Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 7 Keputusan Aira dan Bengeknya Bima


__ADS_3

Aira serasa hancur lebur. Ia tak pernah menyangka bahwa tipu muslihatnya akan membawanya berakhir kehilangan kesuciannya. Karena terlalu polos Aira tidak tahu bahwa Bima tidak menyentuhnya sama sekali. CEO dengan julukan kulkas 10 pintu itu hanya ingin membuat Aira merasa buruk.


Namun di sisi lain, ini adalah tantangan yang menantang baginya. Gadis itu terus berpikir dan berpikir. Bertahun-tahun bersama Bima tak menjadikannya wanita lemah meski bos galaknya sendiri yang menjadi penyebab kehancuran Aira.


Mana mungkin Aira mau menikah dengan Bima, sedikitpun gadis itu sama sekali tak ada rasa pada pria yang ia juluki sebagai kulkas 10 pintu itu. Meskipun Bima sangat tampan dan salah satu pria terpopuler di negara ini. Bagi Aira, Bima bukan tipenya. Sebaliknya, sekretaris cantik itu sangat membenci Bima. Ia bertahan bekerja sebagai sekretaris, hanya karena ingin melunasi hutang-hutang almarhum orangtuanya.


Tapi kini, sepertinya Aira sudah tak bisa bertahan lagi. Sudah cukup kesulitan yang ia hadapi selama ini dan puncaknya adalah Aira kehilangan segalanya. Namun, gadis malang itu mencoba ikhlas. Ia berencana akan pulang kembali ke kampung halamannya setelah semua urusannya di sini selesai.


“Maaf Pak, saya tidak bisa menikah dengan Anda.” Tak disangka, Aira mengungkapkan keputusannya dan sukses membuat Bima terpaku.


“Kau bilang apa barusan?” tanya Bima sampai mengerutkan keningnya berharap pendengarannya tidak salah. Nyali sekretaris cantiknya besar juga karena berani menolak menikah dengannya.


Sebenarnya ini penghinaan besar bagi Bima. Seorang Bimashena Leopard Pyordova, putra kedua dari genster ternama yang paling ditakuti sekaligus dikagumi banyak kaum hawa, ditolak oleh seorang wanita biasa yang bekerja padanya. Mentah-mentah pula. Padahal sudah jelas kalau Aira tak punya pilihan lain selain menerimanya sebagai suami. Tak disangka, Aira malah memilih menenggelamkan diri sendiri dengan menanggung aib yang tak pasti.


“Anggap saja yang terjadi semalam adalah karma yang pantas saya dapatkan karena telah menipu Anda. Saya juga akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya setelah semua urusan yang saya tangani terselesaikan. Sekali lagi saya minta maaf, Pak.” Dengan ekspresi tegap dan sok tegar. Aira bangun berdiri sambil menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan selimut dan memunguti semua pakaiannya yang berserakan di mana-mana.


Gadis itu menolak pakaian pemberian Bima dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi berukuran besar itulah Aira menangis sejadi-jadinya dan tentu saja Bima bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Sudah seperti itu, masih bersikap sok kuat!” gumam Bima sambil menyunggingkan senyum kemenangannya. “Kita lihat saja, sampai kapan kau bisa lari dariku.” Bima menatap lurus kamar mandi yang dipakai Aira. “Kutunggu kau di luar Ai, kita berangkat ke kantor bersama."


Aira tidak menyahut, ia tenggelam dengan pikirannya sendiri. “Aku harus kuat, jangan lemah Ai,” isak Aira sambil membersihkan seluruh tubuhnya dengan air. “Lihat saja, awas kau Ta … ini namnya tulung mentung, aku sudah membantumu tapi dengan teganya kau mengabaikanku! Jika aku menemukanmu … matilah kau!” geram Aira melampiaskan amarahnya pada gemericiknya air tak berdosa. Ia bahkan bakal mengamuk pada Anita karena disaat genting, sahabatnya itu malah tidak dapat dihubungi.


***


Kedatangan Aira dan Bima secara bersamaan, sempat mencuri perhatian banyak orang. Namun, mereka sudah tidak kaget lagi karena bos dan sekretarisnya itu memang sering pergi kemana-mana berdua. Tidak ada yang aneh sebenarnya, hanya saja kali ini Aira sama sekali tak ingin dekat dengan Bima apalagi menatapnya.


Di kantor, Aira bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa ketika bertemu dengan Bima. Saat ini, penampilan Aira sudah kembali normal layaknya sekretaris pada umumnya. Meski suasana hati Aira sangat buruk kala memikirkan apa yang sudah Bima lakukan padanya, gadis itu mencoba bersikap professional layaknya atasan dan bawahan.


Sulit memang, ingin rasanya Aira menjerit setiap kali melihat Bima dan langsung teringat kalau bosnya sudah menodai kesuciannya versi dugaan Aira. Aslinya sih,gadis itu tetap suci dan murni karena tak terjadi apa-apa pada Aira meski Bima sudah melihat semuanya.


Kalau Aira yang dulu, mungkin ia bakal cari tempat untuk bunuh diri daripada menanggung malu. Namun, hal itu bukanlah solusi yang tepat untuk kelanjutan hidup Aira. Sekalipun ia sebatang kara sekarang, ia harus tetap menjalani hidup sampai ajal menjemputnya, apapun masalahnya.


Anehnya, di kantor Bima jadi lebih cerewet dan membuat sulit Aira dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan yang melenceng dari pekerjaan seorang sekretaris. Contohnya seperti memijat kaki, bahu, dan juga kepala Bima. Mengepel lantai yang sudah bersih tapi dibilang kotor, serta memotong rumput di depan halaman kantor. Membelikan minuman yang amat sangat jauh dari lokasi kantor, dan bahkan mengirim berkas ke semua perusahaan lain dengan tangan Aira sendiri.


Sungguh, hari ini Aira sangat kesal dibuat Bima. Penampilannya jadi berantakan sekarang karena kelelahan. Bima benar-benar bos paling menyebalkan yang pernah ada di dunia ini.

__ADS_1


“Dasar berengseeek! Kamvret! Bedeebah! Bekantaann! Masih hidup pula! Kenapa ada kodok ghaib macam kau, haaa!” jerit Aira ketika ia ada di atas loteng perusahaan di jam istirahat. Ia sengaja berteriak memaki-maki bos nya sendiri saking kesalnya atas perlakukan buruk Bima padanya. Sungguh Aira juga tidak bisa konsentrasi bekerja karena Bima terus saja merecokinya.


“Pak! Ini surat permohonannya ke mana? Kenapa tidak ada? Berkas ini tidak akan bisa dikirimkan kalau surat permohonannya tidak ada?” tanya Aira setelah untuk kesekian kalinya ia terpaksa harus masuk ke ruangan Bima. Padahal niatnya, gadis itu tak ingin melihat Bima sesering mungkin, tapi si bos galaknya sengaja membuatnya bolak balik menemuinya hanya karena urusan yang tidak penting.


“Lah, nggak sengaja ke sobek tuh. Kau buat lagi saja. Dan serahkan padaku lalu jadikan satu dengan berkas ini. Nggak pakai lama! Cepat!” cetus Bima dengan senyum liciknya.


Siapa yang salah siapa yang disuruh memperbaiki. Ingin sekali Aira menjambak rambut Bima.


Astaga, si kodok setan ini benar-benar menyebalkan sekali, jerit Aira dalam hati.


Aira cuma bisa mendengus kesal. Entah Bima marah karena ditolak Aira atau karena memang bos galaknya itu sengaja mempersulitnya, yang jelas sang sekretaris jadi semakin tidak betah berada di dekat Bima. Kalau saja ia bisa kabur, sekretaris cantik itu ingin kabur sekarang. Sayangnya tidak bisa, jadi ia hanya bersabar menghadapi Bima.


Begitu memasuki jam pulang kerja, Aira langsung bergegas pergi dari kantor dan hal itu dilihat oleh Bima. Tentu saja sang CEO penasaran dan memutuskan untuk mengikuti Aira dari belakang.


Mau pergi ke mana gadis itu? Tanya Bima dalam hati.


Tanpa pikir panjang Bima langsung mengekor di belakang taksi yang dinaiki Aira. Pria tampan itu ingin tahu apa yang akan dilakukan sekretarisnya setelah kejadian semalam. Lebih tepatnya, Bima sedikit khawatir. Dari luar Aira memang tampak baik-baik saja, tapi di dalam, hati gadis itu sungguh rapuh. Jangan sampai Aira bertindak bodoh, itulah yang dikhawatirkan Bima.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2