Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 18 Hati Sekeras Rasa


__ADS_3

Baik Bima ataupun wanita yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih dari pria yang membeli Aira, sama-sama terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak terkejut, wanita itu adalah Anita, sahabat dekat Aira. Dan pria yang membeli Aira atas perintah Bima adalah Excel yang ternyata sahabat dekat Bima sejak keduanya tinggal di Jerman waktu keduanya masih kecil.


Entah ini kebetulan atau karena takdir yang sudah digariskan. Bima tidak menyangka kalau sahabat dekatnya memiliki kekasih yang tadinya bakal dijodohkan dengannya. Bima menatap wajah Excel untuk meminta penjelasan tentang apa yang terjadi saat ini.


“Aku rasa … kalian berdua sudah saling kenal,” ujar Excel santai. Matanya menatap wajah tegang Anita dan Bima bersamaan.


“A-ada apa ini?” tanya Anita bingung. Ia baru sadar bahwa sahabat yang dimaksud Excel untuk dibantu masalahnya adalah Bima sendiri.


Anita sungguh tidak tahu kalau kekasihnya mengenal Bima sebelumnya. Excel juga tidak bilang apa-apa saat ia membantu memulihkan semua data perusahaan Bima yang sempat hilang.


“Bima ini temanku Sayang. Maaf tidak memberitahumu sebelumnya, ini demi kebaikan kalian berdua.”


Deg!


Jantung Anita berdetak sangat kencang mendengar penjelasan singkat dari kekasihnya. Ia tidak menyangka, ternyata Excel mengenal baik bos galak Aira. Yang tidak habis pikir, kenapa kekasihnya itu seolah tidak tahu apa-apa soal Bima ataupun perjodohannya.


“Jadi … kau … sudah tahu kalau Bima adalah orang yang akan dijodohkan denganku? Sebab itulah waktu itu kau memintaku agar Aira menggantikanku? Kau tahu kalau Aira adalah sekretaris Bima dan membuatnya dimakan oleh buaya laknut ini? Wuah … hebat sekali akting kalian berdua!” Aira tampak emosi dan kesal setelah tahu niat dari pria yang amat sangat dicintainya.


“Bukan begitu Sayang, kau salah paham …”Excel mencoba menjelaskan.


“Dan kau!” bentak Anita tak menghiraukan Excel dan malah menunjuk muka Bima dengan jari telunjuknya. “Kau apakan temanku, ha?” bentak Anita hendak menyerang Bima karena ia tahu apa yang terjadi pada malam kencan Aira dengan bosnya sehingga sempat membuat sahabatnya itu frustasi.


Sayangnya, Excel bertindak cepat dengan memeluk tubuh Anita erat-erat dari belakang sebelum ia berkelahi dengan Bima. Sedangkan Bima tampak tenang-tenang saja karena ia sedang mencerna situasi.


“Sayang! Hentikan!" seru Excel tapi Anita terus saja berontak.

__ADS_1


"Jadi ... dia wanita yang sering kau bicarakan? Kau tahu kalau pacarmu adalah wanita yang dijodohkan denganku tapi kau tak memberitahuku sebelumnya, kau tahu kalau yang kau lakukan ini salah, Cel? Harusnya kau beritahu aku!" bentak Bima setengah marah pada Excel.


"Jika aku memberitahumu, aku takkan pernah bisa lagi bertemu dengan pacarku karena kau pasti bakal menolak perjodohan ini. Jika itu terjadi, maka Anita akan dikirim ke luar negeri. Kebetulan aku tahu kalau Aira adalah sahabat dekat Anita dan ia bekerja padamu. Tidak ada salahnya menjadikan Aira sebagai jodoh pengganti, toh kau sangat mencintainya, kan?" Excel mengungkapkan alasan kenapa ia tak memberitahu kebenarannya sejak awal.


"Apa? Kau bilang apa?" tanya Anita berhenti memberontak. Ia menatap serius wajah kekasihnya.


“Bima sudah lama menyukai Aira, Sayang. Hanya saja dia gengsi, karena ia punya julukan sebagai bos galak dan kulkas 10 pintu.”


“Siapa yang bilang gengsi” tanya Bima tak terima.


“Kau!” sengal Excel.


“Lepaskan aku, Sayang! Aku tetap akan buat perhitungan dengan pria bengis itu! Kau tahu apa yang dilakukan temanmu terhadap temanku? Setiap hari orang ini menyiksa Aira dan kini mempermainkannya!" tuduh Anita.


"Mempermainkan apa? Jangan menuduh yang bukan-bukan!" Bima membela diri.


“Ayo kita pergi dari sini Sayang. Nanti kujelaskan semuanya. Jangan buat masalah, jangan menambah beban hidup sahabatmu sendiri!” ujar Excel dan terpaksa ia menggendong tubuh Anita lalu membawanya keluar dari kamar.


Sebenarnya Anita protes berat, tapi Excel terus memaksanya keluar. Kini, hanya tinggal Bima dan Aira saja di kamar VVIP ini. Bima memutuskan melupakan semuanya dan mengambil air hangat. Dengan penuh cinta, Bima membantu merawat luka Aira yang untungnya, tak terlalu parah.


***


2 jam kemudian, Aira tersadar dan ia sangat terkejut karena untuk kesekian kalinya, pakaiannya berganti lagi dengan kemeja putih yang tadinya di pakai Bima. Bahkan bau parfum Bima masih melekat kuat dipakaiannya. Mata Aira langsung terbelalak lebar kala melihat bos galaknya tertidur nyenyak disampingnya dan hanya memakai kaos putih serta setelan celana hitam panjang.


“Astaga … ada apa lagi ini? Apa aku melakukannya lagi dengannya?” gumam Aira panik sendiri padahal ia baru saja sadar dari pingsannya.

__ADS_1


Gadis itu terkejut saat merasakan lilitan perban di kepalanya. Aira mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan hingga terjaga di tempat ini, ditambah, bersama Bima lagi.


Bagaimana bisa Aira ada di ruangan mewah nan megah ini dengan nyaman, dan bagaimana bisa Bima ada di sini. Aira tak ingin membayangkan apa yang terjadi diatas ranjang saat keduanya bersama. Ingin rasanya gadis itu pingsan selamanya dan tak ingin melihat fakta mengerikan ini.


Melihat Bima sedang tergolek, Aira buru-buru kembali tidur dan pura-pura belum sadarkan diri. Bima yang sudah tahu, pura-pura tidak tahu dan malah memeluk erat tubuh Aira dalam dekapannya.


“Kau sudah sadar?” bisik Bima mesra dan entah kenapa Aira malah menjawabnya...


“Belum …"


Aduh ... kok malah kujawab, sih! Begoo begoo begoo! jerit Aira dalam hati.


Bima tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau kau masih ingin tidur, aku akan menemanimu seperti ini,” goda Bima dan spontan Aira melepaskan diri dari dekapannya dan terbangun dari tidurnya.


"Tidak, aku tidak ingin tidur," ujar Aira agak gugup. Ia sedikit risih berada di dekat Bima.


“Dokter sebentar lagi datang dan ia akan memeriksa lukamu. Istirahatlah di sini, akan kusiapkan teh hangat untukmu.” Bima mengecup pelan kening Aira sehingga gadis itu tertegun.


Ini mimpi bukan? Bos mau membuatkan teh untuk? Nggak salah nih? Batin Aira sambil melihat punggung lebar Bima. Ingin rasanya gadis itu berlari dan memeluk punggung lebar itu tapi ia segera sadar.


Ya ampun apa yang terjadi padaku, sadarlah Ai, ini cuma mimpi … tapi kok sakit ya? Ucap Aira dalam hati.


Aira memijat kepalanya yang pening dan juga masih terasa pusing. Pukulan tongkat kasti Sandra benar-benar bikin Aira keliyengan. Mengingat hal itu, ia jadi kepikiran bagaimana dengan nasib Sandra sekarang.


"Ai ... kau bisa dengar aku? Apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Bima agak khawatir dengan Aira.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2