
Last~
"baiklah, jika kau tak yakin dengan rencana ku, kau bebas tentukan rencananya, untuk berapa jumlah pasukannya, senjatanya, ku serahkan padamu." Ucap Ricko tanpa melihat ke arah Ken
"tetapi aku minta satu hal..." Ucap Ricko berbalik arah melihat Ken yang terdiam saja
"Berhentilah mengkhawatirkan ku seperti anak kecil!" Ucap Ricko
"saya bukan tidak percaya dengan strategi anda, atau meremehkan anda, tapi kita belum mengetahui jumlah besarnya mereka, itu yang saya takutkan..." Ucap Ken tertunduk menyesal
"kau tau Ken~san, alasanku membawa senjata hanya senapan biasa dan katana saja itu apa? itu supaya kita tidak memancing keributan di pusat acara dan kita akan membagi pengawalan menjadi dua." Ucap Ricko menjelaskan maksud dari rencananya
"iya memang saya sembrono ingin menghabisi mereka sendirian, maka dari itu masalah strategi, ku serahkan padamu, terserah kau mau bawa anak buah berapa? tapi jangan terapkan aku di strategi mu." Ucap Ricko meminta bantuan ke Ken
"tapi tuan..." Ucap Ken yang merasa bersalah dengan keegoisannya
"aku bukanlah pemimpin di misi kita ini, dan aku ingin di garis depan, aku tetap akan menghancurkan mereka sendirian, lagipula aku tidak ahli memimpin pasukan, jadi ku serahkan misi pengawalan kepadamu Ken~san" Ucap Ricko
"tapi tuan itu terlalu bahaya..." Ucap Ken yang khawatir
"kita hentikan pembicaraan ini, sudah lakukan saja perintahku." Ucap Ricko
•Back to story•
|.Keesokan harinya di sekolah.|
Ricko sedang duduk di kantin sendirian dan sedang memikirkan sesuatu.
•Ricko POV•
Hari ini adalah ujian yang terakhir, dan besok malam adalah misi pengawalan di acara Tabligh Akbar di pusat kota, rasanya sudah lama sekali terakhir kali aku menjalankan misi Yakuza.
×Flashback on×
"hentikan!! kumohon!! saya ga akan mengusik wilayah anda lagi! saya janji!" Teriak seseorang yang terjatuh ketakutan akan di tebas se sosok pria remaja berambut putih dengan pakaian ala samurai
"kalian pasti sangat merepotkan, sampai - sampai pimpinan mengirim ku untuk turun tangan." Ucap sosok remaja yang berambut putih tersebut kepada pemberontak yang sempat mengacau di pasar
"ampuni saya kumohon!" Ucap pemberontak yang sudah lemas putus asa
"saya tidak tau masalah paman pada keluarga Wijaya itu apa?, yang jelas jika mereka sudah memanggil saya, kalian harus di basmi." Ucap seorang remaja berambut putih itu yang berbicara dengan santai tapi tatapannya menyeramkan
×
Tiba - tiba dari kejauhan ada seseorang yang mampu bangkit dan menembakkan pistol ke arah sosok yang berambut putih tersebut, akan tetapi sosok remaja berambut putih tersebut mampu menghindarinya dengan gesit, dan akibat penembakan tersebut berhasil memberi kesempatan pimpinan pemberontak itu untuk menjauh dari sosok remaja yang berambut putih tersebut.
akan tetapi...
"Dasar lambat..." Ucap sosok yang berambut putih tersebut yang langsung secepatnya kilat mengejar pemimpin pemberontak yang lari tadi
×
*slasshh!
Tebasan katana di layangkan ke arah kaki si pemberontak yang mencoba lari tersebut.
Melihat bos nya yang nyawanya sedang terancam, membuatnya langsung ingin menembak si remaja berambut putih tersebut sekali lagi.
Akan tetapi...
*duuarr!!
Suara tembakan terdengar tapi bukan dari pistol si anak buah pemberontak tersebut, melainkan suara tembakan pistol tersebut berasal dari Ken sang wakil Yakuza keluarga Wijaya yang tepat mengenai bahu anak buah pemberontak yang memegang pistol tersebut.
"semuanya, janganlah ikut campur!, biarlah beliau menyelesaikan misinya, kita di sini cuma memantau pergerakan beliau." Teriak Ken memberitahukan seluruh anak buahnya
"siap dimengerti!" Ucap seluruh anak buah Yakuza keluarga Wijaya
"belum ada yang bisa lari dari daftar buronan ku, kuberitahu, di dalam catatan ku, kalian sudah meresahkan beberapa daerah kekuasaan Yakuza Wijaya beberapa kali selama seminggu lebih, kalian sudah kalah sekali, tetapi kalian tetap mengulangnya lagi. dan untuk kali ini saja ku sampaikan sekali lagi...." Ucap seorang remaja berambut putih tersebut yang berjalan menghampiri si pemberontak yang sudah tak berdaya
"pergilah dari wilayah kami"
*jleeb!
×
Tiba - tiba remaja berambut putih tersebut, menusukkan katana nya ke bahu si pemberontak tersebut.
"kyaaahhh!!" Teriak si pemberontak yang mengerang kesakitan setelah di tusuk oleh remaja berambut putih dengan katana nya
"Ken~san, bukankah ini sudah keterlaluan?! dia itu masih anak - anak!, hentikan dia Ken~san!." Ucap salah satu anak buah Yakuza Wijaya yang tidak senang dengan pemandangan yang ada dihadapannya itu
"dia itu masa depan keluarga Wijaya, kemampuan beladiri, katana nya, sangat sempurna di usianya yang masih belia, masalahnya, jiwanya yang sadis itu tidak bisa di salahkan." Batin Ken melihat tatapan matanya si putih
"lihatlah tatapannya Ken~san, dia sangat berhasrat ingin menghabisi pemberontak itu?" Ucap salah satu anak buahnya keluarga Wijaya
"jangan khawatir, dia sudah di peringatkan untuk tidak membunuh siapapun." Ucap Ken menenangkan seluruh anak buahnya
"ka-kasihanilah aku tuan.." Ucap si pemberontak yang memohon ampun ke remaja berambut putih tersebut
__ADS_1
"sudah kubilang kan, mereka memanggilku untuk menghabisi mu." Ucap pemuda berambut putih yang tiba - tiba menarik katana nya dari bahu si pemberontak tersebut
"kyahh!!!" Teriak si pemberontak yang sangat kesakitan
"hentikan tuan!!, Kita serahkan dia ke polisi, anda terlalu dini untuk menghabisi nyawa seseorang!." Teriak Ken mencegah perbuatan keji tersebut
"urusai! memangnya kau itu siapa?! yang memerintahkan ini adalah ayahku! jadi sudah wajar kan jika anak menuruti perintah sang ayah!." Ucap si pemuda berambut putih itu membentak Ken wakil ketua Yakuza keluarga Wijaya
"benar sekali paman, aku putera dari pemimpin Yakuza, menyedihkan bukan?, anaknya sendiri di jadikan alat untuk membunuh musuhnya." Ucap si pemuda berambut putih tersebut menatap si pemberontak dengan tatapan menyeramkan
×
Dan ternyata pemuda remaja yang berambut putih tersebut adalah Ricko di masa lalu yang terkenal sangat sadis ketika menjalankan misi Yakuza nya.
"da- dasar... i- iblis." Ucap sang pemberontak yang akhirnya jatuh pingsan karena kehabisan darah
"ini gawat! cepat bawa dia ke rumah sakit terdekat!" Teriak Ken memerintahkan seluruh anak buahnya untuk bergerak cepat
×
Lalu Ricko pun menyarung kan kembali katana nya dan berjalan menjauh dari sang pemberontak yang akan di bawa ke rumah sakit.
Dan Ricko pun melewati Ken begitu saja, setelah membentaknya tadi.
"sudah cukup tuan, kembalilah ke rumah, biarkan sisanya kami yang tangani ini." Ucap Ken dengan tegas
"Yokai.." Ucap Ricko yang meninggalkan semua orang
×Flashback off×
Sejak saat itulah aku terkenal sangat sadis kepada semua musuh ayah dan di takuti semua orang bahkan anak buah ku sendiri.
Karena tindakan ku tersebut, akhirnya aku di berhentikan dalam misi Yakuza.
Dan sejak itu juga, aku selalu sendiri, tidak banyak orang yang mau berteman denganku, karena status Yakuza tersebut.
Kurangnya perhatian dari orang tua, yang membuatku semakin tertekan dan menjadi manusia yang tidak berguna.
Tetapi lambat laun, semakin bertambahnya usia dan semakin dewasanya diriku, aku perlahan bisa menerima kenyataan dengan status keluargaku, menahan sisi gelap ku.
Aku mengubah gaya rambut ku menjadi hitam dan menjadi anak muda yang hidup normal sewajarnya, aku juga mencoba mencari teman dan berbaur ke masyarakat dengan caraku sendiri, meski itu sulit bagiku, dan di tambah lagi setelah mereka mengetahui keluargaku yang berprofesi sebagai Yakuza terkenal di kota ini, mereka langsung pergi menjauh.
Jelas, sangat sulit bagiku mencari teman, tetapi perlahan, aku bisa mendapatkan teman yang bisa ku percaya, dan bisa menerima status keluargaku meski jumlahnya sedikit.
jika suatu saat keluarga ini sedang terdesak dan dalam bahaya, aku pasti akan membantu mereka, dan melindungi mereka, karena mereka keluargaku yang paling berharga.
Hingga pada akhirnya keluarga Wijaya menjadi keluarga Yakuza terbesar di kota ini.
•Ricko POV end•
×
Ricko yang sedang melamun sendirian di kantin, tiba - tiba terdengarlah suara bel masuk sekolah, yang tandanya jam ujian terakhir akan di mulai.
"beberapa hari ini aku jarang melihat Ratna ya, apa dia mencoba menghindari ku ya? mungkin... dan juga Shilla...." Batin Ricko yang berjalan menuju kelasnya
"aku sangat merindukannya" Batin Ricko yang berjalan sambil memikirkan Shilla
"bagaimana kabarnya ya?... apa dia sudah memutuskan pilihannya?"
"apa mungkin dia akan menolak ku?" Batin Ricko yang berjalan santai menuju kelasnya
~
"aku ingin tahu, apa yang ia lakukan sekarang ini?"
×
Berpindah ke Shilla yang sedang mengobrol santai dengan seorang siswi di depan kelasnya.
"Ricko~kun adalah pewaris Yakuza!" Ucap Shilla yang terkejut
"jadi kamu baru tahu, kalau ayah Ricko seorang pemimpin Yakuza." Ucap seseorang yang mengobrol dengan Shilla
"tapi alasanku menolaknya bukan karena dia Yakuza atau apa bukan." Ucap Shilla
"lalu?" Tanya seseorang yang mengobrol dengan Shilla
"karena Abi." Jawab Shilla
×
Lalu Shilla menceritakannya semua Maslaah yang ada di pikirannya.
"oh jadi begitu ya, alasanmu menolaknya, ini pasti pilihan yang sulit ya..." Ucap seseorang yang mengobrol dengan Shilla
"ya begitulah senpai" Ucap Shilla mengiyakan apa yang lawan bicara Shilla katakan
__ADS_1
"jika kupikir - pikir lagi, kalian itu sebenarnya cocok lo, eh tapi terserah kamu sih hehehehe" Ucap
seseorang yang bicara dengan Shilla sambil tertawa
×
Shilla menatap dengan penuh kecurigaan kepada lawan bicaranya tersebut.
"tenanglah, aku tidak akan menggangu hubungan kalian kok hahahaha, aku sadar diri kali." Ucap seseorang tersebut
"maaf ya sudah berpikiran buruk tentangmu.... Ratna~senpai." Ucap Shilla yang ternyata sedang berbicara dengan Ratna
"ngapain minta maaf segala, santai aja kali, aku bicara denganmu juga aku ingin tahu kelanjutan hubungan kalian itu seperti apa?" Ucap Ratna yang tersenyum santai ke Shilla
"jika senpai ingin bersama Ricko~kun, gapapa kok ngomong aja." Ucap Shilla yang menatap dengan tatapan serius ke arah Ratna
"aku akan menjauhinya." Ucap Shilla yang tertunduk
"untuk sekarang, yang ada di hatinya adalah kamu."
"jujur aku tidak punya saran apapun mengenai masalahmu ini, memang sulit jika sudah sampai di larang - larang oleh Abi mu itu."
"tapi apapun pilihanmu, itu adalah pilihan yang terbaik untuk kalian, jadi pertimbangkan lah kembali, tanyakan hatimu Shilla~san." Ucap Ratna yang memberikan semangat kepada Shilla yang sedang dilanda kebingungan
"Ricko pasti sedang menunggu jawabanmu." Ucap Ratna dengan senyuman terhias di wajahnya
"makasih senpai, sudah mau mendengar semua keluh kesah ku tadi, makasih juga sudah mendukungku." Ucap Shilla yang memberi senyuman tulus ke Ratna
"hahaha santai aja kali, oh iya ngomong - ngomong aku denger besok malam Abi kamu mengisi acara Tabligh Akbar di kota kan?" Tanya Ratna yang mengalihkan pembicaraan
"iya besok malam di pusat kota, apa senpai mengunjunginya juga kah?" Tanya Shilla yang ingin tahu
"eh hahaha, lihat saja nanti ya, tapi jangan nungguin aku ya hahaha." Ucap Ratna yang menjulurkan lidahnya
"hahaha oke deh" Ucap Shilla yang langsung di balas dengan senyuman
"ngomong - ngomong dia datang ga ya?" Batin Shilla yang bertanya pada dirinya sendiri
"eh mikir apaan sih aku?!, dia kan ahli waris Yakuza?!, mana mungkin dia tertarik dengan acara seperti itu." Batin Shilla yang berdebat dengan dirinya sendiri
"tapi dia kan sekolah di SMA Islami, mungkin juga kan dia ingin berubah menjadi seorang yang lebih baik lagi."
"semoga saja itu benar... amin." Batin Shilla yang berpikiran baik tentang Ricko
~
"ngomong - ngomong sekarang dia sedang ngapain ya?"
×
|.Sementara itu di malam harinya.|
Tiba lah hari di mana acara Tabligh Akbar di pusat kota akan di laksanakan, dan mengenai keamanan sudah di serahkan kepada keluarga Yakuza Wijaya, dan akan di pimpin sendiri oleh puteranya sang pemimpin yaitu Ricko Putra Wijaya.
Sementara itu Ricko sedang menyiapkan diri dengan memakai baju ala samurainya dan mengecat rambutnya kembali menjadi putih.
Ricko yang sedang bersiap - siap untuk berangkat ke lokasi, akan tetapi Ricko bertemu ayahnya di koridor rumah.
"sudah lengkap semuanya kan?" Tanya Wijaya dengan santai
"ya begitulah" Jawab Ricko dengan santai pula
"apa yang lain berangkat duluan?" Tanya Wijaya sang ayah
"iya tadi sudah Ricko perintahkan untuk berangkat duluan untuk observasi tempat lokasi." Jawab Ricko dengan detail
"bunda mu?" Tanya lagi sang ayah
"masih di kamar mungkin, nanti berangkat bareng Ricko pake mobil, supaya tidak ada yang curiga." Jawab Ricko dengan santai
"jika begitu yasudah, jaga lah bunda mu itu ya" Ucap Wijaya memberikan amanah ke anaknya
"haa, otou~sama" Ucap Ricko yang tertunduk dengan sopan memberi hormat kepada ayahnya
"ayah tak ingin kau salah paham lagi seperti di masa lalu, cuma mengingatkan misi mu kali ini cuma mengawal, meski musuh kita akan datang untuk menantang kita di depan umum, kumohon kurangilah kekuatanmu. ayah tau kau semakin kuat sejak kejadian itu, untuk kali ini tahanlah iblis mu itu."
"jangan lah kau membunuh seorang pun di antara mereka, cari tahu saja siapa nama pemimpin mereka. setelah itu, kita siap menyerang markas mereka." Ucap Wijaya dengan tegas memperjelas misi yang ia berikan kepada anaknya
"yokai otou~sama" Ucap Ricko yang menurut apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut
"ayah serahkan padamu Rick... hiyak bukan! tetapi..."
~
~
"Shirich."
~
~Bersambung...
__ADS_1