Jodoh Karena Wasiat

Jodoh Karena Wasiat
Bab 48. Nggak Jadi Makan


__ADS_3

Di rumah sakit


Fajar begitu telaten merawat Sinta hingga membuatnya kagum. Mereka saling mengobrol dan sesekali mereka tertawa dengan apa yang mereka perbincangkan.


"Assalamu'alaikum", Alisha mengucap salam saat masuk ke dalam ruangan Sinta.


"Wa'alaikum salam", jawab Fajar dan Sinta bersamaan.


"Alisha?", ucap Sinta kaget.


"Mana suamimu?", tanya Fajar saat melihat Alisha masuk seorang diri.


"Tadi ngantar Alisha kesini, terus berangkat ke kantor",jawab Alisha.


Alisha mendekat ke ranjang Sinta. Fajar menatap Alisha dengan penuh cinta meskipun tidak bisa memilikinya. Tidak dipungkiri, kecantikan Alisha memang bisa membuat pria manapun jatuh cinta padanya. Demikian juga dengan Fajar yang masih tetap terpesona dengan kecantikan Alisha meskipun dia sadar kalau Alisha sudah menjadi istri orang lain.


Sinta yang menyadari tatapan Fajar ke Alisha cuma bisa tersenyum. Dia menyadari betapa besar cinta Fajar kepada Alisha. Dia tahu betapa sakit hati Fajar saat cintanya bertepuk sebelah tangan.


Namun tidak dengan Alisha, dia tidak menyadari tatapan Fajar, dia langsung duduk di ranjang Sinta.


"Kamu udah baikan kan?", tanya Alisha riang.


"Sudah kok, hari ini katanya boleh pulang. Tapi nunggu dokternya dulu", jawab Sinta


"Alhamdulillah kalau gitu".


Tidak lama kemudian, dokter dan perawat masuk ke ruangan dan mulai memeriksa kondisi Sinta lagi. Setelah dinyatakan sembuh, dokter bilang kalau Sinta boleh pulang.


"Keadaan Sinta sudah membaik dan boleh pulang hari ini. Mohon ke bagian administrasi untuk pembayaran dan lain-lain".


"Baik dok, terima kasih", ucap Sinta.


"Kalau gitu saya permisi mau ke ruangan yang lain", pamit dokter.


Kemudian dokter pun pergi dan diikuti oleh perawatnya.


"Aku aja yang akan ke bagian administrasinya", ucap Alisha.


"Nggak usah, biar aku saja yang kesana untuk mengurusnya", cegah Fajar.


Lalu Fajar keluar menuju bagian administrasi. Setelah beres semua, dia kembali lagi ke ruangan Sinta.


"Sudah beres semua. Mari berkemas dan kita pulang", ucap Fajar dengan sikap masiu datar kepada Alisha.


Alisha dan Fajar mulai berkemas dan segera pulang. Mereka pulang ke rumah Sinta dengan mobil Fajar. Fajar yang mengemudi, Alisha dan Sinta duduk di belakang.


Selama perjalanan Alisha mengobrol dengan Sinta. Sesekali Fajar melihat Alisha dari spion tengah mobilnya. Tersenyum saat melihat Alisha bertawa dengan Sinta. Yah, Fajarmasih mengagumi Alisha dari fisik dan sifatnya.


"Alisha, kamu tidak pernah berubah. Kamu masih seperti yang dulu. Aku rindu saat-saat kita bersama seperti dulu waktu di kampus sebagai senior dan junior. Rangga pria yang beruntung bisa memilikimu", batin Fajar.


Dan setelah satu jam berlalu, akhirnya sampai juga di rumah Sinta. Alisha memapah Sinta untuk masuk ke dalam rumah. Fajar membantu membawa barang-barang Sinta.


"Kalau begitu aku pamit pulang ya!", pamit Fajar.


"Kak, apa nggak disini dulu aja?", tanya Alisha.


"Nggak Sha, aku ada perlu".


"Ya sudah kalau gitu. Terima kasih ya Kak", ucap Alisha sembari tersenyum.


Fajar membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Makasih banyak loh Kak", ucap Sinta.


"Iya, sama-sama. Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikum salam", jawab Alisha dan Sinta bersamaan.

__ADS_1


Alisha dan Sinta kini berada di kamar Sinta. Sinta duduk di atas ranjang, dengan posisi bersandar di headboard. Sedangkan Alisha duduk di kursi di samping ranjang Sinta.


"Sha, selama di rumah sakit, Kak Fajar cerita banyak hal tentang kamu dan dia. Dia begitu mencintaimu", ucap Sinta.


" Iya, aku tahu kok", jawab Alisha.


Alisha dan Sinta tidak tahu kalau ada seseorang ynag mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.


Pria yang mendengar percakapan Sinta dan Alisha, dia tidak langsung masuk ke kamar. Dia ingin mendengarkan lebih lanjut apa yang menjadi obrolan mereka.


"Iya, aku tahu dari sikap dan tatapan matanya ke Alisha", batin pria itu.


Saat hendak menegtuk pintu kamar, Alisha mulai berbicara lagi. Pria itu kembali mendengarkan apa yang akan diucapkan Alisha.


"Tapi aku nggak pernah menganggap kedekatan kita itu sebuah cinta. Aku hanya menganggapnya sebagai Kakak aku. Aku akui dia memang baik banget, perhatian sama aku. Tapi sekarang di hatiku sudah ada Kak Rangga. Aku sudah mencintai dan menerimanya menjadi suamiku", jawab Alisha.


Pria itu tersenyum mendengar ucapan Alisha.


"Alisha, kamu beruntung ya dicintai banyak pria. Mulai dari Kak Fathan, Kak Fajar, Kak Rangga dan juga Pak Adi".


Alisha menjawabnya dengan senyuman. Dan lalu terdengar suara ketukan pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Boleh aku masuk?", tanya pria itu.


"Iya Kak", jawab Alisha dan Sinta barengan karena mereka tahu suara siapa itu.


Pria itupun masuk dan berdiri di samping Alisha.


"Dan, yang paling beruntung adalah aku karena sudah memilikinya", ucap pria itu sembari memeluk bahu Alisha.


"Kak Rangga tadi mendengar obrolan kita?", tanya Sinta.


Rangga mengangguk sembari tersenyum.


"Ohya Sin, maaf ya tadi aku langsung masuk aja ke rumah kamu. Soalnya pintu luar nggak kamu kunci".


"Gimana keadaan kamu?", tanya Rangga.


"Alhamdulillah Kak, sudah membaik kok. Makanya aku diperbolehkan pulang", jawab Sinta.


"Kak, kok pulang cepat dan jemput Alisha kesini?", tanya Alisha.


"Iya, sengaja pulang cepat dan jemput kamu. Kita pulang sekarang yuk!".


"Tapi Kak? Sinta sama siapa? Pembantunya belum balik, terus Mama Papanya juga belum pulang".


"Nggak apa-apa kok. Semalam Mama Papa sudah hubungi aku katanya hari ini pulang Mereka khawatir dengan kondisi aku. 2 jam lagi mereka datang kok".


"Tapi?".


"Nggak apa-apa kok, santai aja".


"Ya udah kalau gitu, aku pulang sama Kak Rangga ya!".


"Iya".


"Cepat sembuh kesayangan aku", ucap Alisha sembari memeluk Sinta.


"Iya, terima kasih ya".


"Aku pulang dulu ya!. Assalamu'alaikum", ucap Alisha.


"Wa'alaikum salam", jawab Sinta.


Alisha dan Rangga dalam perjalanan menuju apartemen. Selama perjalanan, mereka banyak mengobrol santai, Alisha menceritakan tentang Sinta dan Fajar. Saat mendengar nama Fajar disebut Alisha, ada rasa cemburu di hati Rangga, tapi Rangga mencoba menepis rasa itu.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka sampai juga di apartemennya.


"Kak, lapar nih. Aku masak dulu ya".


"Nggak usah repot-repot masak, aku delivery aja".


"Ya udah kalau gitu".


Alisha masuk ke dalam kamar, dan diikuti oleh Rangga.


"Sayang", panggil Rangga kepada Alisha.


Alisha melototkan matanya.


"Kenapa melotot seperti itu?. Bukannya itu pernah aku ucapkan kepadamu sebelumnya?".


Alisha tersenyum, dan langsung ditarik Rangga ke dalam pelukannya. Lalu Rangga mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Alisha.


"Terima kasih ya sayangku", sembari mengecup kening Alisha cukup lama.


"Soal?", tanya Alisha tidak mengerti.


"Aku tadi mendengar percakapanmu dengan Sinta. Terima kasih kamu sudah mau menerimaku dan menjadikan aku suamimu".


Alisha menjawabnya dengan menganggukkan kepala sembari tersenyum.


Lagi-lagi senyum Alisha membuat Rangga ingin menerkamnnya. Rangga mulai mendaratkan bibirnya lagi ke bibir Alisha. Kemudian menjatuhkan badan Alisha ke ranjang dengan posisi Alisha di bawah kungkungan Rangga. Namun saat hendak melanjutkan ke hal yang lebih panas, suara bel berbunyi.


"Kak, itu suara bel berbunyi. Mungkin kurir kirim makanan".


"Hem, ya sudah aku mau buka pintu dulu".


Dan benar apa kata Alisha, yang datang adalah seorang kurir yang membawa orderan Rangga.


Rangga membuka pintu dan menerima makanan itu.


"Terima kasih Pak".


"Sama-sama".


Setelah itu Rangga ke dapur dan menyiapkan makanan itu di atas meja. Alisha keluar dari kamar dengan baju tidur yang agak terbuka.


"Udah datang ya Kak makanannya?".


"Iya, ini lagi aku siapin", jawab Rangga yang masih fokus dengan makanan tersebut dan tidak menyadari baju yang dipakai Alisha.


Alisha langsung duduk di kursi dekat meja makan, Rangga menoleh ke arah Alisha.


"Alisha, sengaja ya godain aku?".


"Godain apanya?".


"Ngapain pakai baju begituan?".


"Kakak aja sih yang ngeres pikirannya. Emang salah gitu kalau aku pakai baju gini di depan suami aku sendiri?".


"Bukan begitu maksudku, kita kan mau makan. Kalau kamu pakai baju seperti itu, bisa membangkitkan gairahku. Yang ada kita nggak jadi makan nih makanan, aku yang akan memakanmu saat ini juga".


"Sudahlah Kak, duduk aja terus makan bareng".


"Huft", Rangga menghela napas panjang.


...****************...


Maaf Author tepat update lagi


Sibuk nyiapin makanan buat idul fitri dan sibuk layan tamu yang datang silaturrahmi.

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri ya!!!


Mohon maaf lahir dan batim


__ADS_2