
Karena suasana hati Aira saat ini sangat buruk, ia memutuskan untuk duduk merenung di sebuh kafe dekat kantor tempatnya bekerja. Baru saja Aira mengagumi sisi lain dari seorang Bima yang rela dibenci ayah Anita demi melindungi dirinya dari amukan seorang pria yang sudah gadis itu anggap seperti ayahnya sendiri. Tapi sekarang, Bima benar-benar sangat marah padanya karena telah salah paham atas insiden plagiarisme ini.
Tentu saja Aira tidak akan tinggal diam. Citra buruk dan reputasinya sebagai sekretaris kepercayaan Bima sedang dipertaruhkan. Sekarang, gadis itu harus membuktikan bahwa tuduhan bos galaknya tentang dirinya sama sekali tidak benar. Hanya saja, Aira bingung, bagaimana cara membuktikannya. Bima benar-benar marah besar padanya.
Ketika sedang minum kopi di kafe sambil bersemedi, tanpa sengaja Aira melihat Sandra keluar kantor di jam kerja. Jelas, Aira langsung menyambar tasnya dan mengikuti rekan kerja jahatnya. Aira yakin, Sandralah dalang dibalik permasalahan yang dihadapi Aira.
“Mau pergi ke mana dia?” gumam Aira lirih. Gadis itu mengendap-endap diam-diam mengikuti langkah kaki Aira yang ternyata menyetop sebuah taksi dan pergi entah ke mana.
Aira juga melakukan hal sama dan meminta pak sopir taksi untuk mengikuti taksi yang ada di depan mereka. Dan betapa terkejutnya Aira ketika ia tahu bahwa Sandra berhenti di sebuah hotel bintang lima yang ada di pusat kota. Wanita jahat itu masuk ke dalam hotel dan Aira terus mengikutinya. Tak lupa, ia juga menyalakan video kameranya untuk merekam apa yang Sandra lakukan di dalam hotel mewah ini.
Rekan kerjanya itu langsung menuju sebuah kamar di mana didalamnya sepertinya sudah ada seseorang yang menunggu. Aira mendekati kamar VIP tersebut karena penasaran, siapakah yang ditemui Sandra. Bila dilihat dari layanan kamarnya, penyewa kamar ini pasti bukan orang sembarangan.
Karena tidak ingin ketahuan, Aira memutuskan untuk menunggu Sandra di lantai dasar tempat keluar masuknya orang-orang sembari menunggu siapakah penyewa kamar mewah yang didatangi Sandra. Namun, yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang juga.
“Ai!” seru seseorang dari balik punggung Aira sehingga membuat sang sekretaris sempat kaget. “Ngapain kamu di sini, ha?” tanya seseorang itu lagi.
“Astaga Ta, bikin kaget aja kau!” cetus Aira kesal karena seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Anita, tiba-tiba saja mengagetkan dirinya. “Ngapain kau di sini?” tanya Aira masih sambil memantau kalau-kalau Sandra sudah keluar kamar.
“Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu di sini disaat jam kerja begini, apa bosmu yang galak itu tidak marah? Oh iya … ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Ayo ikut aku!” Anita langsung menyeret tangan Aira pergi begitu saja.
__ADS_1
“Eh … eh … tunggu, Ta! Aku sedang ada urusan sekarang, lain kali saja, ya. Beneran, aku juga ingin bicara banyak hal denganmu. Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dan memulihkan nama baikku!” seru Aira mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aira.
Anita terdiam dan menatap wajah sahabatnya yang sedang panik dan sejak tadi tak mau melihatnya. Gadis itu mengerutkan alisnya dan menatap tajam mata Aira dengan tatapan mata menakutkan seperti ingin membunuh orang.
“Ada apa Ai? Apa yang terjadi? Siapa yang mencemarkan nama baikmu? Katakan padaku!” desak Anita dan begitu Aira melihat tatapannya, gadis itu langsung bergidik ngeri.
***
Pihak perusahaan Bima menempuh jalur hukum atas tindak plagiarisme yang dilakukan oleh perusahaan lain saingan Bima. Tuan muda ke-2 itu sudah menghubungi pengacara keluarganya untuk mengurus tuntas masalah ini. Sepertinya, musuh Bima ini lupa dengan siapa mereka berhadapan.
Dalam sekejap, Bima langsung tahu kejadian sebenarnya dan siapakah biang kerok dari permasalahan yang dihadapinya saat ini. Namun tidak seperti ayahnya yang gegabah dan suka seenak udelnya sendiri kalau menghadapi masalah. Bima lebih teliti dan hati-hati, dia ingin memancing kumpulan tikus-tikus dalam satu lubang lalu menghabisinya dengan brutal sekalian. Itulah cara yang akan dilakukan Bima pada siapa saja yang mencoba mengusik ketenangan hidupnya.
“Kau akan jadi milikku, Ai. Bagaimanapun caranya,” gumam Bima dan iapun bergegas pergi ke suatu tempat.
***
Malam harinya, Bima sengaja menunggu Aira yang baru saja pulang diantar Anita. Awalnya dua wanita cantik itu canggung ketika bertemu dengan Bima yang mendadak ada di depan rumah Aira.
“Ngapain kulkas 10 pintu ada di depan rumahmu?” tanya Anita heran. Ia mengamati Bima dari dalam mobil sedan hitamnya.
__ADS_1
“Mana aku tahu? Kalau kau tanya padaku, terus aku tanya siapa?” jawab Aira sewot. Ia berdiri di luar mobil Anita. Gadis itu ragu, antara nyamperin Bima atau tidak.
“Kau yakin malam itu … kalian tidur bersama? Kau tidak merasakan sakit di bagian itu, kan?” tanya Anita lagi sambil masih menatap Bima yang juga menatap tajam dua wanita yang sedang asyik berghibah tentang Bima.
“Dia bilangnya sih begitu, ada noda merah juga waktu itu … ah sudahlah … aku nggak tahu. Kenapa kau malah bahas masalah ini sih?” Aira jadi dongkol akut dengan pertanyaan Anita.
Mati-matian Aira melupakan malam indahnya dengan Bima, eh sahabatnya malah kembali mengingatkan. Dasar teman lacknat!
Bimapun tak ingin membuang waktu, ia berjalan pelan mendekat ke tempat Aira berdiri dan tiba-tiba saja, serta tanpa di nyana-nyana, Bima langsung mencium bibir Aira disaksikan secara langsung oleh Anita.
Adegan vulgar itu terjadi begitu cepat hingga untuk shock saja tidak bisa. Bima benar-benar mencium Aira tepat di pinggir jalan di mana banyak sekali orang sedang berlalu lalang. Namun mereka semua tidak peduli dan hanya berghibah ria saja karena telah disuguhkan tontonan gratis ala film Korea dihadapan mereka. Sebagian ada yang iri, tapi tak sedikit pula yang menghujat, biasalah, warga +62 kan memang beda.
“Pergilah ke pengadilan besok,” ujar Bima dengan lembut setelah mencium mesra Aira. “Kasusnya sudah diproses cepat oleh kejaksaan karena aku punya chanel di sana. Sekarang semua perusahaan plagiat itu sedang kalang kabut menghadapi persidangan ini. Kau harus datang menyaksikan kehancuran mereka semua karena sudah membuat namamu tercoreng didepanku. Bawa bukti-bukti yang sudah kau kumpulkan hari ini. Aku menunggumu di sana. Calon istriku,” ujar Bima sambil tersenyum sumringah melihat wajah tegang bagai tersengat arus listrik 1000 volt didepannya.
Bima menundukkan kepala dan melongok di jendela mobil Anita yang langsung jadi gugup tidak tahu harus bagaimana. “Tolong jaga calon istriku nona Anita. Anggap saja itu kompensasi atas batalnya perjodohan kita. Aku akan bereskan pembatalan perjodohan kita ini secepatnya. Sampai ketemu lagi, bye!” Bima kembali berdiri dan menatap wajah Aira yang masih belum bisa berkata-kata.
Dengan lembut Bima kembali mencium kening Aira sehingga gadis itu tersadar dari rasa keterkejutannya akibat ulah Bima. “Kau milikku, sekarang … dan untuk selamanya. Tidak akan seorangpun yang bisa memilikimu selain aku. Ingat itu baik-baik my Baby.”
BERSAMBUNG
__ADS_1
***