
Ting...
Suara ponsel Alisha, ada pesan masuk dari Fathan
Kak Fathan
Aku berangkat ya sayang, i love you π
Me
Iya Kak, hati-hati. I love you tooπ
Mungkin itu akan menjadi chat terakhir dari Fathan sebelum pergi ke luar kota. Lebih tepatnya sih chat terakhir sebelum dia meninggalkan Alisha untuk selamanya. Tapi Alisha menepis semua pikiran itu, karena dia ingin meyakinkan dirinya kalau Fathan akan kembali dan menikah dengannya.
Setelah membalas pesan dari Fathan, Alisha segera pergi ke kantor meskipun rasa kantuk masih menyelimuti dirinya karena semalaman dia terjaga. Seperti biasanya, bisa berangkat dengan motor kesayangannya.
Sama halnya dengan Rangga yang memaksakan datang ke kantor meskipun dia sangat ngantuk karena semalaman begadang.
Sesampainya di kantor, mereka masuk ruangan, dan mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing. Tidak ada obrolan serius tentang permintaan Fathan, mereka hanya mengobrol seputar kerjaan saja.
Saat sedang fokus bekerja, ponsel Alisha berdering. Alisha melihat ponselnya dan tertera nama Mama Indah.
"Mama Indah menelpon, ada apa ya? Kok perasaanku jadi nggak enak begini?", batin Alisha.
Tanpa menunggu lama, Alisha menerima panggilan itu
"Assalamu'alaikum Ma".
"Wa'alaikum salam Alisha", jawab Mama Indah dengan isak tangisnya.
"Ma, ada apa? Kenapa Mama menangis?", tanya Alisha bingung.
"Alisha, kamu yang sabar ya Nak. Fathan mengalami kecelakaan saat perjalanannya menuju ke luar kota", jawab Mama Indah dengan tangisnya.
"Terus sekarang bagaimana keadaannya Ma?".
"Nyawanya tidak tertolong Alisha, Fathan meninggal di tempat kejadian".
"Apa Ma? Itu tidak mungkin", ucap Alisha dengan tangis histeris dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Kak Fathan.....jangan tinggalin Alisha", Alisha berteriak histeris memanggil nama Fathan.
Rangga yang melihat itu, langsung menghampiri Alisha. Dia mengambil ponsel yang terjatuh, dilihatnya ponsel itu masih dalam panggilan dengan Mama Indah. Rangga mencoba berbicara dengan Mama Indah untuk menanyakan apa yang sudah terjadi.
"Halo, tante Indah. Ini saya Rangga, sebenarnya apa yang telah terjadi ya tante?".
Mama Indah cuma bisa menangis.
"Tante", panggil Rangga.
"Rangga, hiks..hiks..hiks... Fathan mengalami kecelakaan".
"Terus, bagaimana keadaannya sekarang, Tan?".
"Fathan meninggal di tempat kejadian".
"Inalillahi wa inna ilaihi raji'un. Terus sekarang jenazahnya bagaimana Tan?".
"Jenazahnya sudah dalam perjalanan menuju ke rumah".
"Ya sudah kalau gitu Tante, saya akan segera ke sana bersama Alisha".
"Iya Rangga. Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikum salam", Rangga mematikan panggilan itu. Dan mendekati Alisha.
"Alisha, yang sabar ya! Jenazah Fathan sudah dalam perjalanan menuju rumah duka. Ayo kita ke sana!", ajak Rangga.
"Kak Rangga, Hiks.. Hiks... Hiks...", Alisha masih terus menangis.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita menikah, tapi kenapa dia meninggalkan aku Kak?Apa dia tidak sayang sama aku?", tanya Alisha masih dengan tangisnya.
"Alisha, Fathan sangat menyayangimu".
"Kalau dia sayang sama aku, kenapa dia meninggalkan aku, ha? Jawab Kak!. Kakak nggak bisa jawab kan?".
"Alisha, istighfar Alisha. Kamu nggak boleh seperti ini. Sudah, lebih baik kita ke rumah duka. kita do'akan Fathan bersama-sama".
Di saat Rangga mencoba menenangkan Alisha, Rendy datang dan masuk ke ruangan kerja mereka. Rendy datang ingin menyampaikan berita duka tersebut.
"Bro, Fathan kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian. Ayah dan ibu Alisha sudah ada di rumah duka. Sebaiknya kita juga ke sana untuk melayat".
"Iya Ren, aku udah tahu. Tapi masalahnya, Alisha masih shock dan tidak percaya hal itu. Dia terus menangis".
"Terus bagaimana?", tanya Rendy.
Rangga menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa yang harus dilakukan karena melihat kondisi Alisha seperti itu. Tapi tetap berusaha menenangkan Alisha dan membujuknya untuk datang ke rumah duka.
"Alisha, ayo kita pergi ke sana ya!.", bujuk Rangga.
"Kamu harus menerima kenyataan ini, kamu yang sabar ya! Sebaiknya kita ke sana ikut mendo'akan Fathan dan ikut pemakamannya".
Alisha tidak menjawab,dia malah menatap tajam ke arah Rangga yang membuat Rangga heran dan tidak mengerti arti tatapan Alisha.
"Ini yang kamu inginkan kan Kak?", dengan tatapan tajam dan menangis.
"Maksud kamu apaan Sha?", tanya Rangga.
"Kamu senang kan dengan kepergian Kak Fathan?Karena dengan begitu kamu bisa menepati janji yang sudah kamu buat dengan Kak Fathan kemarin?. Kamu menerima wasiat Kak Fathan kan?".
"Alisha", bentak Rangga.
Rendy yang melihat perdebatan Alisha dan Rangga menjadi bingung. Dia tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Maaf, Alisha. Bukan maksud aku membentak kamu. Tapi?. Ya sudahlah, lebih baik kita ke rumah duka, tidak seharusnya kita berdebat seperti ini".
"Alisha, mau kemana?. Tunggu!. Bareng sama aku dan Rendy aja", cegah Rangga.
Namun, lagi-lagi Alisha tidak menghiraukan Rangga. Dia berlalu begitu saja keluar dari kantor dan menunggu taksi. Dia menuju rumah duka dengan taksi yang sudah dipesannya.
Rangga dan Rendy yang masih diam di tempat cuma bisa menggelengkan kepala.
"Alisha, Alisha, dalam situasi seperti ini pun dia masih saja bersikap keras kepala seperti itu", ucap Rendy.
"Ya sudah Ren, ayo kita berangkat ke rumah duka!", ajak Rangga.
*
*
*
Sesampai di rumah duka, Alisha langsung memeluk ibunya, menangis di pelukan ibunya.
"Ibu... Hiks.. Hiks.. ".
"Yang sabar ya Nak, kamu harus kuat".
"Tapi Bu?. Kenapa Kak Fathan meninggalkan alisha begitu cepat. Padahal sebentar lagi kita akan menikah. Dan semuanya juga sudah dipersiapkan. Kenapa Allah tidak adil kepada alisha Bu? Kenapa di saat Alisha dipertemukan kembali dengan cinta pertama Alisha, Allah mengambilnya begitu cepat. Apa Allah tidak mau melihat Alisha bahagia dengan Kak Fathan?".
"Alisha, istighfar Nak. Tidak boleh ngomong seperti itu. Ini semua sudah takdir, kamu harus bisa menerima kenyataan ini", ucap Ibunya.
Dan tiba-tiba, Alisha pingsan tak sadarkan diri dalam pelukan ibunya.
"Alisha.. Alisha..", panggil ibunya dengan menggoyang-goyangkan badannya.
Mama Indah yang melihat Alisha pingsan, langsung mendekati Ibu Almira, dan dia meminta bantuan Rangga yang kebetulan sudah sampai di rumah duka.
"Rangga,tolong bawa Alisha ke kamar Fathan".
__ADS_1
"Iya Tante".
Rangga membawa Alisha ke kamar Fathan sesuai perintah Mama Indah,dia membaringkan tubuh Alisha di ranjang. Ibu Almira dan Mama Indah mengikuti di belakang.
Setelah Rangga membaringkan Alisha di ranjang, dia pamit keluar dari kamar.
"Kalau begitu, Rangga permisi keluar".
"Iya Nak", jawab Ibu Almira.
Setelah kepergian Rangga, Mama Indah dan Ibu Almira menatap Alisha yang terbaring di ranjang. Merasa kasihan dengan Alisha atas ujian yang menimpanya.
"Kasihan Alisha, dia begitu terpukul. Apalagi acara pernikahannya sebentar lagi dilaksanakan", ucap Mama Indah.
"Iya bu", jawab Ibu Almira sambil sesenggukan.
"Oh iya Bu, maaf sebelumnya. Saya disini saja ya menjaga Alisha", ucap Ibu Almira.
"Iya, lebih baik Ibu disini menemani Alisha. Saya yang akan keluar menyambut kedatangan para pelayat dan mempersiapkan proses pemandian Fathan karena sebentar lagi sampai".
"Iya Bu".
Selang beberapa menit, jenazah Fathan sampai di tempat duka. Jenazah segera dimandikan, dikafani, dan dibacakan tahlil sebelum dibawa ke tempat pemakaman. Setelah semua selesai, tanpa menunggu lama, jenazah langsung dibawa ke tempat pemakaman.
Semua orang yang hadir ikut mengiringi jenazah menuju tempat pemakaman, demikian juga dengan Rangga dan Rendy yang ikut serta. Sebagai penghormatan terakhir, Rangga ikut masuk ke dalam liang lahat dalam proses pemakaman tersebut.
Setelah proses pemakaman selesai, kemudian pembacaan doa untuk almarhum yang dipimpin oleh ustadz setempat. Setelah pembacaan doa selesai, semua orang pulang kecuali Rangga.
"Rangga, ayo kita pergi!", ajak Ayah Hendrawan.
"Saya masih mau disini Pak", jawab Rangga.
"Ya sudah kalau gitu. Saya duluan".
"Iya Pak", jawab Rangga.
Sepeninggal orang-orang, Rangga mendo'akan Fathan lagi. Kemudian dia berbicara seorang diri di makam Fathan.
"Fathan, aku masih tidak percaya dengan kepergian kamu ini. Ini terlalu cepat Fathan. Aku juga masih bingung akan wasiat kamu kemarin. Apa aku harus bahagia, apa harus sedih?. Aku memang sudah berjanji untuk menjaga dan menyayangi Alisha setelah kepergian kamu. Tapi bagaimana dengan Alisha?. Dia tidak mencintaiku, dia menganggap ku sebagai orang yang egois karena telah menerima wasiat dari kamu".
"Fathan, maafkan aku selama ini ya, aku sudah banyak salah sama kamu. Semoga engkau tenang di sana, semoga husnul khatimah. Aku akan selalu mendoakan kamu. Sudah dulu ya, aku pamit pulang. Aku akan sering datang kesini untukmu. Assalamu'alaikum".
Kemudian Rangga berdiri dan saat hendak berjalan, di hadapannya sudah ada Alisha bersama ibunya diantar Rendy.
"Alisha? Ibu?", ucap Rangga kaget dengan kedatangan mereka. Karena yang Rangga tahu Alisha masih belum sadarkan diri.
"Iya Nak, Alisha sudah sadar dan minta diantar ke makam Fathan", jawab Ibu Almira.
Alisha berjalan menuju makam Fathan melewati Rangga. Jangankan menyapa Rangga, menoleh sedikitpun ke arah Rangga pun tidak. Dia langsung duduk di samping makam Fathan dan mendo'akan Fathan. Demikian juga dengan Ibu Almira.
Rendy dan Rangga berjalan agak menjauh dari mereka tapi tetap dalam pandangan ke arah mereka. Rendy dan Rangga masih setia menunggu Alisha dan Ibunya sampai selesai berdoa..
Sembari menunggu, Rendy dan Rangga mengobrol. Rendy menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara Fathan, Alisha dan Rangga. Kemudian Rangga menceritakan semuanya kepada Rendy tentang pertemuan mereka bertiga.
"Oh, begitu?. Berarti itu firasatnya sebelum dia meninggalkan kita", ucap Rendy.
"Iya seperti itu", jawab Rangga.
"Terus bagaimana selanjutnya?", tanya Rendy.
"Nggak tahu Ren, aku menunggu keputusan dari Alisha saja".
"Ya sudah kalau gitu, semoga apapun keputusan kalian berdua semoga itu yang terbaik".
Rangga menjawabnya dengan anggukan kepala.
Setelah selesai berdoa untuk Fathan, mereka pulang. Alisha dan ibunya satu mobil dengan Rendy, sedangkan Rangga di mobilnya sendirian.
.
__ADS_1