Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 10 Tak Terduga


__ADS_3

Pernyataan Bima, terbilang mengejutkan Aira dan keluarga Anita. CEO galak itu terkesan seolah sengaja mencampakkan Anita dan memilih wanita lain menjadi pendamping hidupnya. Padahal nyatanya, yang terjadi adalah sebaliknya. Bimalah yang dipermainkan oleh dua wanita yang sedang menatapnya gamang. Akibat pernyataan Bima yang tak pernah dinyana-nyana, pria itu langsung tampak seperti buaya darat pecinta wanita di mata Bimo.


Tadinya Aira pikir Bima bakal menyulitkan hidupnya lagi seperti yang ia lakukan di kantor, tapi ternyata tidak. Bos galaknya terus tebar pesona pada Aira karena telah memenuhi keinginannya untuk tidak mengatakan pada Bimo siapa wanita yang berkencan dengannya. Bima lebih memilih disalahkan oleh pria paruh baya itu. Bisa dibayangkan betapa murkanya Bimo jika tahu wanita yang bermalam dengan Bima di hotel adalah Aira, sahabat dekat Anita yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Pertama kali dalam hidup Aira, ia sedikit kagum akan ke gentle-an Bima yang lebih melindungi dirinya dan Anita dari amukan Bimo bila ia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Untuk sesaat, keduanya bahkan saling pandang dengan perasaan masing-masing. Namun tetap saja, Aira tidak boleh terjebak akan pesona Bima yang mencurigakan karena tidak biasanya Bima bersikap baik padanya. Gadis itu yakin, si kulkas 10 pintu pasti sudah merencanakan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu.


“Sekali lagi, maafkan saya, Sir. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Perjodohan ini batal. Sekarang sudah malam dan sepertinya, saya harus pergi. Permisi,” ujar Bima tanpa dosa dan sama sekali tak peduli pada raut wajah membunuh Bimo karena tiba-tiba memutuskan perjodohannya secara sepihak apalagi ia telah sengaja mengaku meniduri wanita lain di malam kencan butanya dengan Anita.


Ayah mana yang tidak emosi tingkat tinggi mengetahui fakta mengejutkan ini. Bimo benar-benar kalap dan ia langsung berjalan cepat menuju tempat senjata api yang terpajang rapi di salah satu dinding ruangan ini. Pria paruh baya itu mengambil senjatanya dan hendak melepaskan tembakannya pada Bima jika saja Anita dan Aira tak segera mencegahnya. Sementara itu, Bima terus nyelonong pergi tanpa peduli pada apa yang terjadi di dalam rumah itu.


“Papa! Tolong jangan lakukan ini! Bukan salah pria itu jika ia memilih berkencan dengan wanita lain,” sergah Anita panik kalau-kalau, ayahnya bertindak gegabah. Namun dibalik itu, Anita sangat berterimakasih pada Bima karena tak menyebutkan nama Aira di depan ayahnya. Ia bahkan senang karena perjodohannya, batal.


“Lepaskan aku! Kau ini bicara apa, ha? Jelas-jelas pria itu mempermainkan kita!” teriak Bimo marah besar.


“Itu salahku, Pa!” lanjut Anita menenangkan, “sejujurnya … waktu itu aku tidak datang berkencan!” seru Anita mencoba meredakan amarah ayahnya dan ia memang tidak sepenuhnya berbohong. Anita tidak datang di malam kencan dengan Bima tapi Airalah yang menggantikan dirinya. Sebab itulah insiden ini terjadi.


“Apa? Kau bilang apa? Katakan sekali lagi?” tanya Bimo mulai menatap wajah putri kesayangannya. Iapun menurunkan senjata apinya dan ingin mendengar sekali lagi penjelasan putrinya barusan.

__ADS_1


Anita terdiam, ia ragu apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Matanya menatap Aira yang terus saja menggelengkan kepalanya agar ia tak lagi dilibatkan meski sudah terlanjur terlibat.


“Ehm … waktu itu …”


“Waktu itu Anita pergi bersamaku, Om!” sahut Excel dengan lantang sambil menuruni anak tangga satu per satu.


Tentu saja semua mata langsung menatapnya tajam. Tak terkecuali Anita yang jadi shock karena tak menyangka, sang kekasih akhirnya berani menampakkan dirinya di depan ayahnya di tengah-tengah ketegangan yang terjadi. Aira juga bernapas lega karena Excel bisa juga menunjukkan bahwa ia adalah pria tulen yang bertanggungjawab. Bukan banci kaleng yang cuma mau enaknya saja.


Karena Excel sudah mau turun tangan, Aira tak ingin mencampuri lebih dalam urusan Anita dan keluarganya karena ada masalah gawat yang harus ia selesaikan sendiri. Pekerjaan kantor yang tertunda dan juga masalah bos galaknya. Hal pertama yang harus Aira lakukan adalah menemui rekan kerja kantornya. Aira sangat ingin tahu kenapa temannya itu tega menusuknya dari belakang.


Aira keluar dari rumah Anita dan bermaksud menuju rumah rekan kerjanya dengan taksi. Namun, bukan taksi yang datang dan berhenti di depan Aira. Melainkan Bima.


“Tidakkah ucapan Anda sudah sangat terlambat, Pak? Banyak hal mengerikan yang sudah saya alami ketimbang adegan wanita pulang malam sendirian!” sindir Aira masih berusaha ketus pada bos galaknya.


Perlakuan Bima di kantor sungguh membuatnya lelah hati dan pikiran sehingga untuk bersikap ramah pada Bima sangat sulit dilakukan kalau bukan karena terpaksa. Bagaimana ini, kalau seperti ini mana bisa aku menemui Sandra, batin Aira.


Sebenarnya, Aira sungguh ingin mengundurkan diri jadi sekretaris Bima dan memilih pulang ke kampung halamannya untuk hidup tenang di sana setelah bertahun-tahun ia dihadapkan dengan segudang permasalahan yang menguras emosi jiwa raga. Namun, sebelum itu, ia harus menyelesaikan proyek barunya bersama Bima dan mencoba mencegah orang lain merusaknya. Dengan begitu, Aira bisa keluar dari pekerjaan tanpa beban.

__ADS_1


“Cepat naik!” suruh Bima mulai mengeluarkan jurus galaknya. Mau tidak mau, Aira harus menunda sedikit tujuannya dan menuruti keinginan Bima untuk diantar pulang dengan hati yang dongkol akut.


Untuk sesaat keduanya terdiam selama dalam perjalanan. Banyak sekali hal yang dipikirkan Aira soal pekerjaannya di kantor. Kenapa teman-temannya memusuhinya padahal selama ini Aira sangat baik pada mereka. Bos galaknya yang tiba-tiba saja baik pada Aira disaat semua karyawan kantor sengaja menjatuhkan posisinya. Ini sangat aneh dan membuat pusing hidup Aira yang tadinya baik-baik saja.


“Kau harus menikah denganku, kau tidak punya pilihan. Akan ada pertemuan keluarga di Jerman dan kau harus ikut denganku sekaligus kita juga akan melakukan perjalanan bisnis di Eropa,” ujar Bima tiba-tiba dan sukses mengejutkan Aira.


“Hah?” mata Aira menatap tajam wajah Bima yang sedang fokus menyetir.


Aku kan mau mengundurkan diri? Kok malah diajak keliling Eropa? Nggak salah? Jerit Aira dalam hati. Satu masalah belum selesai, tambah masalah lain lagi.


“Pak! Bukankah kita harus menyelesaikan proyek baru ini terlebih dulu. Kenapa harus ke Eropa. Dan juga … tolong Bapak jangan salah paham. Saya sama sekali nggak ada rasa sama Bapak? Oke, kita memang bermalam bersama. Tapi saya ragu dengan apa yang terjadi diantara kita. Tolonglah Pak … jangan membuat saya semakin bingung dengan situasi ini.”


Mendadak Bima menghentikan mobilnya di tepi jalan raya yang sangat sepi dan sunyi. “Kau meragukan apa yang terjadi pada kita di hotel itu? Apa kau butuh kuingatkan lagi?” tandas Bima dan ia mulai melepas jas hitamnya dan membuka kancingnya satu persatu memperlihatkan dada bidang Bima yang mulus dan menggoda.


“A-apa … yang … Anda lakukan? I-ini di jalan …,” ujar Aira gugup sendiri dengan aksi Bima yang mencoba mendekatinya sampai ada acara buka baju segala.


“Kau mau melakukannya di hotel? Atau dirumahku? Suasananya mendukung sekali loh Ai. Mobilku ini juga bukan mobil kaleng-kaleng, tidak akan kentara bila dilihat dari luar. Pastikan dirimu senyaman mungkin di sini,” goda Bima sambil memamerkan senyum liciknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2