
"Iya, kalau kebanyakan orang, malah capek" jawab Fred lalu pergi ke kamar mandi.
Diana tiba-tiba kepikiran dokumen proyek yang belum selesai di baca nya, hati nya jadi tegang, seperti nya dia harus cepat-cepat.
Waktu untuk pergi ke kota B sudah dekat, Diana sambil berdaptasi dengan kerjaan nya sebagai sekretaris dan satu sisi juga harus mempelajari proyek fiesta, sungguh sibuk.
Setelah menemani Fred, Diana dengan segera mengatur jadwal selanjutnya, dipastikan tidak ada kesal, habis itu dia segera membereskan dokumen yang baru datang.
Sekretaris CEO walaupun kelihatannya agak santai, tapi yang dilihat adalah sikap dia dalam menyelesaikan segala macam pekerjaan yang datang, dia harus bisa memastikan tidak terjadi kesalahan, dan memastikan tidak merepotkan pimpinan, baru bisa di bilang profesional.
Bella sering mengejek nya karena lebih senior, kerjaan yang di lempar ke dia semua kerjanya yang susah dan rumit, tapi dia tidak pernah mengeluh, semaunya di kerjakan, walaupun emang sedikit susah, tapi dalam waktu dekat dia sudah belajar hanya hal.
Fred keluar, ditemani oleh Bella, Bella baru menyelesaikan kerjaan di tangannya, sudah boleh santai dan bersiap untuk baca baca dokumen, tapi tidak di sangka telepon di mejanya berbunyi.
"Halo, Dengan perusahaan pratama jaya group bagian CEO, apa ada yang bisa di bantu?"
"Hallo, sekretaris Diana, saya sekretaris pak Kusuma, Audrey, vice manager kami ada satu negosiasi langsung, butuh penerjemah bahasa Francis, pas bagian penerjemah yang bisa bahasa Prancis kami lagi cuti, kamu terpaksa melihat dokumen staff perusahaan kita, baru tau Kalau kamu pas kuliah itu ambil jurusan bahasa Perancis, mohon bantuannya".
Setelah Diana mendengar nya, dengan tegang dia menggenggam telpon nya, "Bantu tidak masalah, tapi aku harus minta ijin dulu ke pak Fred".
Minta tolong dia untuk bantuin sebenarnya tidak masalah, tapi dia diam diam pergi dari ruangannya, kalau ada urusan yang mendadak, dia tidak bisa mengerjakan nya nanti.
"Jangan khawatir kak, pak Kusuma akan menelepon dan menjelaskan nya ke pak Fred"
"Kalau begitu baiklah", Diana menutup telponnya, dia menyuruh sekretaris lain untuk berjaga di ruangan nya, takutnya ada yang telepon dan ada informasi penting, sebelum pergi Diana masih khawatir, dia pun memutuskan untuk mengirim pesan ke Fred, setelah itu dia pergi ke ruangan pak Kusuma.
Sesampainya di sana, pak Kusuma tidak terlihat, tapi Sekretaris nya Audrey sedang menunggu nya disana, seluruh badannya mengeluarkan aura tenang dan berkelas, setelah dia melihat diana datang, setelah menyapa dengan lembut, barulah dia membawa pergi Diana ke ruangan penerima tamu.
__ADS_1
Pas dijalan, Audrey segera menjelaskan situasinya kepada Diana, "Hari ini yang ditemui pak Kusuma adalah perwakilan dari proyek pengembangan teknis yang beliau urus waktu dinas di Perancis, karena ke dua belah pihak sudah hampir selesai, demi menjaga hubungan baik, perwakilan langsung terbang ke kota H, dan membahas langsung dengan kita untuk harga dealnya, jadi nanti pas ada banyak kata-kata yang teknis dan harga detail, kamu harus menerjemahkan nya dengan detail, kalau sampai ada kesalahan bisa fatal akibatnya".
Walaupun ekspresi wajah Audrey santai, tapi sangat menjelaskan masalah dia dengan sangat tegas dan jelas, Diana juga bisa mengerti, kalau sudah bahas tentang harga tentunya sudah sangat penting dan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.
Diana sangat yakin dengan bahasa Prancis nya, karena itu merupakan fokus bahasa nya dikuliah, selain Mandarin, Inggris dan beberapa bahasa lainnya, terjemahin bahasa teknis begitu harusnya tidak jadi masalah buat nya.
Sesampainya di ruangan tamu, Diana mengikuti Audrey masuk ke dalam, dia langsung menyapa pak Kusuma dan dua perwakilan dari Perancis, kemudian dia langsung duduk dibelakang pak Kusuma.
Percakapan pun di mulai, masing masing pihak berusaha memperjelas posisi masing-masing sambil membaca draft kontrak, setelah ke dua belah pihak tau posisi dan standar nya, dari situ mulailah masuk ke masa tegangnya.
Untuk proyek kali ini, sederhana nya adalah pertukaran teknis yang berdasarkan jual beli produk nya, Pratama jaya group ingin membuat suatu produk baru dan butuh teknologi dari Perancis, kalau hanya beli teknologi nya tidak bisa, untuk memastikan kepentingan dan daya saing mereka sendiri, mereka meminta Pratama jaya group untuk membeli produk mereka, mereka menyediakan produk produk teknologi nya, tetapi tidak mengajarkan teknis dari inti teknologinya.
Dan Pratama jaya group demi mendapatkannya, untuk sementara ini mereka setuju untuk membeli aksesoris inti mereka, yang di pakai untuk membuat produk mereka sendiri, tapi kalau begini mau tidak mau harus menaikkan harga modal, tapi mereka juga menjanjikan jika pembelian sudah sampai suatu limit, mereka akan memperbolehkan staff dari Pratama Jaya Group belajar teknologi nya ke sana.
Karena itu demi mendapatkan slot untuk belajar teknologi nya, Pratama jaya group demi mendapatkan profit untuk mereka sendiri, mereka harus berusaha menekan harga modal aksesoris tersebut.
Diana menyampaikan maksudnya ke perwakilan Perancis.
Setelah itu Audrey membawa perwakilan Perancis menuju hotel dekat sana, Diana kemudian duduk, dia melihat jam ditangan nya, ingin tanda ke pak Kusuma dia sudah boleh balik atau tidak, tapi belum sempat Diana bertanya dia sudah tau maksudnya.
"Sekretaris Diana, kamu belum boleh pergi, kalau kamu pergi, saya bagaimana berinteraksi dengan mereka"
Diana tersenyum, tadi mikirnya ingin kabur, karena kerjaan dia sebenarnya bukan penerjemah, tapi setelah mikir mikir lagi, apa lagi pak Kusuma pasti tidak mau dia pergi, Diana terpaksa mengiyakan.
Diana pun melihat langsung kerja pak Kusuma, Diana tidak bisa tidak salut, orang yang berpengalaman memang tidak bisa dipungkiri, bicaranya santai, tapi posisi nya juga tegas, sudah beberapa kali, tapi dia tetap mempertahankan harga modal dia sendiri.
Dan juga waktu itu di kantor, dia mendengar Fred bicara ke Kusuma tidak perlu langsung kerja dan menyuruh pak Kusuma untuk istirahat beberapa hari dulu, dan ini baru 2 hari, tapi dia sudah balik ke kantor, bisa dilihat seberapa hebatnya ambisi bisnisnya.
__ADS_1
Diana sedang melamun, Kusuma yang berjalan di depannya memelankan langkah kakinya, "Saya dengar kamu itu putri nya lesson Tanoe?"
Diana terkejut lalu mengangkat pandangan nya ke pak Kusuma, dengan pelan dia menjawab, "iya pak"
Kusuma melihat dia sekilas, setelah beberapa detik, dia baru berkata, "sepertinya dia tidak salah dalam mendidik kamu"
Diana semakin bingung, dan melihat ke Kusuma, tapi pria itu Dengan cepat langsung memutar kan langkahnya ke depan.
Diana menarik nafas dalam, belum sempat tanya tapi pak Kusuma sudah pergi, ia pun berfikir apa maksud dari ucapan pak Kusuma, baik atau buruk, dia juga tidak bisa menebaknya.
Diana mengikuti Kusuma masuk ke ruangan yang telah di pesan, Diana dengan sigap melanjutkan kerjaan penerjemahnya, makan siang ini terasa senang semuanya.
Kusuma juga mulai mabuk, Audrey melihat dia butuh istirahat, dengan segera dia membuka satu kamar hotel, dan membawa nya pergi istirahat, dan sebelum pergi, dia memberikan satu dokumen ke Diana, meminta dia bawa ke kantor.
Setelah Audrey dan Kusuma pergi, Diana tentunya harus menyapa dulu perwakilan Perancis sebelum pergi.
2 orang perwakilan dari Perancis ini kelihatan cukup baik, sebelum pergi ada seseorang yang bernama Louis, berjalan ke diana dan meminta harga pricelist final dari perusahaan nya.
"Hari ini sangat senang, kami sangat senang melaporkan keinginan kalian ke pusat, tapi kami harus lihat dulu harga pasaran final dari kalian, jadi kami baru bisa memberikan diskon sebesar mungkin".
Diana langsung senang ketika mendengar mereka akan memberikan diskon, dia lihat dokumen yang ditangan, ternyata ada satu harga pricelist di dalamnya ada 3 dokumen, salah satunya berbahasa Perancis.
Sepertinya dokumen yang di siapkan Audrey yang mau diperlihatkan ke perwakilan Perancis, Diana tidak berpikir panjang, langsung memberikan dokumen itu ke perwakilan Perancis.
Louis menerima dokumen nya dan berterima kasih, dan dengan ramah memeluk Diana, sambil mencium pipi kiri dan kanannya.
Diana juga tidak bisa menolak, Hanya bisa tersenyum menerima nya, dia sama tidak tau, kalau tidak jauh dari lobi hotel, Freed dengan ekspresi dingin sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1