
Pagi ini, keluarga besar Leo sedang sarapan bersama. Di rumah ini hanya ada Shena Leo dan sekarang ditambah Bima dan Aira. Seperti yang telah disepakati sebelumnya. Mulai hari ini Aira tidak perlu bekerja atupun bersusah payah balas dendam pada orang-orang yang sudah membuat Aira kehilangan kedua orangtuanya.
Dari awal, Bima memang kurang setuju kalau istrinya bergerak sendiri dan menjadi pelindung Aira dibalik layar. Namun sekarang musuh sudah mulai mengendus dan mengincar nyawa Aira, tak heran jika Bima tak bisa tinggal diam lagi dan mau tidak mau harus membuat istrinya mundur alon-alon dan menyerahkan semuanya padanya.
Tentu saja, Leo juga ikut andil dalam masalah ini, mana mungkin ia hanya melihat saja sementara putra dan menantunya dalam masalah. Sebagai gangster yang terkenal nggak ada akhlak dan latar belakang keluarganya sebagai keluarga mafia, aia akan menumpas semua orang yang berani cari gara-gara ataupun mengusik keluarganya.
“Apa rencanamu hari ini Bim?” tanya Leo pada putranya.
“Menandatangani proyek besar Ayah. Kapan Ayah akan mulai?” Bima balik bertanya. Aira tak berani bersuara dan memilih jadi pendiam karena ia tak paham apa yang sedang ayah dan anak ini bicarakan.
“Apa kau yakin akan melakukannya Leo?” tanya Shena berhenti makan dan menatap suaminya.
“Ayolah Sayang, ini bukan kali pertama aku melakukannya. Ini pertarungan antar orang dewasa. Mana mungkin aku membiarkan bocah ingusan seperti Bima dan Aira bertarung melawan orang itu. Dia licik, dia berusaha membangun kembali apa yang sudah Aira hancurkan selama ini. Putrinya juga, mereka sok susah dan menderita sekarang, tapi di balik itu semua, mereka merencanakan hal besar untuk melenyapkan menantu kita. Untunglah Aira bijak dengan tidak mempublikasi pernikahannya dengan Bima. Itu sangat membantu.”
Shena mengerti dan paham sekali maksud ucapan suaminya. “Aku akan mendukung apapun yang kau lakukan. Aku akan menjaga Aira di sini.” Shena menggenggam tangan suaminya.
“Kita akan terpisah sementara waktu dan tidak bisa main bulan tertusuk ilalang ….”
“Ayah … ayolah … jangan mulai lagi!” protes Bima pada ayahnya yang mulai kumat.
“Jangan menyela pembicaraan orang tua,” sengal Leo.
“Lah ini kan kita lagi membahas masalah serius? Kenapa ujung-ujungnya lari kesitu.”
“Masalahku dan ibumu ini juga serius Bima! Jangan bersikap tidak sopan pada orangtua!” sengalnya lagi memperingatkan.
__ADS_1
“Terserahlah …” Bimapun melanjutkan makannya dan menutup telinganya dengan memakai headset. Tak lupa ia juga memberikan headsetnya untuk Aira supaya istrinya kuga tidak mendengar obrolan Leo yang sudah mulai kumat nggak ada akhlaknya bila berbicara dengan Shena.
“Kenapa kau memberiku headset? Dan ayah mau pergi ke mana?” tanya Aira bingung.
“Tidak penting dia mau pergi ke mana, aku heran saja dengan pak tua yang satu ini, kenapa dia tidak berubah sama sekali, kami yang terlahir sebagai anaknya saja malu. Astaga …”
“Siapa yang kau panggil pak Tua? Wajahku dan wajahmu hanya 11 12 saja!” sengal Leo memotong kalimat protes Bima.
“Itu karena paman Refald memberikan keistimewaan pada kalian berdua. Tapi yang namanya usia itu tidak dapat dibohongi Ayah …”
Leo mau mendebat putranya tapi Shena melarangnya. “Sudahlah Leo, hentikan. Jangan bersikap seperti anak kecil. Cepat selesaikan sarapanmu dan pergilah. Kau berisik sekali daritadi.”
“Kau mengusirku, Sayang? Sepertinya kau suka kalau aku tidak ada di rumah, hm?”
“Bukan begitu Suamiku Leo Sayang … kau buang-buang waktu dengan mendebat putramu. Aku akan datang mengunjungimu setiap hari. Jadi kau tidak perlu khawatir soal bulan tertusuk ilalang. Itu akan berlaku meskipun kau tak ada di sini.” Shena memberikan penjelasan rahasia yang mungkin hanya diketahui oleh Leo dan Shena.
Shena sendiri juga ikut bangun dan membantu membenarkan dasi serta membantu suaminya mengenakan jas hitamnya. Seperti biasa Shena selalu merapikan apapun yang dikenakan Leo setiap kali suaminya itu berangkat bekerja.
“Hati-hati, jangan lupa kabari aku. Kau mau kubawakan makanan apa setelah di sana?” tanya Shena masih merapikan dasi suaminya lagi.
“Apapun yang kau masak hari ini. Sarapan ini juga enak. Aku sangat suka masakan buatan istriku tercinta,” jawab Leo tak berhenti memandangi Shena. “Aku akan merindukanmu, tapi ini juga pasti seru! Sesekali aku ingin kau merindukanku juga. Kau selalu cuek padaku.”
“Tapi kau tahu aku selalu mencintaimu.” Kini ganti Shena yang menatap suaminya.
“Kenapa kau jadi manis sekali kalau berkata seperti itu padaku. Bagaimana kalau aku tidak jadi pergi dan kutunda besok, kita main aja sekarang?”
__ADS_1
Istri Leo ini langsung berkacak pinggang.“Leooooo jangan mulai lagi. Cepat pergi sana!” Shena mulai kesal karena suaminya itu benar-benar merusak suasana hatinya. Leo tertawa dan ia mengajak Bima pergi bersama.
Aira lumayan tertegun melihat betapa romantisnya mertua awet mudanya itu. Saking terkesimanya ia sampai tidak bisa berkata-kata. Bima hanya tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang duduk disebelahnya.
“Jangan melongo begitu, lalat bisa masuk kemulutmu dan aku yang repot nanti,” ujar Bima dan Aira baru tersadar.
“Aku yang kemasukan lalat kenapa kau yang repot?” cetus Aira.
“Karena aku harus menciummu dan menyedot lalat itu keluar dari rongga kerongkonganmu, mau coba!” tawar Bima sambil mencondongkan wajahnya ke wajah istrinya.
“Awas saja kalau berani!” ancam Aira menahan wajah Bima yang mencoba mendekatinya.
Bima tertawa dan mencium kening Aira sama seperti yang dilakukan Leo pada Shena. “Aku juga mau pergi kerja, hati-hatilah di rumah dan jangan jauh-jauh dari ibu. Jangan khawatirkan apapun oke, karena semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah serius.” Bima mencuri ciuman dari Aira dengan cepat.
Gadis itu terkejut tapi tak bereaksi karena ia bingung dengan makna kata yang barusan Bima ucapkan. Aira merasakan kalau hari ini bakal ada yang akan terjadi. Namun ia tidak tahu apa, semua penuh misteri dan teka-teki.
“Ayo Bim. Kau sudah sangat terlambat!” seru Leo pada Bima.
“Baik Ayah,” balas Bima dan kembali menatap Aira. “Aku akan pulang cepat nanti,” ujarnya pamit.
Aira tersenyum mengangguk senang. Dia juga canggung karena ini pertama kalinya dirinya menunggu suami pulang. Dua wanita, menantu dan mertua saling melambaikan tangan untuk suami-suami tercinta mereka yang berangkat bekerja mencari pundi-pundi uang. Padahal Leo ini adalah gangster yang kekayaannya ini tidak akan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan dan tujuh belokan, tapi ia tetap harus bekerja dan buat onar agar pemasukan dan pengeluaran seimbang.
“Ayo kita masuk Ai. Hari ini kau mau melakukan apa?” tanya Shena pada menantunya.
“Aku hanya ingin berbincang dengan Ibu, sebenarnya … ayah mau pergi ke mana Bu? Sesungguhnya aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan tadi,” tanya Aira saking penasarannya. Ia berharap Shena mau memberitahunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***