
Dikatai sebagai seorang supir oleh teman-teman istrinya terutama Fransiska, membuat Bima sangat marah. Ia hendak mengungkapkan siapa jati dirinya yang sebenarnya tapi langsung dihalangi oleh Aira.
Mantan sekretaris Bima yang sudah berubah status menjadi istrinya ini tak ingin rencana balas dendamnya berantakan hanya karena ego sang suami. Bimapun mengalah, tapi bukan berarti dia kalah dari para wanita-wanita songong ini. Serentetan rangkaian pembalasan berantai sudah ia rancang dari sekarang.
Begitu balas dendam Aira tercapai semuanya, barulah Bima akan menunjukkan taring dan giginya. Untuk sementara ini, CEO kulkas 10 pintu itu ikut bermain dalam permainan yang dibuat istrinya.
“Apa supir itu pacarmu?” ledek Fransiska pada Aira.
“Bukan, dia suamiku,” jawab Aira tegas dan agak marah. Dan Frasiska langsung tertawa tersedak diikuti tawa teman-temannya.
“Kau sudah menikah? Dengan sopir itu? Huh … kalian pasangan yang hebat.” Fransiska bertepuk tangan sambil meledek.
Mati-matian istri Bima menahan sabar karena tak terima suami CEO-nya dikatain supir oleh putri musuhnya. Ingin rasanya Aira meninju muka wanita sombong ini tapi ia mencoba berusaha keras agar tak terpancing emosi.
“Kenapa malah kau yang jadi emosi Sayang, kau yang minta supaya aku mengabaikan para kutil onta itu,” bisik Bima pada Aira untuk membantu meredakan amarahnya.
Amarah Bima menghilang melihat penampilan baru istrinya bak panci gosong dan sangat kampungan sekali ini. Bima selalu ingin tertawa setiap kali melihat Aira. Namun ia sangat memahami maksud dari perubahan penampilan istrinya demi menunjang aksi balas dendamnya. Jadi si sableng Bima sih mendukung saja.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu marah, kalau dia menghinaku aku masih bisa terima. Tapi dia menghinamu juga. Maafkan aku Bima. Kau jadi terlibat dalam masalahku.” Aira menatap wajah tampan suaminya. Ia rindu sekali dengan Bima begitupula sebaliknya.
Bunga mawar merah yang dibawakan suaminya langsung Aira terima dengan bahagia. CEO yang dulunya dijuluki kulkas 10 pintu bisa berubah drastis jadi romantis juga.
“Hei kalian berdua, sudah mesra-mesraannya? Dasar norak!” ledek Fransiska lagi tapi dua sejoli yang baru bertemu setelah berpisah sekian hari sama sekali tak peduli.
__ADS_1
Aira bahkan memeluk erat leher suaminya dan pamer kemesraan dihadapan semua teman-teman sombongnya. Gadis itu lebih mmeilih fokus pada kedatangan Bima sebagai kejutan tak terduga. Sebuah kejutan yang sangat menyenangkan lebih dari apapun. Apalagi Bima sangat tampan walau tak memakai pakaian jas-nya.
“Aku sangat merindukanmu, sebenarnya aku ingin menciummu, tapi wajahku sedang sangat jelek sekarang. Jadi kupeluk saja seperti ini,” ujar Aira senang. Dalam mode jelek begitu senyum istri Bima ini masih tampak cantik.
“Tidak apa-apa, biar aku saja yang menciummu.” Dengan lembut Bima mencium istrinya tepat dihadapan banyak orang sebagai pelepas rindu.
Semua langsung heboh dengan aksi vulgar antara Bima dan Aira. Bahkan tanpa sadar, sebagian teman-teman Aira ada yang gigit jari karena pasangan mereka tak pernah bersikap manis seperti yang dilakukan Bima pada Aira sekarang.
Datang tiba-tiba membawakan bunga, memeluk erat dan memberikan hadiah kecupan mesra. Kalau seperti itu, wanita mana yang tidak kelepek-kelepek melihat pesona dan ketampanan Bima. Yang lebih gila lagi, beberapa diantara mereka langsung mendaftarkan diri jadi pelakor secara cuma-cuma.
Apalagi mereka merasa bahwa mereka jauh lebih cantik dari Aira dan pastinya akan sangat mudah merebut Bima dari tangan istrinya. Sayangnya, mereka langsung ditendang begitu saja oleh Bima dengan sikapnya yang amat kasar pada seorang wanita yang mulai medekatinya.
“Jangan ada yang mendekatiku! Aku jijiikk sekali dengan kalian. Pergi jauh sana!” usir Bima tapi langsung bersikap lembit pada Aira saat melanjutkan aksi kissingnya.
“Kalian benar-benar memuakkan!” cetus Fransiska merasa kepanasan sampai ia mengibas-ngibaskan tangan. “Sialan, di mana si Pedro! Kenapa belum datang juga. Lihat saja, akan kupermalukan si supir tak tahu diri itu,” gumamnya melirik kesal Bima dan Aira yang sedang beradu mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua saja.
Sebuah mobil Bugatti Veyron Price warna putih datang dan parkir di halaman tempat Aira dan yang lainnya berkumpul. Semua mata tertuju pada salah satu mobil mewah yang pastinya memang hanya anak sultan saja yang punya.
Mobil yang datang itu adalah mobil pacarnya Renata. Dengan senyum merekah ruah dan gaya khas ala sombongnya. Gadis sok kecentilan dan pakaiannya kurang kain itu datang menyongsong kekasihnya untuk dipamerkan.
Bima memicingkan mata dan mengajak Aira berjalan mendekat ke arah mobil itu untuk memeriksanya serta mengamatinya dalam-dalam seolah ada sesuatu.
“Ada apa Bima? Kenapa kau melihat mobil itu? Bukanlah kau sendiri punya?” tanya Aira bingung.
__ADS_1
“Sayang, kau lupa? Ini memang mobilku,” bisik Bima.
“Hah?” Aira terkejut sampai menutup mulut. “Kok bisa ada pada orang itu?”
“Huh, itulah yang harus kita cari tahu.” Bima tersenyum licik seolah ia sedang mendapat mainan baru.
“Hei gembel!” seru seorang pria berkacamata dan berambut tipis ala potongan model rambut Ronaldo. “Menyingkir dari mobilku. Jangan coba-coba kau menyentuhnya. Awas saja kau!” ancamnya.
Bima cuma tertawa sinis mendengar ancaman kurcaci yang sok menjadi pangeran berkuda putih hanya untuk menggaet seorang wanita. Mobil saja pinjam, tapi malah sok gaya. Dasar pria tidak bermodal.
“Yakin … ini mobilmu?” tanya Bima mulai menebar umpan.
“Yakinlah! Apa maksudmu bicara seperti itu, ha?” tanya pemuda itu dan menantang Bima untuk tidak macam-macam dengannya. Tentu saja yang ditantang sama sekali tak gentar sedikitpun.
Kalau suami Aira itu mau, hanya dalam sekali tinju, Bima pasti sudah bisa mematahkan tulang hidung dan leher orang yang mengaku-ngaku mobil milik Bima sebagai miliknya. Pemuda zaman sekarang memang tak punya malu dan harga diri. Mobil pinjam saja bangga. Nggak mau ngaku pula.
“Kalau benar mobil ini milikmu, tunjukkan surat-suratnya? Aku mau lihat?” Bima mengulurkan tangan pada si pemuda yang berubah pucat karena ia tak bisa menunjukkan apa yang di minta Bima.
“Heh gelandangan! Jangan sembarangan bicara! Buat apa dia nunjukin surat-surat mobil ini padamu? Memangnya kau polisi, ha? Jangan dengarkan dia Sayang. Kita pergi saja dari sini.”
Renata mengajak kekasihnya pergi dan hendak membuka pintu mobil. Ia menatap marah pada Bima. Sedangkan Aira sangat menikmati pertunjukan dadakan yang dibuat suaminya untuk menciptakan suasana tegang.
“Polisi? Oke … apa perlu kupanggilkan polisi untuk mengetahui siapakah pemilik asli mobil ini,” tantang Bima dan kekasih Renata itu langsung kelabakan. Pemuda itupun tak jadi membuka pintu mobil.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***