Jodoh Pengganti CEO Galak

Jodoh Pengganti CEO Galak
BAB 42 Sandiwara


__ADS_3

Bunyi klakson mobil terdengar menggema ditelinga Aira dan sangatlah berisik. Bima terus mengikuti istrinya dari belakang dan menyetir mobilnya sangat pelan. Berkali-kali ia berteriak pada Aira supaya kembali masuk ke dalam mobil, tapi gadis cantik itu tidak mau. Ia sangat kesal dengan suaminya yang minta 10 anak darinya.


“Yang benar saja. di mana-mana program keluarga berencana pasangan yang sudah menikah itu 2 anak sudah cukup. Lah si bengek Bima malah minta 10? Memangnya aku ini alat penghasil anak apa, ya? Dasar si Bima ini ada-ada saja keinginannya,” gumam Aira kesal.


“Sayang, masuklah? Kamu bisa kedinginan kalau jalan kaki begitu?” bujuk Bima sambil melongokkan kepalanya dari dalam mobil, tapi Aira tidak menyahut. Istrinya terus saja berjalan maju ke depan dan sama sekali tidak menghiraukan seruan Bima.


Aira hendak menyeberang jalan agar suaminya tak bisa mengikutinya lagi, tapi dari kejauhan terlihat ada pengendara motor sedang melaju kencang ke arah Aira. Entah si Ai ini tidak konsentrasi atau apa, ia menyeberang tanpa melihat situasi apakah jalanan sepi atau tidak.


Bima yang melihat kejadian itu langsung melompat keluar dari dalam mobil dan berlari sekencang mungkin lalu menarik tubuh istrinya kembali ketepian tepat disaat pengendara motor itu melintasi mereka dengan sangat kencang. Bima menatap tajam pengendara motor itu dan menghafalkan plat nomernya.


Tarikan tangan Bima membuat tubuh Aira menabrak tubuh suaminya dan karena Bima kehilangan keseimbangan, keduanya jatuh ke aspal. Bima mengerang kesakitan karena tangannya ia gunakan melindungi kepala istrinya agar tidak terbentur tanah mengalami keseleo akibat benturan keras.


“Aaaarrrgh,” erang Bima sambil memegangi tangan kirinya yang kesakitan.


Aira yang tersadar langsung bangun berdiri dan mencemaskan keadaan suaminya. “Bima. Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit!” seru Aira terbata-bata saking cemasnya.


“Tidak apa-apa, cuma keseleo saja. Arrghh!” erang Bima lagi dan tampak lebay, sepertinya ia ingin menjahili istrinya. “Aduk sakit banget!” erang Bima lagi sehingga Aira jadi merasa sangat bersalah.


Tiba-tiba, si CEO bengek itu pura-pura pingsan tergeletak di jalan. Semakin paniklah Aira dan iapun menangis melihat suaminya tergeletak tak sadarkan diri begitu.


“Bima, bangun! Buka matamu! Kau dengar aku!” seru Aira panic sepanik-paniknya. Ia mengangkat kepala suaminya dan memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukan. “Bima, jangan seperti ini. Bangun, buka matamu. Maaf karena gara-gara aku, kau jadi begini. bangunlah suamiku,” isak Aira dan terus menepuk-nepuk pipi suaminya agar sadar kembali.

__ADS_1


Melihat suaminya tak bergerak, Aira jadi semakin bingung. Ia kehilangan ponselnya akibat terjatuh dan tadi. Setelah meletakkan kepala suaminya dengan pelan, gadis itu berlari ke mobil suaminya untuk mencari kotak P3K dan ponsel Bima. Sayangnya, di mobil Bima tidak ada apa-apa yang bisa digunakan untuk membuat Bima sadar.


Melihat istrinya mondar-mandir dengan cemas, Bima tertawa. Ia jadi tahu kalau istrinya itu sangat mencintainya sama seperti Bima mencintai Aira. Aira masih sibuk mencari ponsel suaminya dan bermaksud menghubungi rumah sakit terdekat agar suaminya segera mendapatkan pertolongan. Namun, setelah mencari ke sana kemari, ponsel suami tak kunjung ketemu juga.


“Kau mencari ini?” tanya Bima pada istrinya sambil menyerahkan gawai yang dicari-cari Aira.


“Iya, terimaksih!” ujar gadis cantik itu masih belum sadar kalau yang memberikan ponsel Bima adalah suaminya sendiri.


Aira memencet sebuah nomor untuk menghubungi nomer itu tapi tidak jadi karena ia mulai menyadari sesuatu. Gadis itu menolah pada pria yang memberikannya ponsel dan betapa terkejutnya ia karena orang yang dicemaskannya setengah mati tengah berdiri disampingnya sambil cengar-cengir.


“Ka-kau? Ba-bagaimana bisa … kau berdiri … bukannya tadi … kau pingsan?” tanya Aira bingung sampai kalimatnya jadi terdengar tidak karuan.


“Aku sudah sadar,” jawab Bima enteng. Padahal jelas itu cuma sandiwara receh Bima yang menjahili istrinya. Sadar kalau suaminya ternyata hanya mempermainkannya, wajah bingung Aira berubah jadi super duper kesal, iapun memukul-mukul dada Bima dengan kencang saking kesalnya dan Bima malah mengerang lebay.


“Hoo … sakit, ya?” Aira tidak peduli, bisa-bisanya suami bengeknya ini mempermainkan perasaanya. Ia sudah panik setengah mati takut kalau Bima bakal kenapa-napa gara-ara dirinya, eh yang dikhawatirkan malah seenak udelnya pura-pura pingsan segala. Siapa yang nggak kesal?


Aira terus memukuli lengan Bima dan mereka berdua kejar-kejaran seperti anak kecil. “Dasar gapura bangkotan!” teriak Aira sangat kesal dengan suaminya. “Jangan lari kau! Mau membodohiku, ha? Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu pingsan tadi!”


“Salah sendiri, siapa suruh kau ngambek? Aku hanya minta 10 anak darimu. Tidak minta 100 anak seperti di cerita Ramayana!” ujar Bima asal njeplak, salah menyebutkan perumpamaan pula.


“Bukan Ramayana gentong bolong! Tapi Bharatayudha. Ramayana itu kisah Rama dan Shinta. Astaga kau itu bisa bedain 2 kisah itu nggak sih?” Aira jadi semakin kesal dengan suaminya, sudah salah sok PeDe pula.

__ADS_1


“Ya itulah, sama saja, kan?”


“Ya nggak sama-lah?” Aira jadi dongkol sendiri meladeni kebengekan Bima. Akhirnya ia brenti sendiri dan memilih masuk ke dalam mobil. Kepalanya pusing melihat Bima bertingkah menyebalkan padanya.


“Kau masih marah Sayang?” Bima ikut masuk ke dalam mobil dan duduk disamping istrinya.


“Nggak! Aku bahagia! Puas!” sentak Aira kesal. “Ayo kita pergi dari sini. aku lapar setelah berlarian mengejarmu.”


Bima langsung tertawa dan memeluk Aira. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Secepat mungkin aku menyelesaikan misi yang ditugaskan untukku sebagai hukumanmu karena kita menikah tanpa kehadiran keluarga besarku. Berat berpisah darimu dan membiarkanmu menghadapi kesulitanmu sendiri. Aku terllau bahagia melihatmu, dan aku suka wajah cemberutmu ini. So cute dan bikin kangen!” akhirnya Bima mencurahkan apa yang ia rasakan pada istrinya.


Mendengar hal itu, entah kenapa Aira jadi tidak marah lagi sekarang. Iapun membalas pelukan suaminya karena ia juga sangat merindukan Bima. Kerena terlalu fokus pada balas dendamnya, ia sampai lupa kalau sekaran Bima adalah suaminya dan mereka harus memulai bahtera rumah tangga sebagai pasangan suami istri.


“Pesanlah makanan yang kau inginkan. Aku tinggal sebentar, jangan pergi dari sini selagi aku belum kembali, oke.” Bima mencium mesra kening istrinya saat keduanya ada disebuah restoran.


CEO galak itu langsung tancap gas menuju tempat makan begitu Aira bilang lapar. Namun, ada hal penting yang harus Bima selesaikan saat ini juga dan terpaksa meninggalkan istrinya sendirian. Tidak benar-benar sendiri, sih. Sebab, anak buah Bima tersebar di mana-mana bahkan diantara para pengunjung resto yang mereka berdua kunjungi saat ini.


“Kau mau ke mana? Apa kau tidak lapar? Setidaknya, temani aku makan dulu.” Aira agak kecewa, baru juga bersama. Eh malah ditinggal pergi gitu aja.


“Aku pasti akan segera kembali. Aku janji. Ini tidak lama.” Sekali lagi, Bima memberikan ciuman manisnya pada Aira dan berlalu pergi. “Kau mendapatkan orang itu?” tanya Bima melalui sambungan teleponnya. “Aku akan segera ke sana. Jangan apa-apakan dia sebelum aku datang." Bima menutup panggilannya dengan tatapan mata yang menakutkan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2