Jodoh Karena Wasiat

Jodoh Karena Wasiat
Bab 42. Drama Korea


__ADS_3

"Ahhhh... ", teriak Alisha saat membalikkan badannya dan menabrak seseorang.


Alisha hampir saja jatuh, namun dengan sigap Rangga merengkuh pinggangnya hingga kedua pasang mata tersebut saling menatap.


"Allah, kenapa jantung ini. Setiap kali bersentuhan dengan Kak Rangga jantung ini selalu berdetak kencang", gumam Alisha dalam hati.


Setelah menyadari hal itu, Alisha langsung melepaskan diri dari Rangga.


"Kak Rangga ngapain kesini?", tanya Alisha.


"Cuma ambil minum. Kamu aja yang selalu cari kesempatan. Alasan kepeleset lah, jatuh lah, itu modus kamu kan supaya bisa aku tolong dan aku sentuh gitu", ucap Rangga sembari tersenyum.


"Apaan coba", Alisha berlalu meninggalkan Rangga, tapi dengan cepat Rangga menarik tangan Alisha dan mendudukkan dia di salah satu kursi yang ada di dapur.


Rangga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha, saat hidung mereka bertemu, Alisha dengan cepat mendorong Rangga dan dia berlalu pergi. Rangga tersenyum melihat kepergian Alisha. Yah, senyum bahagia tentunya karena sudah membuat Alisha malu.


Rangga keluar dari dapur mencari keberadaan Alisha. Dilihatnya Alisha sedang menonton TV. Rangga menghampirinya dan ikut duduk di sofa yang diduduki Alisha. Rangga duduk membawa gelas berisi air minum di tangannya


"Lagi nonton apa? Serius amat".


"Nonton drama korea, seru pokoknya. Pemainnya yang cowok ganteng-ganteng, yang cewek cantik-cantik, ceritanya juga bagus banget deh", ucap Alisha dengan wajah gemasnya.


"Padahal gak usah loh memuji aktor-aktor itu. Suami di sampingmu ini aja udah ganteng kayak oppa-oppa korea".


Alisha menoleh ke arah Rangga dengan mata melotot dan nyengir.


"Jangan nyengir gitu, kamu emang g nyadar apa kalau punya suami seganteng aku?".


Alisha cuma menjawab dengan menaikkan kedua bahu.


Rangga meletakkan gelasnya di atas meja dan bicara serius dengan Alisha.


"Alisha, aku boleh tanya sesuatu nggak?".


"Tanya aja, apa?", jawab Alisha tapi masih fokus dengan drama koreanya.


"Kalau diajak ngomong itu menghadap ke orangnya lah".


Alisha tersenyum kemudian mengubah posisinya menghadap Rangga dengan posisi duduk bersila.


Rangga menggenggam kedua tangan Alisha, lalu meletakkan satu tangan Alisha ke dadanya, lebih tepatnya di detak jantungnya.


"Rasakan ini, ini lah perasaan aku yang sesungguhnya kepadamu. Aku kemarin marah sama kamu itu karena aku merasa kalau kamu sudah membohongiku. Setelah melihat foto itu, aku merasa kamu mempermainkan perasaanku, selingkuh di belakangku. Makanya aku langsung emosi karena aku takut kehilanganmu. Oh iya, apa yang membuatmu kembali kepadaku? Apa kamu sudah mulai mencintaiku?".


Alisha menarik tangannya yang tadinya berada di dada Rangga.


"Ke PD an kamu Kak. Siapa juga yang mencintaimu".


"Terus?".


"Jujur aku nggak tahu perasaan aku yang sebenarnya. Memang aku sudah merasa nyaman di dekat Kakak, namun ada perasaan lain juga yang aku rasa. Kadang aku merasa takut, trauma dengan apa yang sudah Kakak lakukan sama aku. Makanya kemarin aku pergi dari sini untuk menenangkan diriku. Selama di rumah Sinta, aku melakukan sholat istikharah juga, dan jawabannya tetap sama. Yaitu kembali sama Kakak. Dari situ aku mulai belajar lagi, memulai dari awal lagi sama Kakak. Satu hal lagi yang harus Kakak tahu, apapun keadaannya tidak ada sedikitpun aku kepikiran untuk selingkuh. Sudah jadi prinsip ku, kalau aku sudah menikah aku tidak akan berpaling ke yang lain. Meskipun aku menikah bukan dengan Kakak, aku akan melakukan hal yang sama yaitu akan selalu setia dengan suami aku".


"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah mau memaafkan ku, dan terima kasih juga karena sudah kembali lagi kepadaku".


Alisha mengangguk.


Rangga mengeluarkan amplop coklat dan juga cincin pernikahannya dari saku celananya.


"Alisha, mana jarimu".


Alisha mengulurkan jarinya, dan kemudian Rangga memasangkan cincin itu di jari manis Alisha. Lalu membuka isi amplop tersebut.


"Alisha, ini kamu dapat kiriman amplop dari mana?".


"Itu? Aku sendiri nggak tahu siapa yang mengirimnya".


"Apa kamu sudah melihat isinya?".

__ADS_1


"Sudah", jawab Alisha santai


"Kenapa kamu diam dan tidak ngomong sama aku? Apa nggak cemburu atau marah gitu sama aku?"


"Dari lubuk hatiku ada sedikit rasa cemburu. Dan juga ada kemarahan, namun aku menepis semua itu".


"Mengapa?".


"Karena aku tidak percaya sepenuhnya dengan foto itu, terus aku juga sengaja ingin menanyakan perihal foto itu sama Kakak di waktu yang tepat".


"Hmmm.... Makasih", ada rasa bangga dan beruntung karena mempunyai istri seorang Alisha.


"Untuk?".


"Untuk kepercayaan dan pengertian mu".


"Berhubung sekarang Kakak membahas ini, aku mau tanya. Apa benar yang terjadi di foto itu? Antara Kakak dan Kak Sandra?".


"Ya nggak mungkin lah, itu foto cuma rekayasa. Aku nggak mungkin ngelakuin itu dengan dia. Aku tuh cintanya sama kamu".


"Kalau memang Kakak beneran cinta sama aku, harusnya Kakak juga percaya sama aku. Harusnya Kakak nggak percaya hanya dengan sebuah foto".


"Iya, sekali lagi aku minta maaf sama kamu".


"Iya. Ya sudahlah aku mau lanjut nonton drakor lagi".


"Ini sudah malam loh, nggak tidur?".


"Nggak, Kakak tidur duluan aja".


Rangga pun tidur tapi tidak di atas ranjang, melainkan tidur di sofa dengan posisi duduk di samping istrinya. Setelah cukup lama menonton drakor, Alisha pun ngantuk dan tertidur juga tanpa mematikan TV nya terlebih dahulu. Tanpa mereka sadari, akhirnya mereka tertidur di sofa yang sama. Alisha tidur dengan posisi duduk dan meletakkan kepalanya di bahu kanan Rangga.


Karena merasa berat di bahunya, Rangga pun bangun. Ternyata Alisha yang tidur di bahunya. Rangga menekan tombol off pada remote TV. Perlahan-lahan menggendong Alisha dan dipindahkan ke atas ranjang. Menyelimuti Alisha supaya tidurnya lebih nyenyak. Tak lupa dia mengecup kening Alisha.


"I love you so much Alisha ku".


*


*


*


Sang fajar mulai menampakkan wujudnya, pertanda hari sudah pagi. Mereka pun membuka matanya sontak mereka kaget karena posisi mereka yang tidur berpelukan.


Kali ini Alisha tidak teriak seperti sebelumnya. Mereka malah saling menatap dengan intens, seakan rasa cinta di hati Alisha sudah tumbuh seperti bunga - bunga bermekaran. Mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Kak, udah yuk kita sholat dulu sebelum habis waktunya".


"Iya".


Alisha turun dari ranjang lebih dulu, mandi terus ganti pakaian.


Selanjutnya giliran Rangga yang masuk ke kamar mandi. Sembari menunggu Rangga keluar dari kamar mandi, Alisha memakai mukenah serta menyiapkan sajadah untuk Rangga dan juga dia. Tak butuh waktu lama, Rangga keluar dari kamar mandi.


"Kak, kok cepat? Nggak mandi dulu gitu?".


"Nanti aja mandinya pas mau pergi ke kantor. Cuma cuci muka, gosok gigi sama wudhu sajalah".


"Mmmm... Ya udah kalau gitu. Yuk Sholat".


Setelah sholat, Alisha bergegas ke dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Selang beberapa menit, semuanya sudah tersaji di meja. Alisha kemudian masuk ke kamarnya untuk memanggil Rangga.


Ceklek...


Alisha membuka pintu kamarnya. Dan terlihat Rangga sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan masih dipenuhi tetes air di badannya.


"Kak, kebiasaan deh kalau lagi ganti baju itu pintu kamar dikunci dong. Atau bajunya dibawa aja gitu ke kamar mandi dan ganti didalam sana".

__ADS_1


Rangga mendekat ke arah Alisha.


"Alisha ku sayang, kenapa aku harus mengunci pintunya? Lagian ini kan kamar kita dan memang cuma kita berdua yang tinggal di apartemen ini. Terus, apa perlu dikunci gitu?".


Rangga semakin mendekat dan berbisik di telinga Alisha.


"Bukankah kamu juga sudah melihat juniorku?".


Deg


"Waduh, kan Kak Rangga tahu kalau aku yang gantikan bajunya waktu itu", batin Alisha.


"A-pa Kak?".


"Nggak usah pura-pura. Aku tahu, yang menggantikan pakaianku waktu itu kamu kan? Kalau kamu mau lihat lagi juga nggak apa-apa kok, halal dan juga gratis untukmu".


"Otak Kakak harus dicuci biar nggak mesum".


"Mesumnya kan sama kamu, bukan dengan yang lain".


"Ya udah, aku keluar aja kalau gitu. Lanjutkan saja ganti bajunya".


"Kamu harus disini temani aku".


"Kak, yang bener aja. Masa' iya aku temani Kakak ganti baju".


"Nurut apa kata suami".


"Iya, iya", Alisha menurut dan tetap di kamar namun dengan menutup matanya.


"Kenapa harus ditutup matanya seperti itu?".


"Mau aku keluar apa tetap disini?".


"Ya udah", Rangga tetap melanjutkan berpakaian hingga selesai.


"Sudah selesai, buka matamu", perintah Rangga.


Alisha membuka matanya dan menghampiri Rangga yang berada di depan cermin hendak memasang dasi. Alisha meraih dasi itu dan memasangkannya. Saat sedang fokus memasang dasi, Rangga mengambil kesempatan dalam posisi tersebut.


Cup..


Ciuman mendarat di pipi kanan Alisha.


"Sudah Kak, ayo keluar kita sarapan!", ajak Alisha sengaja mengalihkan pandangan Rangga.


"Sebentar Alisha sayang, ada yang belum selesai".


"Apa Kak?".


Cup..


Satu ciuman lagi di pipi kiri Alisha.


"Kak Rangga ih", Alisha memanyunkan bibirnya.


"Jangan manyun gitu, mau dicium juga?".


"Ayo, sarapan!", ajak Rangga dengan memeluk pinggang Alisha saat keluar dari kamar.


Setelah sarapan, Rangga pamit pergi. Alisha mencium punggung tangan Rangga dan dibalas kecupan di kening oleh Rangga.


"Hati-hati di jalan!".


"Iya, Assalamu'alaikum. Emmuuach".


"Wa'alaikum salam".

__ADS_1


__ADS_2