
Diana mengulurkan tangannya, mengambil ponsel nya dan melihat bahwa Fred telah mengirimnya file rekaman dengan durasi sepuluh-an detik.
Dia tidak tau apa isi file rekaman itu.
Saat sekarang tidak baik membukanya langsung di depan Michael. Dia melihat Michael dan tersenyum sopan kepadanya, "Bisakah aku mendengar informasi dari kantor?"
Michael mengangguk. "Tentu saja".
Diana tersenyum, mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon di sebelahnya, dia melihat file rekaman itu, tanpa terlalu memikirkan nya, ia langsung mengklik nya.
Suara di ponsel adalah rekaman percakapan. Jelas, itu suara Linda.
"Kamu bukan tidak tertarik pada wanita, dan juga tidak tertarik pada aku. Aku pikir kamu tertarik pada sekretaris Diana".
Hati Diana menegang. Sebelum dia sempat menjawab, dia mendengar suara bergumam seorang pria di ponsel nya, "Aku juga tidak tertarik padanya".
Suara laki-laki yang dalam dan nyaring, yang sangat ia kenal, adalah suara Fred.
Mendengar kata kata pria itu, Diana tanpa sadar mempererat kepalan tangannya memegang ponsel, dan sesaat kekecewaan muncul di hatinya.
Dia tau untuk sejak lama bahwa hubungannya dengan Fred hanya sekedar mengambil apa yang di butuhkan oleh masing masing, tetapi dia masih merasa sedikit tidak nyaman ketika dia mendengar Fred mengatakannya sendiri.
Diana mengigit bibirnya dan menahan emosinya. Namun demikian, dia merasa matanya agak masam. Dia mengucek matanya dan menekan kembali emosinya. Setelah menyesuaikan suasana hatinya, dia meletakkan ponselnya dan kembali ke restoran.
Dia memaksa dirinya untuk tersenyum, berjalan ke meja makan dan melihat bahwa makanan telah datang.
Dia menyingkirkan semua kekecewaannya dan duduk di hadapan Michael sambil tersenyum. Dia terus mengobrol dengannya seperti tidak ada yang terjadi.
Makan malam itu sangat menyenangkan. Diana dan Michael seperti teman lama. Mereka berbicara tentang banyak topik, yang sebagian besar tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Akhirnya setelah makan malam, Michael meminta supir untuk menyetir dan mengantar Diana ke gerbang hotel sebelum pergi.
Diana minum dua gelas anggur merah, kepalanya agak berat, tapi dia dalam suasana hati yang bahagia. Selama dua jam berbicara dengan Michael, dia merasa telah banyak belajar dan mengangumi kecintaan Michael terhadap sulaman khas kota H.
Toleransi akan alkoholnya rendah. Dua gelas anggur merah akan membuatnya berjalan dengan tidak stabil dan lurus.
Dia keluar dari lift, berjalan ke pintu kamar, mengeluarkan kartu kamar dari tas tangannya, dan menggeseknya untuk membuka pintu.
__ADS_1
Setelah itu dia mendorong pintu dan melangkah masuk. Dia menyalakan lampu di teras dan dengan asal ingin menutup pintu kamar, tapi pintu itu sepertinya terjebak oleh sesuatu, dan tiba-tiba pintu itu tidak bisa di dorong.
Ketika Diana berbalik dan melihat pria itu berdiri di pintu, dia tertegun dan tersadar sejenak.
Dia merasa gugup lalu mundur dua langkah, dan tas tangannya jatuh ke lantai.
Sadar bahwa wajah pria itu seperti sedang marah, dia langsung bertanya, "Pak Fred. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Fred meletakkan satu tangan ke pintu. Dia menatap Diana dan berjalan ke kamar.
"Apakah kamu minum?" Dia mengerutkan keningnya ketika mencium aroma anggur yang ringan.
"Hanya minum sedikit.." hati Diana merasa bersalah. Dia tau bahwa toleransi alkohol nya tidak baik. Dia tidak berencana untuk minum banyak, hanya dua gelas anggur merah. Meskipun kepalanya agak berat, dia masih sadar.
"Sedikit?" Fred mengerutkan keningnya dan mendengus seperti mencemoohnya.
Sebelum Diana mengerti apa yang di maksudnya, Fred sudah berjalan langsung ke kamar, seolah-olah dia masuk dan keluar dari kamarnya sesuka hatinya.
Diana belum mengerti apa yang di Maksudnya. Tiba-tiba, dia teringat bahwa dia telah menerima file rekaman dari Fred dua jam yang lalu, dan hatinya tiba tiba menegang. Hal yang tertinggal di pikiran pun tersapu.
Fred berdiri di depan sofa tunggal, melirik pakaian dalam di belakang sofa, matanya pun menjadi redup.
Ketika Diana melihat ****** ***** di matanya, wajahnya berubah. Dia dengan cepat mengambilnya dan berjalan ke kamar mandi dan menaruhnya di keranjang cucian.
Ketika menunggu dia keluar, Fred sudah duduk di sofa. Pipinya agak panas. entah itu karena malu atau alkohol.
"Pak Fred, apa yang bisa saya bantu?"
Pada saat ini, Fred datang ke sini harusnya untuk memberi instruksi tentang pekerjaannya.
"Kamu pergi dengan direktur Michael hari ini?", bibir Fred mengerucut menjadi garis, dan matanya menatap dengan dingin.
Dia dan Linda berpisah dari restoran. Supir Rudi lalu kesana untuk menjemputnya. Dia tau dari supir Rudi kalau Diana pergi makan malam dengan Michael. Suasana hatinya menjadi lebih dalam.
Awalnya, Linda membuatnya marah. Tanpa di duga, Diana pergi untuk makan malam dengan pria lain ketika dia pergi.
Mendengar hal ini, Diana sedikit terkejut. Lalu dia berpikir bahwa dia telah diberitahu oleh supir Rudi tentang keberadaannya.
__ADS_1
Tidak aneh jika Fred mengetahuinya. Dia mengangguk dan menjawab dengan jujur, "Aku bertemu di rektur Michael dan berbicara tentang sulama khas kota H, lalu langsung pulang setelah selesai makan".
Fred tidak berbicara, ragu ragu sejenak, suaranya tiba tiba menjadi ringan, "Saya berencana untuk tinggal di kota B selama beberapa hari lagi dan kemudian kembali ke kota H".
"Baik" Diana menjawab dengan santai.
Terkait rencana perjalanan, dia sama sekali tidak punya hak untuk memutuskan. Jika Fred berkata pergi dia akan pergi, jika menetap dia akan menetap. Dia hanya bisa mendengarkan peraturannya.
Fred melihat Diana seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Penjelasan yang di rekam di WhatsApp, tetapi dia tidak terlalu meresponnya. Sepertinya dia tidak peduli dengan itu.
Alis Fred menegang, dan hatinya sangat tidak bahagia.
"Pak Fred, apakah perihal tentang berapa lama tinggal di kota B sudah di urus?"
"Tidak untuk sementara ini".
Hati Diana tenggelam, menatap Fred, ia bertanya dengan dingin, "Apakah anda ingin berkencan dengan nona Linda? Apakah saya perlu memesan restoran terlebih dahulu atau apakah saya perlu menyiapkan sesuatu?"
Hari ini, mereka telah memutuskan untuk mengambil tanah itu. Mereka dapa memesan pesawat untuk kembali ke kota H, tetapi Fred ingin tinggal selama beberapa hari lagi, jika bukan untuk menemani Linda untuk apa lagi?.
Ketika Fred mendengar kata-kata itu, matanya tiba-tiba menjadi tajam. Matanya yang tajam menatap pada Diana, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
Diana memperhatikan matanya, hatinya kencang, dan merasa sedikit bersalah.
"Pak Fred, apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?"
Fred mengepalkan tinjunya secara diam diam, dan menatap wanita yang tidak bersalah itu dengan amarah di hatinya.
Dia tidak menanggapi rekaman itu, yang berarti dia tidak peduli sama sekali tentang dia, dan dia sepertinya menginginkan dia dan Linda untuk pergi berkencan.
Fred melangkah maju, mendekati Diana, lalu berkata dengan dingin, "Diana, apakah kamu berharap aku berkencan dengan Linda?"
Diana mengigit giginya dan tidak berani melihat ke atas untuk melihatnya. Setelah ragu-ragu selama beberapa detik, ia memikirkan file rekaman itu, dan akhirnya mengucapkan kata-kata aneh, "Saya pikir pak Fred dan nona Linda sangat cocok".
Wajah pria itu dingin dan penuh amarah yang tak tertahankan.
Sangat cocok? Dia bahkan berpikir dia cocok dengan Linda!
__ADS_1