
6 bulan berlalu sejak diucapkannya ijab qabul. Tapi tidak ada perubahan antar hubungan Alisha dan Rangga. Alisha masih belum bisa membuka jilbabnya di hadapan Rangga, dan juga belum menyerahkan mahkotanya untuk Rangga.
Alisha cuma melayani untuk soal makan, dan kebutuhan lahir Rangga saja. Tapi Rangga tidak pernah mempermasalahkan itu. Rangga hanya ingin menunggu Alisha membuka hatinya dan memberikannya secara tulus kepadanya.
"Alisha, duduk sini", pinta Rangga sambil menepuk sofa yang ia duduki.
"Ada apa Kak?", Alisha pun menurut dan ikut duduk di samping Rangga.
"Kamu nggak usah kerja lagi ya".
"Emangnya kenapa Kak?. Kalau aku nggak kerja, terus siapa yang ngasih uang untuk ayah dan ibu?".
"Kamu itu istri aku, sudah kewajiban aku memenuhi kebutuhanmu. Kalau soal urusan ayah dan ibu, aku yang akan tanggung semua kebutuhannya. Lagian kamu sudah aku kasih kartu ATM itu, itu pergunakanlah untuk kebutuhanmu. Aku kemarin sudah mengecek kartu itu, dan pengeluarannya cuma sedikit sekali".
"Iya, aku cuma memakainya untuk kebutuhan dapur sehari-hari saja. Untuk ngasih ke ayah dan ibu pakai uang Alisha sendiri dari gajian bulanan Alisha".
"Alisha, Alisha", Rangga menggelengkan kepalanya.
Alisha tersenyum kikuk.
"Pokoknya mulai besok kamu nggak boleh kerja lagi".
"Tapi Kak?".
"Jangan membantah, turuti apa kata suami. Oh iya Alisha bisa buatkan aku kopi?".
"Iya Kak", Alisha beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur membuat kopi.
Alisha kembali ke hadapan Rangga dengan membawa secangkir kopi.
"Ini Kak".
Rangga menerimanya. Saat Alisha berbalik hendak masuk ke kamar, Rangga mencegahnya dengan menarik tangan Alisha.
"Mau kemana? Disini aja temani aku minun kopi".
"Maaf Kak, aku nggak bisa. Aku harus ke kamar".
"Ya sudah, lain waktu nggak boleh menolak loh!".
Alisha cuma bisa mengangguk dan berlalu menuju kamar. Kemudian langsung merebahkan badan di atas ranjang, tak butuh waktu lama dia langsung tidur.
Setelah menghabiskan kopinya, Rangga masuk ke kamar dan ikut merebahkan badannya di atas ranjang. Dan dia juga langsung tidur, entah kenapa dia bisa langsung tidur, padahal seharusnya kalau habis minum kopi mata nggak bisa merem kan ya?. 🙂🙂
*
*
Sesuai perintah Rangga, hari ini Alisha tidak ke kantor. Maksudnya sudah tidak bekerja lagi, dia fokus menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya.
Hari ini Rangga berangkat dengan membawa bekal yang sudah disiapkan Alisha.
"Aku berangkat ya!. Hati-hati ya!. Nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi aku".
"Iya Kak. Kakak juga hati-hati di jalan".
"Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikum salam", jawab Alisha sembari mencium punggung tangan Rangga dan dibalas ciuman di kening Alisha.
Sepeninggal Rangga, Alisha masuk ke dalam lagi dan mengunci pintu. Namun beberapa menit kemudian terdengar suara bel. Alisha membuka pintu itu.
Plak..
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Alisha.
"Dasar munafik, perempuan nggak tahu diri. Berlagak sok polos dan jaim. Bilangnya tidak mencintai Rangga tapi nyatanya bisa bertahan sampai 6 bulan pernikahan".
"Sudah berapa kali aku katakan kepadamu masalah hal ini. Sepertinya kamu tidak mengerti juga ya?".
Plak..
Alisha membalas tamparannya.
"Kurang ajar ya kamu. Berani-beraninya menamparku?".
"Silahkan pergi kalau tidak ada urusan yang penting", Alisha mendorong pintu agar dia keluar.
Alisha duduk sembari memegang pipinya dan menangis.
*
*
__ADS_1
Saat di kantor Rangga memerintahkan Rendy untuk mencari sekretaris baru.
"Rendy, cepat ke ruanganku sekarang", dan langsung menutup panggilannya.
Tak lama kemudian Rendy datang.
"Ada apa bos?".
"Duduk dulu".
"Alisha kemana?".
"Itu yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku minta kamu carikan sekretaris baru untuk menggantikan posisi Alisha".
"Alisha nggak kerja lagi?. Apa dia sudah isi dan harus bed rest di gitu?".
Pletak
Rangga menjitak kening Rendy.
"Dia belum hamil".
"Kok bisa?. Kalian menikah sudah 6 bulan loh. Apa jangan-jangan alat tempur mu tidak bisa menembus batas hingga Alisha belum hamil juga?".
Pletak
Rangga menjitak kening Rendy lagi.
"Ngaco kamu kalau ngomong. Kalau soal itu juniorku tidak bisa terkalahkan".
"Buktinya?. Alisha belun juga hamil. Apa harus sama aku dulu?".
"Aku belum melakukannya Ren".
"What?".
"Iya, Alisha belum menyerahkannya kepadaku. Jangankan kehormatannya, aku aja belum melihat rambutnya. Dia belum mau membuka jilbabnya di hadapan aku".
"Serius?".
Rangga menganggukkan kepalanya.
"Kamu diam begitu saja?".
Rendy cuma bisa menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, lupakan. Aku menyuruh kamu kesini untuk mencarikan sekretaris baru. Alisha tidak aku izinkan kerja lagi".
"Ok,mau sekretaris yang model gimana?. Putih, mulus, montok atau yang ****?".
"Buat kamu aja kalau yang katak gitu. Carikan yang usianya di atas aku tapi tetap cekatan dalam bekerja dan pintar. Carikan sosok yang sopan dalam berpenampilan. Dan satu lagi, nanti dia tempatkan di ruangan sekretaris, tidak satu ruangan dengan aku".
"Banyak banget syaratnya, lagian kok cari yang seperti itu sih?".
"Sudahlah jangan banyak tanya. Kalau kamu berhasil mendapatkan yang seperti itu, akan aku kasih bonus".
"Ok, laksanakan Bos".
Rendy pun keluar dari ruangan Rangga. Dan Rangga kembali duduk di kursi kebesarannya. Perasaan dia nggak enak, kepikiran Alisha. Entah apa mungkin karena untuk pertama kalinya dia meninggalkan Alisha di apartemen sendirian.
"Ren, aku pulang ya!. Kalau ada hak yang penting nanti kabari aku".
"Emangnya ada apa?. Kok mendadak?".
"Perasaan aku nggak enak, takut terjadi sesuatu sama alisha", langsung menutup panggilannya.
"Mentang-mentang jadi bos, seenaknya saja kalau kasih perintah", gerutu Rendy setelah panggilannya terputus.
*
*
Rangga sudah sampai di apartemen.
"Alisha", tidak ada jawaban.
"Alisha", masih tidak ada jawaban. Tanpa menunggu lama, dia masuk ke dalam kamar. Tapi ternyata Alisha juga nggak ada.
"Alisha kemana ya?. Apa sedang di kamar mandi?", batin Rangga.
Ceklek
Alisha membuka pintu kamar mandi, dia membelalakkan mata saat tahu ada Rangga di dalam kamar. Dia kaget karena saat keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terurai. Demikian juga dengan Rangga yang sontak terpesona dengan rambut indah Alisha.
__ADS_1
Alisha bergegas mengambil jilbabnya yang ia taruh di atas ranjang, namun tangannya ditahan oleh Rangga.
"Jangan dipakai, biarin rambutmu terurai seperti ini!".
"Tapi Kak?".
"Aku mohon, aku ingin menikmati keindahan rambutmu, dan juga kecantikan wajahmu saat tidak menggunakan jilbab. Nggak berdosa kan aku menikmatinya?. Aku suamimu, dan halal bagiku untuk menikmati setiap inci keindahan yang kamu miliki".
Alisha merasa merinding mendengar perkataan Rangga. Dia berpikir kalau Rangga akan meminta haknya sekarang.
Rangga mendekat ke arah Alisha, membelai rambut Alisha, mencium ujung rambutnya. Jantung Alisha mulai berdetak kencang, karena ini pertama kalinya dia menampakkan rambutnya kepada pria lain meskipun sebenarnya halal baginya.
Setelah puas bermain dengan rambut Alisha, Rangga kemudian menatap wajah Alisha. Menyingkirkan rambut yang terurai menutupi pipinya. Sontak Rangga kaget melihat pipi Alisha yang memerah bekas tamparan.
"Alisha?. Ini apa?", menunjuk pipi yang merah tadi.
"Tidak apa-apa Kak, cuma alergi saja".
Alisha mengalihkan pandangan dan berbalik membelakangi Rangga. Rangga kemudian memegang kedua bahu Alisha dan mengarahkan Alisha menghadap ke arahnya.
Rangga memegang pipi Alisha lagi untuk memastikan apa benar alergi atau sebab yang lain.
"Alisha, jawab dengan jujur. Siapa yang telah menamparmu?".
"Tidak kok Kak. Nggak ada kok. Oh iya, kenapa Kakak pulang cepat? ".
"Alisha, kalau ditanya itu jawab. Bukan malah balik bertanya. Siapa yang telah menamparmu?".
Alisha diam seribu bahasa.
"Alisha, jawab".
"Kak Sandra".
"Apa?. Dia datang kesini?. Awas saja dia", sembari mengepalkan tangannya.
"Sudahlah Kak, aku juga nggak kenapa-napa kok*.
"Kamu duduk dulu disini!", Rangga mengarahkan Alisha untuk duduk di atas ranjang.
"Mau ngapain Kak?", tanya Alisha.
"Sudah, menurut ajalah apa kata suami", Rangga keluar dari kamar.
Saat dia kembali ke kamar, dia membawa baskom yang berisi air es dan handuk kecil. Lalu dia duduk di samping Alisha, mengompres pipi Alisha dengan lembut, membuat jantung Alisha kembali berdetak kencang.
"Kamu begitu perhatian kepadaku dari mulai hal yang paling kecil".
Setelah selesai mengompres pipi Alisha, dia meletakkan baskom di atas nakas. Kemudian kembali menatap wajah Alisha dengan lekat. Mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha.
Perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Alisha. Mencium bibir Alisha dengan lembut. Karena merasa tidak ada penolakan dari Alisha, Rangga melanjutkan ciumannya. Kali ini Alisha seperti terhipnotis akan perlakuan Rangga. Dia hanya diam dan menerima ciuman itu.
Setelah cukup puas bermain di bibir, Rangga mulai turun ke bawah mencium dagu Alisha dan kemudian leher Alisha. Membuat Alisha terbuai akan hal itu dan membuat jantung Alisha semakin berdetak kencang.
Bibir Rangga mulai turun ke bawah lagi menuju dada Alisha, Saat tangan Rangga ingin membuka kancing baju Alisha, Alisha menahannya. Sadar akan hal itu, Rangga kemudian melepaskan tangannya.
"Maaf".
Alisha cuma menganggukkan kepalanya. Rangga kemudian berdiri, karena merasa panas, dia kemudian melepaskan jas yang dipakainya sedari tadi. Dia berlalu menuju kamar mandi, saat keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Kira-kira Rangga di kamar mandi tadi ngapain ya? 😊
Lalu berganti dengan kaos dan celana pendek yang panjangnya di atas lututnya. Alisha yang melihat itu, merasa tidak enak dan merasa bersalah kepada Rangga.
Alisha menghampiri Rangga.
"Maaf Kak, Alisha belum siap".
Rangga tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu mengelus pucuk kepala Alisha.
"Kakak mau dibuatkan minum apa?", tanya Alisha mengalihkan kecanggungan.
"Buatkan aku jus aja, jus buah naga".
"Baik".
Setelah siap, Alisha memberikannya kepada Rangga yang sedang berolahraga di ruangan khusus. Dia memang punya ruangan khusus yang berisi beberapa alat olahraga yang dipakainya sehari-hari.
"Kak, tadi kenapa Kakak pulang cepat?".
"Iya, perasaan aku nggak enak aja. Kepikiran sama kamu. Dan benar saja seperti kekhawatiran ku. Oh iya, kenapa jilbabnya dipakai lagi?. Kan cuma ada kita berdua saja. Aku mau kalau di dalam cuma kita berdua seperti ini, kamu jangan pakai jilbab ya!".
"Iya Kak", Alisha melepaskan jilbabnya.
Rangga tersenyum padanya.
__ADS_1