
Rupanya, Aira pergi ke rumah Anita. Tentu saja tujuannya adalah buat perhitungan dengan sahabatnya. Pintu rumah Anita terbuka secara otomatis karena wajah Aira sudah terdeteksi oleh system kemanan rumah Anita yang terbilang megah dan wah. Keluarga Anita memang sangat kaya raya, tak heran bila ia jadi kandidat yang akan dijodohkan dengan Bima.
Sayangnya, si tuan putri manja itu sudah punya tambatan hati lain sehingga tega meminta Aira menggantikan posisinya yang berakibat petaka bagi sahabat Anita sendiri.
Kedatangan Aira juga disambut hangat oleh Bi Inem yang sudah mengenal betul siapakah Aira bagi keluarga Anita. Buka n Bi Inem pelayan seksi, melainkan Bi Inem yang berusia paruh baya.
“Bi, Ita mana?” tanya Aira dengan geram. Ia melihat mobil sedan hitam milik Excel terparkir rapi di garasi rumah sahabatnya.
“Lagi di kamar Non,” jawab Bi Inem.
Benar dugaan Aira, sahabatnya itu ternyata sedang berindehoi ria dengan kekasihnya di dalam kamar. Pantas saja semua panggilan telepon dan wa nggak dibalas sama gadis tengil ini. Aira hendak menaiki tangga dan menuju ke kamar Anita tapi langkahnya dihalangi oleh bibi pengasuh sekaligus orang kepercayaan sahabatnya.
“Jangan diganggu Non. Nanti non Anita marah. Kalau ada apa-apa sampaikan saja sama saya biar nanti akan saya sampaikan ke non Anita. Saya takut dipecat Non, kalau Non maksa masuk ke sana.” Wajah bibi pengasuh terlihat melas sambil memohon pada Aira.
“Sebelum bibi dipecat, Anita dulu yang bakal dipecat dari rumah ini! Minggir Bi, ini urusan saya dengan Anita. Kalau Bibi nggak mau minggir, jangan salahkan saya kalau om Bimo mecat bibi karena menghalangi langkah saya!” ancam Aira. Yang ia ucapkan ini memang bukan ancaman belaka tapi juga peringatan keras.
“Waduh.” seketika, nyali Bi Inem langsung ciut.
Siapa yang berani melawan majikannya sendiri. Dengan ragu, iapun menyingkir dari hadapan Aira dengan menundukkan kepala. Sebagai asisten rumah tangga, ia juga merasa dilema serba salah. Maju kena, mundurpun kena.
Aira langsung menerobos masuk ke dalam kamar sahabatnya tanpa permisi. Bahkan ia tak peduli pada apa yang dilakukan Anita dan pacarnya di kamar tersebut. Cara Aira masuk ke dalam kamar sahabatnya terbilang ekstrem dan menakutkan karena ia mendobrak pintu kamar Anita yang terkunci rapat hanya dengan sekali tendangan keras. Pintupun terbuka dan mengagetkan pasangan yang sedang asyik bergoyang-goyang di atas ranjang.
__ADS_1
“Woy, kodok!” teriak Aira sekencang-kencangnya. Suara gemuruh petir saja seolah kalah keras dengan teriakan sekretaris cantik itu. “Bangun nggak! Kalau nggak, aku bakar ini kamar dan jadiin kalian daging panggang!” Aira terus berteriak marah dan mengomeli pasangan sejoli itu habis-habisan.
Dua sejoli yang diteriaki Aira jadi kalang kabut sendiri dan saling berebut selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Keduanya benar-benar tidak tahu malu sama sekali. Bisa-bisanya mereka bercinta di sore hari begini. Bikin resah saja.
“Apaan sih kamu, Ai. Nggak lihat orang lagi asoi geboi apa?” protes Excel sambil menutupi tubuhnya dengan selimut bersama Anita yang bersembunyi dibalik punggung Excel.
“Bodo amat! Sekarang pergi, nggak! Atau aku sunat itu pedang golokmu biar nggak bisa masuk lagi ke lubang beton milik Anita! Mau!” ancam Aira sambil melotot marah dan berkacak pinggang di depan Excel. Aira terlihat sangat garang dan sangar.
Ia benar-benar emosi tingkat Dewa.
Gadis itu benar-benar geram dengan hubungan terlarang pasangan mesum ini. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena mereka berdua melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak seperti dirinya yang terpaksa harus merelakan kesuciannya secara cuma-cuma pada Bima. Anak muda zaman now memang benar-benar mengkhawatirkan dan meresahkan terutama bila mereka sudah terjebak dalam pergaulan bebas.
“Kamu dulu aja yang pergi, baru aku juga pergi!” tawar Excel, ia sungguh ingin menyelesaikan apa yang sudah ia mulai bersama Anita sebelum Aira datang mengganggunya.
“Eits … jangan-jangan, Ai! Jangan dong … ini pedang golok cuma satu-satunya di dunia ini, dulu kecil udah pernah di sunat, masa mau kamu sunat lagi. Masukin itu gunting ya … jangan jadi kayak psikopat dong! Oke oke, aku pergi, tapi kamu balik badan dulu biar aku dan Anita pakai baju, iya nggak Sayang?” tanya Excel pada Anita yang ikut gemetar melihat Aira kalap. Excel juga berubah sikap jadi lembut supaya Aira nggak marah lagi padanya.
“Hoh oh, jangan galak-galak napa, Ai. Ntar cantikmu ilang loh, kalau cantikmu ilang, kamu nggak dapat pacar, kalau kamu nggak dapat pacar, ntar aku yang repot karena kamu pasti minta aku cariin pacar …”
“Jangan banyak cincong kau, Ta. Kau sadar nggak sih? Kau itu kelewatan sebagai temen! Kalau sampai ayahmu tahu kelakuan kamu seperti ini, kamu pasti bakal langsung dikirim keluar negeri! Itukah yang kau mau?”
Wanita yang berdiri di depan Aira terdiam. Dia memang salah, dan Anita juga bingung kenapa sahabatnya bisa semarah ini padanya. Ia buru-buru turun dari ranjang dan mencari semua pakaiannya yang berserakan dimana-mana tanpa merasa malu lagi pada Aira yang menatap bengong tingkah memalukan sahabatnya ini.
__ADS_1
Untungnya, Excel masih punya etika dan saraf malunya masih ada, ia membawa selimut dan masuk ke dalam kamar mandi sambil mententeng pakaiannya dan berganti pakaian di dalam sana. 10 menit kemudian, baik Anita dan Excel sudah berpakaian lengkap meski kondisi tubuh mereka sangat berantakan. Aira hanya geleng-geleng kepala menyaksikan betapa nggak ada akhlaknya dua sejoli yang sedang dimabuk asmara ini hingga lupa daratan dan batasan sebagai pasangan yang belum resmi menikah.
Bertepatan dengan itu, mobil Mitsubishi Dignity Limousine hitam milik ayah Anita telah tiba dan memasuki pekarangan begitupula dengan Land Rover yang sangat familiar dimata Aira. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 5 menit, mobil-mobil mewah tersebut terparkir rapi di depan rumah. Aira mengintip dari jendela kamar Anita dan betapa terkejutnya ia setelah tahu siapa-siapa saja yang datang ke rumah sahabatnya ini.
Seorang pria gagah dan tinggi berwajah bule, turun dari mobil setelah pengawalnya membukakan pintu mobil untuknya. Satunya lagi seorang pria tinggi tampan lengkap dengan setelan jas hitamnya ikut turun bersamaan dengan pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Anita.
“Astaga … bagaimana bisa si breengsek itu ada di sini?” pekik Aira sehingga membuat bingung Anita dan Excel.
“Ada apa Ai? Memangnya … siapa yang datang?” tanya Anita ikut melihat ke jendela juga. Mulut wanita itu langsung menganga lebar dan refleks ia mengatupkan kedua tangannya di depan mulutnya saking terkejutnya. “Kok Papaku ada di sini? Terus itu … dia … bawa siapa?” mata Anita memicing ketika melihat pria yang dirangkul ayahnya untuk masuk ke dalam rumah.
“Dia … adalah pria yang akan dinikahkan denganmu,” jawab Aira lemas. Firasatnya sangat tidak enak melihat kedatangan Bima ke rumah Anita disaat dirinya menggerebek Excel. “Ini gawat," gumamnya lagi.
“Apanya yang gawat? Bukankah kau bilang mau membuat perjodohanku batal? Kenapa anak gangster itu malah datang kemari?” Anita mulai panik. Ia menatap Excel yang ikut panik juga.
“Ini salahmu, Ta? Kenapa kau nggak bilang kalau pria yang dijodohkan denganmu adalah bos dikantorku? Kenapa juga kau harus matiin ponselmu disaat aku membutuhkanmu? Kau tahu apa yang terjadi padaku? Aku sudah hancur Ta, dan itu gara-gara kau! Harusnya aku tidak membantumu! Huaaaa … kau tahu apa yang kurasakan sekarang? Rasanya aku ingin mati saja. Aku bahkan tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan orang itu. Aku harus bagaimana Ta … huaaaaa.”
Aira benar-benar menangis tersedu-sedu. Ia bahkan sampai terduduk di lantai sambil menjejak-jejakkan kakinya seperti anak TK yang merengek minta jajan.
Meski tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya ini, Anita diam-diam memeluk tubuh Aira dan menenangkannya. Sedangkan Excel, ia hanya berdiri bingung memikirkan bagaimana cara menghadapi calon mertuanya setelah ini. Sejujurnya, ia tidak siap sama sekali.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***