
Alisha dan Clara saling mengobrol santai, hingga keluar sebuah pertanyaan konyol dari Clara.
"Kak, kata orang-orang malam pertama itu sakit. Bener nggak sih Kak".
"Sakit tapi enak", jawab Rangga yang mendengar pertanyaan Clara kepada Alisha dan belum sempat dijawab Alisha.
Kedua pasang mata itu langsung menoleh ke sumber suara.
"Kak Rangga?", teriak Alisha dan Clara bersamaan. Kaget dengan kedatangan Rangga yang tiba-tiba.
"Kenapa?", Rangga menghampiri mereka dan langsung duduk di sebelah Alisha dengan merangkul bahu Alisha.
"Kak Rangga kok udah pulang?", tanya Alisha.
"Iya, kangen kamu", jawab Rangga sembari mencubit hidung Alisha.
"Clara, ngapain kamu tanya-tanya begitu ke Alisha? Mau ngerasain juga? Cepetan nikah!. Kalau udah tahu rasanya pasti ketagihan", ucap Rangga.
"Kak Rangga ih", ucap Alisha sembari mencubit pinggang Rangga.
"Kalau emang kebelet mau nikah, aku ada calon buat kamu".
"Calon? Ganteng nggak? Emangnya siapa sih?", tanya Clara kepo.
"Rendy", jawab Rangga singkat.
"Kak Rendy? Ah, males banget sih".
"Jangan gitu, nanti jatuh cinta loh", ledek Alisha.
"Iya, nanti kayak Alisha loh. Bilangnya dulu benci sama aku, nggak mau sama aku. Tapi nyatanya?", ucap Rangga.
Alisha cuma bisa manyun mendengar ucapan Rangga.
"Aku masuk rumah aja deh. Lanjutkan obrolan kalian yang tidak berfaedah itu", ucap Clara sembari berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Alisha dan Rangga.
"Oh iya Kak, kok pulang awal?", tanya Alisha setelah kepergian Clara.
"Iya, sengaja pulang awal mau ngajakin kamu pulang".
"Kok pulang sih Kak? Aku kan masih mau disini".
"Kita pulang aja, tapi sebelumnya ke rumah Ibu dulu ngasih oleh-oleh ke mereka.
"Mmmm... Ya udah kalau gitu".
Alisha dan Rangga kemudian masuk rumah, mencari keberadaan Mama dan Papanya untuk pamit pulang.
"Ma, Pa, Rangga sama Alisha pamit pulang ya!".
"Rangga, kenapa nggak disini aja dulu sih? Mama kan pengen Alisha nginep dulu gitu", ucap Mama Novi.
"Lain kali saja ya, Ma"..
"Gitu tuh anak Mama. Yang nggak bisa lama-lama jauh sama istrinya. Bucinnya tingkat akut, masa' pisah sebentar aja katanya udah kangen", sahut Clara yang kebetulan mendengar obrolan Rangga dengan Mamanya.
"Kamu itu iri karena belum ada pasangan. Makanya jangan kelamaan ngejomblo. Bagus nikah aja sama Rendy", ucap Rangga.
"Nggak mau", jawab Clara.
Rangga tidak meladeni ucapan Clara lagi, dia dengan istrinya kemudian bersalaman sama Papa Mamanya dan pamit pulang.
Saat perjalanan menuju rumah orang tua Alisha, tiba-tiba ponsel Alisha berdering. Alisha menatap ponselnya, karena panggilan yang masuk adalah nomor tidak dikenal. Alisha sejenak membiarkan ponselnya tetap berdering.
"Dari siapa?".
"Nggak tahu Kak, nomor tak dikenal".
"Angkat saja siapa tahu penting".
Atas saran dari suaminya, Alisha menerima telpon itu.
__ADS_1
"Iya, saya sendiri", jawab Alisha.
"Baik, rumah sakit mana ya?".
"Saya akan segera kesana".
Setelah menerima telpon tersebut, Alisha mematikan panggilannya.
"Ada apa?", tanya Rangga.
"Sinta kecelakaan Kak. Kita ke rumah sakit sekarang ya!. Rumah Sakit Sehat".
"Iya".
Rangga putar balik menuju ke rumah sakit yang dikasih tahu Alisha tadi. Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Mereka bertanya kepada resepsionis dimana kamar Sinta.
Setelah tahu kamarnya, mereka berjalan melewati koridor rumah sakit menuju kamar Sinta dimana dia dirawat. Dengan rasa khawatir yang begitu besar, Alisha langsung masuk kamar rawat itu dan memeluk sahabatnya itu.
"Sinta, kamu nggak apa-apa kan?".
"Seperti yang kamu lihat, aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma lecet-lecet doang kok".
"Kok bisa kamu kayak gini itu gimana ceritanya?".
"Tadi itu kan mau nyebrang kan, eh ada remaja bawa motornya ngebut dan nabrak aku gitu. Untung ada yang nolongin aku".
Rangga menghampiri Sinta yang terbaring di tempatnya.
"Alhamdulillah masih selamat meskipun ada luka. Semoga cepat sembuh ya",ucap Rangga.
Alisha duduk di ranjang tempat Sinta berbaring, sedangkan Rangga duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut. Alisha bercengkrama dengan Sinta sekedar untuk menghibur Sinta.
"Sudah makan apa belum?", tanya Alisha.
"Belum".
"Ya sudah, sini aku suapin", ucap Alisha sembari mengambil piring yang berisi bubur dan mulai menyuapi Sinta.
"Oh iya Sin, orang tuamu sudah pulang?".
"Belum, katanya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana".
"Kalau gitu aku aja yang nemenin kamu disini, jagain kamu".
"Nggak usah, nggak apa-apa. Kan ada perawat yang bisa nemenin aku".
"Kak Rangga, aku disini jagain Sinta. Boleh ya?", bujuk Alisha kepada Rangga. Tapi Rangga belum langsung mengiyakan permintaan Alisha tiba-tiba terdengar ada suara pria.
"Nggak usah, biar aku aja yang jagain dia. Kalian bisa pulang kok, aku tahu suamimu yang posesif itu tidak akan mengizinkanmu", ucap Fajar saat masuk ke ruangan itu.
Rangga dan Alisha menoleh ke arah Fajar dengan keheranan. Begitu juga dengan Sinta, yang merasa heran dengan tatapan Rangga dan Alisha kepada Fajar.
"Kak Fajar?", ucap Alisha melongo.
Fajar mendekati Sinta dengan membawa beberapa makanan ringan. Rangga yang tadinya duduk, kini berdiri dan berjalan ke ranjang Sinta.
"Kalian sudah saling kenal?", tanya Sinta.
"Dia Kak Fajar, senior aku waktu kuliah. Yang aku ceritakan ke kamu waktu itu".
"Oh, iya baru ingat aku. Kamu sempat cerita ke aku soal itu, pantesan aku ngerasa nggak asing sama namanya. Cuma aku tepis semua itu karena nama Fajar kan bukan dia aja. Dan ternyata dia Fajar yang sama. Dia tadi yang sudah nolongin aku dan membawaku kesini Sha".
"Terima kasih ya Kak sudah nolongin Sinta".
"Nggak usah terima kasih, itu sudah kewajibanku menolong sesama", jawab Fajar.
"Ya udah Sin, lanjutkan ngobrolnya dulu. Aku mau keluar", pamit Fajar dengan wajah datar.
Saat Fajar melangkahkan kakinya menuju pintu hendak keluar, Rangga memanggilnya.
"Fajar, tunggu!".
__ADS_1
Tapi Fajar tetap berjalan tidak peduli dengan panggilan Rangga. Rangga kemudian mengejarnya hingga keluar ruangan.
Alisha dan Sinta saling menatap, pikiran mereka sama. Mereka takut terjadi sesuatu antara Rangga dan Fajar.
"Sha, gimana itu?".
"Apa aku harus mengejar mereka?".
"Tapi, sepertinya nggak usah deh. Biar mereka selesaikan berdua".
Alisha mengangguk.
Di luar ruangan, Rangga terus memanggil nama Fajar, tapi Fajar tetap berjalan lurus ke depan dengan langkah lebarnya. Fajar lalu duduk di bangku taman rumah sakit. Rangga megikutinya dan ikut duduk di sampingnya.
"Ada apa? Masih mau berurusan denganku? Atau masih belum puas dengan apa yang kamu lakukan terhadapku waktu itu?", ucap Fajar tanpa menatap Rangga.
"Mmmm... Bukan begitu maksudku. Sebaliknya, aku mau minta maaf sama kamu".
Fajar menoleh ke arah Rangga.
"Soal?".
"Soal kemarin aku yang sudah salah paham sama kamu dan telah memukulmu".
"Baru sadar?".
"Iya, aku beneran minta maaf sama kamu. Aku mengaku salah, aku cemburu waktu itu. Jujur aku nggak mau kehilangan Alisha".
Fajar kemudian kembali menatap ke depan.
"Jujur aku memang menaruh hati kepada Alisha sejak lama. Aku ingin mengungkapkan perasaanku itu saat aku sudah sukses dan ingin melamarnya. Namun saat aku ketemu dia lagi untuk pertama kalinya, dia bercerita kalau dia menikah. Dia bilang sudah bahagia dengan pernikahannya. Disaat itu aku sadar kalau dia memang bukan jodohku, dan aku akan mundur. Aku ikhlas melepaskan dia demi kebahagiaannya. Karena bagiku cinta tidak harus memiliki. Aku akan bahagia jika dia bahagia. Namun kenyataannya lain, saat aku ketemu dia waktu itu, malah membuatmu salahpaham".
"Untuk itu aku minta maaf sama kamu Fajar", ucap Rangga memelas.
"Sudahlah lupakan. Aku cuma minta sama kamu, jaga Alisha dan bahagiakan dia. Dia begitu berharga bagiku meskipun aku tidak bisa memilikinya".
"Tentu, aku sangat mencintainya. Aku akan menjaga dan membahagiakannya".
Fajar berdiri dan meninggalkan Rangga yang masih duduk di bangku. Fajar kembali berjalan menuju ruangan Sinta.
"Kak Fajar? Kak Rangga kemana?", tanya Alisha saat melihat Fajar masuk seorang diri.
"Ada, sebentar lagi juga datang. Oh iya, kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku yang akan jaga Sinta".
"Tapi Kak?".
Rangga datang dan menghampiri Alisha.
"Rangga, kamu ajak istrimu pulang. Jangan khawatir dengan Sinta Aku yang akan menemaninya disini".
"Sinta, aku pulang nggak apa-apa?", tanya Alisha.
"Iya nggak apa-apa, kamu pulang aja".
"Ya udah kalau gitu, aku pamit pulang ya!".
"Iya".
"Kak Fajar, makasih ya", ucap Alisha.
Fajar cuma menganggukkan kepalanya.
"Cepat sembuh ya Sinta", ucap Alisha sembari memeluk Sinta.
Alisha dan Rangga pun pulang, membiarkan Fajar menjaga Sinta.
...****************...
Maafkan author baru bisa update ya..
Karena sibuk bikin kue, pesanan di bulan ramadhan 🙂☺
__ADS_1