Jodoh Karena Wasiat

Jodoh Karena Wasiat
Bab 50. Sinta Marah


__ADS_3

Seperti apa disarankan oleh dokter kemarin, hari ini Alisha dan Rangga ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Alisha. Mereka langsung menemui dokter obgyn karena sebelumnya dia sudah ada janji sama dokter tersebut.


Mereka memasuki ruangan dan mulai pemeriksaan. Dilihat dari USG, keadaan calon bayinya sehat, jantungnya juga sehat.


"Selamat ya Pak Rangga, usia kandungan Ibu Alisha sudah memasuki usia 5 minggu. Dan keadaannya sehat baik ibu atau calon bayinya".


"Iya, terima kasih dok. Tapi kenapa istri saya muntah-muntah, Dok?".


"Itu biasa Pak, wanita hamil pada trimester pertama memang suka mual-mual seperti itu. Tidak apa-apa, nanti juga reda dengan sendirinya. Yang penting sekarang jaga kesehatan ibu dan calon bayinya".


"Baik dok".


"Ini resep yang harus ditebus ya Pak, saya kasih vitamin untuk ibu hamil dan obat pereda mual", dokter menyerahkan resep itu kepada Rangga.


"Iya, terima kasih Dok. Kami permisi!".


"Iya".


Rangga dan Alisha keluar dari ruangan dokter tersebut. Rangga menebus obat sesuai resep dokter tadi. Saat sudah diterima obat itu, mereka kemudian pergi menuju parkiran.


Rangga mulai menyalakan mesin mobilnya dan mobil mulai melaju, namun tiba-tiba Alisha mencegahnya.


"Mas, mas. Berhenti, berhenti!", cegah Alisha dengan menepuk lengan Rangga.


"Sayang, ada apa sih?", tanya Rangga sembari mengerem mobilnya.


"Lihat itu Mas! ", jawab Alisha sambil menunjuk ke arah depan.


Rangga pun melihat ke arah yang ditunjuk Alisha.


"Sinta? Fajar?", ucap Rangga tidak percaya.


"Iya, kok bisa mereka disini?".


"Iya ya? Tapi bukannya ini rumah sakit milik papanya Fathan? Sinta kerja disini kan? Wajar sih kalau Sinta terlihat disini".


"Bukan itu maksud aku Mas. Kok bisa Kak Fajar juga ada disini bersama Sinta ya? Atau jangan-jangan?".


"Kamu cemburu sama dia?".


"Mas? Kan aku udah bilang sama Mas kalau aku nggak ada perasaan sama dia".


Rangga tersenyum kemudian mencubit hidung Alisha yang mancung itu.


"Iya, iya, aku percaya kok. Kan udah ada buktinya".


"Apa?".


"Ini", ucap Rangga sembari mengelus perut Alisha yang belum terlihat buncit.


"Ini bukti kalau kamu benar-benar mencintaiku. Buktinya ada calon baby di perutmu, buah cinta kita.


Alisha tersipu malu.


"Kita samperin mereka yuk Mas!", ajak Alisha.


"Tidak, kamu mau ngapain?".


"Ayolah!", rengek Alisha.


"Iya deh, apa sih yang nggak buat kamu".


Rangga menyalakan mesin mobilnya lagi dan menjalankannya menuju tempat Sinta dan Fajar berada.


"Tiit.. Tit.. Tit... ", suara klakson mobil Rangga yang membuat Fajar dan Sinta kaget. Yah, saat itu mereka lagi asyik berjalan berdua sambil mengobrol. Mereka berjalan menuju gerbang rumah sakit.


"Kak Rangga?", sontak Sinta kaget karena melihat mobil Rangga.


"Rangga?", Fajar juga ikutan kaget.


Rangga menghentikan mobilnya dan turun dari mobil, diikuti oleh Alisha.


"Kak Rangga, Alisha? Kalian ngapain ke rumah sakit?", tanya Sinta.


"Rumah sakit kan tempat orang periksa. Kita datang kesini ya untuk periksa lah. Terus kalian ngapain?".


"Aku kan emang kerja disini Kak. Masa lupa?", ucap Sinta.


"Aku tahu, maksud aku tuh Fajar. Ngapain dia disini?".


"Anu.. Eh, anu", ucap Fajar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jemput Sinta?".


"Hmmm... Iya", jawab Fajar sambil tersenyum.


"Kalian jadian?", tanya Alisha.

__ADS_1


"Nggak kok", jawab Sinta dan Fajar barengan.


"Kalau jadian juga nggak apa-apa kali", ucap Rangga.


"Jangankan jadian, kalian menikah pun aku setuju loh. Supaya Fajar tidak mikirin istri orang lagi".


Sinta dan Fajar tersenyum.


Alisha mencubit perut Rangga.


"Auww... Kamu apaan sih sayang? Sakit tahu".


"Biarin, biar tahu rasa".


"Ya udah yang, kita pulang aja. Biarin mereka berduaan".


"Iya Mas. Bye.. Bye.. Sinta!", pamit Alisha sambil melambaikan tangannya.


Rangga dan Alisha masuk ke dalam mobilnya kemudian Rangga melajukan mobilnya untuk pergi.


"Bye!", ucap Sinta yang mungkin sudah tidak terdengar oleh Alisha.


Fajar saat itu memang sedang menjemput Sinta. Dan dia tidak memakirkan mobilnya di parkiran. Dia sengaja memakirkan mobilnya di depan gerbang rumah sakit.


Mereka sampai di luar gerbang rumah sakit. Mereka masuk ke dalam mobil dan Fajar mulai melajukan mobilnya. Namun selama perjalanan Sinta terlihat bengong.


"Sinta, ada apa?", tanya Fajar.


"Aku tadi kok lupa ya nggak tanya Alisha kenapa dia datang ke rumah sakit ini. Siapa yang sakit ya? Tapi kalau dilihat-lihat sih, diantara mereka tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda kalau sedang sakit".


"Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Nanti kamu bisa telpon atau chat Alisha untuk menanyakan hal itu. Supaya kamu nggak bengong aja, kita mampir makan yuk!".


"Mmmmm.... Boleh".


"Kamu mau apa?".


"Terserah sih".


"Ke rumah makan seafood aja ya!".


"Boleh".


Fajar kembali melajukan mobilnya menuju rumah makan seafood. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai. Fajar memarkirkan mobilnya kemudian berjalan bersama Sinta masuk ke dalam rumah makan tersebut.


Mereka duduk berhadapan dalam satu meja. Tak berselang lama, ada pelayan menghampirinya.


"Permisi Pak, Bu", ucap pelayan.


"Mau pesan apa Pak, Bu?".


"Mau pesan seafood saos asam pedas aja".


"Baik Pak, mau minum apa?".


"Sinta, kamu mau minum apa?", tanya Fajar.


"Lemon tea aja ya!", jawab Sinta.


"Kalau Bapaknya minum apa?".


"Samain aja".


"Baik Pak, Bu. Ditunggu ya!", ucap pelayan itu.


Setelah kepergian pelayan itu, Fajar dan Sinta saling mengobrol sembari menunggu pesanan datang. Mereka bercerita saat masa SMAnya. Yah, memang masa-masa SMA adalah masa yang terindah yang tidak pernah bisa dilupakan.


Saat sedang asyik mengobrol, pelayan datang membawa pesanan mereka. Mereka menerimanya dan mulai memakan apa yang sudah ada di hadapannya.


Baik Sinta maupun Fajar sangat menikmati makanan tersebut. Karena saking lahapnya saat memakan, Sinta tidak sadar kalau ada saos yang tertinggal di bibirnya.


Rangga yang melihat hal itu langsung mengulurkan jarinya mengusap saos yang ada di bibir Sinta. Sinta kaget dan cuma bisa melotot melihat sikap Fajar kepadanya.


"*Aduh, jantungku kenap*a ini? Kak Fajar ngapain sih?", batin Sinta.


"Maaf, tadi spontan karena melihat saos itu ada di bibirmu", sambil menunjuk bibir Sinta.


Sinta cuma mengangguk dalam kegugupan. Kemudian mereka melanjutkan menyantap makanan mereka dengan diam. Fajar yang menyadari Sinta yang diam saja, dia mulai berdehem.


"Hem, hem".


Sinta mengangkat wajahnya ke arah Fajar dan memberikan minum kepada Fajar.


"Tersedak Kak? Ini minum", Sinta juga jadi salah tingkah.


Fajar menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Lagi-lagi membuat Sinta terpesona dengan senyumnya.


"Nggak apa-apa kok, cuma berdehem saja. Habisnya dari tadi kamu diam aja sih".

__ADS_1


"Mmmmm... Ya udah kalau gitu. Lanjut makan aja ya!".


Kemudian Sinta melanjutkan makannya. Dia pura-pura tidak peka dengan apa yang dilakukan Fajar tadi.


"Kak, habis dari sini kita kemana?".


"Terserah kamu mau kemana lagi, dengan senang hati menemanimu".


"Nggak gitu, maksudku itu kita langsung pulang aja ya!".


"Iya".


"Aku udah selesai makannya, Kak Fajar tunggu disini aja ya! Aku mau ke kamar mandi dulu".


"Kalau gitu aku langsung ke kasir aja, Aku tunggu kamu disana".


"OK Kak".


Setelah puas dengan ritualnya di kamar mandi, Sinta pun keluar dan menuju ke kasir. Benar, Fajar masih setia menunggunya disana.


"Udah selesai?", tanya Fajar.


"Udah Kak, maaf ya udah nunggu lama".


"No problem. Ayo!".


Sinta menjawabnya dengan anggukan kepala.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Fajar mulai melajukan mobilnya menuju rumah Sinta. Dia memang mengantar Sinta pulang terlebih dahulu.


Selama perjalanan, Sinta tertidur pulas dengan posisi kepala bersandar di kursi dan wajah menghadap ke samping tepat ke arah Fajar.


Fajar menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Dia mulai memandangi wajah cantik Sinta. Dia mengelus lembut pipi Sinta, menjajaki setiap inci wajahnya dengan jari telunjuknya.


"Cantik. Kamu terlihat semakin cantik saat tidur begini", ucap Fajar.


Perlahan-lahan Fajar mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta, jiwa lelakinya mulai bangkit, dia hendak mencium bibir Sinta. Tapi sesaat dia sadar apa yang dia lakukan.


"Astaghfirullah hal 'adhim. Fajar, bodoh banget sih kamu. Dia belum halal bagimu, kalau mau melakukan itu halalin dia dulu", Fajar bermonolog saat tersadar dengan apa yang dilakukannya.


"Lebih baik aku segera mengantar Sinta pulang, daripada aku semakin tergoda".


Selang beberapa menit, akhirnya sampai juga di rumah Sinta. Fajar berhenti tepat di depan gerbang karena ada satpam rumah Sinta yang menghadangnya.


Melihat satpam itu mendekat ke arah mobil Fajar, Fajar lalu membuka kaca mobilnya.


"Pak, ini saya Fajar".


Pak Satpam sudah mengenal Fajar karena beberapa kali mengantar Sinta pulang.


"Oh, iya. Itu Non Sinta kenapa? Kamu tidak ngapa-ngapain dia kan?".


"Ya Allah Pak, nggak mungkinlah".


"Untung aku tadi sadar dengan apa yang aku lakukan, kalau nggak? Bisa berabe urusannya", batin Fajar.


"Ya sudah kalau gitu, langsung bawa masuk saja",


"Iya, terima kasih Pak".


Fajar kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah Sinta. Dia mencoba membangunkan Sinta. Namun Sinta belum juga bangun, dia tidur begitu nyenyak mungkin karena kecapekan.


"Apa aku gendong aja ya! Tapi nanti kesannya aku nggak sopan lagi", batin Fajar.


Fajar masih bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya Fajar mencoba membuka sabuk pengaman Sinta. Wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Alisha. Tanpa sengaja hidungnya mancungnya menyentuh hidung Sinta sehingga membuat Sinta terbangun.


"Kak Fajar?", Teriak Sinta melihat posisi mereka berdua.


"Kak Fajar ngapain? Nggak berbuat mesum sama aku kan?".


"Sumpah, aku nggak ngapa-ngapain kamu".


"Terus ini? Posisi Kakak?", Sinta yang masih tidak percaya dengan jawaban Fajar.


"Percayalah sama aku Sinta, aku nggak ngapa-ngapain kamu kok. Aku cuma mau melepas sabuk pengamanmu. Tapi kamu malah terbangun dan melihat semua ini".


"Aku belum bisa percaya itu Kak, lagian dari tadi aku kan tidur, jadi nggak tahu apa saja yang Kakak lakukan padaku. Sekarang minggir, menjauh dari aku".


"Sinta, beneran aku nggak ngapa-ngapain kamu".


"Makasih ya Kak, sudah jemput Sinta, sudah ajak Sinta makan, dan sudah antar Sinta pulang".


Sinta membuka pintu mobil Fajar, lalu turun dari mobilnya tanpa mengucap sepatah katapun.


"Sinta pasti marah padaku, dia salah paham sama aku. Dia pikir aku berbuat mesum padanya. Huftt.. ", ucap Fajar sepeninggal Sinta.


...****************...

__ADS_1


Gimana kelanjutan kisahnya


Ditunggu kelanjutan kisah mereka ya!!!


__ADS_2