Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 26 Rumah Gubuk


__ADS_3

Rasa shock saat mengetahui ada serigala liar hendak menerkam Aira, kini ditambah lagi dengan hadirnya Bima yang menembak mati serigala lapar tersebut. Betapa terkejutnya Aira melihat calon suami yang baru kemarin ditinggalkannya, kini sudah hadir kembali di sini.


Gadis itu tertegun, ia tak menyangka Bima bisa menemukannya secepat ini disaat genting di mana ia hampir saja mati sia-sia. Napas Aira masih tak beraturan karena shock, matanya juag terbelalak menatap bangkai serigala tepat berada di bawah kakinya. Dengan sekuat tenaga Aira menggeser tubuhnya menjauh dari jasad serigala itu dan hampir saja terjatuh jika saja Bima tak segera menangkapnya.


“Hati-hati Ai, kau bisa jadi ban gelinding jika terjatuh dari ketinggian ini seperti orang-orang yang baru saja kau kerjai,” ujar Bima dan semakin terkejutlah Aira karena tak menyangka Bima tahu segalanya.


“Ba-bagaimana kau bisa tahu? Dan juga … bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Aira gugup dan gemetar. Seingatnya, tidak ada helikopter atau pesawat manapun yang berseliweran di sekitar sini. Rasanya aneh bila bos galaknya ini tiba-tiba saja datang secara ajaib di puncak ketinggian di mana orang biasa pasti membutuhkan waktu lama agar bisa sampai kemari seperti yang dilakukan Aira.


“Kalau kau ingin tahu, ayo menikah dulu. Hanya anggota resmi keluargaku yang boleh tahu bagaimana caraku bisa kemari,” jawab Bima penuh teka-teki.


Aira jadi sedih bila Bima mengatakan hal itu padanya. Bukan karena ia tidak mau menikah dengan Bima, tapi karena ia tak ingin dianggap pengganggu hubungan perjodohan sahabatnya dengan keluarga Bima.


“Bagaimana dengan Anita … bukan kah kau sudah …”


“Dia sudah menikah dan mungkin sedang berbulan madu,” potong Bima cepat.


“Apa?” Aira kaget, ia celingak-celinguk ke sana kemari tapi tak mendapati Anita di sini.


“Siapa yang kau cari?” tanya Bima.


“Kau bilang kalian sedang bulan madu? Di mana Anita? Apa kau meninggalkannya?”


Bukannya menjawab, Bima malah tertawa terbahak-bahak sampai suaranya terdengar menggema di area tebing dan jurang.


“Kenapa kau tertawa? Ini tidak lucu?”


Bima mencoba meredam tawanya dan menjawab pertanyaan Aira. “Kenapa dia harus bulan madu di sini? Yang ada malah dia diterkam macan seperti serigala yang hendak memangsamu tadi.” Bima masih menatap wajah ketus Aira.


Tanpa izin, Bima langsung nyosor seperti soang sehingga membuat gadis itu terkejut bukan kepalang. “Aku merindukanmu, Ai. Aku khawatir padamu. Untunglah aku datang tepat waktu,” ujar Bima lirih setelah puas mencium Aira. Bima juga langsung memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


“Lepaskan aku, Bim … kau tidak boleh melakukan ini?” Aira mulai menangis sedih dan merasa amat sangat bersalah pada Anita.


Bima melepas pelukannya dan menatap wajah Aira. “Kenapa tidak boleh? Siapa yang melarang?”


“Kau sudah jadi milik Anita, kau sudah menikah dengannya, ingat itu, Bim!” isak aira semakin sedih dan Bima kembali tertawa lagi.


Tentu saja Aira bingung, hatinya sedang terluka bagai terdiri belati tertajam di dunia gara-gara Bima, eh yang bersangkutan malah enak-enakan tertawa tanpa dosa.


“Oke! Silahkan tertawa sepuasmu! Sepertinya kau emang sangat bahagia melihat ku hancur, kan?” cetus Aira mencoba mengusap air matanya.


“Ayo ikut denganku!” Bima menyeret tangan Aira untuk turun gunung.


“Ke mana?”


“Cari sinyal.”


“Supaya kau diomeli Anita!” jawab Bima tanpa peduli pada pemberontakan Aira yang tangannya terus minta dilepaskan.


Bima tak bisa menahan lagi, agar lekas sampai di bawah, ia menggendong Aira yang sedang tak punya tenaga. Sayangnya, hujan tiba-tiba saja turun di tengah hutan dan dua insan yang sedang kasmaran itu mencari tempat berteduh. Kebetulan, di pinggiran jalan setapak dekat dengan air terjun, terdapat gubuk tua. Bima dan Aira langsung berlari ke gubuk tersebut untuk menghangatkan tubuh mereka yang basah kuyup karena kehujanan.


Tok tok tok!


Bima mengetuk pintu gubuk yang terbuat dari kayu. “Permisi, apa ada orang …” seru Bima sopan.


Tak lama kemudian, tiba-tiba pintu kayu itupun terbuka dan muncul seorang wanita. Ternyata, wanita tersebut adalah wanita yang pernah ditolong Aira dari cengkeraman preman-preman jahat. Preman-preman itulah yang membuat Aira harus berakhir di tempat ini dan hampir saja ia kehilangan nyawa kalau saja Bima tidak datang menyelamatkannya.


“Maaf mengganggu, Bu. Bolehkah kami numpang berteduh di sini. Sebelumnya perkenalkan, saya Bima dan ini calon istri saya, Aira.” Dengan sopan, Bima memperkenalkan diri.


Aira baru tahu kalau bos galaknya bisa sopan juga sama rakyat jelata. Sangat-sangat berbeda dari Bima yang Aira kenal sebelumnya.

__ADS_1


Sebenarnya Aira juga terkejut karena tak menyangka kalau wanita yang ditolongnya tinggal di hutan begini. Kehidupan wanita ini pasti sulit mengingat tempat ini jauh dari akses apapun. Terutama listrik dan akses-akses yang lain.


“Nona Aira …,” ujar wanita yang ditolong Aira dan langsung memeluknya. “Benar kau adalah nona Aira.” Wanita itu berkaca-kaca dan menatap bahagia wajah bingung Aira karena dipeluk tiba-tiba oleh orang yang bahkan Aira tidak tahu siapa namanya. “Mari masuk Non, mari Tuan Bima, silahkan masuk.”


Wanita paruh baya itu mempersilahkan Bima dan Aira masuk dan langsung masuk ke dalam untuk mengambilkan handuk. “Silahkan duduk, maaf kalau tempatnya sempit dan apa adanya. Namanya juga gubuk, jauh dari rumah layak lainnya. Saya masuk dulu dan ambilkan pakaian ganti untuk kalian berdua.” Wanita itu masuk kembali ke dalam setelah menyerahkan handuk pada Bima dan Aira.


Bima membantu mengeringkan rambut Aira sambil bertanya, “Kau kenal wanita itu?”


Wajah Aira bingung dan menatap Bima. “Tidak, aku tidak kenal, atau entah aku yang lupa. Sudah puluhan tahun lamanya aku meninggalkan tempat ini.” Aira mencoba mengingat-ingat tapi tetap tidak ingat juga.


“Ya sudah, kau jangan khawatir. Begitu hujan reda kita akan cari orang untuk menikahkan kita.”


“Hah? Apa kau gila?”


“Tidak, aku waras, kalau kau tidak mau menikah denganku, baru aku jadi gila,” jawab Bima seenaknya. Aira mau mengomel tapi tidak jadi karena sang pemilik rumah datang lagi.


Wanita paruh baya itu muncul dengan 2 set pakaian pria dan wanita lalu menyerahkannya pada Bima dan Aira. Setelah keduanya ganti baju, barulah mereka bertiga ngobrol bersama sambil menyantap makanan ala kadarnya yang dihidangkan wanita pemilik gubug ini. Hujan diluar masih sangat deras tapi gubuhk yang berbahan dasar kayu ini sangat hangat dan nyaman. Atapnya juga tidak bocor dan sangat kuat menahan derasnya air hujan.


“Nona mungkin lupa pada saya, tapi saya tidak akan pernah melupakan Nona. Saya Bi Iyem, Non. Pengasuh Nona sewaktu Nona masih kecil,” ujar wanita yang bernama Iyem memulai pembicaraan.


Bima dan Aira saling pandang, namun mereka tetap mendengarkan penjelasan Iyem dengan seksama.


“Sejak perusahaan orangtua Nona bangkrut dan mengalami kecelakaan, saya dan suami saya mencari keberadaan Nona. Kami membawa surat wasiat perusahaan yang diberikan almarhum Nyonya dan Tuan besar untuk diwariskan pada Anda sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun, sekelompok penjahat mencoba merebut berkas itu. Itulah mengapa saya harus tinggal di sini supaya penjahat itu tak bisa menangkap kami.”


Aira menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut mendengar keterangan dari wanita yang ternyata adalah mantan pengasuhnya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2