
Bima membawa Aira pulang ke rumahnya di mana sudah ada Leo dan Shena yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua sejak tadi. Sebenarnya, Aira tidak enak dengan mertuanya karena di hari pernikahannya ia malah kabur dan berakhir menikah dengan Bima secara diam-diam. Itupun tanpa dihadiri oleh pihak keluarga Bima. Bisa dibayangkan betapa murkanya Leo kala itu meski sekarang semuanya sudah berakhir.
Untungnya, Shena bukanlah mertua yang jahat, ia juga pernah muda dan ia sangat menyukai Aira karena gadis itu adalah wanita tangguh sama seperti dirinya sewaktu masih muda dulu. Meski yang dilakukan Bima dan Aira salah, tidak ada alasan bagi Shena dan Leo untuk membenci wanita pilihan putranya. Cinta tidak bisa dipaksa, jadi mereka merestui Bima dan Aira.
“Bima … apa … ayah dan ibu tidak marah?” tanya Aira saat keduanya memasuki pintu masuk utama. Jantungnya berdetak kencang takut akan kemarahan Leo dan Shena. Sebab mereka bukan orang sembarangan.
“Justru kalau aku tidak membawamu pulang kemari, mereka akan marah besar. Sudah lama juga kita berkutat dengan urusan kita masing-masing sampai lupa kalau kau adalah menantu di keluarga Leopard Pyordova. Lagian ayah sudah menghukumku karena kita kawin lari. Dan aku sudah menyelesaikan semua hukumannya, harusnya sih sekarang tidak ada masalah.” Bima meyakinkan istrinya kalau kedua orangtuanya baik-baik saja. Sekalipun keluarga Leo terkenal akan kebengekan dan nggak ada akhlak, mereka adalah orang yang baik dan bijaksana dalam segala hal.
Meski Bima bicara seperti itu, entah kenapa Aira masih belum tenang juga. Ia sangat tahu seperti apa seluk beluk keluarga suaminya ini. Ayah mertuanya adalah gengster paling ditakuti di negara ini. Bahkan polisi saja menaruh hormat pada Leo. Sedangkan kakek Bima, adalah mafia paling ditakuti sepanjang masa.
Walaupun sudah tidak lagi menjadi mafia, performa Byon masih berdampak bagi para mafia yang ada di seluruh dunia. Mendengar nama Pyordova saja, mereka pasti bakal berpikir 2 kali jika ingin berurusan dengan Byon ataupun keluarganya.
“Akhirnya, kalian pulang juga, hm?” ujar Leo yang duduk santai di ruang tamu ditemani Shena yang sedang menuangkan teh untuk suami tercintanya. “Duduklah!” pinta Leo pada putra dan menantunya.
Aira terus menunduk saat tangannya digandeng oleh Bima. Mereka duduk di kursi sama tepat di depan Leo dan Shena.
“Ayah …”
“Mulai sekarang, kalian berdua akan tinggal di sini,” potong Leo sebelum Bima selesai bicara.
“Tapi, Ayah …”
“Kalian berdua sudah cukup bersenang-senang diluar sana. Sekarang sudah saatnya kalian menjalani bahtera rumah tangga yang sebenarnya. Dan kau Aira, mulai sekarang kau tak perlu bekerja. Kau akan di rumah bersama Shena.”
__ADS_1
“Ayah …” Bima hendak bicara tapi lagi-lagi dipotong oleh Leo.
“Masalah dendam dan perusahaan yang dicuri ayahmu,” ujar Leo pada menantunya, “biar aku dan suamimu yang urus. Rocky sudah mulai bergerak melacakmu. Kau tidak aman berkeliaran di luar sana. Pernikahan kalian juga harus tetap disembunyikan sampai masalahmu kelar. Ini keputusanku dan aku tak terima alasan apapun. Kalau kau masih mau jadi bagian dari keluarga ini, maka kau tak punya pilihan selain menuruti aturanku.”
“Ini tidak adil Ayah, Aira sekretarisku, dia bekerja denganku. Kenapa kau mengurungnya di rumah?” protes Bima tak setuju.
“Istana ini bukan penjara Bima. Dia harus menjadi istri yang baik untukmu. Jangan membantah atau pernikahan kalian batal!”
Bima menatap lurus ayahnya dan hendak protes lagi tapi tidak jadi karena Aira buka suara duluan.
“Baik Ayah, saya mengerti, apapun yang Ayah katakan akan saya lakukan,” tandas Aira tanpa ragu sebelum suaminya buka suara lagi untuk membantah ayahnya.
“Bagus. Ini sudah malam, kembalilah ke kamarmu dan buatkan aku cucu yang lucu,” ujar Leo blak-blakan tanpa punya rasa malu. Wibawanya seketika runtuh dihadapan Aira yang jadi merah padam setelah mendengar mertuanya bicara seperti itu.
Tanpa dosa, Leo mengajak Shena pergi meninggalkan Bima dan Aira begitu saja. “Kau ini apa-apaan Leo? Masa kau bicara seperti itu pada menantumu di hari pertama dia menginjakkan kakinya di rumah ini? Memangnya dia mesin pembuat bayi apa? Kau tak lihat dia jadi tersipu malu begitu?” protes Shena pada suami nggak ada akhlaknya saat keduanya berjalan menaiki tangga utama kamar mereka.
“Itu salahmu,” jawab Leo agak galak.
“Salahku? Kenapa aku? Aku bahkan diam saja saat kau bicara tadi? Apa salahku?” pekik Shena tak terima.
“Salahmu karena kau tak mau buat anak denganku, kalau saja kau mau, aku takkan mungkin minta Bima atau Yeon buatkan cucu yang lucu untukku.”
Shena langsung menggigit bibirnya sendiri menahan geram dengan lelucon yang tidak lucu dari suaminya. Hanya karena Leo suka anak kecil bukan berarti ia menyuruh menantunya buat cucu seenak udelnya.
__ADS_1
“Heh, bekantan. Apa kau tidak lihat usiamu berapa, ha?” sentak Shena kesal. Singa betina kalau sudah keluar tanduknya tidak akan peduli ia berhadapan dengan siapa.
“Kau panggil aku apa? Bekantan? Pejantan kali Sayang, bukan Bekantan,” ujar Leo.
“Terserah! Kau tidak lihat aku sedang marah? Kau pikir hamil dan melahirkan di usiaku yang sekarang ini itu enak? Masih muda saja aku butuh perjuangan melahirkan 3 anak kita, belum etalibunmu yang selalu minta jatah malam setiap hari. Apalagi sekarang aku sudah tua bodoh! Mana mungkin aku hamil lagi! Dasar bekantan!” cetus Shena kesal pada suaminya dan buru-buru masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamarnya supaya Leo tidak bisa masuk ke dalam.
“Shena! Buka pintunya!” seru Leo dari luar sambil tertawa tanpa suara.
“Nggak! Malam ini tidur saja diluar!” teriak Shena dari dalam.
“Aku hitung sampai 3, jangan salahkan aku jika aku mendobrak pintu ini dengan paksa!” ancam Leo tak main-main.
“Dobrak saja! Ini rumahmu! Kau yang bangun istana ini! Kalau kau mau merusaknya silahkan!” tantang Shena tidak peduli dengan ancaman suaminya.
“Baik, kau yang minta. Bersiaplah untuk bermain bulan tertusuk ilalang setelah ini!” teriak Leo lagi.
Bukan Leo namanya kalau ia tidak memenuhi tantangan istrinya sendiri. Iapun pergi mengambil senjata apinya dan langsung menembaki gagang pintu kamarnya sendiri hingga hancur lebur dan pintunya terbuka dengan sendirinya.
Shena hanya melongo melihat suaminya benar-benar merusak pintu kamarnya sampai berlubang dan tidak punya gagang. Dasar gangster nggak ada akhlak. Tukang nekat dan suka bikin onar. Tidak salah kalau anak-anaknya juga sering bikin masalah diluar sana.
“Astaga, dasar gangster nggak ada akhlak. Kau sama sekali tidak berubah! Kau itu sudah tua, tapi kelakuanmu sama saja!” geram Shena saat melihat suaminya sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka.
“Beres! Sekarang, kita main bulan tertusuk ilalang! Bersiaplah!” ujar Leo sambil meringis kuda.
__ADS_1
***