingnya itu, sudah tidak ada rasa hangat, sepertinya Fred sudah bangun dari tadi.
Tidak lama kemudian, pintu kamer pun terbuka, Fred memakai setelan mandi, sepertinya baru selesai mandi, rambutnya juga masih sedikit basah.
Diana ragu sejenak, kemudian langsung berkata, "Pak Fred, apa yang terjadi semalam? Aku--"
"Apa kepalanya mu masih pusing?" Fred langsung memotong pembicaraannya, tampaknya tidak ada emosi disuaranya.
Diana menjawab dengan jujur, "Masih sedikit..."
Diana sedikit ragu, tapi akhirnya tetap ikut masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam, dia melihat meja bulat kecil itu ada 3 gelas air putih, belum sempat bereaksi, Fred yang berdiri di sampingnya langsung berkata, "Kamu minum air ini dulu".
Minum air? Diana bingung, sama sekali tidak mengerti Fred sedang apa, belum sempat bertanya, Fred sudah lebih dulu mengambil satu gelas air dan disodorkan ke arahnya.
Suasananya sedikit aneh, Diana melihat ke gelas air itu, ragu beberapa detik, setelah itu dia langsung mengambil gelas itu, kemudian pelan pelan dia mencium air itu, tidak ada bau apa-apa, sepertinya hanya air biasa saja.
Fred melihat gerak geriknya, mau tidak mau dia mengerutkan dahinya, marah dan tertawa, "kamu pikir, aku akan mencelakakan kamu gitu?"
Diana mencobanya, dan terbukti bahwa air itu hanya air biasa. Diana pelan-pelan menghabiskan airnya, tiba-tiba dia mendengar Fred berbicara, "semalam kamu terkena obat tidur, mangkanya bisa pingsan".
"Obat tidur?" Diana panik, kepalanya terlintas kejadian semalam, memang dia tidak ingat sama sekali...
Dengan muka ragu Diana menatap Fred, menunggu dia melanjutkan penjelasannya, tapi Fred malah menatap ke arah gelasnya, lalu berkata lagi, "habiskan dulu air itu, baru aku akan lanjut menceritakan nya".
__ADS_1
Diana tidak ragu lagi, dia langsung sekaligus menghabiskan semua airnya, kemudian menoleh ke Fred.
Fred tidak menyangka kalau Diana bisa secepat itu menghabiskan nya, Fred tersenyum lalu berkata, "semalam Linda sengaja mengerjai kita."
Setelah mendengar nya, Diana menggenggam erat gelas di tangannya, "Demi lahan itu?"
Muka Fred menjadi serius, "Ya, tapi kita tidak ada waktu untuk terus Bermain dengan keluarga Handoko, jadi hari ini, kita harus pergi bertemu dengan Handoko."
Diana diam sesaat, kemudian melihat ke arah Fred, dengan tegas mengangguk, menyatakan kalau dia setuju, "ya, aku pikir kalau kita tidak berinisiatif, mereka akan terus mempermainkan kita".
Setelah Fred mendengar nya, dia menoleh ke arah Diana, dengan tegas berkata, "kamu coba atur waktu ketemuan hari ini dengan asisten nya Handoko".
"Baik, akan aku aturkan sekarang", Diana mengangguk, dan berbalik untuk keluar dari kamar.
Baru sampai di depan pintu, dia mendengar Fred batuk, langkahnya terhenti, tiba-tiba kepalanya terlintas gambaran Tentang semalam ketika dia bangun.
Dia memeluk tangannya Fred, dan Fred tertidur di pinggir ranjang, semalam dia terkena obat tidur itu. Secara tidak sadar dia memimpikan papanya, jangan-jangan karena mimpi, dia salah menganggap Fred sebagai papanya, makanya dia memeluk erat lengannya Fred semalam?
Kayaknya Fred terserang angin malam, makannya sedikit batuk, apa gara-gara selama ya?
Diana menarik nafas dalam-dalam, dan bertanya ke Fred, "pak Fred, anda masih... Ada kebutuhan lain?"
Fred merasa aneh dengan tatapan nya, kemudian dia menjawab, "Tidak ada".
Diana mengigit bibir bawahnya, dia tidak berkata apa-apa lagi, lalu berjalan keluar kamar.
Setelah keluar dari kamar Fred, Diana segera menghubungi asistennya Handoko, setelah memastikan waktu luangnya Handoko, mereka mengatur untuk bertemu malam ini.
Diana selesai mengatur kerjaannya, saat mau melapor ke Fred, sebelum keluar dari kamarnya, dia teringat mendengar Fred batuk tadi di kamarnya.
Fred dalam bisnis begitu tegas. di kehidupan pribadinya dia juga menjauhi orang lain, tetapi jika sudah akrab dengannya, ternyata ada kehangatan di dalam dirinya, seperti semalam, di rela tidur dengan posisi itu, tidak memaksa menarik lengannya.
Diana sedikit ragu, lalu dia menelepon pegawai hotel, "halo, saya minta tolong, Carikan obat batuk untuk pak Fred."
__ADS_1