Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 43 PKB (Pasukan Katak Bima)


__ADS_3

Bima sengaja meninggalkan istrinya sebentar di sebuah rumah makan dengan penjagaan ketat yang tidak diketahui oleh Aira. Putra kedua dari gangster nggak ada akhlak Leopard Pyordova itu menyebar anak buahnya untuk mengawasi dan melindungi Aira selagi Bima tidak ada. Sementara dirinya masuk ke sebuah gudang rahasia di mana didalamnya sudah ada anak buah tersembunyi Bima yang ia beri nama ‘Pasukan Katak’ bukan dalam artian katak sebenarnya.


Walau namanya adalah pasukan katak, bukan berarti mereka binatang katak sungguhan. Bima sengaja memilih nama itu karena pasukan kataknya terdiri dari orang-orang pilihan dengan kemampuan khusus yang terlatih dan kualitas mereka setara dengan pasukan kopasus di mana gerakan mereka sangat gesit dan tertata rapi tanpa kentara dalam menumpas semua masalah yang dihadapi Bima termasuk orang-orang yang berusaha menjatuhkannya atau menyakiti siapapun yang dicintai Bima.


Pintu gudangpun terbuka dan Bima langsung disambut oleh para pasukan kataknya. CEO galak itu berubah 180 derajat ketika ia tidak berada di samping istrinya. Wajah sangar Bima langsung ia tujukan pada pria yang didudukkan di kursi dan diikat dengan tali. Mulutnya dilakban dan sekujur tubuhnya lebam-lebam akibat pukulan dari para pasukan katak Bima.


Tanpa diperintah, salah satu pasukan katak Bima menyodorkan sebuah data yang berisi identitas pria yang mereka sandera. Dan pria itu tidak lain adalah orang yang hampir menabrak istrinya beberapa waktu lalu.


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Bima tanpa basa-basi setelah memeriksa data pribadi sanderanya.


Salah satu pasukan katak Bima membuka paksa lakban yang menutup mulut si sandera sehingga pria itu mengerang kesakitan.


“Arrrrggghh!” teriaknya menahan sakit yang amat sangat. “Siapa kau?” bentaknya tak takut pada Bima.


Sebuah pukulanpun mendarat mulus di pipi si pria sehingga darah segar muncrat keluar dari mulut pria malang tersebut. Siapa suruh cari gara-gara dengan Bima, pakai acara sok tak kenal segala.


“Pembunuh bayaran sepertimu, tak mungkin tidak mengenaliku. Mumpung aku masih bersikap baik, katakana saja siapa orang yang menyuruhmu?” tanya Bima dengan nada suara mengancam. Ia sedikit membungkuk untuk mengintimidasi orang yang berani mengganggu ketenangannya. Apalagi sampai mau Bernita buruk pada wanita yang Bima cinta.


“Meskipun aku mengatakannya, kau akan tetap membunuhku. Apa bedanya. Cepat bunuh aku sekarang!” tantang pria itu sama sekali tak gentar dengan Bima.


“Begitu? Tapi … sebelum aku membunuhmu. Bagaimana kalau kuperlihatkan sesuatu. Aku yakin kau akan suka.” Bima memberikan kode pada anak buahnya.


Sebuah layar tancap besar lengkap dengan proyektornya mulai dinyalakan dan videopun diputar. Mata pria yang di sandera Bima langsung melotot seolah mau melompat keluar menyaksikan video tak terduga yang diputar anak buah Bima.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” bentak pria itu saat melihat video dari Bima.


“Tidak melakukan apa-apa, bukankah kau ingin mati. Baik, tapi kau tidak akan mati sendiri. Anak dan istrimu, pasti juga akan menyusulmu, segera setelah kau kubunuh.” Bima tersenyum sinis melihat wajah tegang dan takut di sandera.


Bagaimana pria itu tidak takut? Ia melihat dengan jelas anak dan istrinya sedang diikat oleh pasukan katak Bima dan dibawa ke tepian jurang. Tinggal menunggu aba-aba dari Bima, maka dua orang ibu dan anak itu tinggal di dorong saja dan alam baka pasti bakal menyambut mereka.


“Kenapa kau melibatkan mereka, ha? Mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini,” teria pria itu semakin menggebu-gebu. Sekuat tenaga ia berusaha membebaskan diri tapi sayangnya, tali yang mengikat seluruh tubuhnya terlalu kuat. Mustahil bisa lepas.


“Kalau begitu kau jawab saja pertanyaanku, gampang kan? Setelah itu kukabulkan pemintaanmu untuk menuju neraka saat ini juga,” ujar Bima santai. Ia bahkan duduk di kusi kebesarannya sambil mengelap senjata apinya.


“Bagaimana dengan anak dan istriku.”


“Tergantung jawabanmu, jangan coba-coba membodohiku. Kau yang tentukan hidup dan mati mereka.” Lagi-lagi Bima menatap sinis orang yang hampir saja menabrak Aira atas suruhan orang lain.


Namun, bukan Bima namanya kalau ia tak bisa menghadapai musuh-musuh tersebut. Ia sudah terlalu lama berdiam diri gara-gara misi hukuman yang diberikan Leo padanya. Sekarang tibalah saatnya Bima bangun dari tidurnya. Lagipula, Aira masih belum tahu bahwa Bima benar-benar melindunginya. Apalagi tak banyak yang tahu kalau CEO dan sekretarisnya sudah menikah secara resmi.


“Bereskan dia, jangan lakukan apapun sebelum kuperintahkan,” ujar Bima pada pemimpin pasukan kataknya sebelum ia pergi meninggalkan gudang.


“Bagaimana dengan anak dan istriku! Kau harus tepati janjimu!” teriak si sandera dari balik punggung Bima tapi suami Aira itu malah cuek saja dan pergi tanpa berkata apa-apa.


“Hei bedebaaah!” teriak pria tersebut marah. “Jangan kabur kau!”


Pintu gudang tertutup dan hanya dengan satu tembakan saja, suara teriak-teriak yang memekikkan telinga langsung hilang berganti dengan kesunyian. Itulah akhir riwayat dari orang yang mencoba cari masalah dengan Bima dan keluarganya. Apalagi orang yang baru saja dibereskan para pasukan katak Bima memang sering kali membunuh banyak orang karena profesinya adalah pembunuh bayaran kelas kakap yang kerap kali disewa oleh para oligarki.

__ADS_1


***


Satu jam kemudian, barulah Bima kembali. ia melihat istrinya sedang duduk termenung di meja sama seperti yang ia tinggalkan sebelumnya. Bima mengeluarkan sebuket bunga lily yang indah dan hendak ia berikan pada Aira yang tampak kesal dan marah karena ditinggal makan sendirian. Sementara dirinya malah kelayapan ke mana-mana.


Aira sendiri jangan di tanya, ia dongkol akut dengan suaminya. Tapi ia sangat mengenal Bima dan hal seperti ini sudah biasa dialaminya sejak ia menjadi sekretaris suaminya. Tiba-tiba, ada seorang pria yang entah datang dari mana, duduk di depan Aira padahal dari luar jendela resto sudah ada Bima.


“Halo cantik, aku perhatiin. Kamu sendirian aja dari tadi. Pacar kamu ke mana?” tanya cowok tampan itu.


“Aku nggak punya pacar,” cetus Aira masih sangat kesal. “Mau apa kau kemari? Pergi?” usir Aira. Sepertinya ia ketularan jadi galak kayak Bima.


“Duileh … galak amat. Aku ke sini kan cuma mau nemenin kamu. Apalagi kamu nggak punya pacar. Mau dong … jadi pacar cewek cantik kayak kamu,” rayu pria ganjen itu.


“Bang denger ya … aku memang bilang kalau aku tidak punya pacar. Tapi aku punya suami. Aku sudah menikah. Jadi, sebelum tangan dan kakimu patah, sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku sekarang.”


Bukannya menuruti saran Aira, pria tak dikenal itu malah tertawa. “Kau ini lucu sekali. Mana ada suami yang rela meninggalkan istri secantik kamu di tempat seperti ini sendirian? Kalau aku jadu suamimu, aku nggak akan pernah ninggalin kamu.”


Selesai bicara seperti itu, tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipi mulus pemuda itu hingga ia jatuh tersungkur ke tanah. Darah segar langsung keluar dari sudut bibir pria itu.


“Rasakan! Dibilangin, ngeyel!” cetus Aira sambil menatap lurus pria tampan yang baru saja memukul pria ganjen itu.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2