
Keesokan paginya, pasangan suami istri Bi Iyem dan Pak Safar datang mengunjungi Bima dan Aira yang sepertinya menikmati malam pertama mereka. Wajah keduanya tampak sumringah dan berseri-seri menyambut indahnya pagi di tengah hutan belantara. Melihat situasi hutan yang mempesona timbul di benak Bima untuk membangun bisnis penginapan khusus bagi para pasangan seperti dirinya dan istrinya. Tentu dengan bangunan baru bergaya modern lengkap dengan fasilitas mewahnya.
Keputusan Bima sangat tepat dan sangat didukung oleh Aira. Aira akan membantu proses proyek suaminya begitu ia selesai balas dendam pada oang-orang yang sudah berbuat jahat pada keluarganya. Sementara itu, Bima juga harus siap menghadapi amukan ayahnya karena menikah diam-diam serta menyelesaikan semua pekerjaan di kota.
Untuk sementara, pasangan yang baru saja resmi menikah itu terpaksa harus terpisah. Sebenarnya ini berat bagi Bima, tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menahan keinginan Aira untuk memberi pelajaran orang-orang yang telah menghancurkan hidup keluarganya. Yang bisa Bima lakukan adalah melindungi istrinya di balik layar. Meski Bima pergi, ia sudah menebar banyak anak buah Bima untuk memantau Aira diam-diam dan siap membantu bila istrinya menghadapi kesulitan.
“Aku pasti akan sangat merindukanmu,” ujar Bima lirih saat ia berpamitan hendak kembali ke kota.
“Aku juga, mau bagaimana lagi. Kita punya tugas masing-masing. Cepat selesaikan semua urusanmu di sana dan kembalilah kemari.” Aira memeluk erat suaminya. Rasanya aneh memang, tapi kini mereka bukan hanya atasan dan bawahan saja, melainkan pasangan suami istri.
“Siap permaisuri, aku akan menyelesaikan semua urusanku dalam waktu singkat sesingkatnya. Jaga dirimu baik-baik di sini dan jangan nakal ya … awas kalau sampai kau main mata.”
“Ini hutan dan pedesaan, main mata bagaimana? Aku tak punya waktu untuk itu. Kau yang harus jaga hati untukku, jangan coba-coba curi kesempatan selagi aku tidak ada didekatmu. Dan ingat … rahasiakan dulu pernikahan dan hubungan kita dari siapapun supaya rencanaku berjalan dengan lancar.”
Bima melepas pelukannya karena ia sangat tidak setuju jika pernikahannya dengan Aira disembunyikan. Wajahnya langsung manyun menatap istrinya.
“Harus, ya?” tanyanya.
“Harus! Demi aku. Tolong rahasiakan status kita berdua.” Aira mengedip-ngedipkan kedua matanya merayu Bima dan pasang wajah sok imut agar suaminya luluh.
“Ya sudah … akan kuusahakan, tapi aku tidak janji bakal lama menyembunyikannya. Bisa saja mulutku keceplosan.” Bima mencium kening istrinya dan langsung pamit pergi bersama beberapa pengawal yang sengaja datang menjemput Bima.
Seperginya suaminya, Aira bersama dengan mantan pengasuhnya, Bi Iyem dan Pak Safar mulai melaksanakan rencana mereka yang sudah mereka susun bersama. Pertama, Aira akan kembali ke kampung halamannya. Bukan sebagai putri dari almarhum kedua orang tua Aira melainkan menyamar sebagai putri pasangan Bi Iyem dan Pak Safar. Kebetulan mereka semua memang sudah meninggalkan desa sejak lama. Syukurlah berkas-berkas yang perlu disiapkan untuk kepindahan Aira bersama kedua orangtua palsunya sudah disiapkan Bima sehingga istrinya tinggal menjalankan rencananya saja.
__ADS_1
Tidak hanya itu, Bima juga membantu istrinya lewat orang dalam yang disogoknya untuk memasukkan Aira ke dalam perusahaan yang menjadi target utama. Aira akan bekerja sebagai pengawas di lapangan sementara Bi Iyem dan Pak Safar bekerja sebagai OB. Semua itu mereka lakukan untuk menyelidiki orang-orang yang sudah membuat hidup Aira sengsara.
Untunglah tidak ada yang mengenali wajah Aira karena penampilannya yang sempurna dan parasnya yang amat sangat cantik juga kinerjanya yang terbilang baik. Dalam waktu sekejap, Aira jadi primadona di perusahaan yang harusnya menjadi milik Aira.
“Bagus, Non. Ini sudah seminggu. Tapi Anda sudah mencetak prestasi yang bagus di perusahaan itu. Semua orang mulai memusatkan perhatian pada Anda,” ujar Bi Iyem saat mereka ada di rumah.
Bima sudah mengatur tempat tinggal baru untuk Aira dan pengasuhnya selagi mereka semua tinggal di desa. CEO galak itu benar-benar menjaga istrinya dengan sangat baik meski ia tak ada didekatnya. Selain itu, Bima juga meminta seluruh anak buahnya untuk melaporkan semua aktivitas yang dilakukan istrinya setiap hari tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
“Karena semua orang sedang memerhatikanku, sekarang giliran kalian mencari bukti-bukti kejahatan mereka. Ini adalah kunci pintu rahasia yang kutemukan saat berkeliling pabrik. Kalian data saja siapa yang biasa masuk ke dalam sana. Selebihnya, serahkan semuanya padaku.”
“Baik Non. Tapi hati-hati, ada beberapa pria sering memerhatikan gerak gerik Nona.” Bi Iyem mengingatkan.
“Iya, aku tahu. Bos asli mereka tidak ada diperusahaan itu. Makanya mereka selalu waspada pada orang asing apalagi pegawai baru sepertiku. Kapan kira-kira mereka akan kembali?” Aira masih menunggu perebut perusahaan ayahnya yang katanya sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri.
“Lusa dia dan putrinya yang dulu teman sekolah Nona akan kembali ke desa ini. Saya mendengar desas-desus itu dari karyawan lain.”
***
“Tidak!” sentak Anita ketika Aira membeberkan rencananya padanya. “Kau gila? Yang benar saja? Masa aku disuruh menggoda om om? Nggak!” tolak Anita mentah-mentah.
Baru juga ia kembali bulan madu dengan Excel, tiba-tiba sahabatnya yang nggak ada akhlak itu malah memintanya melakukan yang bukan-bukan.
“Ayolah Ta … kan cuma akting,” bujuk Aira tanpa dosa.
__ADS_1
“Nggak! Kenapa kau tak suruh orang lain saja. Memangnya aku cewek apaan?”
“Ya cewek tulenlah! Masa cewek jadi-jadian. Kalau aku minta orang lain, nggak jamin bakal terjaga rahasia ini, Ta. Ayolah, Excel aja nggak keberatan kok, dia akan selalu menjagamu dari jauh, iya kan Xel?” Aira menoleh pada Excel yang sejak tadi diam duduk manis memerhatikan dua wanita dengan rencana gila nekatnya Aira.
“Jadi …,” ujar Excel mulai buka suara, “kau bermaksud menjadikan istriku sebagai penggoda om om pemilik perusahaan tempatmu bekerja sekarang agar kau mendapatkan informasi dan bukti yang kau inginkan? Begitu?” tanyanya.
“Cerdas!” seru Aira tersenyum puas.
“Apa imbalannya untuk kami?” tanya Excel yang langsung dapat lirikan tajam dari Anita karena ternyata suaminya bukannya melarang ide gila Aira , tapi malah tawar menawar dengan sahabatnya.
“Aku akan berlutut di hadapan om Bimo agar kau direstui menjadi menantunya. Aku tidak akan bangun berdiri sampai om Bimo merestuimu. Hingga detik ini kalian berdua tidak berani bertemu dengan om Bimo kan? Buktinya, bukannya pulang malah datang ke mari. Aku akan membujuknya supaya pernikahan kalian ini mendapat restu asal Anita mau melakukan permintaanku. Gimana? Impas kan?”
“Setuju!” Excel langsung menjabat tangan Aira dengan senang tanpa menunggu persetujuan dulu dari yang ditumbalkan.
“Kalian berdua benar-benar! Bagaimana bisa aku punya suami dan teman macam kalian, ha? Mengorbankanku seperti daging korban?” cetus Anita kesal.
“Ayolah Sayang … ini menarik. Aku akan menjagamu, takkan kubiarkan kau disentuh oleh siapapun oke. Percayalah padaku. Ayahmu jauh lebih seram dibandingkan hantu. Aira mau melakukan apa saja supaya ayahmu merestuiku menjadi menantunya.”
“Tapi Xel … masa aku harus jalan sama om om? Yang benar saja?”
“Anggap saja kau sedang syuting film pelakor Sayang, siapa tahu ada sutradara melirikmu dan kau didapuk jadi artisnya,” gurau Excel dan langsung mendapat serangan bertubi-tubi dari Anita.
"Dasar pasangan aneh," gumam Aira. Ia tersenyum ketika Bima meneleponnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***