Jodoh Karena Wasiat

Jodoh Karena Wasiat
Bab 40. Rangga Minta Maaf


__ADS_3

"Alisha".


Alisha berbalik menghadap orang itu.


"Kenapa kesini?", tanya Alisha.


"Untuk menjemputmu".


"Aku nggak mau".


Rangga bersimpuh di hadapan Alisha.


"Aku kesini mau minta maaf Sha. Aku kemarin keburu emosi, aku sangat menyesal. Aku cemburu Sha, aku sangat mencintaimu, aku tak mau kehilangan kamu".


"Jangan bersimpuh seperti ini Kak. Berdirilah!".


"Sebelum kamu memaafkan aku, aku tidak akan berdiri dan pergi dari sini".


"Sudah Kak, cukup. Aku mohon Kakak pergi dari sini!".


Rangga terus saja bersimpuh di hadapan Alisha. Namun Alisha tak mau memperdulikannya. Alisha malah pergi dan masuk rumah Sinta,dia lalu mengunci pintunya. Meskipun Rangga masih saja bersimpuh namun Alisha tak peduli.


Rangga berdiri mengetuk pintu berkali-kali, namun tetap saja Alisha tidak mau membukakan pintu untuknya.


"Alisha, aku mohon bukalah pintunya. Aku ingin bicara sama kamu, aku akan lakukan apapun asal kamu memaafkan aku".


Alisha tidak menjawabnya, dia malah menangis dengan tersedu-sedu. Kemudian berlalu masuk ke kamar Sinta membiarkan Rangga di luar. Sedangkan Rangga tak beranjak sama sekali dari tempatnya, dia sengaja menunggu sampai Alisha memaafkannya.


Hari pun mulai sore, Rangga masih saja menunggu di depan rumah Sinta hanya ingin mendapatkan maaf dari Alisha.


Kebetulan saat itu Sinta pulang dari rumah sakit. Dia kaget melihat keberadaan Rangga yang ada di depan rumahnya. Sinta lalu menghampirinya.


"Kak Rangga ngapain?".


"Aku kesini mau minta maaf sama Alisha. Tapi dia tidak mau, dia malah membiarkan aku disini".


Sinta menekan bel, Alisha yang mendengar bel berbunyi bergegas keluar untuk membuka pintu.


"Sinta, udah pulang?", tanya Rangga.


"Iya. Kak Rangga, ayo masuk!".


Rangga menggelengkan kepala. Aku akan tetap disini sampai Alisha mau memaafkan aku.


"Alisha, Kak Rangga kok nggak disuruh masuk?".


"Biarkan saja. Terserah dia maunya apa".


Alisha berlalu masuk ke rumah Sinta.


"Kak, gimana nih? Gini aja, Kakak masuk ya! Cuaca lagi mendung, takutnya nanti hujan", ucap Sinta.

__ADS_1


"Biarin aku disini sampai Alisha mau memaafkan aku".


"Tapi Kak, aku mau masuk ke dalam nih".


"Nggak pa-pa, kamu masuk aja".


Sinta masuk rumah, sedangkan Rangga masih di luar. Dan benar saja, kekhawatiran Sinta menjadi kenyataan. Hujan mulai turun, dan sangat deras hingga malam hari tidak reda juga.


Alisha melihat Rangga di balik jendela kamar Sinta, sebenarnya dia merasa iba. Namun dia menepis rasa itu, karena dalam hatinya yang paling dalam dia masih enggan menerima maaf dari Rangga.


"Alisha, apa kamu nggak kasian sama suamimu? Dia rela di luar kehujanan hanya ingin mendapatkan maaf dari mu?".


Alisha cuma diam dan terus menatap suaminya di balik jendela. Hingga jam menunjukkan pukul 24.00, namun Rangga belun juga pergi dari sana. Dia masih setia menunggu maaf dari Alisha. Demikian juga dengan Alisha yang tidak bisa tidur sampai pagi hari karena menghawatirkan keadaan Rangga yang ada di luar dengan keadaan basah kuyub.


Keesokan paginya, Setelah Alisha dan Sinta sarapan, Sinta berangkat ke rumah sakit seperti biasanya. Saat dia sudah keluar rumah, dia kaget karena Rangga tertidur di teras rumahnya. Dia meringkuk kedinginan mungkin karena kehujanan semalam ditambah lagi angin malam yang menyerangnya.


Sinta mendekati Rangga dan menempelkan punggung tangannya di kening Rangga.


"Panas", ucap Sinta.


Bergegas dia masuk rumah lagi memanggil Alisha.


"Alisha, please deh. Ayo ikut aku keluar! Suamimu demam", ucap Sinta kepada Alisha yang sedang membereskan meja makan.


Alisha cuma diam, bingung apa yang harus dilakukan.


"Alisha... Jangan bengong begini. Ayo ikut aku keluar, lihat kondisi Kak Rangga".


Sinta menarik tangan Alisha untuk keluar dengannya. Sesampai di luar, Alisha duduk di samping suaminya. Benar apa yang dikatakan Sinta, Rangga demam.


"Iya Non, ada apa?".


"Tolong bantu pindahkan Kak Rangga ke kamar, tidurkan di kamar tamu ya Pak".


"Baik Non", ucap Pak Ujang. Kemudian dengan kekuatan sebagai seorang pria, Pak Ujang memindahkan Rangga di kamar tamu.


"Sudah Non".


"Iya makasih Pak".


Alisha masuk ke kamar tersebut dengan membawa air hangat di baskom dan handuk kecil untuk mengompres Rangga.


"Alisha, jangan kompres dulu, ini aku ambilkan pakaian Papaku. Ganti dulu pakaian Kak Rangga itu, kasian itu pakaiannya basah".


"Terus, siapa yang gantiin pakaian dia?".


"Ya kamu lah, kamu kan istrinya Masa' aku gitu. Ini aku kasih obat demam, selain kamu kompres, nanti Kak Rangga suruh makan dulu terus minum obatnya. Aku mau berangkat ke rumah sakit, ini udah telat".


"Iya, terima kasih".


Setelah kepergian Sinta, Alisha masih bingung bagaimana cara mengganti pakaiannya Rangga.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Apa aku harus minta tolong sama Pak Ujang untuk gantiin pakaiannya Kak Rangga? Tapi Pak Ujang kan mengantar Sinta ke rumah sakit".


Setelah hati dan pikiran bergelut, akhirnya dengan terpaksa Alisha menggantikan pakaian Rangga. Dia mulai membuka sepatunya, kemudian membuka kancing baju Rangga satu persatu, lanjut celana Rangga.


Deg..


Saat Alisha sudah melepas semua pakaian Rangga dan tinggal satu lagi yang belum ia lepas. Dia saat ini melihat penutup kejantanan Rangga yang membuat dadanya berdesir tidak menentu.


"Apa aku harus membukanya juga? Tidak, tidak, masa' iya aku harus membukanya? Tapi kalau nggak diganti, ini kan basah kasian juga. Tapi kalau diganti? Aduh, bagaimana ini?".


Terpaksa Alisha membuka penutup itu juga dan menggantinya. Ini pertama kalinya dia melihat alat tempur suaminya itu. Ada rasa takut, kaget pokoknya campur aduklah. Aku yakin readers juga tahu bagaimana perasaan Alisha saat itu.


Setelah menganti semua pakaian Rangga, Alisha dengan telaten mengompres kening Rangga. Dia duduk kursi sebelah ranjang tempat Rangga tidur.


Setelah beberapa jam, akhirnya Rangga bangun. Panas badannya udah mulai turun. Saat membuka matanya, orang yang pertama dia lihat adalah istrinya, Alisha.


"Alisha".


Alisha mengangguk sembari tersenyum.


"Kamu sudah memaafkan aku kan?".


Alisha tidak menjawab pertanyaan Rangga.


"Sebentar Kak, aku mau ke dapur dulu ambil makanan untuk Kakak".


Saat Alisha berdiri hendak pergi ke dapur, Rangga menahan tangannya.


"Sha, kamu belum menjawab pertanyaan aku".


Alisha menepis tangan Rangga dan keluar menuju dapur. Sepeninggal Alisha ke dapur, Rangga mencoba mengubah posisinya dari berbaring ke duduk dan bersandar di headboard. Dia memperhatikan baju yang dipakainya sekarang, ada yang aneh dengan bajunya saat ini. Dia merasa kalau itu bukanlah baju miliknya.


"Seingat aku, kemarin aku tidak memakai baju ini? Siapa yang menggantikan baju aku? Apa Alisha? Terus ini baju siapa yang aku pakai?", tapi sejenak Rangga tersenyum senang membayangkan kalau Alisha yang sudah mengganti bajunya.


Alisha masuk lagi ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Alisha meletakkan nampannya di atas nakas dan kemudian duduk di kursi samping ranjang.


"Kakak harus makan dulu, setelah itu minum obatnya".


Alisha mengambil piring yang berisi bubur dan mulai menyuapkan ke mulut Rangga. Tentu saja membuat Rangga sangat senang karena mendapat perhatian dari Alisha. Rangga makan dengan lahapnya tanpa tersisa. Lalu Alisha memberikan segelas air dan obat untuknya.


" Ini Kak, diminum obatnya".


Rangga pun menuruti apa yang diperintahkan Alisha.


"Kakak istirahat saja, biar keadaan Kakak cepat pulih".


"Terima kasih".


"Sama-sama".


Alisha keluar dengan membawa nampan, mengembalikannya ke dapur. Setelah mencuci piring tadi, Alisha tidak kembali ke kamar dimana ada Rangga. Dia lebih memilih duduk di taman samping rumah Sinta. Melihat bunga yang bermekaran dan kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Sesekali dia memikirkan nasib rumah tangganya dengan Rangga.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah mulai nyaman dengan hubungan ini. Tapi kejadian kemarin membuat aku sakit hati, tuduhan Kak Rangga yang begitu menyakitkan hatiku. Allah beri petunjuk kepadaku apa yang aku lakukan. Apa aku harus bertahan dengan rumah tangga ini, ataukah aku harus berpisah dengan Kak Rangga", Alisha bermonolog dengan segala kebimbangannya.


Tanpa Ia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dan mendengar semua ucapan Alisha.


__ADS_2