
Melihat nona mudanya sudah mendapatkan tambatan hati, Bi Iyem turut bahagia juga meski ia baru saja dipertemukan kembali setelah hilangnya Aira. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untu bersantai ria.
Ada banyak yang harus mereka lakukan terutama mengambil kembali apa yang dulu diambil dari Aira. Salah satunya adalah perusahaan almarhum ayah Aira yang kini sudah jatuh ke tangan orang lain.
“Ehem.” Bi Iyem berdeham dan membuat pasangan sejoli itu jadi salah tingkah.
Meski tidak tahu seperti apa kisah lengkap muda mudi ini, Bi Iyem juga lega karena nona mudanya yang telah lama hilang, kini telah kembali. Yang lebih membuat wanita paruh baya ini semakin merasa senang adalah, nona mudanya yang dulu amat sangat imut, kini tumbuh menjadi wanita yang amat sangat cantik. Ditambah kini ia punya calon suami tampan dan tampak menyayangi Aira meski sifatnya agak menjengkelkan juga. Namun, itu tidak masalah selama Aira bahagia bersama Bima.
“Apa kalian yakin, mau menikah sekarang? Tidak ingin menyiapkan dulu …”
“Tidak usah,” sela Bima cepat. “Sebelumnya saya sudah menyiapkan semuanya dengan sangat sempurna, tapi ada yang kabur dan tersesat di sini. Lebih baik tidak usah disiapkan apapun. Lebih cepat lebih baik,” sindir Bima dan dapat lirikan tajam dari Aira. Padahal sebenarnya Bima sangat tahu alasan kenapa Aira melarikan diri di hari pernikahannya.
“Sepertinya, kalian berdua memang sudah tidak sabaran, anak muda zaman sekarang memang memang suka grusa grusu, tidak seperti orang zaman dulu,” komentar bi Iyem.
Yang dikomentari malah cengengas cengenges saja. Hujanpun akhirnya reda, Bima sudah tidak sabar menikahi Aira dan mengsahkan hubungan keduanya.
“Ayo Bi, tolong antarkan kami ke tempat yang bisa kami gunakan untuk menikah,” ujar Bima tidak sabar, tangannya terus saja menggenggam erat tangan Aira.
“Tidak perlu Tuan, kita tunggu saja suami saya pulang. Beliaulah yang akan menikahkan kalian.” Bi Iyem tersenyum. “Selamat untuk kalian berdua, semoga kalian hidup bahagia dan samawa.” Mata Bi Iyem berkaca-kaca dan Aira langsung memeluk bibi pengasuhnya sebagai pengganti ibu kandungnya sendiri di hari yang paling bahagia untuk Aira.
__ADS_1
“Wuah, kebetulan sekali kalau begitu. Kapan beliau pulang?” tanya Bima lagi.
“Bulan depan,” jawa Bi Iyem santai dan senyum Bima langsung menghilang. “Bercanda Tuan, jangan manyun begitu, sebentar lagi suamiku pulang.”
Bima langsung keki sendiri mendengar candaan garing dari Bi Iyem. Hampir saja ia mau protes tapi tidak jadi.
***
Malampun tiba, suami Bi Iyem yang kesehariannya bekerja di tegal hutan, akhirnya pulang. Pria paruh baya itupun kaget dengan kedatangan Bima dan Aira. Namun setelah mendengar penjelasan dari bi Iyem, suami Bi Iyem yang bernama Pak Safar akhirnya mengerti. Ia akhirnya ikut bahagia melihat nona mudanya yang sudah dewasa akhirnya bisa mendapatkan jodoh sempurna seperti Bima.
Sungguh, ini kejadian tak terduga. Bertahun-tahun pasangan suami istri terus mencari di mana keberadaan nona mudanya sampai akhirnya mereka menyerah dan menganggap Aira telah tiada. Tapi ternyata, Aira masih hidup, sehat walafiat dan tumbuh menjadi wanita hebat. Sebagai mantan pengasuh, pastinya mereka bangga dan juga turut senang.
“Terimakasih sudah mau menerima nona muda kami Tuan Bima. Saya mewakili almarhum kedua orangtua nona Aira, mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua,” ujar pak Safar pada Bima.
Apalah pak Safar dan Bi Iyem yang cuma pengasuh dari kaum sudra, bila dibandingkan dengan Bima yang merupakan seorang anak sultan. Namun, sikap Bima yang menghormati pasutri paruh baya itu menjadi poin plus bagi Bima. Semakin terpesonalah Aira yang selama ini mengira Bima adalah pria tergalak yang pernah ia temui. Kini, semua prasangka buruk tentang Bima telah sirna.
Pernikahanpun di gelar, pak Safar meminta beberapa rekan kerjanya yang ada di sekitar desa, untuk menjadi saksi pernikahan Bima dan Aira. Acara pernikahan dilakukan secara tertutup mengingat orang-orang jahat yang mengincar nyawa Aira dan Bi Iyem masih berkeliaran di luar sana. Keduanya bisa selamat hingga sekarang, berkat campur tangan teman-teman pak Safar yang pandai menutupi jejak keberadaan Pak Safar dan Bi Iyem.
Akhirnya, pernikahan Bima dan Aira berjalan dengan lancar dan mereka kini sah menjadi pasangan suami istri meski hanya disaksikan segelintir orang. Hal itu tidak masalah bagi Aira dan Bima yang penting pernikahan mereka sudah memenuhi persyaratan. Berkas-berkas pernikahan juga sudah mulai Bima siapkan. Tinggal di tanda tangani oleh mereka berdua saja.
__ADS_1
Teman-teman Pak Safar yang tadi diundang, langsung diantar kembali ke rumah mereka oleh pak Safar secara diam-diam agar tidak diketahui banyak orang. Sebab, sebagian besar penduduk desa sangat membenci pak Safar dan Bi Iyem karena hanya mereka berdualah yang ngotot tidak mau mengikuti perintah kepala desa. Kepala desa itulah yang membuat bangkrut dan merebut perusahaan ayah almarhum Aira serta mengincar wasiat yang disembunyikan rapat-rapat.
“Sudah, sampai di sini saja, jaga dirimu baik-baik. Bagaimana dengan surat wasiatnya? Apa masih aman?” tanya salah satu teman baik pak Safar.
“Sejauh ini aman. Kita tinggal menunggu kehancuran orang yang sudah menghancurkan keluarga nona Aira. Dan juga … tolong rahasiakan ini dari semua orang. Tidak ada yang boleh tahu kalau nona Aira ternyata masih hidup.” Pak Safar memberikan pesan pada teman-temannya.
“Tenang saja, tidak akan ada yang tahu. Kami pergi dulu, seminggu lagi ada jumpa pers peresmian pabrik baru. Apa kau akan datang?” tanya teman pak Safar.
“Entahlah, aku dan istriku masih belum punya rencana apapun. Ya sudah, jika ada info lagi, tolong kabari kami.”
Teman-teman pak Safar mengangguk dan mereka semua berpisah untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
***
Malam itu, adalah malam pertama Aira dan Bima. Tanpa dihadiri keluarga besar Bima, mereka berdua telah di sahkan sebagai pasangan suami istri. Sebagai salah satu tuan muda dari keluarga sultan, Bima berhasil mencoreng nama keluarga besar bagi Leo karena salah satu anaknya menikah secara sederhana tanpa ada embel-embel apa-apa. Mas kawin aja hanya seadanya. Sangat berbeda dengan pernikahan Leo dan Shena yang digelar begitu megah dan dilengkapi dengan segudang drama ikan terbang.
Pastinya apa yang dilakukan Bima merupakan penurunan kualitas keluarga besar Pyordova. Namun, Bima tampak santai-santai saja dan bahkan dengan bangga memberitahu ayahnya kalau ia dan Aira sudah resmi menikah.
Muntaplah si Leopard setelah tahu anaknya menikah tanpa kehadirannya tepat ditengah hutan belantara pula. “Dasar Bekantan kau Bimaaaa! Ada di mana kau sekarang, ha! Akan ku cincang kau jadi gulungan tikar! Bagaimana aku bisa punya anak bekantan sepertimu!” teriak Leo dari seberang saat Bima meneleponnya.
__ADS_1
“Maaf Ayah! Aku tidak dengar suara Ayah. Sinyal di sini sangat buruk, bye Ayah, aku mau bulan madu dulu. Akan kubuatkan cucu yang sangat luar biasa untukmu!” Bima langsung menutup sambungan teleponnya sebelum Leo kembali kalap.
***