
Anita mendesak Aira untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga sahabatnya itu menangis sesenggukan begitu. Namun, Aira enggan menceritakannya apalagi masih ada Excel diantara mereka.
Sekarang yang terpenting bukan kenapa Aira menangis, melainkan mereka bertiga harus mencari alasan tentang apa yang terjadi di sini. Sebab, ayah Anita dan calon suami yang tak lain dan tak bukan adalah Bos Aira pasti menanyakan banyak hal tentang keberadaan ketiganya di dalam kamar Anita. Kehadiran Excel di rumah ini. yang pasti takkan pernah diharapkan oleh si konglomerat Bimo.
“Sungguh aku minta maaf, Ai. Aku tidak tahu kalau CEO yang dijodohkan denganku adalah Bos dikantor tempatmu bekerja. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua sehingga CEO itu datang kemari. Aku harap, ia datang untuk membatalkan perjodohan ini. Tapi sekarang tolong bantu aku Ai, buat ayah tidak marah padaku. Dia lebih sayang padamu ketimbang padaku. Tolong ya Ai …” Anita melipat kedua tangannya dihadapan Aira. Ia sangat cemas bercampur panik, tapi juga merasa bersalah pada Aira. Dan harapan satu-satunay agar ia dan Excel selamat dari cengkeraman ayahnya, hanya Aira.
Si sekretaris cantik itu cuma mengangguk pelan dan mulai berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Bukan sifatnya jika ia jadi lemah hanya karena kedatangan Bima kemari. Meski ia tak tahu apa tujuan Bima, Aira siap menghadapinya. Sebab, firasatnya mengatakan kalau Bima akan membuat masalah seperti yang ia lakukan dikantornya.
“Bagaimana denganmu Ex? Apa recanamu setelah ini?” tanya Aira pada Excel yang sejak tadi hanya diam berdiri dihadapannya tanpa berkomentar apa-apa.
“Aku akan menikahi Anita, secepatnya,” ujar Excel walau ia agak sedikit ragu. Ia tak punya pilihan lain selain menikahi kekasih yang sudah dipacarinya kurang lebih selama setahun ini. Jika Excel lari dari tanggungjawab, Aira takkan segan-segan mengirimnya kea lam baka.
“Hanya saja … ada sedikit masalah,” sambung Excel cepat walau ia sudah menentukan pilihan.
“Ada apa? Kau tidak mencintaiku?” tanya Anita. Tadinya, ia sangat senang karena kekasihnya akan menikahinya, tapi ekspresinya berubah ketika Excel mengatakan sesuatu yang membuatnya meragukan keputusannya.
“Bukan Sayang, aku hanya tidak yakin, ayahmu mau menerimaku sebagai menantunya. Jika aku jadi ayahmu … maka aku akan lebih memilih menantu yang berprofesi sebagai CEO ketimbang karyawan biasa sepertiku,” terang Excel.
“Huh, dasar cemen!” cibir Aira sambil menertawai keberanian Excel yang tidak sebanding dengan gaya sok coolnya. “Badanmu aja yang gede, tapi nyalimu cuma sebesar kupang! Kau cuma gagah di atas ranjang! Selebihnya kau hanyalah pecundang!” ucapan Aira benar-benar cetar membahana. Pedasnya cabai level 10 saja kalah pedas dengan ungkapan yang ia utarakan pada Excel.
__ADS_1
“Ai, jaga ucapanmu!” pekik Excel tak terima dikatain oleh Aira sekalipun gadis cantik itu adalah sahabat dekat kekasihnya.
“Kalau kau memang cinta Anita, harusnya kau buktikan bahwa cuma dirimulah yang pantas untuknya.” Aira menunjuk-nunjuk dada Excel dengan berani sampai cowok itu mundur selangkah demi selangkah. “Tak peduli seberapa keras om Bimo menentang hubungan kalian, harusnya kau tidak akan pernah menyerah begitu saja! Laki-laki amcam apa kau? Mau enaknya doang tapi giliran susah kau mau lepas tangan! Dasar otak udang!” geram Aira dan ia pergi keluar dari kamar Anita dengan kesal setelah mendorong tuuh Excel hingga cowok itu membentur dinding.
Anita bingung, ia tak tahu apakah ia harus tinggal dengan Excel atau mengejar sahabatnya. Apa yang dilakukan Aira telah mewakili perasaannya. Gadis itu menunggu reaksi kekasihnya dan sangat ingin tahu apakah laki-laki didepannya ini benar-benar bertanggungjawab penuh padanya atau Excel hanya memainkan perasaannya. Dan dari sikap Excel yang lebih memilih diam seribu bahasa, Anita mulai mengerti.
“Dasar banci! Aku sangat membencimu! Terus saja kau sembunyi dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” cetus Anita sambil berlinang air mata. Gadis itu menangis dan pergi keluar mengejar Aira yang langsung menyambut kedatangan Bimo dan Bima seolah tak terjadi apa-apa.
Bimo yang sudah mengenal baik Aira, langsung memeluk erat tubuh gadis cantik itu layaknya putrinya sendiri tepat dihadapan Bima. Mata elang Bima juga tak pernah berhenti memandangi Aira yang tampak ceria. Sangat jauh dari perkiraannya yang mengira Aira bakal menangis karena perlakuan kasarnya selama di kantor.
Tanpa basa basi lagi, Bima pun mengutarakan maksud kedatangannya kemari sambil terus menatap wajah tegang Aira. Bima juga lumayan terkesan karena Anita yang asli juga sama cantiknya dengan Aira. Sayangnya, hati Bima sudah tertaut pada satu wanita dan itu adalah sekretarisnya sendiri.
“Katakan padaku Nak Bima … kapan pernikahannya dilaksanakan? Kalian sudah saling mengenal kan?” tanya Bimo selaku ayah Anita. Tentu saja pertanyaan itu membuat degub jantung dua wanita cantik didepannya langsung was-was tak karuan.
Tentu saja ucapan Bima barusan langsung sukses membuat Anita dan ayahnya terkejut bukan kepalang. Bahkan Anita sampai tidak sadar sudah mengatupkan kedua tangan di depan mulutnya. Terjawab sudah alasan kenapa Aira menagis sesenggkan seperti itu dan sangat marah padanya. Rupanya … inilah yang terjadi diantara mereka berdua. Semakin bersalahlah Aira pada sahabatnya yang mematung saking shock beratnya.
“Ai … beneran, kau sudah tidur dengan CEO gila itu? Kok bisa?” tanya Anita sambil berbisik pelan supaya tidak ada yang dengar, tapi yang ditanya malah terpaku tanpa bisa berkata-kata.
Sungguh, Aira tak pernah menyangka bos galaknya bisa bicara hal memalukan seperti itu apalagi di depan orangtua Anita mengenai apa yang terjdi diantara mereka. Kini, Aira bingung bagaimana ia menjelaskan pada pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya sedndiri. Aira takut ia dikira menikam putrinya dari belakang jika Bimo tahu wanita yang dimaksud Bima adalah dirinya.
__ADS_1
Tapi ternyata, Bimo salah paham akan maksud ucapan Bima. Ayah Anita bukannya marah atas apa yang ia dengar, ia malah tampak sangat bahagia dan bangga.
“Wah … hebat dong … kalau begitu … tunggu apalagi, mari kita tentukan tanggal pernikahan kalian berdua. Tidak kusangka kalian bakal sat set seperti ini perkembangannya. Tahu begitu, sudah kujodohkan kalian dari dulu supaya aku bisa cepat menimang cucu,” ujar Bimo senang.
Anita dan Aira saling pandang. Perubahan situasinya begitu cepat dan mereka berdua tak ingin masalah ini semakin bertambah runyam.
“Papa … sepertinya ini ada yang salah … bukan aku yang berkencan dengan pria itu,” ujar Anita terbata-bata. Dan seketika senyum Bimo langsung sirna mendengar ucapan putrinya.
“Apa maksudmu?” tanya Bimo mulai mencium aroma tidak beres di sini.
“Yang dikatakan nona Anita itu benar, Sir.” Ganti Bima yang menjelaskan.
CEO tanpan itu menatap Aira yang langsung menggelengkan kepala dengan cepat sebagai kode agar Bima tak mengatakan bahwa dialah wanita yang berkencan dengannya. Bima cuma tersenyum simpul sambil mengedipkan salah satu matanya.
“Wanita yang berkencan denganku hingga kami menghabiskan malam bersama, bukanlah nona Anita. Melainkan orang lain. Dan aku sudah mengenal dekat dia. Sebenarnya, kedatanganku kemari adalah untuk membatalkan perjodohan ini karena aku akan menikahi wanita yang berkencan denganku. Aku merasa kami sangat cocok satu sama lain.” Secara tidak langsung, Bima telah menyatakan perasaannya pada Aira yang langsung merasa panas sendiri.
Wuah, bos galakku sedang kerasukan hantu pujangga cinta, benar-benar luar biasa, batin Aira.
“Apa!” teriak Bimo berubah marah pada Bima dan mengagetkan Aira. Ia tak terima karena merasa Bima memainkan putri semata wayangnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***