
Sudah 2 minggu berlalu, Alisha tidak lagi ke kantor. Kerjaannya cuma tidur, makan, nonton drakor.
"Lama-lama bosan juga di rumah. Aku telpon Sinta aja deh, aku ajak nonton atau apalah, kali aja dia mau".
Alisha mulai mencari nama Sinta di kontak HPnya. Lalu melakukan panggilan. Nada sambung sudah terhubung, tak butuh waktu lama Sinta langsung mengangkat panggilan dari Alisha.
"Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikum salam. Sin, kamu hari ini sibuk nggak?".
"Nggak sih, emang kenapa?".
"Kita jalan yuk. Kemana gitu".
"Udah izin sama suamimu?".
"Belum sih. Habis ini aku izin dia dulu lah. Nanti kalau aku diizinin, kamu aku kabari ya!".
"Ok".
"Assalamu'alaikum. See you!".
"Wa'alaikum salam".
Kemudian Alisha mengirim chat ke suaminya.
Kak, aku mau izin keluar sama Sinta ya!
^^^Mau kemana??^^^
Mau nonton dan sekalian beli kebutuhan dapur
^^^Ya udah, boleh. Tapi hati-hati.^^^
Makasih suamiku
^^^😘😘😘😘😘^^^
"What? Kak Rangga membalas dengan emoticon seperti itu?. Aduh, Alisha kenapa kamu tadi ngirim chat seperti itu sih?. Pakai nyebut suami lagi", batin Alisha.
"Tapi ya sudahlah, pokoknya aku udah mengantongi izin dari Kak Rangga", Alisha bermonolog.
Alisha kemudian mengirim chat ke Sinta.
"Sin, siap-siap ya!. Habis ini aku jemput. Aku sudah dapat izin dari suami aku. Aku naik taksi".
*
*
*
Sinta sudah siap di depan gerbang rumahnya, saat taksi yang ditumpangi Alisha datang, Sinta langsung masuk ke dalam taksi tersebut. Tujuan pertama mereka yaitu ke bioskop, mereka menonton drama korea terbaru yang menjadi favorit mereka.
Setelah selesai menonton, mereka pergi ke supermarket. Sinta menemani Alisha berbelanja kebutuhan sehari-hari Alisha. Baru saja masuk supermarket, ponsel Sinta berdering. Sinta mengangkat telpon itu.
"Halo, iya".
"Iya, baik Pak. Saya akan segera ke sana".
Sesaat kemudian dia memutus panggilannya.
"Ada apa Sin?", tanya Alisha.
"Sha, maaf. Aku barusan dapat telpon dari rumah sakit, aku diminta harus segera kesana. Katanya darurat, aku belum tahu pasti apa yang terjadi".
"Iya, nggak pa-pa. Urusanmu lebih penting. Aku bisa belanja sendiri kok".
"Sekali lagi aku minta maaf ya".
"Iya, santai aja".
"Aku pergi ya!", Sinta bergegas pergi menuju rumah sakit.
"Hati-hati!", pesan Alisha yang mungkin tidak didengar Sinta karena dia sudah menjauh.
Alisha mulai memilih bahan-bahan yang dia butuhkan. Mulai sayuran, buah-buahan dan kebutuhan yang lain. Ada satu barang yang ingin dibeli Alisha, namun terletak di rak bagian atas. Alisha mencoba mengambilnya tapi susah karena terlalu tinggi buat dia.
Alisha mencoba lagi mengambilnya dengan berjinjit, namun saat tangan Alisha sudah berada di rak bagian atas, ada tangan lain yang sudah mencapai atas untuk meraih barang itu.
__ADS_1
"Ini, kamu mau ambil ini kan?", tanya seorang pria sembari memberikan kepada Alisha.
Alisha menoleh ke arah pria tersebut.
"Kakak disini juga?".
"Iya, ada yang ingin aku beli. Belanjaan kamu banyak banget, suami kamu dimana?".
"Iya, suami aku lagi kerja".
"Kenapa nggak diantar sama suami kamu aja?".
"Tadi emang aku izinnya keluar sama temen aku kan. Udah diizinin juga suamiku. Eh, pas kita udah di supermarket ini, temenku ada keperluan penting, jadi aku sendirian".
"Bawa mobil?".
"Nggak, naik taksi aja. Ya sudah Kak, aku mau ke kasir dulu. Oh iya, makasih tadi sudah diambilkan".
"Sama-sama", ucap Fajar sambil tersenyum. Ya, Fajar adalah senior Alisha saat kuliah dan Alisha menganggapnya sebagai kakaknya, namun tidak bagi Fajar. Fajar memiliki perasaan yang lebih kepada Alisha, namun Alisha tidak memahami hal itu.
"Alisha, kamu terlihat tambah cantik. Aku mengagumimu sejak dulu. Aku berniat untuk mengungkapkan perasaan ini kepadamu. Namun, keadaan berkata lain. Saat aku ingin mengutarakan hatiku, di saat yang sama kamu sudah menikah. Aku akan ikhlas menerima semua ini, semoga engkau bahagia dengan suamimu", batin Fajar.
Saat melihat Alisha sudah membayar dan dia keluar, Fajar mengejarnya. Fajar berjalan di samping Alisha.
"Kak Fajar?".
"Ayo makan dulu yuk, aku traktir".
"Tapi Kak?".
"Ayolah, bukannya kamu menganggapku sebagai Kakak?. Mau ya?".
Alisha berpikir sejenak.
"Ya udah Kak, Alisha mau. Tapi sebentar aja ya!".
"Iya".
Mereka kemudian masuk ke dalam restoran. Memesan beberapa menu makanan dan memakannya. Sesekali Fajar memandangi wajah cantik Alisha.
"Sha, kenapa kamu menikah gak undang aku?".
"Mendadak gimana maksudnya?".
Kemudian Alisha menjelaskan awal cerita dia menikahi Rangga. Dan Fajar mengangguk mengerti. Alisha dan Fajar melanjutkan makan lagi. Tiba-tiba Fajar mengelap sisa makanan di bibir Alisha dengan tisu.
"Kak Fajar?".
"Mmmmm.... Maaf, itu tadi ada sisa makanan di bibirmu".
Alisha mengangguk.
Setelah makan Alisha keluar dengan Fajar yang masih mendampinginya.
"Aku antar pulang ya?", tawar Fajar.
"Nggak usah Kak, terima kasih. Aku bisa naik taksi kok".
"Aku antar aja ya!. Aku nggak tega lihat kamu bawa belanjaan segini banyaknya dengan naik taksi".
"Mmm..ya udah Kak. Makasih ya!".
Fajar membantu Alisha membawa barang belanjaannya dan memasukkan ke dalam bagasi. Alisha duduk di kursi belakang. Fajar masuk mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju apartemen Rangga.
Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang mengawasi dan memotret momen kebersamaan mereka. Menurutnya ini momen yang pas untuk diabadikan dan dikirim ke Rangga untuk membuat Rangga cemburu. Tak butuh waktu lama, foto Alisha dengan Fajar terkirim ke ponsel Rangga.
Tling...
Ponsel Rangga berbunyi, Rangga melihat ada pesan yang masuk. Dilihatnya ternyata ada kiriman foto Alisha bersama seorang pria. Rangga mulai marah dan mengepalkan tangannya.
"Ini kan pria yang waktu itu?. Alisha membohongi aku?. Dia bilang keluar sama Sinta. Tapi nyatanya?".
Tanpa pikir panjang, Rangga meraih ponselnya dan keluar ruangan dengan wajah penuh amarah. Dia keluar dengan membanting pintu dengan keras. Rendy yang melihat hal itu terlihat kaget. Rangga berlalu begitu saja keluar dari kantor, Bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ada apa dengan Rangga ya?", ucap Rendy bermonolog.
Sesampai di apartemen, Rangga melihat Fajar membawakan belanjaan Alisha. Hal itu membuat Rangga semakin emosi.
Brugh..
__ADS_1
Rangga tiba-tiba menyerang dan memukul perut Fajar. Tidak sampai disitu, Rangga terus menghajar pipi Fajar. Fajar yang mendapat serangan mendadak tidak berdaya untuk membalasnya. Fajar tersungkur di atas lantai.
"Kak Rangga, hentikan!", teriak Alisha histeris.
"Apa?. Kamu membela pria tak tahu diri ini. Kamu membohongiku. Kamu bilang keluar sama Sinta, tapi kenyataannya?. Kamu keluar sama pria ini", Rangga kembali menarik baju Fajar dan kembali memukuli Fajar hingga Fajar tersungkur untuk kedua kalinya.
"Kak Rangga, hentikan!", teriak Alisha kembali.
"Hei, kamu pria tak tahu diri. Kamu sudah tahu aku kan?. Aku ini suami Alisha. Beraninya kamu pergi dengan istriku?".
"Kamu salah paham Rangga. Tidak seperti yang kamu pikirkan".
"Sudah cukup!. Sekarang kamu pergi dari sini. Daripada emosiku kembali naik dan aku akan menghajarmu lagi".
"Baik, aku akan pergi. Satu pesanku untukmu, jangan pernah buat Alisha sedih. Kamu beruntung memiliki istri seperti Alisha. Jangan sampai kau menyia-nyiakan dia, karena di luar sana masih banyak yang mau dengan Alisha", Fajar kemudian berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu dengan wajah yang babak belur.
Sepeninggal Fajar, Rangga menatap tajam ke arah Alisha membuat Alisha merinding mendapat tatapan itu.
"Ayo masuk!", perintah Rangga.
Tanpa membantah, Alisha langsung masuk ke kamar dan diikuti Rangga. Rangga menutup pintu dengan sangat keras. Dan kemudian mulai mengintrogasi Alisha.
"Kamu dari mana? Kamu sudah berbohong sama aku. Kenapa kamu keluar dengan pria itu?".
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan Kak. Aku memang pergi sama Sinta. Tapi..?".
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Rangga kembali memarahinya.
"Tapi apa? Lihat ini!", Rangga menunjukkan foto kebersamaan Fajar dan Alisha yang ada di ponselnya.
"Kamu tidak bisa mengelaknya. Ini udah ada buktinya".
Alisha diam dan mulai berpikir.
"Siapa yang sudah memfitnahku dengan mengirimkan foto begituan ya?".
"Kenapa kamu diam?. Kamu merasa bersalah kan?. Jadi ini alasan kamu menolak berhubungan badan denganku. Kamu lebih memilih pria lain daripada aku yang halal bagimu?".
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rangga.
"Cukup Kak, aku tidak serendah itu. Dan haram bagiku untuk melakukan itu dengan pria lain".
"Terus apa namanya?".
"Baik, kalau itu mau Kakak".
Alisha mulai membuka jilbabnya, lalu membuka kancing bajunya. Membuka seluruh pakaian yang dikenakan dan mendekat ke arah Rangga.
"Ini yang Kakak mau kan?. Silahkan nikmati semuanya. Akan aku buktikan kalau aku bukan wanita rendahan seperti yang Kakak bilang tadi", Alisha yang dari tadi menangis meratapi kejadian itu.
Rangga melotot melihat Alisha dengan tidak memakai pakaian. Bukan melotot karena nafsu, melainkan melotot karena kaget dengan apa yang sudah dilakukan Alisha.
"Kenapa diam Kak?", Alisha menarik tangan Rangga mengarahkan ke dada Alisha.
"Silahkan lakukan yang Kakak mau".
Rangga menarik tangannya dan berbalik membelakangi Alisha.
"Pakai kembali pakaianmu!", perintah Rangga.
"Untuk apa?. Bukankah ini yang Kakak mau?", teriak Alisha.
Rangga berbalik kembali menghadap Alisha.
"Cukup Alisha!. Cepat pakai kembali pakaianmu!", bentak Rangga.
Alisha cuma bisa berdiri sambil nangis sesegukan. Rangga meraih selimut yang ada di ranjang, dengan cepat menutupi tubuh Alisha dan kemudian keluar dari apartemen, entah kemana tujuannya saat ini. Dia hanya ingin menenangkan diri.
Alisha kemudian duduk di atas ranjang dengan tangis tersedu-sedu.
"Kak Fathan, sepertinya aku tidak bisa menjalankan wasiatmu. Maafkan aku Kak. Mungkin aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini".
Alisha bergegas memakai pakaiannya kembali dan mengemasi pakaiannya. Kemudian pergi keluar dari apartemen. Tujuan utama dia adalah rumah Sinta, dia akan menginap di sana sementara waktu. Dia tidak mau pulang ke rumah, takut membuat orang tuanya cemas.
Sebelum ke rumah Sinta, dia ziarah ke makam Fathan terlebih dahulu.
...****************...
__ADS_1
Aduh, sedih banget ya dengan kejadian barusan. Author berharap sih semuanya akan baik-baik saja. Semoga dengan kejadian ini, Alisha dan Rangga sama-sama sadar dan berinstropeksi diri.