Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 29 Rahasia Bima + PENGUMUMAN GW


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama bagi Bima dan Aira pasca mereka menikah. Keduanya disiapkan ruangan khusus oleh bi Iyem dan pak Safar agar pasangan suami istri yang baru saja menikah ini bisa menghabiskan malam indah bersama tanpa merasa terganggu. Sungguh Bi Iyem benar-benar mengerti privasi orang lain.


Sementara pak Safar sengaja mengajak istrinya entah pergi ke mana setelah menyiapkan segala hal yang dibutuhkan Bima dan Aira seadanya. Mereka bilang akan kembali besok di pagi-pagi buta. Pasutri paruh baya ini sudah biasa meninggalkan gubuk mereka dan lebih suka bermalam di tegal sambil menunggui tanaman yang mereka tanam agar tidak dicuri binatang.


Aira jadi canggung sendiri melihat bos galaknya kini sudah sah menjadi suaminya. Sulit rasanya untuk memercayai ini semua. Aira bahkan berkali-kali mencubit pipinya sendiri tanpa kentara berharap bahwa ini hanya mimpi belaka. Sayangnya ini nyata. Aira benar-benar menikah dengan seorang Bima.


Tenanglah Ai jangan grogi, batin Aira dan ia tersentak saat Bima membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.


“Kenapa belum tidur?” tanya Bima santai ia melepas kancing kemejanya satu per satu dan sengaja pamer bentuk badan pada Aira.


“Ini juga mau tidur.” Aira buru-buru menutupi rasa groginya.


Kuatkan iman dan imronmu Ai … jangan tergoda! Batin Aira dalam hati.


Bima tahu kalau istrinya ini sedang gugup. Namun, inilah yang ia suka. Tidak ada salahnya memancing emosi Aira. Ia sengaja berdiri tepat di depan Aira supaya istrinya itu melihatnya.


“Apaaa … kau tidak kedinginan? Aku saja menggigil meskipun sudah pakai jaket. Cuaca di sini sangat dingin.”


Aira heran. Ini di gunung dengan suhu hampir mencapai 0°. Tapi Bukannya kedinginan, Bima malah buka baju dan hanya memakai kaos dalam saja tanpa lengan.


“Justru aku gerah, Ai Ai … aku tidak tahu kenapa? Kau mau kuhangatkan?” tanya Bima langsung duduk di sebelah Aira sambil bersiap memeluk istrinya.

__ADS_1


Aira langsung bergidik sedikit menjauh. Ia merasa sangat canggung meski ini bukan kali pertama mereka satu ranjang.


“Cepat pakai kembali bajumu, kau bisa kedinginan. Bulu kudukmu sedang berdiri semua yang artinya kau sama menggigilnya denganku!”


Bima tertawa, ia memang kedinginan tapi kan ada udang dibalik rempeyek. Suami Aira ini punya maksud tersendiri. Namanya juga keturunan si gangster nggak ada akhlak Leopard, jadi tidak heran kalau sifat ayahnya yang bengek tujuh turunan ini menurun pada Bima.


“Kalau kau tidak mau kuhangatkan, bagaimana kalau kau saja yang menghangatkanku,” ucap Bima menggoda Aira.


“Lah, apa bedanya Galaksi Bima Saktii? Kau atau aku yang menghangatkan, ujung-ujungnya sama ajaaa!”


Bima tertawa, ia suka sekali melihat Aira kesal. “Ya sudah, ayo kita tidur. Sini aku peluk. Kita tidak akan melakukannya di sini, nanti punggungmu sakit semua, kita akan menikmati malam indah kita setiap hari kalau kita sudah kembali ke rumah dan menyelesaikan masalah warisan orangtuamu yang direbut. Aku sopan dan pengertian kan?”


“Sopan apanya? Kau sudah ngegol duluan sebelum kita resmi menikah? Itu yang dinamakan sopan?”


“Kalaupun aku menolak kau tetap saja memaksaku!” cetus Aira tidak mau kalah. Cukup sudah ia mengalah pada Bima selama ini, Kali ini tidak lagi. Namun, setelah bicara seperti itu, Aira jadi bingung sendiri. Bagaimana bisa ia membicarakan hal yang tidak ingin ia bahas bersama Bima.


“Bima …,” ujar Aira setelah keduanya sempat terdiam.


“Ehm, apa Sayang ….” Bima mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya seolah hendak menciumnya.


“Bisakah kita merahasiakan pernikahan kita dari orang-orang di kantor? Aku mohon.” Aira memasang wajah melas agar Bima memenuhi permintaannya.

__ADS_1


“Kenapa harus dirahasiakan, aku malah akan mengumumkannya, besok …”


“Tidak … tolong … jangan dulu … biarkan saja orang-orang menganggap kita gagal menikah, kau tetap bekerja di kantor pusat sementara aku akan menyelesaikan masalah orangtuaku di sini. Aku akan membalas semua perbuatan jahat mereka pada keluargaku. Tapi aku tidak ingin kau terlibat. Di kantor sedang banyak masalah, kau harus menyelesaikannya dulu. Sementara di sini, biar aku yang urus.”


Sebenarnya, Bima kurang setuju dengan pendapat Aira. Yang dihadapi istrinya ini bukanlah orang biasa. Namun karena Aira bersikukuh untuk menyelesaikan masalah keluarganya secara mandiri, Bima tidak bisa melarang. Sebab, istrinya ini juga wanita tangguh dan bukan wanita lemah. Jangankan cuma segelintir penjahat, mafia kelas kakap saja sudah pernah dihadapi Aira.


“Aku akan tetap mengawasimu. Apapun yang kau lakukan, kau harus beritahu aku. Aku takkan membiarkanmu dalam bahaya.” Akhirnya Bima setuju, tapi tetap ia akan mengawasi Aira dari jauh. Serta menjaga ketat tanpa sepengetahuan istrinya.


“Sejak bekerja denganmu, hidupku selalu dalam bahaya, apalagi jadi istrimu, sepertinya bahaya sudah menjadi makanan sehari-hariku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kau jangan khawatir. Hal seperti ini sudah sering kuselesaikan sendiri.”


Bima memeluk Aira dalam dekapannya. Ia tidak salah pilih pasangan. Sejak bertemu Aira beberapa tahun lalu, Bima sudah terpikat pada wanita yang awalnya sangat polos ini. Dan hari itu, adalah hari di mana pamannya yang bukan manusia biasa melemparnya jauh ke tempat Aira berada.


“Kau sudah mengalami banyak hal sulit selama bersamaku. Kau pasti sangat membenciku karena membiarkanmu menghadapi kesulitan sendirian. Tapi … aku melakukan itu semua, karena aku tak ingin melihatmu menangis. Air matamu terlalu berharga bila harus dibuang hanya karena kerasnya hidup yang kau jalani. Dengan menjadi wanita kuat, kau pantas menjadi pendamping hidupku seperti sekarang ini.” Bima mencium kening Aira dengan lembut.


Aira melepas pelukan suaminya dan menatap tajam mata Bima. “Tunggu … kau ini sebenarnya cari sekretaris apa cari istri?”


“Dua-duanya, sekretaris adalah wanita yang membantuku dalam bekerja, istri adalah pendamping hidupku yang selalu siap menghadapi segala resiko menjadi seorang istri Bima. Kau memiliki kedua kriteria wanita idamanku. Baik menjadi sekretaris maupun seorang istri.” Bima tersenyum, lebih tepatnya, ia sudah lama mencari Aira dan ia tak pernah menyangka bahwa wanita yang dicarinya melamar sebagai sekretarisnya.


Alasan Bima selalu bersikap galak pada Aira karena ia menyembunyikan perasaan cintanya sejak pandangan pertama. Sebagai tuan muda kedua dari keluarga Sultan, ia harus terlihat elegan meskipun pada dasarnya Bima ini bucin akut dengan wanita yang disukainya.


“Haduh … kalau tahu begitu … lebih baik aku cari pekerjaan lain saja. Kau membayarku sangat mahal makanya aku menerima pekerjaan ini,” gumam Aira sambil membelakangi Bima. Mana berani dia berbicara begitu di depan Bima. Bisa-bisa dia dismackdown habis-habisan sama suami galaknya yang pura-pura galak demi menutupi rasa cinta.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2