
Rangga menunggu Alisha, namun Alisha tak kunjung kembali ke kamar. Karena dirasa badannya sudah mendingan, dia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Alisha. Dilihatnya Alisha duduk di bangku yang ada di taman sebelah rumah Sinta.
"Sebenarnya aku mulai nyaman dengan hubungan ini,tapi dengan kejadian kemarin membuat aku sakit hati, tuduhan Kak Rangga yang begitu menyakitkan hatiku. Allah, apa yang harus aku lakukan?. Beri petunjuk kepadaku. Apa aku harus bertahan dengan rumah tangga ini, ataukah aku harus berpisah dengan Kak Rangga", Alisha bermonolog dengan segala kebimbangannya.
Tanpa Alisha sadari,ada sepasang kata yang memperhatikan dan mendengar ucapannya. Yah, Rangga yang berdiri di belakang Alisha mendengar semua ucapan Alisha.
Kemudian Rangga menghampiri Alisha dan duduk di sebelahnya.
"Kak Rangga?".
Rangga tersenyum, lalu menggenggam tangan Alisha.
"Alisha, maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku tidak mau kehilangan kamu. Oh iya, aku tadi mendengar apa yang kamu katakan. Kamu mengatakan kalau kamu mulai merasa nyaman denganku. Kalau begitu, kita pulang ya ke apartemen".
Alisha menarik tangannya.
"Maaf Kak, aku masih ingin disini. Masih ingin menata hatiku, kemana pilihan itu berpihak. Aku mohon hari ini Kakak pulang ya?".
"Kamu mengusir aku?".
"Terserah Kakak mau mengatakan apa".
"Alisha, aku mohon kembalilah bersamaku. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau nyaman bersamaku. Alisha, aku janji akan memperbaiki semuanya".
"Kak, please!. Aku mohon, tinggalkan aku disini sendiri. Kakak pulanglah, aku ingin fokus instrospeksi diri, aku mau minta petunjuk sama Allah. Kakak harus pulang hari ini juga, demi aku".
Rangga mulai berpikir dan terpaksa menuruti permintaan Alisha.
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan pulang. Aku akan selalu menunggumu, dan selalu mencintaimu. Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikum salam".
Rangga pulang ke apartemennya, Alisha kembali masuk ke dalam rumah Sinta.
*
*
*
Sudah 5 hari berlalu sejak kepergian Alisha, hidup Rangga terasa kosong. Meskipun setiap hari dia ke kantor, namun pikirannya hanya fokus ke Alisha. Dia sangat merindukan sosok Alisha dalam hidupnya.
__ADS_1
Demikian juga dengan Alisha, selama 5 hari itu, dia lebih fokus mendekatkan diri kepada Allah. Minta petunjuk dariNya untuk rumah tangganya.
Selama itu juga, Ibunya sering menelpon menanyakan kabar Alisha. Firasat ibu memang tidak akan pernah salah, namun Alisha selalu mengatakan baik-baik saja tanpa memberitahukan masalahnya saat ini. Alisha tidak mau membuat kedua orang tuanya kepikiran.
Setelah mantap dengan keputusannya, lebih tepatnya hasil istikharah yang ia lakukan, akhirnya Alisha memilih untuk kembali ke apartemen Rangga. Tapi sebelumnya dia sudah membicarakan hal ini dengan Sinta. Sinta akan selalu mendukung keputusan Alisha dan berharap yang terbaik untuk rumah tangganya.
Alisha kembali ke apartemen pada sore hari, karena dia mau pamit dulu sama Sinta. Jadi, dia akan pergi setelah Sinta pulang, karena bagaimanapun dia seorang tamu di rumah Sinta yang sepatutnya harus pamit dulu sama pemilik rumah tersebut.
Alisha kembali ke apartemen Rangga diantar sama Pak Ujang, sopir Sinta.
Sesampainya Alisha di apartemen Rangga, dilihatnya apartemen yang begitu kotor. Kulit kacang berserakan dimana-mana, pakaian kotor Rangga yang menumpuk dan masih banyak lagi. Entah kenapa, Rangga yang terbiasa hidup bersih dan rapi, berubah menjadi sosok yang tidak peduli dengan kebersihan dan kerapian. Mungkin karena frustasi dengan kepergian Alisha.
Tanpa menunggu lama, Alisha membereskan semuanya, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian Rangga dan lain-lain. Setelah beres, Alisha memasak dan menyiapkan hidangan tersebut di atas meja untuk makan malam Rangga.
Setelah semuanya sudah selesai, Alisha mandi, tentu saja mandinya pakai air hangat karena hari sudah mulai malam. Ganti pakaian lalu menonton drakor favoritnya di kamar, ia duduk di kursi dengan laptop di atas meja. Dia sengaja menonton drama korea sembari menunggu kedatangan Rangga. Tapi karena kelelahan, dia tertidur.
Tanpa menunggu lama, Rangga pun tiba. Namun Alisha sudah tertidur.
"Assalamu'alaikum", ucap Rangga saat memasuki apartemennya. Sudah menjadi kebiasaan Rangga saat masuk apartemen mengucapkan salam meskipun tidak ada orangnya.
Rangga melihat sekeliling apartemen yang sudah bersih dan rapi. Pakaian kotornya yang juga sudah dicuci dan dijemur.
Dia berjalan menuju kamarnya, sontak membuat ia kaget karena melihat Alisha yang tertidur pulas di kursi dengan posisi kepala menempel di atas meja di sampingnya ada laptop dengan keadaan yang masih menyala.
Rangga mendekati Alisha sembari tersenyum. Rangga mengecup kening Alisha dan kemudian menggendongnya, memindahkan Alisha ke atas ranjang.
Hari ini adalah hari yang membuatnya begitu bahagia karena kembalinya Alisha ke apartemen. Rangga mematikan laptop yang tadi masih menyala. Kemudian ke kamar mandi untuk mandi dan juga ganti pakaian.
Lagi-lagi dia tersenyum melihat Alisha yang sedang tidur pulas. Dia naik ke atas ranjang, duduk dan bersandar di headboard Dia memandangi wajah Alisha dengan bebas karena sang empunya masih tidur pulas. Dia mendekat ke wajah Alisha, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Alisha, mengecup kening Alisha dan kemudian mencium bibir Alisha singkat.
Dia masih terus memandangi wajah Alisha tanpa bosan hingga yang dipandangi iku bangun. Alisha membuka mata, meregangkan otot-ototnya. Saat menoleh, dia melihat sosok Rangga di sampingnya yang sedang menatap dirinya.
"Kak Rangga sudah pulang?".
Rangga mengangguk sembari tersenyum. Alisha kemudian mengubah posisinya yang tadinya tidur menjadi duduk dan menghadap Rangga.
"Maaf Kak, tadi Alisha ketiduran".
Lagi-lagi Rangga membalasnya dengan menganggukkan kepala sembari tersenyum. Masih terus menatap Alisha tanpa berkedip sekalipun.
"Kak Rangga?. Ada yang salah dengan Alisha?", tanya Alisha sembari melihat penampilannya.
__ADS_1
"Ada".
"Mmmmm, maaf. Aku akan mengikat rambutku".
Saat Alisha hendak mengikat rambutnya, Rangga mencegahnya.
"Nggak usah, biarin terurai saja".
"Ada yang salah denganmu. Kamu begitu cantik. Salah, sangat cantik lebih tepatnya".
"Apaan sih Kak", ucap Alisha dengan wajah merah merona karena malu.
Rangga kemudian menggenggam kedua tangan Alisha.
"Maafkan aku ya!. Aku sudah marah-marah sama kamu. Aku sudah membentakmu dan juga melukai hatimu. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti kemarin".
Alisha mengangguk dan tersenyum.
"Iya Kak, maafin Alisha juga. Aku belum bisa jadi istri yang baik buat Kakak".
Rangga melepas genggamannya, memegang dagu Alisha. Dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha. Sedikit demi sedikit dia mendekatkan bibirnya ke bibir Alisha.
Alisha kaget dengan apa yang dilakukan Rangga, namun dia seakan sudah terhipnotis. Dia menerima ciuman itu, hingga ciuman itu berlangsung cukup lama.
Menyadari hal itu, dia bergegas melepas ciuman itu. Dia merasa malu dengan Rangga. Dia malu kalau saja Rangga mendengar suara detak jantungnya yang begitu cepat. Untuk mengalihkan itu, Alisha bergegas turun dari ranjang.
"Ayo Kak, makan dulu. Alisha sudah menyiapkannya di meja".
Rangga tersenyum, dan mengangguk. Alisha keluar dari kamar lebih dulu menuju meja makan tanpa menunggu Rangga. Rangga mengekor di belakangnya. Mereka makan malam dengan perasaan yang berbeda. Alisha dengan detak jantung yang begitu cepat dan pipi yang merona. Sedangkan Rangga dengan perasaan yang begitu bahagia.
Mereka makan dengan lahap. Selama menikmati hidangan, sesekali Rangga menatap Alisha.
"Kak, jangan menatapku seperti itu!".
"Emangnya nggak boleh menatap istri sendiri?".
"Sudahlah Kak, habisin saja makanannya", ucap Alisha dengan wajah merah merona. Dia salah tingkah karena tatapan Rangga.
Setelah selesai makan, Alisha membereskan meja. Membawa peralatan yang kotor ke dapur, lalu mencucinya. Setelah selesai mencuci, Alisha membalikkan badannya hendak kembali ke meja makan.
"Ahhh.... ", teriak Alisha saat membalikkan badannya dan menabrak seseorang.
__ADS_1