Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
PENGUMUMAN NOVEL BARU (KISAH KAKEK DAN NENEKNYA BIMA)


__ADS_3

Akhirnya setelah sekian purnama bisa up Bima lagi sekaligus mau promo novel baru kisah Byon dan Biyanca. Judul novelnya, 'BIYANCA, SERAHKAN CINTAMU'


berikut cuplikan bab nya yang hanya rilis di noveltoon.


***


Biyanca ragu apakah ia harus mendengarkan kisah tentang dirinya dengan Byon di masa lalu. Sungguh ia tak percaya pada bule tampan satu ini. Mungkin karena kesan pertamanya pada sang bule sudah buruk makanya Biyanca sangat berhati-hati padanya.


Selain itu, Biyanca juga takut masa lalunya itu menyakitkan sehingga ia tak mau lagi mengingatnya. Gadis itu sungguh-sungguh ingin kabur dari sini. Tapi bila di tengah laut begini, Biyanca mau kabur ke mana? Jika nekat terjun dari kapal, hiu pun menangkap.


Lari dari tangan Byon, malah mati di mangsa predator laut. Tidak ada yang bisa Biyanca lakukan selain tetap berada di sisi suaminya dan pura-pura mau mendengarkan kisah klasik mereka. Namun, belum juga Byon mulai bercerita, salah satu pengawal Byon datang dan membisikkan sesuatu.


Sontak saja Byon agak terkejut dan menatap wajah Biyanca yang langsung buang muka. “Bilang pada Nahkoda untuk menepi sebentar di dermaga terdekat,” ujar Byon pada pengawalnya.


“Baik, Tuan. Permisi.” Pengawal itupun pergi meninggalkan Byon dan Biyanca lagi.


“Kita tunda dulu ceritanya Bii. Aku harus menemui temanku dulu. Dia dalam masalah.” Byon bangun berdiri dan beralih tempat kehadapan Biyanca. Istrinya ini sejak tadi terus memalingkan wajah seolah enggan menatap wajah tampan Byon.


Seperti apa yang diperintahkan Byon, kapal pesiar mewah milik sang mafia menepi di dermaga. Mungkin dewi fortuna sedang berpihak pada Biyanca sehingga kesempatan ini bisa ia gunakan untuk segera kabur dari suami mafianya.


Namun, kali ini Biyanca tidak bisa grusa grusu mengambil langkah seperti sebelumnya. Ia harus menyusun rencana strategis agar Byon dan pasukannya terkecoh sehingga ia bisa kabur dari statusnya yang menjadi istri seorang mafia.


“Bodo amat sama cerita masa laluku, mau aku coba ingat kayak apa juga gak bakalan bisa. Yang ada kepalaku bakal pusing sendiri. Mending aku cari saja wanita yang bernama Camelia itu. Toh aku sudah dapat alamatnya,” gumam Biyanca sambil mengawasi gerak gerik Byon yang sedang memberikan arahan pada seluruh pengawalnya.


Entah seperti apa kekuasaan Byon di sini, yang jelas pria bule tampan itu tampak serius sekali memberikan perintah yang isinya tak dapat dipahami Biyanca. Sepengetahuan Biyanca, mereka hanya disuruh berjaga saja, tidak disuruh apa-apa. Namun, dibalik itu semua, Biyanca tidak tahu.


“Ayo pergi Bii, kita ke tepi pantai,” ajak Byon langsung menggandeng tangan istrinya tanpa izin.


“Eee … tunggu! Aku mau ke toilet,” ujar Biyanca berakting menahan panggilan alam walau dalam hati gadis itu penasaran, kenapa Byon mengajaknya ke tepi pantai.

__ADS_1


“Ayo,” ajak Byon dan langsung menuju toilet wanita terdekat. Byon menunggu diluar toilet sementara Biyanca langsung masuk ke dalam.


"Huh pengertian juga, kirain nggak boleh ke toilet," ucap Biyanca.


Sebenarnya, Biyanca ke toilet hanyalah alasan saja. Ia sedang merencanakan pelarian dan memutuskan untuk mencari wanita yang bernama Camelia itu sendirian. Biyanca tidak percaya pada Byon makanya ia nekat mengambil keputusan ini. Dari tadi Biyanca mondar mandir di dalam toilet sampai akhirnya ada wanita muda yang kurang lebih seumuran dengannya masuk ke dalam toilet tempat Biyanca berada.


“Maaf Mbak,” sapa wanita matang itu. Penampilannya sangat seksi dan menarik. Apalagi baju yang dikenakannya sangat minim dan terbuka seperti ukuran pakaian anak usia 5 tahun.


“Iya, ada apa ya?” tanya Biyanca.


“Apa di luar itu … suamimu?” tanyanya dan Biyanca tidak langsung menjawab. Namun gadis itu langsung mempunyai ide cemerlang untuk melancarkan aksinya kabur dari Byon.


“Bukan!" seru Biyanca sengaja berbohong, "dia bukan suami saya, tapi … dia sedang menculik saya dan saya sedang berusaha kabur darinya. Tolonglah bantu saya Mbak. Saya sudah melakukan berbagai macam cara tapi selalu saja gagal.” Biyanca memasang wajah melas dihadapan wanita itu seolah ia sangat menderita dan tersiksa.


“Masa sih? Pria tampan bule itu menculikmu? Kayaknya nggak mungkin deh …”


“Jangan percaya sama penampilannya, Mbak. Penampilan bisa saja menipu.” Biyanca mencoba meyakinkan wanita muda itu supaya mau membantunya.


“Wah, Mbaknya nggak tahu sih, dia itu mafia kelas kakap Mbak, penjual organ tubuh manusia. Ya kalau Mbaknya mau organ tubuhnya dijual ya silahkan aja, Mbak! Ambil aja itu bule.” Biyanca malah berghibah menjelek-jelekkan suaminya sendiri.


“Masa sih?”


“Kalau nggak bener, ngapain saya kabur dari cowok yang katanya Mbaknya ganteng itu. Saya normal Mbak, saya juga suka sama cowok ganteng, lah tapi kalau cowoknya ganteng serem begitu ya mikir tujuh kali tujuh turunan tujuh jembatan Mbak,” bisik Biyanca berharap Byon tak mendengar pembicaraannya dari luar. Bisa gawat bila suami Biyanca itu mendengarnya. Rencananya untuk kabur bisa gagal total.


“Terus gimana dong kaburnya,” tanya wanita itu mulai terpancing dan percaya saja pada apa yang dikatakan Biyanca. Padahal semua itu tidak benar.


Biyanca membisikkan sesuatu pada wanita itu. “Ih ogah ah … kalau aku yang dijual gimana?” tanyanya sambil bergidik ngeri.


“Nggak bakal Mbak. Target incarannya adalah saya, kalau dia sadar telah salah orang, mbaknya pasti dilepas kok.” Lagi-lagi Biyanca meyakinkan wanita yang berdiri didepannya dengan penuh harap agar mau membantunya kabur dari sini.

__ADS_1


Karena terpikat akan pesona Byon dan penasaran pada sang bule tampan, wanita itupun menyetujui rencana Biyanca dengan menukar pakaian mereka. Kebetulan tinggi dan ukuran tubuh mereka sama. Hanya saja, Biyanca jadi merasa aneh sendiri kalau berpakaian sangat ketat begini.


Ini kali pertama istri Byon itu memakai baju seksi. Biasanya ia hanya pakai gaun sederhana ala gadis kampung. Biyanca biasa memperlihatkan lekuk tubuhnya seperti ini. Berkali-kali gadis itu menarik-naik pakaian kaos dan roknya untuk menutupi tubuh idahnya, tapi tetap saja pakaian kekurangan kain itu tetap memperlihatkan perut rata dan paha mulus Biyanca.


“Gila, ini baju ketat amat ya? Ini sih untuk anak TK umur 5 tahun” gumam Biyanca pemilik pakaian ketat itu sedang berganti pakaian di dalam kamar mandi.


Biyanca benar-benar risih sendiri, tapi ia tak punya jalan lain. Yang penting sekarang ia kabur dulu. Baru urusan yang lain ia pikirkan lagi setelah ini.


Setelah selesai bertukar pakaian, Biyanca memakai topi hitamnya dan berjalan menunduk dihadapan Byon, bertepatan dengan itu seorang wanita yang memakai pakaian Bitanca keliar juga dari dalam toilet kea rah yang berlawanan dengan Biyanca.


Tentu saja Byon langsung mengejar wanita yang ia kira adalah Biyanca. Padahal bukan, sedangkan Biyanca yang asli langsung lari pontang panting ke sana ke mari mencari tempat aman yang jauh dari jangkauan Byon.


Saking kencangnya berlari, Biyanca sampai tidak memerhatikan jalan dan tempat apa saja yang ia lewati. Pokoknya ia lari dan terus lari supaya Byon tidak bisa mengejarnya lagi. Gadis itu yakin kalau suaminya itu pasti segera sadar kalau dirinya kabur dengan bantuan orang lain.


Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia yakin pelariannya ini pasti bakal berhasil. Namun sayang beribu kali sayang, yang namanya sial dan malang itu tidak bisa dijadwal. Biyanca memang bisa bebas dari kandang singa, tapi ia malah masuk ke dalam sarang buaya.


Setelah berjuang sampai kehabisan napas, Biyanca baru sadar kalau ia telah salah masuk tempat. Ia masuk ke sebuah gedung kosong di mana para preman jalanan sedang berkumpul hendak balapan.


Melihat ada mangsa wanita cantik dan seksi, tentu saja para preman itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mencicipi mangsanya. Apalagi bagi mereka, pucuk dicinta ulam tiba, tanpa di buru dan dicari, sang mangsa menggiurkan tiba.


Salah satu ketua preman itu langsung menghampiri Biyanca dan yang lainnya bergerak mengepung Biyanca dengan membentuk lingkaran besar agar sang mangsa idaman tidak bisa kabur keluar.


“Wauw, seksi!” seru pemimpin preman itu sambil tersenyum dan memasang muka mesumnya. Tangannya terulur hendak menyentuh Biyanca tapi tiba-tiba …


Dor!


Sebuah timah panas melesat cepat dari sarangnya dan menembus tulang jari sang pemimpin preman hingga pria itu mengerang kesakitan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***



__ADS_2