
Dari pembicaraan suami dan mertua Aira saat di meja makan, sudah dipastikan kalau keluarga Leo ini memang sedang merencanakan Sesuatu hal yang besar dan sengaja tidak diberitahukan pada Aira. Sebab itulah istri Bima ini sangat penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya pada Shena selagi mereka berdua saja.
Apalagi Shena ini adalah mertua idaman yang pengertian dan tidak ribet menuntut menantunya untuk harus ini dan itu. Sebaliknya, Shena membiarkan Aira jadi dirinya sendiri dan nyaman tinggal bersamanya.
“Kau sungguh ingin tahu?” Shena tersenyum dan malah balik bertanya.
“Tentu saja Bu, sungguh aku ingin tahu … aku tidak mau baik Bima ataupun ayah terkena masalah gara-gara aku.” Aira sedih, tapi ia tak bisa menolak ataupun membantah titah mertua dan suaminya untuk duduk diam di rumah sementara Leo dan Bima berperang diluar dan menyelesaikan masalahnya.
“Kau akan tahu sendiri sebentar lagi Ai. Dan kau jangan khawatir. Bukankah kau sudah dengar seperti apa seluk beluk keluarga kami bukan? Kami tak terkalahkan, apa yang terjadi pada suamiku setelah ini … itu semata-mata bagian dari perencanaan untuk mencapai apa yang dia inginkan. Musuh diluar sana memang licik, tapi suamiku jauh lebih cerdik dan itu menurun ke Bima suamimu. Kau bisa lihat sendiri kalau wajah Bima dan Leo memang 11 12,” terang Shena sambil merangkul bahu Aira supaya menantunya ini tidak terlalu khawatir.
“Ayah dan Bima memang mirip,” ujar Aira setuju.
“Pasti berat jadi istri Bima, kau harus bersabar menghadapi sikapnya yang galak dan posesifnya minta ampun. Aku senang kau akhirnya jadi menantuku. Karena kau sangat cekatan dan bisa mengimbangi sifat Bima yang galak itu.”
“Tapi Bu … aku khawatir ….”
“Sssstt! Sudah, jangan banyak pikiran! Bagaimana kalau kita shoping dan menghabiskan uang Leo dan Bima.” Shena langsung tersenyum senang karena akhirnya ia punya teman shoping juga. Tidak mungkin ia merecoki Fey yang sibuk dan Yuna yang berprofesi sebagai bidan. Sementara putri bungsunya entah ada di mana sekarang.
Kehadiran Aira sangat membantu mengurangi kebosanan Shena selama menjadi istri dari gangster nggak ada akhlak karena ia bingung, bagaimana cara menghabiskan uang suaminya. Sayangnya Aira menolak ajakan mertuanya. Ia merasa tidak enak bila berbelanja dan bersenang-senang sementara suami mereka kelelahan bekerja.
“Dulu aku juga berpikiran sepertimu Ai. Berat masuk dan menjadi bagian dari keluarga Pyordova, tapi untungnya, aku punya ibu mertua yang sangat luar biasa. Kebanyakan mertua di dunia tidak akan suka menantunya menghabiskan uang putranya untuk hal yang tidak penting, tapi nenek Bima ini berbeda. Aku malah disuruh buat kekacauan di mana-mana dan Leolah yang harus membereskan kekacauan yang kubuat. Termasuk menghabiskan black card suamiku. Kalau tidak habis, ibu mertua tercintaku malah mengomeliku.”
“Hah?” Aira terkejut. Ia baru tahu ada mertua model begitu.
__ADS_1
Di mana-mana mertua itu kadang suka mencari-cari kesalahan menantu, untuk dijadikan alasan ini itu. Ada juga yang menghibahi menantunya dengan tetangga, membanding-bandingkan menantunya dengan menantu orang lain dan masih banyak lagi. Yah walaupun tidak semua mertua seperti itu.
Tapi kalau model mertua kayak Shena dan Biyanca alias nenek Bima ini sih sangat langka. Mana ada mertua menyuruh sang menantu buat onar dan menghabiskan uang anaknya untuk bersenang-senang sementara si anak bekerja di luar sana. Enak banget punya mertua model Shena dan Biyanca ini.
“Cepat bersihkan dirimu sana, aku akan menunggumu di sini sampai kau siap untuk kuajak shoping. Bibi iparmu sedang sibuk sekarang, jadi aku tidak bisa mengajaknya. Kakak iparmu juga sibuk. Adik iparmu raib entah ke mana, anak itu lama-lama jadi jelangkung juga. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Jadi … hari ini kita akan bersenang-senang berdua saja.”
“Tapi Bu … ayah dan Bima menyuruh kita untuk duduk diam di rumah saja, apa tidak apa-apa kalau kita pergi keluar? Bagaimana kalau mereka tahu dan marah?” tanya Aira masih bingung dan ragu.
Lebih ke arah shock sih, melihat betapa unik dan langkanya sifat dan karakter keluarga suami Aira ini. Sangat berbeda dengan keluarga yang lain. Padahal keluarga Bima ini keluarga gangster loh.
“Duduk manis di rumah bukan berarti kita tidak diperbolehkan keluar, kan? Rumah ini bukan penjara Ai. Tidak akan ada yang memarahi kita karena tugas kita sebagai istri diwajibkan untuk bersenang-senang dan menghasilkan keturunan. Aku sudah menghasilkan Yeon, Bima dan Lea. Dan setelah ini giliranmu, terserah kau dan Bima mau punya anak berapa. Lebih banyak lebih baik karena Leo suka anak kecil. Jadi, kau jangan khawatir oke!” Shena meminta menantunya bersiap-siap karena mereka akan berbelanja bersama.
***
Jelas sangat berbeda dengan para nyonya besar lainnya. Penampilan Shena sangat kasual. Ia hanya memakai celana jins hitam dan kaos oblong putih yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Begitupula dengan Aira yang penampilannya tidak jauh beda dengan sang mertua. Hanya saja, Aira memilih memakai jaket kulit hitam untuk menutupi kaos oblongnya dan juga topi warna serupa untuk menutupi wajah cantiknya. Mereka berdua sengaja membaur dengan yang lainnya untuk menghindari pusat perhatian.
“Kita cari tas dulu, atau kau mau cari yang lain?” tanya Shena.
“Aku ikut ibu saja, tapi ... aku ingin membelikan Bima beberapa kemeja dan dasi. Sepertinya ia kehabisan stok di rumah.”
“Oke, kita belanja kebutuhan kita dulu baru suami-suami kita.” Shena setuju dan mereka masuk ke dalam salah satu distro untuk membeli semua barang yang mereka inginkan.
Kebetulan, distro yang dituju Shena dan Aira lumayan lengkap, jadi mereka tak perlu cari distro lain untuk membeli apa yang mereka cari termasuk kebutuhan Leo dan Bima.
__ADS_1
“Kita berpencar, kau pilih apa yang Bima suka, dan aku pilih apa yang Leo suka. Kita akan bertemu lagi di sini bila sudah mendapatkan barang-barang milik suami kita.”
“Baik Bu,” ujar Aira patuh dan ia langsung hunting bajunya Bima.
Untuk sesaat Aira senang saat memilah-milah kemeja yang cocok untuk suaminya. Ia sampai lupa kalau dirinya sedang dalam banyak masalah dan kapan saja nyawanya bakal diincar musuh, tapi ketika membayangkan Bima memakai kemeja pilihannya, ada rasa senang tersendiri yang dirasakan Aira sebagai seorang istri.
“Bima pasti suka kemeja ini,” gumam Aira senang. Mendadak, ia terpikat oleh gaun cantik yang terpasang rapi tidak jauh dari tempat Aira berdiri. “Wah … ini juga bagus, sangat serasi dengan kemeja yang aku pilihkan untuk Bima.” Aira memilah-milah gaun itu untuk mengamatinya.
“Ehem, permisi Mbak,” sapa pelayan toko yang bertugas melayani pelanggan.
“Iya Mbak, ada ya Mbak?” tanya Aira ramah.
“Mbaknya punya uang buat beli gaun itu. Harganya 139 juta loh Mbak, limited edition.”
“Maksudnya apa ya Mbak?” tanya Aira bingung.
Pelayan toko itu memerhatikan penampilan Aira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sangat biasa dan kampungan sekali. Ini kali pertama pelayan tersebut melayani orang biasa seperti Aira karena biasanya ia hanya melayani para sultini saja.
“Kalau nggak punya uang, jangan pegang-pegang. Nanti kalau barangnya rusak atau lecet, mbaknya mau ganti?” cetusnya kasar.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1