
Kekacauan yang dibuat keluarga Bima benar-benar bengek bin membangongkan. Leo dan semua keturunannya memang terbilang langka bin aneh dan juga nyeleneh. Lain daripada yang lain. Para pria-pria tampan itu serasa tak berdosa sama sekali setelah membuat Aira pingsan dengan tingkah pola mereka. Rey pun ternyata malah memperburuk suasana dengan menciptakan drama ikan terbang untuk Bima dan Aira. Bodohnya, si gangster Leo, langsung percaya begitu saja.
Bukannya segera menyadarkan Aira, mereka semua malah menyibukkan diri masing-masing sambil menikmati pemandangan alam yang disuguhkan di hotel bintang 5. Kebetulan, ruang VVIP ini ada di paling atas gedung sehingga semua kota bisa terlihat dari atas gedung tersebut.
Refald dan Yeon malah sibuk menelepon istri-istri mereka di saat Leo masih belum bisa meredakan amarahnya atas perbuatan Bima yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Ini hanya akal-akalan Rey saja. Dan Bima mengikuti saran kakak sepupunya.
“Kau benar-benar mencoreng keluarga kita, Bim! Tidak bisakah kau menahan sahwatmu? Kenapa kau sampai keblablasan begitu?” bentak Leo.
“Aira begitu menggoda, Ayah. Aku tak tahan!” ujar Bima sengaja membuat gagal jantung Leo kumat.
Leo kembali mengangkat senjatanya setelah sempat ia turunkan, tapi lagi-lagi, Rey mencegah aksi pamannya yang esmosi tingkat dewanya sudah tak dapat dikendalikan.
“Dasar begundal! Mati saja kau!” bentak Leo.
“Bukankah anakmu sama sepertimu Leo. Jangan berlagak sok kaget begitu!” sindir Refald.
“Urus saja kakak ipar, Kak! Jangan ikut-ikutan!” cetus Leo kesal. Meski yang dikatakan Refald memang sangat benar.
Apa bedanya Leo dengan putranya. Mereka berdua bagai pinang di belah dua. Buah memang tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Sifat Bima yang sekarang, cerminan dari diri Leo sendiri.
“Sudahlah Paman! Hentikanlah, jangan main angkat senjata begitu. Bagaimanapun juga Bima adalah putra Paman sendiri. Daripada mengotori tangan Paman dengan membunuh Bima, bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka berdua secepatnya. Itu lebih baik daripada nanti Paman tidak dapat jatah harian dari bibi Shena kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada si Galaksi Bimasakti ini!” bujuk Rey yang tahu betul betapa nggak ada akhlaknya pamannya ini kalau soal istrinya.
Tak heran bila Rey menjadi keponakan tersayangnya Leo. Dan Yeon, si putra sulung Leo malah menjadi keponakan tersayangnya Refald.
__ADS_1
Lihat saja aksi mereka berdua, Refald dan Yeon sama-sama sibuk mengurusi istri daripada mengikuti alur drama ikan terbang yang terjadi di kamar ini. Sedangkan Rey sejak tadi setia membela Bima dan tetap menjaga Leo supaya terus ada dijalurnya. Tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa bengeknya keluarga Bima ini.
“Kau benar juga! Shena bisa ngambek padaku. Masalahnya Rey … aku sudah berjanji pada kakek tua itu. Ayah dari si Bimo, untuk menikahkan Bima dengan cucunya. Mereka bisa menuduhku ingkar janji dan kau tahu konsekuensi yang harus kuambil gara-gara ulah si begundal ini!” Kepala Leo mulai cenat cenut. Sebagai gangster sejati, ia tidak boleh ingkar janji.
Akan ada gonjang-ganjing dalam dunia permafiaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ia jaga jika ia mengingkari janjinya pada si kakek tua saat dirinya dan Shena ada di Amerika. Bahkan tidak menuntut kemungkinan, peperangan antar mafia bisa saja terjadi.
“Kita akan coba bernegosiasi dengan kelompok mereka Paman. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan menjadi nasi lagi. Aku akan membantu Paman memecahkan solusinya. Jangan khawatir, tak ada yang bisa menyakiti keluarga kita sekalipun mereka mengaku sebagai dewa.” Untuk kesekian kalinya, Rey menenangkan pamannya dan selalu saja berhasil.
Disela-sela pembicaraan itu, sempat-sempatnya Rey mengedipkan salah satu matanya pada Bima sebagai tanda bahwa rencananya telah berhasil. Akhirnya diputuskan bahwa Bima akan segera dinikahkan dengan Aira secepatnya.
Keluarga sultan ini segera sibuk menyiapkan pernikahan dadakan antara Bima dan Aira. Padahal sekretaris cantik Bima ini belum sadar dari pingsannya dan juga belum menyetujui pernikahan ini. Namun, bukan masalah bagi Bima dan keluarganya mau Aira sadar atau tidak. Pernikahan ini bakal tetap terjadi dengan atau tanpa persetujuan Bima.
***
“Aku sudah mengukur ukuran tubuhnya, sudah kukirimkan datanya ke kalian. Carikan gaun pernikahan yang pas untuk ukuran itu dan harus datang malam ini juga. Besok aku akan menikah. Jangan coba-coba kalian telat mengirimnya atau kalian semua akan kuhabisi.” Bima menutup sambungan teleponnya dan langsung menoleh ke arah Aira yang tertegun melihatnya.
“A-apa yang kau katakan barusan? Siapa yang menikah? Kau? Dengan siapa?” tanya Aira gugup, sekaligus bingung. Hatinya juga was-was mendengar bosnya akan menikah.
“Ah … kau sudah sadar rupanya. Iyah, aku akan menikah … denganmu.”
“Apa!” pekik Aira. Kepalanya jadi kembali pusing. “Kau bilang apa? Menikah? Denganku? Kita? Tidak … ini tidak mungkin …”
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Ai. Bersiaplah, besok adalah hari pernikahan kita.”
__ADS_1
“Tunggu-tunggu! Aku tidak setuju, ayo kita temui ayahmu dan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak hamil!” Aira mencoba bangun berdiri tapi dihalangi oleh Bima.
“Kau tidak mau menikah denganku?” tandas Bima menatap tajam mata Aira.
“Bukan begitu … ini terlalu cepat bagiku. Aku bahkan baru belajar menyukaimu, dan aku tidak ingin pernikahan kita ini di mulai dengan kebohongan.” Aira mencoba menjelaskan bahwa bukan seperti ini yang ia inginkan bila ia menikah dengan Bima.
Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk saling mengenal dan menghabiskan waktu bersama, tidak dengan cara terpaksa ataupun dipaksa. Sebab, segala hal yang terlalu dipaksakan maka hasilnya tidak akan berakhir baik.
“Kau tidak ingin ada kebohongan? Baik … kita buat kebohongan itu menjadi kenyataan.” Bima mendorong tubuh Aira kembali ke atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat, CEO tampan itu menindih tubuh Aira hingga tak bisa bergerak lagi.
Aira kesulitan melawan karena tubuhnya masih lemah, bahkan kepalanya serasa makin pening untuk saat ini. “Mau apa kau? Tubuhmu berat, aku tidak kuat.”
“Kau sendiri yang minta jangan ada kebohongan di drama pernikahan dadakan kita. Maka ayo kita ciptakan cucu sungguhan untuk ayahku!”
“Hah! Tidak! Aku cabut ucapanku! Jangan seperti ini! Please.” Aira memohon, kali ini kedua tangan gadis itu ditindih dengan kedua tangan Bima.
“Sudah terlambat, tidak ada yang bisa menghentikanku menikahimu sekalipun orang itu adalah kau sendiri. Melakukan malam pertama sekarang atau besok tidak ada bedanya. Tubuhmu masih lemah dan jangan bergerak atau kau bakal pingsan lagi!”
Seketika, Aira langsung memejamkan mata dan pura-pura pingsan. Namun Bima bukan tipe orang mudah ditipu. Malam itu … setuju tidak setuju, suka atau tidak suka, Bima mulai menari ria diatas tubuh Aira dengan semangat 45.
Kesempatan ini sengaja Bima lakukan mumpung sekretaris tangguhnya tidak dalam keadaan fit. Jika Aira sehat, ia bisa saja dihajar habis-habisan dan dibikin babak belur bila Bima macam-macam. Hari ini kondisinya berbeda, Aira terbaring lemah tak berdaya ketika terong Jerman Bima mengoyak-ngoyaak sumur Belanda Aira.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***