Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 24 Perjalanan Aira


__ADS_3

Usaha Bimo untuk menggagalkan pernikahan Aira dengan Bima malah berujung pernikahan putrinya sendiri dengan Excel. Mengetahui bahwa Anita lebih memilih bersama dengan kekasihnya, membuat Bimo merasa geram. Apalagi Silvester, ayah dari Bimo yang merupakan salah satu mafia berkuasa di negeri paman Sam, sangat murka ketika tahu bahwa cucunya yang hendak dinikahkan dengan putra kedua dari cucu mantan mafia paling ditakuti di dunia, gagal total.


Ayah Anita tak bisa berkutik ketika Silvester memerintahkan agar cucunya tetap menikah dengan Bima bagaimanapun caranya. Sebab, pernikahan mereka akan menguntungkan kubu Silvester untuk meningkatkan kekuasaannya di dunia permafiaan. Sayangnya, langkah yang ditempuh Bimo salah besar. Tepat dihadapan keluarga besar Leopard yang juga dihadiri mafia paling ditakuti di dunia, Byon Pyordova, mereka semua menjadi saksi pernikahan Anita dan Excel. Takkan ada lagi yang bisa memisahkan pasangan dua sejoli ini termasuk kakek Anita sendiri.


Sementara Leo, jangan ditanya, ia kalap sampai mengambil senapannya dan hendak pergi mencincang Bima. Tak sulit bagi Leo menemukan di mana keberadaan putranya saat ini, iapun berjalan cepat menuju pintu keluar gedung tanpa peduli pada seluruh tatapan mata keluarganya yang lain. Namun, baru juga beberapa langkah Leo berjalan, seorang wanita cantik dan anggun, berdiri tepat menghadang langkah kaki si gangster nggak ada akhlak itu.


“Mau ke mana kau?” tanya wanita anggun itu dengan suara lembutnya.


“Jangan halangi langkahku, Sayang. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” tandas Leo. Wanita cantik yang sedang berdiri di depan Leo ini, siapa lagi kalau bukan Shena, istri Leo sendiri alias ibu dari Bima.


Shena berjalan mendekat ke arah suaminya dan memegang lembut bagian kerah tuxedo hitam suaminya. “Kau mau keluar dari sini? Langkahi dulu mayatku!” ancaman yang manis tapi mematikan.


“Kenapa kau membela putramu? Kau tahu kalau dia sudah bikin malu keluarga kita?” sengal Leo marah, tidak benar-benar marah sih. Mana mungkin seorang Leopard marah pada Shena.


“Siapa dulu bapaknya? Bima hanya menurun sifatmu! Yang dilakukan Bima ini belum seberapa dengan apa yang kau lakukan dulu? Mau kuingatkan apa saja? Tanya juga sama seluruh keluargamu ini? Apa bedanya kau dengan Bima?” balas Shena sambil mendorong suaminya sampai Leo berjalan mundur. Soalnya yang dikatakan Shena ini benar. Semua kebengekan putranya merupakan turunan dari Leo sendiri.


Semua keluarga besar Leo membenarkan ucapan istri si gangster itu.


“Sayang … kau berani mengancamku sekarang? Jangan lupa aku pegang senjata!”

__ADS_1


“Memangnya kenapa kalau kau pegang senjata? Kau pikir aku takut padamu? Kau yang mengajariku jadi seperti ini! Kembali ke tempatmu sekarang dan nikmati saja pesta ini. Jangan buang-buang uang sembarangan! Nanti juga Bima balik sendiri. Tak perlu dicari karena dia bukan anak kecil lagi!” Shena benar-benar membuat keluarga Leo salut sampai menahan tawa atas sikap pemberaninya saat menjinakkan seekor singa.


Leo sendiri juga bingung, bagaimana bisa ia sangat mencintai wanita yang sudah memberinya 3 anak ini. Semakin galak, pesona Shena semakin membuat Leo terbuai akan pesona istri cantiknya.


Karena seluruh keluarga besar Leo setuju dengan Shena yang lebih membiarkan Bima berbuat sesuka hatinya, maka si gangster itupun menurut saja meski secara diam-diam, ia menyuruh anak buahnya untuk memantau keadaan di luar sana. Leo juga terus mengawasi Bima dari kejauhan begitu juga dengan keluarga Bima yang lain.


Mereka semua diam bukan berarti tidak peduli, tapi mereka berhati-hati dalam melindungi anggota keluarga mereka satu sama lain dari bahaya yang setiap saat bisa saja mengancam. Inilah uniknya keluarga Bima. Elegan di luar, bringas di dalam.


***


Di dalam bus, Aira benar-benar merasa bersalah atas keputusan yang ia ambil. Namun, nasib rumah peninggalan almarhum kedua orang tua Aira yang diambil paksa oleh oknum-oknum penguasa, membuat Aira tak bisa membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Bagaimanapun juga tanah itu milik Aira, mana mungkin gadis itu memperbolehkan orang lain mengambilnya.


“Aish sial, kenapa aku pergi tanpa bawa apa-apa,” gumam Aira bingung. Bahkan dompet dan ATM nya ketinggalan di hotel tempat ia dan Bima berada sebelumnya.


Untung ia masih punya simpanan beberapa yang ia selipkan dijaket hitamnya, sehingga gadis itu bisa menggunakan uang tersebut sampai ke desa ini. Pakaian yang Aira kenakan juga seadanya. Ia hanya memakai kaos oblong putih dan celana jins biru. Penampilannya benar-benar acak-acakan karena ia memang tak bawa apapun saat memutuskan kabur dari Bima.


“Orang-orang pasti akan menganggapku seperti gembel, bagaimana ini? Apa ku hubungi Anita supaya mengirimkan semua barang-barang yang kubutuhkan?” gumam Aira galau. “Ah tidak … aku tidak boleh menyusahkannya lagi. Bagaimana dengan Bima … apa … dia menikahi Anita?” Aira tergeragap karena tiba-tiba memikirkan bos galaknya.


Bahkan tanpa sadar, gadis itu meneteskan air mata memikirkan calon suaminya menikahi sahabatnya. Membayangkannya saja serasa perih apalagi bila sampai melihatnya langsung. Aira terduduk lemas dan menelungkupkan wajahnya di depan halte bus. Ia menangis, sekretaris Bima itu benar-benar menangis. Bukan karena ia tak punya apa-apa sekarang, tapi ia sudah kehilangan orang yang mulai ia suka untuk selamanya akibat keputusan gila yang ia ambil.

__ADS_1


Disaat Aira meratapi kesedihannya dan mencoba menata kembali hatinya, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seorang wanita yang menangis histeris minta tolong. Aira langsung mendongakkan kepalanya dan semakin hancurlah riasan Aira karena air mata. Gadis itu mengusap sisa bulir air matanya dan mencari-cari sumber suara wanita yang mengalihkan perhatiannya.


Di kejauhan, tepat di arah jam 12, Aira melihat seorang wanita paruh baya diseret paksa oleh beberapa sekelompok pria. Melihat kondisi wanita itu, tentu saja Aira tidak tega dan sangat marah dengan segerombolan pria-pria mirip kumpulan preman pasar. Gadis itu mengamati sekeliling mencari-cari sesuatu dan menemukan bongkahan-bongkahan batu besar. Aira memungut salah satu batu besar paling dekat dengannya dan langsung melemparkannya ke arah pria yang sedang menyeret paksa seorang ibu-ibu paruh baya.


Buk!


Lemparan batu dari Aira rupanya tepat mengenai kepala botak salah satu preman bertubuh kekar dan dipenuhi banyak tato disekujur tubuhnya. Sontak pria botak tersebut mengerang kesakitan dan mencari-cari siapakah orang yang melemparinya dengan batu besar.


Darah mengucur deras dikepala sip ria botak dan semakin histerislah pria itu ketika melihat darahnya sendiri bercucuran di mana-mana. Kepalanya seketika berubah merah karena darah.


“Bangsaaaatt!” teriaknya menggelegar, “siapa yang berani melakukan ini padaku!”


“Aku!” jawab Aira dengan lantang di kejauhan. “Heh botak! Sini kau! Jangan beraninya sama wanita tua saja! Lawan aku!” tantang Aira sambil melambaikan tangan, gadis itu sengaja meledek dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya supaya gerombolan preman itu mengejarnya.


Kumpulan para preman yang terkaget-kaget jelas naik pitam. Si botak yang sedang terluka itu langsung memerintahkan rekan-rekannya untuk menangkap Aira dan menghabisinya.


“Bunuh wanita itu! Jangan biarkan dia hidup!” serunya dengan lantang sebelum akhirnya pingsan karena kehilangan banyak darah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


****


__ADS_2