
Aira benar-benar mati kutu dihadapan Bima. Jujur, ia belum percaya bahwa bos galaknya ini jatuh cinta padanya dan berniat menjadikannya istri. Padahal, Aira ini hanya pengganti orang yang hendak dijodohkan dengan Bima, sama sekali tidak ada niatan ingin benar-benar menjadi wanitanya. Entah siapa yang salah di sini, gadis itu jadi bingung sendiri.
Selama ini perlakukan Bima pada Aira dan semua pegawai dikantornya sangat tegas dan kejam. Suka marah-marah apalagi kalau sedang ada masalah. Dan yang menjadi sasaran empuk amarah Bima, siapa lagi kalau bukan Aira. Tiada hari tanpa omelan dari Bima. Itulah yang didapat gadis cantik itu selama bekerja dengan sang CEO galak.
Bertahun-tahun menjadi sekretaris dari si kulkas 10 pintu, Aira sadar akan satu hal bahwa hidup itu memang butuh perjuangan. Aira yang tadinya cengeng, mencoba menjadi tangguh dan kuat dalam menghadapi berbagai macam hal yang menyulitkan hidupnya termasuk kemarahan Bima bila sedang kumat.
Bahkan berkali-kali Aira juga harus berhadapan dengan bahaya besar yang kapan saja bisa merenggut nyawanya. Sedikit banyak, Aira merasa harus berterimakasih pada Bima karena telah mengubahnya menjadi wanita tangguh yang tak takut pada apapun.
“Pak Bima ….”
Bima langsung memelototi Aira karena masih saja memanggilnya dengan sebutan ‘pak’, padahal sudah berkali-kali diingatkan bahkan sampai diancam.
“Ehm, maksud saya … Bima ....” Aira merasa canggung sendiri ketika bibirnya pertama kali menyebut nama Bima tanpa embel-embel lainnya. “Begini, Pak eh … Bima, soal kasus plagiarisme, tidak bisakah diselesaikan baik-baik? Tak perlu menempuh jalur hukum. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini. Besok aku akan datang ke kantor mereka dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.”
Bima bangun berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Aira yang kebetulan duduknya bersebarangan dengannya. CEO tampan itu pindah duduk tepat di sebelah Aira dan langsung menatapnya tajam.
“Kau tidak bisa memaafkan siapapun yang mencoba menyakitimu apapun alasannya, Ai. Sebab, sekali orang itu mendapatkan pengampunan, maka ia akan melakukan kesalahan sama lagi dan lagi serta terus berulang-ulang. Artinya, kau sama saja memberikan peluang bagi mereka untuk mengulangi kesalahan. Itu bukan solusi. Cara paling ampuh bagi pelaku kejahatan adalah memberikan hukuman setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan. Sandra harus belajar dari kesalahannya agar kedepannya, ia tak lagi melakukan hal sama baik itu padamu, ataupun kepada yang lainnya. Kau mungkin bisa memaafkannya, tapi yang lainnya belum tentu,” terang Bima panjang lebar dan membuat Aira terpaku karena ternyata Bos galaknya ini mengetahui semuanya.
__ADS_1
“Bagaimana Anda … bisa tahu? Bukankah di kantor …”
“Memarahimu, membentakmu dan mencaci maki dirimu,” sela Bima sambil memegang kedua pipi Aira. “Kau sendiri yang memintaku untuk bersikap professional. Jika aku bersikap lembut padamu, orang akan curiga dan mereka semua akan semakin menyulitkanmu. Satu-satunya orang yang boleh menyiksamu di kantor hanyalah aku. Kau mengerti?” Bima tersenyum sambil mengedipkan satu matanya menggoda Aira.
Mulut sekretaris cantik itu menganga lebar mengetahui fakta sebenarnya dibalik sikap galaknya Bima terhadap dirinya. Ingin rasanya protes tapi gadis itu tidak tahu bagaimana caranya. Enak saja Bima memperlakukan dirinya seperti boneka barbienya. Dasar bengek si Bima ini.
“Aku senang, kini kau jadi wanita yang kuat, tidak lemah lagi seperti dulu, aku bangga padamu Ai,” lanjut Bima dan mendadak tidur dipangkuan Aira.“Aku sangat lelah hari ini Ai, aku mau tidur.” Bima memejamkan matanya sehingga membuat sekretarisnya tercengang dengan suasana yang amat sangat canggung ini.
Sebisa mungkin Aira menata hati supaya tetap stabil dan tidak meledak. Ia menatap wajah tampan Bima yang kini tepat ada di atas pangkuannya. Mau tidak mau, hati Aira jadi luluh juga. Seketika ia jadi lupa pada apa yang ia katakan pada Sandra bahwa ia sama sekali tidak menyukai Bima. Nyatanya, gadis itu tak bisa berkutik apalagi sampai menolak pesona seorang Bimashena yang paripurna.
“Ya sudah, kalau begitu silahkan pulang karena ini memang sudah sangat larut malam. Hati-hati di jalan,” ujar Aira lirih mencoba mendorong kepala Bima untuk bangun dari pangkuannya.
“Siapa bilang aku mau pulang. Aku bilang aku ingin tidur. Kamarmu di sebelah mana? Ah … pasti di situ!” Bima langsung bangun berdiri dan menuju kamar Aira yang lumayan berantakan melebihi kapal pecah.
Buru-buru Aira berlari menghalangi langkah Bima agar tidak jadi masuk ke dalam kamarnya. Di dalam Kamar Aira banyak sekali pakaian berserakan di mana-mana dan ia belum sempat membereskannya. Maklumlah, pekerjaan di kantor sangat berat dan banyak, begitu sampai rumah, ia tak punya waktu lagi untuk berbenah.
“Tu-tunggu! Anda tidak boleh masuk!” cetus Aira sengaja menghalangi langkah Bima.
__ADS_1
Wajahnya panik dan juga pucat.
“Kenapa? Sebentar lagi, kamar itu juga jadi kamarku begitu kita berdua menikah. Ah tidak … mungkin ini pertama dan terakhir kali aku tidur dikamarmu karena sebentar lagi kau akan tinggal bersamaku di rumahku!” Bima mendorong paksa tubuh Aira menyingkir dari hadapannya dan langsung membuka pintu kamar calon istrinya.
Mata bima langsung melotot melihat betapa berantakannya kamar Aira. Pemandangan ini, sangat bertolak belakang dengan penampilan Aira yang perfect habis saat diluar rumah. Namun, di dalam kamar ini, benar-benar mencerminkan sisi lain dari seorang Aira.
“Astaga … ini kamar apa gudang?” cetus Bima spontan. Sedangkan Aira cuma menggigit bibir karena tak berdaya mencegah Bima melihat betapa hancur kamarnya.
Bima semakin tertegun ketika secara tak sengaja sepatu pantovel hitamnya yang limited edition menginjak wadah gunung kembar Aira yang kebetulan berserakan di lantai. Matanya bahkan melotot melihat ukuran braa hitam di bawah kakinya itu lumayan besar juga. Meski Bima sudah pernah melihat seperti apa bentuk tubuh Aira, ia baru sadar kalau ukuran buah mangga Aira lumayan besar juga.
“Kau punya pepaya yang besar rupanya,” ujar Bima tidak sopan dan Aira bergegas mengamankan benda mirip seperti kacamata itu lalu segera memasukkannya ke dalam mesin cuci. Gadis itu buru-buru membereksan seluruh pakaiannya yang berantakan di mana-mana sambil ngedumel nggak jelas.
Sial sial siaaaaaal! Kenapa juga si kulkas 10 pintu itu harus bermalam di sini! Bikin repot saja! Aduh mau ditaruh di mana mukaku sekarang … gerutu Aira dalam hati sambil sesekali melirik Bima yang sedang sibuk mengamati seluruh ruangan kamarnya.
Kalau saja bisa, ingin rasanya Aira mengusir Bima dari sini, tapi jelas itu tidak mungkin terjadi karena itu sama saja dengan cari mati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***