
Pagi yang cerah membuat Alisha bangun dari tidurnya, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya. Semalam Alisha memang tidur nyenyak sekali mungkin karena kecapekan harus menata pakaiannya di lemari dan membereskan kamar apartemen, demikian juga dengan Rangga.
Alisha bergegas ke kamar mandi untuk mandi kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu dia ke dapur, dilihat di kulkas cuma ada telur dan bumbu seadanya dan juga beras.
"Cuma ada telur, beras dan beberapa bumbu dapur. Okelah, bikin nasi goreng telur dadar aja kalau gitu, yang penting ada yang dimakan untuk sarapan. Tapi aku harus menanak nasinya dulu.
Dengan cekatan Alisha meracik bumbunya dan mulai membuat nasi goreng. Sementara Rangga yang baru bangun tidur, mencium bau masakan yang begitu harum.
"Alisha udah bangun ya rupanya?. Kenapa nggak bangunin aku?. Ya sudahlah, aku mandi dulu terus sholat keburu habis waktunya".
Setelah sholat dan memakai baju santai, dia menuju ke dapur. Berjalan mendekati Alisha dan berbisik.
"Pagi sayang", lalu mengecup pipi kanan Alisha sekilas.
Sontak membuat Alisha berjingkat kaget.
"Kak Rangga ih. Suka curi-curi gitu tanpa sepengetahuan Alisha".
"Kalau nunggu kamu, kamu nggak bakal mau. Mau masak apa?".
"Ini lagi bikin nasi goreng. Memanfaatkan bahan-bahan yang ada".
"Iya, aku tuh jarang-jarang nginep di apartemen. Jadi jarang beli bahan-bahan dapur".
"Sini aku bantuin", tawar Rangga.
"Nggak usah Kak. Kakak duduk aja, Alisha bisa sendiri kok".
"Ya udah kalau nggak mau dibantuin. Aku duduk disini aja sambil memandangi mu sedang memasak".
Nasi goreng sudah matang, Alisha kini mau membuat telur dadarnya dengan campuran daun bawang. Saat sedang memotong daun bawang tiba-tiba tekena jarinya.
"Auhh.. ", teriak Alisha.
"Alisha", dengan sigap Rangga mendekat.
"Kenapa?", tanya Rangga.
"Nggak apa-apa kok Kak. Cuma kena pisau sedikit aja, udah biasa".
Tanpa banyak tanya, Rangga menarik tangan Alisha dimana tadi jarinya yang kena pisau. Saat hendak memasukkan jari Alisha ke dalam mulutnya, Alisha menariknya.
"Nggak usah Kak, sudah nggak apa-apa. Ini cuma luka kecil".
Alisha membawa jarinya di bawah kran yang menyala, lukanya diguyur air mengalir dari kran.
"Aku obatin ya, takutnya infeksi".
"Aku cuma mau plester saja. Dimana tempatnya Kak?".
"Sebentar, aku ambilkan".
Kemudian Rangga memasangkan plester itu ke jari Alisha.
"Terima kasih".
"Iya".
Alisha kemudian melanjutkan membuat telur dadar yang tadi sempat tertunda. Setelah selesai semua, Alisha menyiapkan di atas meja makan. Mereka berdua sarapan nasi goreng bersama.
"Ini enak banget loh. Kamu kok bisa bikin nasi goreng seenak ini?".
Alisha tersenyum
"Alhamdulillah kalau Kakak suka".
"Setelah sarapan nanti kamu siap-siap ya kita ke supermarket beli kebutuhan dapur".
Alisha cuma mengangguk.
Setelah selesai makan, Alisha membereskan meja dan mencuci piring. Setelah beres semua, Alisha masuk ke kamar dan berganti pakaian. Rangga menunggu di luar kamar. Tak butuh waktu lama, Alisha keluar.
"Sudah siap?".
"Iya Kak".
Mereka berangkat menuju supermarket, sesampainya disana Alisha mulai memilih kebutuhan dapur. Mulai dari sayuran, buah-buahan, telur dan lain-lain. Rangga mengikuti Alisha dari satu tempat ke tempat lain.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, mereka menuju kasir. Kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar, Rangga kemudian membayarnya. Mereka keluar dengan belanjaan yang begitu banyak.
Semua belanjaan sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Saat hendak masuk ke dalam mobil, ada yang memanggil Alisha.
"Alisha".
Alisha menoleh ke arah sumber suara. Pria itu berjalan mendekati Alisha.
"Apa kabar?".
"Baik Kak".
Karena merasa cemburu, Rangga yang tadinya agak berjauhan dengan Alisha jadi kini mendekat di samping Alisha.
"Ehem", Rangga berdehem.
"Kamu habis belanja?", tanya pria itu.
"Iya Kak".
"Sama siapa?".
Belum sempat Alisha menjawab, Rangga menjawab pertanyaan pria itu.
"Alisha pergi dengan saya. Perkenalkan, saya Rangga, suami Alisha", Rangga mengulurkan tangannya.
"Oh".
Pria itu cuma O saja tanpa mau menerima uluran tangan Rangga.
"Ya udah kalau gitu, aku pergi dulu ya!. See you!", pria tersenyum dan sempat mengedipkan matanya ke arah Alisha yang membuat Rangga semakin kesal dan cemburu.
Alisha menjawab dengan mengangguk.
"Ayo masuk!", ajak Rangga.
Alisha dan Rangga masuk ke dalam mobil, Rangga lalu menjalankan mobilnya. Selama perjalanan, Rangga masih diselimuti dengan berbagai pertanyaan tentang pria itu. Dia memberanikan diri bertanya kepada Alisha.
"Siapa pria tadi?".
"Apa dia menyukaimu?".
"Nggak lah, Cuma dulu kita memang sering bareng dalam kegiatan di kampus. Dia baik sama aku, aku anggap dia sebagai Kakakku".
Ckiit....
Tiba-tiba Rangga mengerem mendadak.
"Kak, hati-hati dong kalau nyetir itu".
"Maaf, maaf. Kamu ada perasaan yang sama dengan dia?".
"Nggak lah Kak. Kan aku udah bilang aku anggap dia sebagai kakak aja".
"Tapi sepertinya dia punya perasaan lebih dari Kakak deh. Dari tatapan matanya mengisyaratkan dia suka sama kamu".
"Sudahlah lupakan Kak".
Rangga melajukan mobilnya lagi menuju sebuah butik.
"Kak, kita kemana?".
"Aku mau ajak kamu ke Butik langganan keluargaku".
"Untuk apa?".
"Beli bajulah, masak nonton".
"Nggak gitu, maksud aku tuh untuk apa beli baju?. Aku masih punya banyak baju"
"Sudahlah, nurut aja apa kata suami. Udah sampai, ayo turun!".
Mereka berdua turun dan berjalan masuk dalam butik.
"Selamat siang Pak Rangga", sapa pemilik butik.
"Siang Bu".
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu?".
"Tolong carikan beberapa baju untuk istri saya. Baju untuk sehari-hari gitu".
"Baik Pak. Mari nyonya!", ajak pemilik butik.
"Reni, tolong bantu saya mencarikan baju untuk istri Pak Rangga", pemilik butik meminta pegawainya untuk membantu.
"Baik Bu".
Ada 5 setelan rok dan atasan serta 5 gamis yang dirasa cocok sama Alisha.
"Bu, saya ambil 2 saja ya", ucap Alisha kepada pemilik butik.
"No, no. Ini sesuai perintah Pak Rangga".
Pemilik butik menghampiri Rangga
"Pak, ini sudah. Ada 10 baju yang saya rasa cocok untuk istri anda. Istri anda itu cantik sekali, pakai baju apapun akan cocok".
Rangga tersenyum.
"Iya, dia sungguh cantik. Ini aku bayar semuanya", Rangga memberikan black cardnya kepada kasir.
"Kak, itu kebanyakan dan terlalu mahal".
"Nggak apa apa, apapun untuk kamu".
Setelah selesai belanja baju, mereka keluar dari butik.
"Auh", pekik Alisha saat ada yang menyenggol bahunya dengan sengaja.
"Sandra?. Apa yang kamu lakukan?", tanya Rangga.
"Mau ngasih sedikit pelajaran buat dia", menunjuk ke arah Alisha.
"Apa maksudmu?".
"Dia tuh munafik tahu nggak sih. Dia bilang nggak pernah cinta sana kamu, nggak ada perasaan apapun sama kamu. Tapi dia menikah sama kamu. Kalau bukan munafik, apa namanya?".
"Siap yang munafik Kak?. Aku memang menikah dengan Kak Rangga bukan karena cinta. Aku menikah dengan Kak Rangga karena sebuah wasiat", ucap Alisha.
Rangga merasa tidak dianggap sama Alisha mendengar jawaban Alisha tersebut. Kenapa Alisha harus mengatakan itu kepada Sandra. Bukankah meskipun tidak ada cinta, harusnya dia tidak mengatakan hal itu.
"Bul***t dengan omong kosongmu".
Plak..
Rangga menampar pipi kanan Sandra.
"Rangga", bentak Sandra.
"Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu kepada Alisha".
"Dia telah merebutmu dari aku. Dia telah merebut cintaku".
"Siapa yang mencintaimu?. Bukankah aku sudah menekankan kepadamu kalau aku tidak pernah mencintaimu".
"Itu karena dia yang hadir di tengah-tengah kita".
"Ayo kita pergi, jangan pedulikan dia", Rangga menarik tangan Alisha mengajaknya pergi dan langsung masuk mobil. Dengan segera Rangga melajukan mobil menuju apartemen.
"Awas kamu Alisha... ", ancam Sandra.
*
*
*
Di tempat lain, ada pria yang begitu memikirkan Alisha. Dia dari dulu naksir sama Alisha dengan selalu memberi perhatian lebih ke dia. Tapi Alisha tidak pernah melihat hal itu. Malah sekarang ketemu dia ternyata dia sudah menikah.
"Suami Alisha sepertinya tajir, ganteng pula. Pantes saja Alisha mau menikah dengannya.
...****************...
Hari ini hari pertama puasa ramadhan ya??Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi readers yang muslim ya..!!! 🙂🙂🙂
__ADS_1