Jatuhnya Hati Sang Putera Penguasa

Jatuhnya Hati Sang Putera Penguasa
Chapter 35 " Tekad Seorang Anak "


__ADS_3


•Back to story•


Keesokan harinya di kediaman Yakuza keluarga Wijaya.


Ricko yang di interogasi bunda Rita di ruang makan.


“jelaskan kepada bunda, bagaimana ini bisa terjadi?.” Tanya bunda Rita kepada anaknya tersebut


“ceritanya panjang.” Jawab Ricko yang tertekan


“tadi malam, bukannya Rick~kun ada misi pengawalan ya?.” Tanya bunda Rita lagi


×


Tiba - tiba datanglah sang ayah yang cuma melewati istri dan anaknya yang sedang berbincang tersebut.


“hey anata!! apa - apaan wajahmu itu?!.” Tanya bunda Rita yang merasa ada yang aneh dengan suaminya tersebut


“tidak ada apa - apa....” Jawab Wijaya yang mengambil minum di kulkas dan meninggalkan anak dan istrinya tersebut


“apa - apaan dia itu?.” Ucap bunda Rita yang menggerutu sendiri


“apa yang terjadi semalam? Perang?.” Tanya bunda Rita yang langsung mendesak Ricko


“i- iya bunda.” Jawab Ricko yang tertekan


“lalu, Shilla~chan datang menghampirimu di tengah - tengah perang?.” Ucap bunda Rita yang menebak apa yang telah terjadi


“i- iya bunda.” Jawab Ricko yang tertekan lagi


“lalu, kalian jadian di medan perang?.” Ucap bunda Rita yang mendesak anaknya lagi


“i- iya bunda.” Jawab Ricko yang tertekan lagi


“ayahmu mengetahui ini?.” Tanya bunda Rita


“mungkin, tapi bukan itu yang bikin oyaji seperti itu.” Ucap Ricko


“lalu apa?.” Tanya bunda Rita


“kami kalah....” Jawab Ricko menundukkan kepalanya


“kalah? Kok bisa? Kamu kan tak terluka parah?.” Tanya bunda Rita yang heran tak percaya


“memang Ricko gapapa, Shilla pun baik - baik saja, tapi Arima~san yang sekarang ini sekarat...”


“dan penyebab kekalahan ini, Ricko.” Ucap Ricko yang tertunduk dengan rasa bersalah


×


Di saat yang sama, Wijaya berdiri di balik pintu sembari diam menyimak cerita anak dan istrinya tersebut.


Bunda Rita yang menyadari keberadaan suaminya tersebut, ia langsung bertanya.


“benarkah itu anata?.” Tanya bunda Rita kepada Wijaya


“benar.” Kata Wijaya yang berjalan kembali ke arah istri dan anaknya tersebut


“anakmu itu sudah membahayakan nyawa orang lain di medan perang, anakmu itu masih kecil sudah berani main wanita, dan kau itu bahkan tidak layak menjadi seorang pemimpin, dasar.....” Ucap Wijaya yang merendahkan Ricko


“sudah hentikan!!!!.” Teriak bunda Rita yang geram


__ADS_1


“tak apa bunda, oyaji benar, Ricko tak pantas menjadi pemimpin bahkan Yakuza sekalipun.” Ucap Ricko lalu berjalan meninggalkan orang tuanya tersebut


“bagus, lari saja kau! di nasihatin orang tua malah melarikan diri, itu sikap kemimpinan mu?! Dasar.....” Ucap Wijaya yang tak di gubris oleh Ricko yang sudah pergi


×Plak!!!!×


Tamparan tepat di pipi sang pemimpin Yakuza tersebut.


“diam kau Wijaya~san, ucapanmu itu keterlaluan untuk anakku, sebagai ibunya, aku tak bisa menerima itu.”


“kau tahu, apapun kesalahan yang ia lakukan, aku akan memaafkannya, karena aku adalah ibunya.” Ucap bunda Rita yang berjalan pergi meninggalkan Wijaya.”


×


Akan tetapi bunda Rita tiba - tiba berhenti melangkah.


“dan kau adalah ayahnya, bersikaplah seperti ayahnya bukan Yakuza, dasar bodoh.” Ucap bunda Rita dan langsung beranjak pergi meninggalkan suaminya tersebut


×


Bunda Rita menyusul Ricko yang pergi ke kamarnya.


Dan saat tiba di sana, bunda Rita mengetuk pintu dahulu.


×Tok tok tok×


“Rick~kun ini bunda, boleh bunda masuk bicara sebentar nak?.” Tanya bunda Rita yang di depan pintu kamarnya Ricko


“masuk aja bun.” Jawab Ricko


×


Bunda Rita pun masuk kamar Ricko dan melihat Ricko sedang memasukkan bajunya di sebuah koper.


“Rick~kun sedang ngapain?.” Tanya bunda Rita yang mulai risau


“memang benar Ricko penyebab kekalahan ini, Ricko tak bisa menyangkal itu, tapi Ricko juga tak bisa menerimanya, baik kekalahan dan juga harga diri sebagai pemimpin....”


“dan sepertinya oyaji tak bisa menerimanya, tidak suka Ricko berada disini.” Ucap Ricko yang mencurahkan isi hatinya kepada bunda Rita


“itu tidak benar, ayahmu.....” Ucap bunda Rita yang terpotong


“entah ini Cuma perasaan Ricko atau apa, dari kecil sampai sekarang, Ricko tak pernah merasakan oyaji itu sosok ayah yang peduli dan sayang kepada Ricko.”



“dia itu selalu marah ketika Ricko membuat kesalahan, seolah - olah Ricko selalu gagal di mata oyaji.”


“oyaji tak pernah memberitahu apa yang sebaiknya Ricko lakukan itu bagaimana?, dia hanya bisa menyalahkan seolah - olah dia orang yang paling benar di sini.” Ucap Ricko yang memotong perkataan bunda Rita


“sabar nak, ini bisa dibicarakan secara baik - baik.” Ucap bunda Rita yang menenangkan anaknya tersebut


“nggak bunda, Ricko sudah berusaha untuk tetap menghormatinya selama ini dan memahaminya sejak saat itu.....”


“Ricko sudah berlatih keras dalam seni berpedang, kontrol emosi, menekan hasrat membunuh, akan tetapi apa? Dia itu hanya mementingkan ego dan kekuasaannya saja, tanpa memperdulikan perkembangan dan perasaan anaknya sendiri.” Ucap Ricko yang masih merapikan bajunya di dalam koper yang akan dia bawa


“bukan seperti itu nak, ayahmu itu orangnya disiplin, dia melakukan semua ini demi kebaikan masa depanmu.”


“memang ayahmu itu tidak mampu menyampaikannya dengan benar.” Ucap bunda Rita yang tetap mencoba meredam emosi anaknya tersebut


“sudahlah bund, keputusan Ricko sudah bulat.”


“maaf, Ricko harus pergi.” Ucap Ricko yang memeluk bunda Rita yang langsung menangis


“Ricko sayang bunda, nanti jika Ricko udah punya tempat tinggal yang baru, Ricko beritahu bunda.” Ucap Ricko yang mengelus pundak bundanya yang menangis lalu melepaskan pelukannya

__ADS_1


“nggak Ricko! Hey!.” Teriak bunda Rita yang terduduk meratapi kepergian anaknya tersebut


×


Ricko pun pergi dari kamarnya meninggalkan bunda Rita yang menangis sendirian, akan tetapi di depan kamarnya sudah ada Wijaya yang berdiri menunggu Ricko.


“mau kemana?.” Tanya Wijaya


“bukan urusanmu jiji.” Jawab Ricko yang berjalan melewati ayahnya tersebut


“setelah mempermalukan keluargamu, membahayakan nyawa orang lain, sekarang kau membuat ibumu menangis.”


“laki - laki macam apa kau ini hah?!!!.” Teriak Wijaya kepada Ricko yang beranjak pergi darinya


×


Ricko tetap berjalan pergi, dan dibelakangnya Wijaya yang mengikuti dan mencoba berbicara dengan anaknya .


“mau pergi kemana kau brengsek?!!.” Teriak Wijaya yang mengikuti dibelakang dan tak digubris anaknya tersebut


×


Ricko berjalan melewati seluruh anak buah Yakuza keluarga Wijaya, dan diikuti ayahnya yang masih di belakangnya, Ken yang melihat kejadian tersebut hanya bisa diam.


“tuan muda.” Batin Ken yang melihat Ricko berjalan membawa sebuah koper


“jawab pertanyaan ayahmu ini pengecut!.” Teriak Wijaya yang masih diabaikan oleh anaknya sendiri


×


Ricko mengambil kunci sepeda motor dan akan menaiki sepeda motornya, akan tetapi Wijaya sekali lagi meneriakinya.


“sudah cukup!!.” Teriak Wijaya yang berhasil mendapat perhatian anaknya dan membuatnya berhenti


“jika kau ingin pergi meninggalkan rumah ini, jangan gunakan fasilitas yang telah kuberikan padamu!!.” Ucap Wijaya dengan lantang


“baiklah.” Ucap Ricko yang menurutinya


×


Ricko pun turun dari sepeda motornya dan membawa barang bawaannya di koper, serta melemparkan kunci sepeda motor ke arah Wijaya namun tidak sampai di tempat Wijaya.


Ricko pun pergi dari rumah dengan berjalan kaki, di ikuti Wijaya dan seluruh anak buahnya yang berhenti di depan pintu utama rumah Wijaya.


“hahaha, bisa apa kau di luar sana tanpa uang dan fasilitas dariku hah!.”


“tunggu saja, kau pasti akan kembali!.” Teriak Wijaya yang marah besar


×


Ricko tetap berjalan menjauhi rumahnya dan mengabaikan apa ucapan dari ayahnya tersebut.


~


~


“akan ku buktikan, suatu hari nanti....”


~


~


“aku akan melewatimu, oyaji.”


~

__ADS_1


~


~bersambung......


__ADS_2