
Hari ini Rangga dan Alisha sudah mulai ke kantor lagi setelah beberapa hari cuti. Seperti biasa pula Alisha menyiapkan sarapan. Setelah siap, mereka berdua sarapan di meja makan.
"Alisha, kamu hari ini masak banyak nggak?".
"Lumayan sih, ada lagi kok. Emangnya kenapa?".
"Kita bawa bekal aja ya, nanti dimakan waktu jam istirahat. Kita makan bareng aja di ruangan".
"Ya sudah kalau gitu Alisha siapin dulu bekalnya sekalian mau beresin meja ini dulu".
"Iya, aku mau ke kamar dulu, mau ambil berkas yang ketinggalan".
Alisha menyiapkan bekal dan juga membereskan meja dan piring. Lalu masuk ke kamar mengambil tas kerjanya. Dan ternyata Rangga masih ada di dalam kamar.
"Kak Rangga, sudah?".
"Iya, ayo berangkat!".
Setelah menempuh waktu beberapa menit, mereka sampai di kantor. Mereka berjalan beriringan menuju lift, banyak karyawan yang terpesona dengan pasangan tersebut. Banyak yang mengatakan kalau mereka adalah pasangan yang serasi.
"Pagi Pak, pengantin baru ini", sapa salah satu karyawan.
"Pagi juga", jawab Rangga dan Alisha barengan.
"Serasi banget sih, ganteng dan cantik".
"Jadi pengen deh".
"Pasti besok anaknya lucu-lucu deh. Secara bibit unggul".
"Beruntungnya Alisha dapat nikah sama Pak Rangga. Udah ganteng, tajir pula".
"Pak Rangga juga beruntunglah punya istri Bu Alisha, udah cantik, sederhana, sholehah pula".
Begitulah kasak kusuk para karyawan yang melihat Rangga dan Alisha berjalan beriringan. Saat sudah sampai di depan lift, Rangga menekan tombol nomer di lift menuju ruangannya. Dan kebetulan itu lift khusus, jadi yang boleh memakai lift itu orang tertentu saja.
Saat itu cuma Rangga dan Alisha yang berada di dalamnya. Meskipun sudah menjadi istri sah dari Rangga, Alisha tetap canggung saat berduaan begini. Apalagi hatinya yang masih belum bisa terbuka untuk Rangga. Dia hanya bisa memberikan pelayanan secara lahir saja kepada Rangga, belum bisa melayani suaminya secara batin.
Tanpa menunggu lama, lift itu mengantarkan mereka ke lantai tujuan mereka. Mereka keluar dari lift dan berjalan beriringan masuk ke ruangannya. Sesampainya di ruangannya, mereka langsung duduk di kursi tempat kerjanya masing-masing menyalakan laptop dan mengecek pekerjaannya.
Saat sedang berkosentrasi dengan pekerjaan masing-masing, terdengar suara pintu terbuka.
Ceklek
"Pengantin baru kok sudah masuk kerja aja sih. Harusnya cuti lebih lagi biar lebih banyak waktu honeymoon nya dan aku bisa cepat punya keponakan", goda Rendy.
__ADS_1
Rendy menghampiri Alisha.
"Malam pertamanya sakit nggak Sha?. Rangga melakukannya dengan lembut nggak?".
Alisha cuma bisa senyum nyengir menjawab pertanyaan Rendy.
"Auh", teriak Rendy saat bolpoin mendarat mengenai pelipisnya. Rangga yang duduk di kursi kebesarannya sengaja melemparkan bolpoin ke arah Rendy supaya dia bisa diam. Dan tepat sasaran, bolpoin itu mengenai pas di pelipisnya.
"Sakit tau", ucap Rendy.
"Habisnya mulutmu itu nggak bisa diam".
Rendy berjalan menghampiri meja Rangga.
"Ada apa denganmu Bro?. Kok emosi begitu?. Apa semalam nggak dapat jatah dari istrimu?".
"Rendy", bentak Rangga. "Silahkan keluar!. Daripada kamu disini mengganggu saja", usir Rangga.
"Idih, jahat amat".
"Keluar nggak?".
"Iya, iya. Aku keluar".
"Bye.. Bye Alisha", goda Rendy saat berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Melihat hal itu, Rangga menghampiri Alisha. Bukan untuk menggoda atau menanyakan perihal Alisha melamun, melainkan untuk meminta berkas yang harus ia tanda tangani.
"Alisha?", Alisha tetap diam.
"Alisha", panggil Rangga membuyarkan lamunan Alisha.
"I-ya Kak. Ada apa?", jawab Alisha gelagapan.
"Aku mau minta berkas yang harus aku tanda tangani".
"Ohya lupa, maaf", Alisha menyerahkan berkas itu kepada Rangga.
Rangga kembali ke mejanya dengan berkas yang sudah di tangannya. Dia kembali duduk dan mengecek beberapa berkas-berkas yang ada.
Alisha juga mulai mengerjakan pekerjaannya kembali hingga tidak terasa waktu istirahat tiba.
"Alisha, makan dulu yuk!", ajak Rangga.
Mereka duduk di sofa, Alisha mulai membuka bekal yang dia bawa tadi. Alisha menyiapkan untuk Rangga, lanjut untuk dirinya. Saat Alisha hendak menyuapkan nasi ke mulutnya, Rangga menahannya.
__ADS_1
"Ada apa Kak?".
"Sini, aku suapin".
"Nggak usah Kak".
Rangga meraih sendok Alisha dan mulai menyuapkan ke mulutnya. Namun, Alisha hanya diam tidak mau membuka mulutnya.
"Ayolah, buka mulutmu!".
Dengan terpaksa Alisha membuka mulutnya, dan satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Pelan-pelan dia mengunyah makanan tersebut.
"Nggak pengen gantian nyuapin aku?", tanya Rangga sengaja menggoda Alisha.
"Hmm????", Alisha melotot.
"Kakak udah besar kan?. Bisa makan sendiri kan?. Mana sendokku tadi, aku mau makan sendiri", Alisha mengambil sendoknya yang dipegang Rangga. Lalu lanjut memakan makanannya dengan lahap tanpa bicara apapun.
Rangga tersenyum melihat tingkah Alisha tersebut, apalagi melihat pipinya yang kini merah merona karena malu.
"Alisha, aku yakin aku bisa mendapatkan hatimu. Meskipun tidak untuk saat ini", Rangga bermonolog dalam hati.
Setelah makan siang selesai, mereka sholat jama'ah.
"Kak, sejak kapan Kakak Sholat 5 waktu seperti ini?", tanya Alisha saat setelah selesai sholat.
"Sejak mengenalmu, sejak aku jatuh cinta padamu. Orang tua aku dari dulu selalu menekankan supaya aku sholat 5 waktu. Namun dari dulu aku selalu membangkang, aku biasanya kalau sholat cuma beberapa kali saja. Tapi sejak aku mengenal kepribadianmu saat SMA, terketuk hatiku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dengan memperbaiki sholatku dan lain-lain".
"Kakak berubah hanya demi aku?".
"Awlanya sih iya. Jadi dulu aku sengaja kuliah di luar negeri untuk menjauhi kamu, sengaja fokus dengan kuliahku dan membenahi diriku. Lebih tepatnya untuk memantaskan diri agar bisa bersanding denganmu. Allah mempermudah semua itu, disana aku punya teman dari Indonesia juga. Namanya Fahri, aku sering cerita ke dia, dia sering menasehati aku dan selalu mengajari aku untuk menjadi pribadi yang baik. Mengajari aku tentang hukum-hukum islam yang belum aku ketahui, mengajari aku sholat yang baik dan benar, dan lain-lain. Dan saat kembali ke Indonesia aku begitu senang karena bisa ketemu kamu dan berharap bisa meminangmu. Namun kenyataannya lain, kamu lebih memilih Fathan. Disitulah aku merasa usahaku sia-sia, aku frustasi dan aku memilih pergi ke klub untuk mabuk waktu itu. Tapi dengan cara yang lain, aku akhirnya menikahimu juga".
"Terus teman Kakak yang namanya Fahri sekarang dimana?".
"Dia udah lulus dan dia bilang akan meneruskan perusahaan papanya di Dubai. Kita lost kontak, nomor ponselnya sudah tidak bisa dihubungi. Bahkan media sosialnya juga nggak ada yang aktif.
Alisha terharu mendengar cerita Rangga, sebegitu besar cintanya untuk dia. Namun dia belum bisa membalasnya.
Hari sudah sore menjelang malam, mereka baru selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Alhamdulillah, sudah beres', ucap Alisha.
Alisha meregangkan otot-ototnya, Rangga tersenyum dari tempat duduknya melihat tingkah Alisha.
"Pulang yuk!", ajak Rangga saat sudah berada di depan meja Alisha.
__ADS_1
"Iya".
Mereka pun akhirnya pulang.