
"Kak, ini sudah sore. Berarti kita harus balik ke rumah kan?", tanya Alisha.
" Iya, tapi kalau kamu mau lebih lama lagi disini juga nggak pa pa kok. Aku bisa atur semuanya".
Alisha acuh dengan perkataan suaminya itu. Dia melanjutkan membereskan baju-bajunya untuk dimasukkan ke dalan koper,dan segera meninggalkan kamar hotel tersebut.
*
*
*
Sampai sudah di kediaman orang tua Alisha. Karena tujuan pertama mereka sepulang dari hotel adalah rumah orang tua Alisha.
"Assalamu'alaikum", ucap Alisha.
"Wa'alaikum salam", jawab ayah dan ibunya.
Mereka berdua kemudian menyalami ayah dan ibu Alisha.
"Silahkan masuk! ", ajak Ibu Almira.
"Bagaimana bulan madunya? ", tanya Ayah Hendrawan.
"Apaan sih yah? Anak datang tidak dipersilahkan duduk, tapi diberi pertanyaan konyol begitu".
"Kok gitu sih? ", ucap Ibu Almira.
"Alisha mau ke kamar dulu Bu, Ayah".
Alisha melenggang ke kamar tanpa mengajak Rangga.
"Maaf Yah, kalau gitu Rangga masuk ke kamar juga".
"Iya Nak, silahkan. Nanti makan makam bareng ya".
"Iya yah", jawab Rangga yang kemudian mengikuti Alisha ke kamarnya.
Mereka berdua masuk ke kamar Alisha.
Alisha langsung naik ke atas ranjang dan menyandarkan kepalanya di head board dengan memainkan ponselnya. Rangga pun ikut naik ke atas ranjang dan menyandarkan kepalanya ke head board juga.
"Alisha".
"Hem", jawab Alisha singkat tapi tetap fokus dengan ponselnya.
"Alisha, kalau diajak ngomong itu ya menghadap ke orangnya".
Alisha yang sebel, kemudian menaruh ponselnya di atas nakas. Terus berbalik menghadap ke suaminya.
"Ada apa?", dengan nada juteknya.
"Senyum dong".
Alisha tersenyum terpaksa, membuat Rangga semakin ingin menggodanya.
"Masa' begitu kalau senyum? Yang ikhlas gitu loh, nanti dapat pahala".
Alisha semakin kesal dengan ekspresi wajah yang ditujukan ke Rangga.
__ADS_1
"Mau Kakak apaan sih? Nggak jelas banget".
"Mau kamu", goda Rangga.
"Gak jelas banget jadi orang", Alisha kemudian membalikkan badan lagi dan mengambil ponselnya yang tadi ditaruh di atas nakas. Saat hendak menyalakan ponselnya, Rangga merebutnya dari tangan Alisha.
"Kak, mau ngapain sih? Kembalikan Kak".
"Nggak".
Bukan Alisha namanya kalau menyerah begitu saja. Alisha mencoba meriah ponsel di tangan Rangga. Tapi dengan kuat Rangga menarik tangannya, tanpa sengaja Alisha terjatuh di dada bidang Rangga.
Rangga merasakan dua gundukan menempel di dadanya, membangkitkan gairahnya sebagai seorang pria. Alisha tersadar akan posisinya saat ini, dia langsung bangkit. Namun, Rangga kembali menarik pinggangnya hingga posisi badan mereka saling menempel.
Rangga kemudian mendaratkan ciuman di bibir ranum istrinya tersebut tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Alisha spontan membelalakkan matanya karena mendapatkan serangan mendadak dari suaminya. Melihat ekspresi Alisha, Rangga langsung melepaskan ciumannya.
"Kak Ranggaaaaa", Alisha berteriak sembari mengusap bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Maaf", jawab Rangga sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ciuman pertama aku Kak? Aggrrhh.. ".
"Berarti aku pria pertama yang merasakan itu. Terima kasih Alisha".
Alisha bangkit dengan muka kesal. Dia turun dari ranjang, membuka lemari bajunya dan mengambil salah satu bajunya.
"Mau kemana?", tanya Rangga menggoda.
"Mau ke kamar mandi, mau mandi sekalian mau membersihkan bibirku dari virus yang menempel tadi".
"Dosa loh bersikap seperti itu sama suami", lagi-lagi Rangga tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Eh, mau sholat? Emangnya sudah wudhu?".
"Sudahlah, kalau belum kenapa bersiap mau sholat?".
"Ya sudah, tunggu!. Aku ambil wudhu dulu, kita sholat bareng".
Rangga bergegas ke kamar mandi untuk wudhu. Alisha setia menunggu suaminya untuk sholat bareng. Tak berselang lama, Rangga keluar dari kamar mandi, memakai sarung dan peci, kemudian dia sholat berjamaah.
Setelah salam, Alisha mencium tangan Rangga, lalu Rangga mencium keningnya. Namun, tiba-tiba Rangga meraih dagu Alisha yang membuat Alisha membelalakkan matanya lagi. Tanpa pikir panjang, Rangga mencium bibir Alisha agak lama dari yang tadi. Spontan, Alisha mendorong badan Rangga hingga tersungkur ke lantai.
Alisha tanpa berdosa langsung melepaskan mukenah yang dipakainya, tapi masih dengan memakai jilbab. Kemudian berlalu meninggalkan Rangga. Alisha keluar kamar dan langsung menuju dapur untuk membantu ibunya di dapur mempersiapkan makan malam.
"Alisha?. Kamu ke kamar saja, biar ibu saja yang memasaknya".
"Nggak pa pa kok Bu, Alisha bantu".
Mereka berdua memasak untuk makan malam bareng. Rangga masih di kamar, duduk di atas ranjang dan bersandar di head board. Sambil tersenyum dia mengingat kejadian tadi saat dia berhasil mencium bibir Alisha untuk kedua kalinya. Bibir Alisha seakan candu baginya, bibir yang dulu saat SMA menjadi incarannya, sekarang menjadi miliknya.
"Akhirnya bibir ini mendarat juga di bibirmu Alisha. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bucin sama aku".
Tiba-tiba raut wajahnya menjadi sedih, pikirannya teringat dengan Fathan.
"Fathan, terima kasih ya kamu sudah mau memberikan Alisha untukku. Maaf, aku yang mendapatkan ciuman pertama ini, bukan kamu. Aku janji sama kamu akan menjaga Alisha sampai kapanpun", Rangga bermonolog saat teringat Fathan.
Setelah makanan sudah tersaji di meja makan, Alisha kembali ke kamar untuk memanggil Rangga.
Ceklek...
__ADS_1
Alisha membuka pintu kamarnya.
"Kak Rangga".
Rangga menoleh ke arah Alisha," Ada apa? Masih mau dicium lagi?".
"Apaan sih.. Ayo makan malam, sudah ditunggu ayah dan ibu!".
Rangga mengangguk sebagai jawaban.
Alisha menuju ke meja makan lebih dulu tanpa menunggu Rangga. Alisha sudah duduk di salah satu kursi, Rangga datang dengan celana pendek hitam dan kaos ketat berwarna kunyit. Sehingga menonjolkan perutnya yang sixpack. Lagi-lagi penampilannya membuat Alisha terpesona hingga dia menelan salivanya.
Dia kemudian duduk di kursi samping Alisha.
"Kenapa dengan aku sih? Kenapa lagi-lagi aku terpesona dengan penampilannya?. Nggak boleh, nggak boleh, aku nggak mau jatuh cinta secepat ini sama dia. Rasaku masih ada untuk Kak Fathan", batin Alisha.
Rangga langsung duduk di kursi, Alisha berdiri dan mengambilkan nasi untuk Rangga.
"Kakak mau lauk mana?".
"Terserah, yang ada aja".
Alisha mengambilkan tumis kangkung, ayam goreng dan sambal. Kemudian Alisha mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka berempat mulai menyuapkan nasi ke mulutnya masing-masing.
Setelah selesai makan malam, Alisha membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas yang kotor. Dirasa sudah beres semua, Alisha balik ke kamarnya. Namun tidak dengan Rangga, setelah makan dia mengobrol santai dengan Ayah Hendrawan di teras depan rumah. Ibu Almira yang mengetahui menantu sedang bersamanya suaminya, dia lantas membuatkan kopi untuk mereka berdua.
Tidak terasa karena keasyikan mengobrol, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Rangga pamit kepada mertuanya untuk ke kamar.
"Ayah, maaf. Rangga pamit mau ke kamar ya. Udah jam 1, Rangga ngantuk".
"Iya Nak, silahkan. Ayah lupa kalau kalian masih pengantin baru yang masih hangat-hangatnya".
Rangga tersenyum kepada ayah mertuanya, kemudian berlalu menuju kamar Alisha.
Sepeninggal Rangga ke kamar, Ibu Almira menghampiri suaminya.
"Ayah itu gimana sih, mereka kan masih pengantin baru. Malah ngajak ngobrol Rangga sampai larut malam begini".
"Iya Bu, maaf. Keasyikan ngobrol tadi sampai lupa waktu. Ibu belum tidur dari tadi?".
"Sudah Yah, ini tadi terbangun karena haus. Terus ibu mendengar percakapan terakhir Ayah dengan Rangga".
"Ya sudah ayo kita masuk kamar Bu. Masa' kita kalah sama pengantin baru itu".
"Apaan sih Yah, sudah tua juga. Sebentar lagi kita juga punya cucu".
Author jadi tersenyum geli juga mendengar percakapan orang tua itu. Hehehe, masih lama kali ya punya cucunya. Wong Rangga dan Alisha belum juga belah duren.
Sedangkan di kamar Alisha, Rangga heran dengan Alisha. Alisha masih dengan pendiriannya, tidur masih dengan baju tertutup dan memakai jilbab serta ada pembatas guling di tengah-tengah ranjang.
Setelah mencuci tangan dan kakinya, Rangga beranjak naik ke atas ranjang. Ditatapnya wajah sang istri penuh kasih sayang.
"Alisha, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu",
Kemudian mencium kening istrinya agak lama. Setelah itu mengambil guling yang tadi jadi pembatas antara mereka berdua dan membuangnya ke sembarang tempat.
...****************...
Apa yang terjadi ya kira-kira kalau tidak ada pembatas diantara mereka??? Bantu Author menebaknya dong!!!!
__ADS_1