Jatuh Cinta Dalam Semalam

Jatuh Cinta Dalam Semalam
Bab 72


__ADS_3

Kartu nama itu sangat ringkas, tidak seperti kartu nama orang bisnis yang terlalu mencolok, tertulis huruf kapital hitam yang tertera di atas kartu putih secara simpel, dan di bawahnya tertera nomor ponselnya.


Diana mengeluarkan ponselnya, langsung meneleponnya, belum ada yang mengangkat di sana, ia tidak sedih, dan menelpon lagi, masih belum ada yang mengangkatnya.


Diana melihat lihat jam, jarak waktu selesai bekerja masih ada hampir 1 jam, saat ini lebih baik kembali ke perusahaan dahulu.


Sesampainya di perusahaan, Diana masuk ke dalam lift, saat baru sampai lantai 8, pintu lift terbuka, ada orang yang keluar, saat Diana menekan tombol tutup pintu lift, ponselnya tiba tiba berdering.


Diana mengambil dan melihatnya, itu adalah telepon dari nomor yang tadi Diana telepon, ia bersemangat, langsung mengangkat teleponnya, saat ia mendekatkan ponselnya ke telinga, dia baru sadar kalau masih ada orang lain di dalam lift, lalu ia memutuskan untuk keluar dari lift.


Keluar dari lift, ada beranda yang ada di sebelahnya dan tidak jauh darinya, kebetulan tidak ada orang, lalu ia ke sana, baru berani mendekatkan telepon ke telinganya.


"Hai? Halo."


"Ada tugas apa?"


Keluar suara serak lelaki, seperti mengalami kesusahan.


Diana menggenggam erat ponselnya, merasa hatinya berdetak sampai ke tenggorokannya.


"Bisa tolong bantu aku periksa keadaannya seseorang?"


Lelaki itu berbicara tanpa berbelit-belit, setiap kalimatnya sangat ringkas dan simpel, "Dengan nama siapa?"


Diana menghela nafas, dan berkata, "Hartono"


Sempat terdiam sejenak, "Dua ratus juta."


Dua ratus juta?!


Hati Diana tercekik, agak terkejut, tapi untuk mencari informasi saja, Perlu dua ratus juta?


Uang Diana juga ada dua ratusan juta, hanya bisa di gunakan untuk kehidupan keluarga dan kebutuhan sehari-harinya, pergi kemana lagi yang bisa mendatangkan uang dua ratus juta?


Diana tidak berbicara apa-apa dalam waktu lama, tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, berpikir dan berpikir, dan akhirnya bertanya dengan tidak ada pilihan lain, "Harganya bisa lebih murah lagi?"

__ADS_1


"Hartono sekarang ada di situasi yang sangat sensitif, aku tidak perlu bicara banyak, satu harga, tidak bisa kurang."


Diana masih Perlu bicara apa lagi, dan tiba tiba merasa tangannya panas, terjadilah dengan mendadak, tiba tiba ada yang mengambil ponselnya.


Diana langsung membalikkan badan melihat Jeff yang berwajah tidak enak, Jeff mengangkat tangannya, tidak ada alasan apa apa dan langsung mematikan telepon.


Diana langsung berubah, menjadi marah, ia mengulurkan tangannya untuk merebut kembali ponselnya, tak disangka lengan Jeff ke atas, dan menghindar dari tangan Diana.


Wajah Diana memerah, menatap Jeff yang didepannya, sambil menahan amarahnya, "Jeff, kembalikan ponselku!"


Jeff melihatnya sekilas seperti mencemoohnya, lalu bersuara dengan tertawa dingin, "Diana, kamu sampai tidak ada jalan lain dan mencari mata mata untuk mencarikan informasi tentang ayahmu ya?"


Tak di sangka, ternyata Jeff mendengar pembicaraan ditelepon tadi!


"Tidak ada hubungannya sama kamu! Kembalikan ponselku!"


Diana melompat-lompat untuk merebut ponselnya dari tangan Jeff, Jeff lebih tinggi setengahnya dari Diana, keunggulan dari tubuhnya yang tinggi, tinggal mengoperkan ponselnya di antara kedua tangannya.


"Diana, kalau kamu benar benar ingin mengetahui kabar Hartono, mending memohon kepadaku."


Jeff sambil berbicara, sambil mundur mundur, untuk menghindari tangannya Diana.


Diana tetap merebut ponselnya, sama sekali tidak memperhatikan bawah kakinya, ia tanpa berhati-hati langsung tersandung tangga yang disebelahnya, tubuhnya langsung ke depan, terjatuh ke arah depan Jeff.


Jeff membuka kedua lengannya di bawah kesadarannya, kebetulan merangkul Diana ke dalam rangkulannya.


Alis Jeff mengerut sedikit, melihat Diana ada dalam rangkulannya, berbicara dengan mengejek, "Diana, kamu serindu ini Kepadaku?"


Suara Jeff tidak tinggi dan tidak rendah, berbicara apa adanya, Diana sangat marah, matanya ke atas menatap sinis Jeff, saat mau berdiri dengan cepat cepat, malah tiba tiba ada suara dari sebelah.


"Pak Fred, bukannya itu sekretaris di dekatmu itu yang selalu kamu bawa? Kok berpelukan dengan pak Jeff?"


Dalam otak Diana berdentang, ia cepat cepat berdiri, mendorong Jeff, saat menengok, memandang sepasang mata yang terlihat rumit.


Diana terkejut, melangkah mundur di bawah kesadarannya, tapi di belakangnya ada yang menghalangi, ia tidak bisa menutupi, dan tidak bisa sembunyi.

__ADS_1


Model beranda ini setengah terbuka, Diana dan Jeff kebetulan berdiri menghadap pintu, terdapat koridor di dalam pintu, Fred dan Kusuma berdiri di situ, membawa sekretaris di belakangnya, ada Audrey dan Bella, mereka terus melihat Diana dan Jeff.


Kali ini, semakin salah paham!


Diana dengan ragu melangkah Setengah ke depan, saat mau menjelaskan, Fred yang ada di depan matanya langsung jalan menyenggol melewatinya, tidak berhenti sedikit pun, tetap melangkah ke depan.


Kusuma menyaksikan itu, tidak berkata apa-apa, berjalan mengikuti ke depan yang lainnya juga tidak melihat lagi, dan ikut pergi.


Diana berdiri di posisi awal, tubuhnya seperti patung yang membatu, tidak bergerak dalam waktu lama.


Jeff datang dari belakang, sepertinya ingin tertawa tapi tidak tertawa dan sambil melihat Diana, sengaja bercanda, "Ada apa? Takut kalau Fred salah paham? Ingin aku mewakilkan kamu untuk pergi menjelaskan hal ini?"


Diana mengigit bibir bawahnya, tiba tiba ia sadar, mengulurkan tangannya dan langsung mengambil ponselnya dari tangan Jeff, dan langsung pergi dengan tergesa-gesa.


Memang Diana beberapa hari ini melakukan Kesalahan terus, membuat masalah besar, sekarang Fred sudah melihat Diana berpelukan dengan Jeff, selanjutnya Diana takut Kalau bicara seperti apapun juga tidak bisa bicara dengan jelas.


Diana dengan rasa waspada kembali ke ruangannya, dan ternyata, belum jalan sampai pintu, Bella sudah berdiri di pintu kantor, seperti sengaja menunggu Diana kembali.


Bella melihat Diana, menyambutnya, matanya seperti menertawakannya, "Sekretaris Diana, pak Fred ingin kamu ke ruangannya."


Hati Diana berdegup kencang, dan merespons, "Aku mengerti."


Bella melihatnya, bermaksud tidak membiarkan Diana seperti biasa, ia tersenyum dan menatapnya, berdiri ke arahnya, "Sekretaris Diana, apakah menjadi sekretaris itu melelahkan, sampai mau melakukan cinta bersemi kembali dengan pak Jeff."


Diana melihatnya sekilas dengan dingin, tidak berkata apa-apa, langsung pergi ke ruangan Fred.


Saat berjalan ke pintu, Diana merasa agak ragu-ragu, berhenti sejenak, lalu ia memberanikan diri, dan baru mengetuk pintu.


"Masuk."


Terdengar suara Fred, hati Diana tanpa sadar berdetak lebih cepat, ia menghirup udara, lalu mendorong pintu dan masuk.


Saat menunggu Diana menutup pintu, Fred kebetulan mendongakan kepalanya melihatnya datang.


Pandangan mata Fred dingin, bersandar sedikit ke belakang, dan fokus menatapnya.

__ADS_1


Fred menunggu penjelasan Diana.


Fred kembali ke kantor sore, dan tidak menemukan Diana, setelah beberapa jam, tiba tiba ada telepon dari asisten direktur Wu, Fred baru sadar kalau Diana pergi sendiri mencari direktur Wu.


__ADS_2