
Last~
Dengan munculnya sang pemimpin Yakuza Wijaya, berakhirlah perang di antara mafia dan Yakuza tersebut, karena ayah Ricko tersebut berhasil meringkus orang yang menyerang para snipper Yakuza sebelumnya, tidak lain tidak bukan ia adalah tuan puteri milik mafia.
Wijaya sang pemimpin Yakuza mampu menangkap satu perempuan tersebut dan memukul mundur para mafia untuk menarik seluruh pasukannya.
•Back Story•
Sementara itu di sisi pasukan bagian barat Yakuza yang di pimpin oleh Ricko dan Arima telah mengalami kekalahan telak, karena para mafia tersebut menggunakan trik kotor dengan menahan Shilla sebagai sandera.
Sekarang ini mereka semua masih terbaring lemah, dan yang masih mampu bangkit , mereka mencoba menolong rekan lainnya yang terluka.
Ricko yang masih terbaring di pangkuannya Shilla, ia melihat Shilla yang sedang sedih, Ricko mencoba bicara dengannya.
“maaf membuatmu terlibat semua ini.” Ucap Ricko yang masih terbaring
“harusnya aku yang meminta maaf....”
“karena aku yang menyebabkan kekalahan ini terjadi...”
“kalian semua....jadi terluka parah karena melindungi ku....”
“terutama...kamu...Ricko~kun.” Ucap Shilla yang menangis sejadi - jadinya
“tidak kanojo~san, ini bukan salah anda, ini kami yang...” Ucap salah satu anak buah Yakuza yang terpotong
“saya yang salah, bukan kalian...” Ucap Ricko yang sudah bisa duduk sendiri
“seandainya saya tidak meremehkan musuh saat itu...”
“seandainya saya lebih teliti dalam menerapkan strategi perang ...”
“hal ini tidak akan terjadi...” Ucap Ricko yang menangis di depan Shilla dan semua anak buahnya
“Ricko~kun.” Ucap Shilla yang terkejut melihat Ricko menangis
“tidak...tuan muda?.” Ucap salah satu anak buah Yakuza yang juga terkejut melihat Ricko juga menangis
“seandainya aku tidak lemah sebagai pemimpin.... hal ini pasti tidak akan terjadi.” Ucap Ricko yang menghapus air matanya dan mencoba bangkit
×
Ricko mencoba untuk berdiri, akan tetapi ia terjatuh karena badannya yang sudah terlalu letih.
Shilla yang melihat ini, mencoba mencegahnya.
“jangan memaksakan diri!! Kamu itu terluka juga.” Ucap Shilla yang khawatir
“aku ingin melihat keadaannya Arima~san.” Ucap Ricko yang masih mencoba untuk berdiri
“kalau begitu, ku bantu kamu ke sana.” Ucap Shilla meraih tangan Ricko dan membopongnya
“makasih.” Ucap Ricko berterima kasih
×
Ricko dan Shilla pun berjalan menuju ke tempat Arima dengan pelan - pelan.
~Dan setelah sesampainya Ricko di sana~
Ricko duduk di sebelah Arima yang terbaring lemah dan didampingi para anak buahnya.
“bagaimana keadaan Arima~san?.” Tanya Ricko ke anak buahnya yang di dekat Arima
“buruk tuan, Arima~san terlalu banyak kehilangan darah.” Ucap salah satu anak buah Yakuza yang di dekat Arima
__ADS_1
“di dekat sini kalau tidak salah, ada rumah sakit.” Ucap Shilla yang masih membopong Ricko
“cepat bawa dia ke rumah sakit terdekat.” Perintah Ricko
“baiklah tuan.” Ucap salah satu anak buah Yakuza
“sebaiknya kau juga harus ke rumah sakit.” Ucap Shilla memberi saran ke Ricko
“benar tuan muda.”
"biarkan kami membantumu sampai ke sana." Ucap salah satu anak buah Yakuza yang menyetujui saran Shilla
“saya masih kuat, Arima~san lebih membutuhkan untuk sekarang ini, kalian semua juga berobat lah, nanti saya akan menyusul.” Ucap Ricko
“tapi tuan...” Ucap salah satu anak buahnya
“daijobu, pergilah.” Ucap Ricko dengan senyuman
“baiklah tuan muda, kalau begitu saya permisi.” Ucap salah satu anak buah Yakuza yang akhirnya menuruti perintah Ricko
“semuanya!!! Yang masih mampu bertahan, bantu rekan yang terluka untuk berobat di rumah sakit terdekat!!.” Teriak salah satu anak buah Yakuza tersebut mengambil komando
“yokai”
“yokai”
“yokai” Jawab anak buah Yakuza yang lain
×
Setelah di tinggal semua para anak buah Yakuza, yang tersisa hanya Ricko dan Shilla.
“kamu kembalilah, aku bisa ke sana sendiri.” Ucap Ricko meminta Shilla pergi
“nggak!....” Ucap Shilla yang tidak menurut dan memegang erat tangan Ricko
“aku bukan anak buah mu, tapi aku kekasihmu, ingat.”
“dan tugas pertamaku sebagai kekasihmu adalah mengantarmu berobat ke rumah sakit, oke boochan.” Ucap Shilla menegaskan statusnya
“terserah kau saja puteri tidur.” Ucap Ricko yang menurut
“aku bukan puteri tidur tau.” Ucap Shilla yang kesal
“lalu apa? Raja tidur kah? hahahaha.” Ucap Ricko yang tertawa mengejek Shilla
“nggak lucu tau!!” Ucap Shilla yang kesal
×
Di iringi dengan candaan, Shilla membantu Ricko mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
~Setelah sampai~
“apa mau periksa sekarang? atau istirahat dulu?.” Tanya Shilla menawarkan dua pilihan
“nanti dulu, aku mau melihat keadaannya Arima~san dulu.” Ucap Ricko yang masih khawatir dengan keadaannya Arima
“baiklah, kalau begitu kita tanya resepsionis dimana ruangannya Arima~san.” Ucap Shilla menyetujui keinginan kekasihnya itu
×
Setelah menanyakan dimana ruangan Arima pada resepsionis, Ricko dan Shilla lanjut mencari ruangan tersebut yang katanya tidak jauh dari sana.
Ketika hampir sampai di ruangannya Arima, tiba - tiba Ricko meminta Shilla untuk berhenti.
“kamu tunggu di sini.” Ucap Ricko
__ADS_1
“tapi kamu kan.” Ucap Shilla yang tetap ingin ikut
“gapapa, tunggu sebentar di sini, di sana ada banyak orang, oke.” Ucap Ricko meyakinkan Shilla
“baiklah, kamu jalan pelan - pelan saja jangan memaksakan diri.” Ucap Shilla yang masih khawatir
“siap nyonya.” Ucap Ricko yang melepaskan tangan Shilla
×
Ricko pun berjalan sendiri ke arah tempatnya Arima yang sudah dekat, dan di sana sudah ada Ken, para pemimpin pasukan lainnya hingga pemimpin tim snipper dan bahkan ayahnya Ricko sang pemimpin Yakuza, Wijaya.
“itu tuan muda.” Ucap Yuzaki Arashi sang pemimpin snipper
“syukurlah anda baik baik saja tuan muda.” Ucap Kiyoshi Satou sang pemimpin pasukan Yakuza bagian timur
“mari saya bantu tuan muda.” Ucap Suzuki Murayama sang pemimpin Yakuza bagian selatan
“tak perlu, saya masih kuat, bagaimana keadaannya Arima~san, otou~sama.” Ucap Ricko melangkah melewati para pemimpin Yakuza dan bertanya kepada ayahnya
“haa? Darimana saja kau?.” Ucap Wijaya yang berdiri dari duduknya menghampiri Ricko
~Punch!! Brak!!!~
×
Pukulan keras dilayangkan Wijaya ke wajah anaknya sendiri hingga terjatuh.
“tunggu Wijaya~san, tuan muda sedang terluka juga hari ini.” Ucap Ken yang mencoba menahan amarah sang pemimpin Yakuza tersebut
“kenapa baru sekarang kau datang ?!! malam ini sudah menjadi tanggung jawab mu, tapi kau malah bermain - main dengan gadis itu!! Hah!!!.” Teriak Wijaya yang yang murka
“tahan okashira!!.” Ucap Ken menahan Wijaya supaya tidak menghajar Ricko lagi
“tahan oyabun!!.” Ucap Kiyoshi yang membantu Ken menahan pemimpinnya tersebut
“ini rumah sakit okashira, nanti kita bisa bahas ini nanti di rumah.” Ucap Murayama mencoba meredam amarah bosnya tersebut
“harusnya kau menghargai usaha anak buah mu, tapi kau bertindak ceroboh karena wanita itu!!.”
“dan membahayakan semua anak buah mu!!!”
“jangan main - main gaki!!! Ini masalah nyawa!!”
“cukup Wijaya~san!” Teriak Ken yang melepaskan Wijaya
“kau berani membentak ku Ken?!!” Ucap Wijaya yang menoleh ke arah Ken
“maaf kan saya, tapi yang salah di sini bukan hanya Ricko~kun, tapi saya juga.” Ucap Ken yang membela Ricko
“jika saya lebih cepat membereskan bagian saya, hal ini pasti tidak akan terjadi.”
“tidak Ken~san, yang salah adalah saya yang lengah membiarkan saya kalah dari gadis mafia itu.” Ucap Yuzaki Arashi sang pemimpin snipper
“tidak ini....” Ucap Satou Kiyoshi yang terpotong
“cukup!!!” Potong Ricko
“sudah cukup, tak perlu membela saya dan menyalahkan diri kalian masing - masing.”
“dan oyaji, tenang saja, saya akan berhenti."
~
~
~
__ADS_1
~Bersambung....