Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 25 Predator


__ADS_3

Wanita yang diseret paksa segerombolan preman pasar, mencoba menggunakan kesempatan emas kala preman tersebut beralih mengejar Aira. Ia memanfaatkan situasi untuk melarikan diri menjauh dari sekumpulan preman itu dengan cepat. Para preman jadi galau antara mengejar mangsa mereka yang lepas atau menangkap Aira yang cari gara-gara. Akhirnya, preman tersebut memutuskan untuk mengejar Aira dulu, baru menangkap mangsa mereka kembali.


“Sial! Kenapa si Bos pakai acara pingsan segala!” celetuk salah satu preman dengan kesal.


“Sudah jangan banyak bacincong kau! Kejar saja gadis tengil itu, kita ikat dan gantung dia!” cetus yang lain.


Preman-preman itu berlari kencang mengejar Aira. Wanita yang ia cari itupun bergegas meninggalkan lokasi dan mencari tempat aman agar para preman pasar itu tak bisa menangkapnya. Sesampainya di pertigaan jalan, Aira bingung, jalan mana yang harus ia pilih, kanan atau kiri.


Semua tempat ini sudah banyak sekali mengalami perubahan sehingga Aira tak bisa membedakan arah yang benar. Meski gadis itu lahir di sini, ia tak begitu hafal daerahnya sendiri. Sudah lama juga Aira tidak pulang kampung sejak kedua orangtuanya meninggal.


“Aduh, yang mana nih?” gumam Aira bingung, ia terus saja bolak balik menolah ke kanan dan ke kiri menentukan jalan mana yang harus ia pilih.


Awalnya calon istri Bima itu memilih jalur kiri, tapi tak sampai beberapa detik, ia kembali balik arah dan memilih jalan kanan. Tak berselang lama kemudian, Aira balik lagi memilih jalan kiri. Akhirnya ia bingung sendiri dan memilih jalur kanan dengan anggapan jalan itu adalah jalan pusat kota di mana akan ada banyak tempat lembaga masyarakat yang bisa membantu dan menolongnya dari kejaran preman pasar.


Eh, nggak tahunya, jalan yang diambil Aira ternyata salah besar. Jangankan tempat lembaga pemasyarakatan yang siap membantu siapapun, satupun manusia juga tidak ada yang mau tinggal di tempat yang dilalui Aira saat ini. Sebab, tempatnya dipenuhi dengan jurang menganga dan banyaknya perbukitan di kanan kiri serta hutan-hutan lebat.


Kalau model tempatnya seperti ini, mana ada yang mau tinggal di sini. Palingan Panther, Jaguar, Leopard, serta binatang-binatang buas lainnya yang suka dengan lingkungan seperti ini.


“Hedeuh … tersesat lagi. Keluar dari kandang macan, masuk kandang singa. Ini sih lokasinya para serigala beneran!” gumam Aira setelah sadar ada di mana dirinya sekarang. Ia semakin jauh dari desa tempat tinggalnya.


Melihat jurang menganga di depan mata, perbukitan di sekelilingnya serta hutan lebat yang ada di sebelah kanan Aira, gadis itu berdecak kagum. Kalau saja situasinya tidak mendesak seperti ini, mungkin ia bisa menikmati panorama keindahan alam ciptaan Tuhan dengan santai. Sayangnya, Aira harus melewatkan kesempatan ini dan segera mencari jalan keluar dari sini secepatnya.

__ADS_1


Apa yang diperkirakan Aira rupanya juga tak sesuai dengan ekspektasinya. Para preman yang tadinya ia kira sudah tak mengejar dirinya lagi ternyata masih mengejarnya. Sepertinya, mereka tidak mau menyerah dan terus saja berusaha mendapatkan Aira bagaimanapun caranya baik dalam keadaan hidup atau mati.


“Itu dia! Wanita tengil itu ada di sana!” teriak salah satu preman sehingga membuat Aira terkejut.


“Gawat! Kenapa mereka ada di sini!” gerutu Aira mulai panik, ia bergegas berdiri dari duduknya dan langsung berlari kembali menaiki jalan tanjakan.


Karena lapar, Aira jadi lemas tak bertenaga. Ditambah, sejak ia melarikan diri dari Bima, gadis itu belum makan apa-apa. Matanya jadi berkunang-kunang sekarang dan juga pusing karena ada di ketinggian.


Saat itulah, untuk pertama kali dalam hidup Aira, ia merasa serasa ingin menyerah. Gadis itu sudah tidak kuat lagi berlari. Namun, jauh dari lubuk hati terdalam Aira, ia ingin melawan para preman itu meski ia tahu kalau Aira bakal kalah.


“Astaga!” gumam Aira sambil ngos-ngosan melihat tanjakan didepannya semakin curam. “aku … tidak boleh menyerah, kalaupun harus mati … tidak masalah. Yang penting aku akan melawan mereka,” tekadnya.


“Hahahaha … mau lari ke mana kau, ha?” teriak salah satu preman yang memiliki stamina paling kuat dibandingkan preman lainnya. Pria itu tetap berdiri tegak padahal rekan-rekannya jatuh terkulai karena kelelahan berlari.


Aira yang posisinya ada di atas preman tersebut, langsung balik badan dan berlagak sok kuat. Ia bersyukur karena lawannya cuma satu orang. Sebab yang lainnya sedang tepar sambil ngos-ngosan. Aira mengamati sekeliling dan memikirkan strategi untuk mengalahkan musuh yang badannya dua kali lipat lebih gede dibandingkan dengan tubuh mungil dan ramping Aira.


Preman itu maju naik ke atas dan bermaksud menangkap Aira. Dengan cepat, gadis itu menendang pasir dengan keras sehingga cipratan tanah liat yang posisinya sejajar dengan tubuh preman tepat mengenai mata preman tersebut sehingga ia mengerang kesakitan dan marah. Karena kondisi jalan di sini miring, keseimbangan preman akibat serangan tak terduga Aira jadi oleng dan pria kekar itu jatuh menggelinding ke bawah. Tubuh sang preman menabrak tubuh rekan-rekannya yang lain dan mulai menggelinding bersamaan.


Preman yang posisinya paling bawah adalah orang paling apes karena dirinya ditabrak banyak rekan-rekannya sehingga tak kuat menahan beban dan ia terpaksa menggelinding ke bawah lebih jauh lagi dibandingkan yang lain. Preman apes itu berteriak kesakitan akibat sekujur tubuhnya menabrak benda-benda yang ia lewati, mulai dari rumput, kerikil bahkan ada juga ranting-ranting pohon yang tumbuh tak beraturan dan berserakan di mana-mana.


“Aaaaaaaaa … tolongin woyy! Auw auw auw auw … apa ini! Aduh, sakit!” teriak preman itu semakin lama semakin terus menggelinding ke bawah dan suara erangannya pun juga semakin terdengar lemah. Semua rekan-rekannya tak bisa bicara dan hanay melongo saja menyaksikan rekannya terseret alam secara natural.

__ADS_1


“Hahahaa!” Aira tertawa puas menyaksikan adegan itu. “Rasakan! Berani mendekat, akan kupastikan kalian bakal berubah wujud menjadi roda mobil jadi-jadian dan kugelindingkan ke bawah sana seperti teman kalian itu! Siapa yang mau maju! Ayo!” tantang Aira senang karena dirinya menang.


Medan miring ini, sangat menguntungkan bagi Aira. Ia tak perlu bersusah payah atau mengeluarkan banyak tenaga melawan para preman yang mengejarnya. Ia hanya memanfaatkan kemiringan tanah dan bersiap melumpuhkan para preman itu dengan membuat mata mereka kelilipan seperti yang ia lakukan pada preman pertama tadi.


Tak ingin ambil resiko di medan yang merugikan mereka, sekelompok preman ini mulai memilih mundur dan merencanakan strategi baru untuk menangkap Aira, hidup atau mati. Merekapun berjalan mundur bersamaan dan berlari turun seolah sedang ketakutan setelah sempat menatap ngeri ke arah Aira.


Aira pikir, para preman itu ketakutan melihat betapa hebatnya Aira sehingga mereka memilih mundur sampai lari tunggang langgang begitu. Calon istri Bima ini bangga dong karena meski dalam kondisi lemah tak berdaya, ia bisa mengalahkan sekelompok penjahat yang hendak berbuat jahat kepadanya. Namun, begitu ia balik badan, tubuh Aira langsung terbujur kaku ketika melihat ada seekor serigala hutan kelaparan sedang menatap lekat-lekat Aira.


Ternyata, para preman itu buru-buru melarikan diri, bukan karena takut dikalahkan Aira, melainkan karena ada serigala hutan sedang meleletkan lidahnya dan siap menerkam mangsanya kapan saja. Tak ingin buang waktu, serigala itupun melompat ke arah Aira yang tak bisa berkutik ditempatnya saking shock dan kagetnya ia saat melihat binatang buas hendak memangsanya.


Namun, belum juga predator ganas itu sempat menerkam Aira, tiba-tiba suara tembakan terdengar keras dan menembus perut serigala tersebut ketika binatang buas itu melayang di udara.


Dor!


Serigala itupun tumbang tak bernyawa tepat dibawah kaki Aira. Gadis itu semakin shock bukan kepalang sampai tubuhnya gemetar karena hampir saja nyawanya melayang.


“Kau tidak apa-apa? Kucing betinaku?” tanya pria penembak serigala sambil meniup senapannya dengan gaya cool dan santainya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2