Jodoh Karena Wasiat

Jodoh Karena Wasiat
Bab 49. Alisha Hamil


__ADS_3

4 bulan berlalu dari kejadian kecelakaan Sinta. Kini, Sinta dan Fajar semakin dekat. Mereka selalu bersama di setiap kesempatan yang ada.


Demikian juga dengan Alisha yang kini mulai ada tanda-tanda kehamilan, namun dia tidak menyadari hal itu.


"Hoam", Alisha bangun tidur dan meregangkan otot-ototnya.


Tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah. Alisha beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu menuju kamar mandi.


"Huek.. Huek", Alisha memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi.


Rangga yang mendengar hal itu langsung bergegas masuk ke kamar mandi.


"Sayang, kenapa?".


Alisha cuma menjawab dengan gelengan kepala.


Rangga dengan sigap mendekati Alisha dan memijat tengkuk leher Alisha. Setelah semuanya keluar dari mulutnya, Rangga menuntun Alisha keluar dari kamar mandi dan menyuruhnya istirahat.


Rangga pergi ke dapur membuatkan Alisha teh hangat. Lalu membawanya ke kamar.


"Sayang, ini diminum dulu ya", Rangga memberikan segelas teh tersebut.


Alisha menerimanya dan meminumnya.


"Sayang, kita ke dokter aja, biar tahu keadaanmu", bujuk Rangga.


"Nggak usah Kak. Paling cuma kecapekan aja atau mungkin asam lambungku naik".


"Kalau gitu aku di rumah aja, nggak usah ke kantor".


"Nggak apa-apa kok, kakak ke kantor aja".


"Yakin? Nggak apa-apa kalau aku ke kantor?".


"Iya".


"Ya udah kalau gitu, aku mandi dan siap-siap ke kantor".


Alisha mengangguk sembari tersenyum. Melihat senyum istrinya yang begitu manis, Rangga langsung mencium bibirnya.


"Udah Kak, katanya mau mandi", ucap Alisha melepas mendorong Rangga dengan lembut.


Rangga pun tersenyum dan langsung menuju kamar mandi. Setelah siap, dia pamit sama Alisha untuk berangkat ke kantor.


"Aku berangkat dulu ya sayang", ucap Rangga kemudian mengecup kening Alisha.


"Iya, hati-hati".


"Kamu juga ya!. Kalau terjadi apa-apa langsung telpon aku", pesan Rangga.


"Iya Kak".


Rangga meninggalkan Alisha dan menuju ke kantor. Sesampai di kantor, Rangga langsung mengerjakan pekerjaannya. Tapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi karena khawatir dengan keadaan Alisha yang sendirian di rumah.


Kekhawatiran Rangga memang beralasan karena melihat keadaan Alisha tadi pagi. Tidak mau menunggu lama, Rangga pun balik ke apartemennya, semua pekerjaannya diserahkan sama Rendy.


Sesampai di apartemen, dia langsung menuju kamarnya. Dilihatnya Alisha meringkuk di atas ranjang dengan memakai selimut.

__ADS_1


"Sayang", ucap Rangga saat sudah di atas ranjang.


Dia membuka selimut yang dipakai Alisha, terlihat wajah Alisha yang begitu pucat dan lemas.


"Sayang, kita ke dokter ya?".


Alisha tak menjawabnya karena tidak berdaya.


Dengan sigap, Rangga langsung menggendong Alisha membawanya ke dalam mobil dan menuju ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Alisha langsung ditangani oleh dokter. Rangga menemani istrinya itu selama diperiksa sama dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?".


"Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Ibu Alisha tidak apa-apa kok".


"Maksudnya dok? Tadi pagi istri saya itu muntah-muntah dan sekarang terlihat pucat dan lemas. Kok bisa dokter mengatakan kalau istri saya baik-baik saja?".


Dokter hanya tersenyum menanggapi ucapan Rangga.


"Seharusnya anda bahagia kalau tahu istri anda mengalami tanda-tanda seperti itu", ucap dokter sembari tersenyum.


Rangga mengernyitkan dahinya tidak bisa memahami apa yang diucapkan dokter tersebut.


"Istri anda hamil".


"Apa? Saya hamil, Dok?", sahut Alisha terkejut.


"Iya, anda hamil. Tapi untuk lebih memastikan hal itu, anda harus periksa ke dokter obgyn. Untuk sementara ini saya kasih resep obat mengurangi rasa mual dan vitamin. Dan hari ini juga anda boleh pulang".


"Baik, terima kasih Dok", ucap Alisha.


"Iya Dok", jawab Rangga dan Alisha.


Sepeninggal dokter, Rangga mendekati ranjang Alisha. Mengecup kening Alisha, lalu turun ke bibir Alisha. Rangga menciumnya agak lama, namun Alisha sadar dan langsung melepaskan ciuman itu.


"Kak, kebiasaan deh. Kalau di tempat umum kayak gini nggak usah begitulah. Nanti kalau ada yang lihat gimana? Aku kan malu".


"Kenapa mesti malu? Kita kan udah sah".


Rangga memegang kedua tangan Alisha dan terus menciuminya.


"Hari ini aku sangat bahagia dengar berita tersebut. Terima kasih ya Alishaku sayang. Telah mengandung anak kita. Dan akhirnya aku jadi lelaki yang sesungguhnya karena bisa membuatmu hamil", ucap Rangga sambil tersenyum bahagia.


"Kak, ngomongnya bisa disaring dikit nggak sih? Kebiasaan deh. Ya udah sana, urus administrasinya dulu biar Alisha bisa cepat pulang".


"Iya, iya sayangku. Aku keluar dulu ya urus administrasi dan tebus obat untuk kamu", ucap Rangga yang kemudian mencium kening Alisha lagi sebelum meninggalkan ruangan.


Tak lama kemudian Rangga kembali ke ruangan Alisha, dan mereka bersiap-siap mau pulang. Rangga membantu Alisha turun dari ranjang dan kemudian menggendongnya keluar dari rumah sakit.


Mereka melewati koridor rumah sakit dengan posisi Rangga yang masih menggendong Alisha. Semua mata tertuju kepada mereka karena keromantisannya.


"Kak, turunin Alisha dong. Alisha kan baik-baik saja. Nggak harus digendong seperti ini. Malu kan banyak yang ngelihatin".


"Sudahlah, jangan banyak protes!", ucap Rangga.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di apartemen. Rangga membaringkan Alisha di atas ranjang dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Mulai hari ini kamu nggak boleh ngapa-ngapain. Dan aku akan cari ART biar kamu nggak capek".


"Tapi Kak? Alisha kan baik-baik saja. Alisha masih bisa kok ngerjain semuanya sendiri".


"Sudah, jangan ngebantah terus perintah suami. Sekarang kamu istirahat, aku akan siapkan makanan untukmu".


Rangga menuju dapur dan memulai memasak sup untuk istri tercintanya. Setelah dirasa sudah tepat rasanya, dia mematikan kompornya dan membawa suo tersebut kepada Alisha.


"Nih, sup untuk istri dan anakku", ucap Rangga sembari mengelus perut Alisha.


"Dimakan ya sayang, biar baby kita sehat".


"Iya, mana aku akan memakannya", pinta Alisha.


"Kamu diam aja. Aku akan menyuapimu".


"Kak, aku bisa sendiri kok".


"Sudah, nurut aja kenapa sih? Biar aku yang suapin".


"Ya udah deh kalau gitu".


Rangga menyuapi Alisha, dan Alisha juga memakan sup buatan Rangga dengan sangat lahap hingga tak ada sisa.


"Alhamdulillah, sudah kenyang Kak. Terima kasih ya Kak", ucap Alisha sembari mengecup bibir Rangga sekilas.


"Hmmm.... Mulai nakal ya!", ledek Rangga.


"Apaan sih Kak?", ucap Alisha dengan muka merah merona.


"Sayang",


"Iya Kak?".


"Kita kan udah menikah, sudah saling mencintai. Dan sekarang kamu juga sudah hamil, sebentar lagi kita jadi orang tua. Kenapa kamu masih saja memanggilku Kakak?".


"Mmmmm... Soal itu, aku udah merasa nyaman aja sih Kak dengan panggilan itu", jawab Alisha cengar cengir.


"Aku mau kamu mengganti panggilan itu".


"Mau dipanggil apa? Sayang? Bebeb? Honey? Mas? Akang?", tanya Alisha dengan tertawa.


"Sayang, aku serius loh".


"Iya Mas Ranggaku sayang", ucap Alisha dengan senyum manisnya.


"Apa? Bisa diulangi?".


"Mas Rangga sayangku, Gantengku, Cintaku".


"Hmmm... Bisa gombal juga nih".


Mereka kemudian tertawa bersama dengan segala guraun mereka.


...****************...


Maaf ya readerku sayang

__ADS_1


Author baru sempat update lagi


Author bener-bener sibuk banget


__ADS_2