
Aira sungguh bingung dengan sikap bos galaknya. Sebentar-sebentar dia marah, sebentar-sebentar bersikap manis dan baik sekali padanya. Dan ciuman Bima membuat jantung gadis itu serasa ingin meledak. Namun, Aira tidak boleh terlena akan pesona bos galaknya meski tak dapat dipungkiri, Bima telah menggoyahkan keteguhan hati Aira.
Hanya sebuah ciuman, harusnya tak berarti apa-apa untuk Aira. Tapi entah kenapa, kepala Aira dipenuhi dengan Bima Bima dan Bima.
Fokuslah Ai … fokus, begitu hutang orangtuamu lunas segeralah pulang ke kampung halaman. Batin Aira menyemangati dirinya sendiri.
Kali ini, Aira memaksakan diri fokus pada masalah plagiat yang sedang ia hadapi dan maksud dari ucapan Bima yang memintanya datang ke pengadilan besok. Kasus ini adalah kasus tercepat proses penanganannya sehingga langsung dilimpahkan ke persidangan untuk diusut tuntas. Gadis itu jadi teringat apa yang terjadi hari ini saat Anita memergokinya sedang memantau Sandra di hotel.
Begitu Sandra keluar dari kamar hotel, Aira langsung melabraknya. Kebetulan rekan kerjanya itu masuk ke dalam toilet. Aira dan Anita mengunci toilet dari dalam dan memasang papan di luar yang bertuliskan toilet tersebut tidak bisa digunakan. Dengan begitu, tidak akan ada yang masuk ke dalam toilet ini selagi dua sahabat itu menginterogasi Sandra.
“Jadi gini cara mainmu, ha? Menusukku dari belakang dan memfitnahku supaya bos memecatku! Hebat sekali kau? Teman makan teman!” cetus Aira tanpa basa basi sementara Anita diam-diam merekam keduanya.
“Ai … kok kamu bisa ada di sini?” Sandra terkejut melihat Aira ada di hotel tempatnya berada. Gadis itu panik lantaran takut kalau-kalau Aira mengetahui rahasia besarnya.
“Huh, nggak usah ngelak lagi! Mau kamu apa sih, San? Kemarin aku diam waktu kau ngobrak abrik komputerku dan merusak semua berkas-berkasku. Sekarang kau memfitnahku membocorkan data perusahaan! Apa salahku ke kamu sampai kau tega melakukan hal serendah itu?” bentak Aira antara kecewa dan juga marah. Orang yang ia anggap teman rupanya musuh dalam sekat.
“Apa salahmu? Banyaklah! Mau kusebutkan satu-satu?” tantang Sandra mulai menunjukkan sisi topengnya yang lain.
Selama ini, di depan Aira, Sandra baik banget. Sering bawain Aira makanan dan lain sebagainya sehingga sekretaris Bima itu menganggap Sandra adalah teman dekatnya. Nyatanya, dibalik sikap baiknya itu, ada maksud tersembunyi dan inilah yang terjadi. Reputasi Aira dirusak oleh Sandra.
“Pertama!” cetus Sandra tak kalah galak dari Aira. “Kau merebut posisiku sebagai sekretaris Bos Bima. Harusnya aku yang ada disisinya setiap hari. Harusnya aku yang selalu bisa bersamanya kemana-mana. Harusnya aku yang bisa mendekatinya. Tapi sejak kedatanganmu ke perusahaan ini, kau menggeser posisiku. Kedua … sikapmu yang sok tegar dan kuat itu membuatku muak! Syukurlah bos Bima marah besar padamu. Jangan salahkan aku karena aku hanya merebut apa yang menjadi milikku. Dan aku sangat puas sekarang, karena bos Bima benar-benar membencimu. Hahaha …” Sandra tertawa lepas sambil mencibir Aira.
“Heh, kaleng bekas!” bentak Anita yang jadi ikut geram mendengar ucapan Sandra yang menyudutkan sahabatnya. “Di rumah kamu ada kaca nggak sih? Apa matamu buta, ya? Dari segi fisik saja, Aira jauh lebih cantik dan menarik dibandingkan dirimu. Kalau bos galakmu itu menyukai Aira, ya wajarlah! Berarti dia normal. Lagian, kualitas kalian jelas berbeda. Aira lebih berkompeten dibandingkan kacung sepertimu!” cerosos Anita panjang lebar dan Aira mencoba menghentikannya supaya tak lagi banyak bicara.
"Enak aja kalau ngomong!" Sandra hendak menyerang Anita dan hampir terjadi adu jotos kalau saja Aira tak segera menengahi keduanya.
__ADS_1
Dengan sikap tenangnya, Aira mendekat ke arah Sandra dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua. Rupanya, cinta buta menjadi alasan utama kenapa Sandra berbuat jahat pada Aira.
“Kalau kau ingin jabatan sekretaris, dengan senang hati akan kuserahkan padamu, San. Aku akan menggunakan segala macam cara agar pak Bima mau memberikan jabatan itu padamu. Dan satu hal lagi, aku sama sekali tak tertarik dengan pak Bima. Dia bukan tipeku? Wanita mana yang tahan punya pasangan temperamental seperti dia? Kalau kau mau, aku bisa membantumu supaya bisa dekat dengannya. Sungguh aku tak menyukainya.
"Tapi Sayang, cara yang kau gunakan ini salah besar. Kau menjerumuskan dirimu ke dalam lubang sumur yang kau buat sendiri. Aku kecewa padamu, San. Seandainya kau bilang padaku lebih awal, kau tak perlu repot-repot menjadi orang jahat begini.”
Aira memukul telak Sandra dengan kata-katanya dan ia mengajak Anita pergi dari toilet ini tanpa mau melihat Sandra lagi.
“Kenapa kau melepaskannya begitu saja, harusnya seret dia ke kantor polisi dan laporkan semua ini pada Bima!” protes Anita yang tak rela sahabatnya melepaskan Sandra begitu saja.
“Tidak ada yang salah dalam hal cinta, Ta. Kau sendiri juga bucin akut sama Excel. Aku melihatnya, sama seperti melihat dirimu meski kalian sangat berbeda. Ya sudahlah lupakan saja. Biarkan bos galak itu membenciku. Aku ikhlas. Besok antar aku ke stasiun, aku mau pulang ke kampung.”
“Kau yakin? Apa semua pekerjaanmu sudah beres?” tanya Anita agak tidak setuju dengan keputusan Aira yang hendak meninggalkan kota.
Baru juga Aira ingin melepaskan diri dari bos galaknya, tapi sang CEO tampan itu malah menjerat Aira semakin erat ke dalam pelukannya. Siapa yang nggak bingung kalau jadi Aira. Kedatangan Bima kerumahnya juga semakin membuatnya bimbang.
***
“Kebetulan Anda datang, Pak. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan,” ujar Aira pada Bima setelah keduanya ada di dalam rumah.
Anita juga langsung pamit undur diri karena tak ingin mengganggu keduanya. Lagipula, Anita masih sangat canggung bertemu Bima. Ia jadi kikuk tidak tahu harus bersikap bagaimana karena keduanya sempat dijodohkan meski telah resmi batal.
“Jangan panggil aku, ‘Pak’. Ini bukan di kantor. Di sini, aku calon suamimu. Bukan Bosmu.” Bima tetap menunjukkan sikap dinginnya kalau bicara dengan Aira.
“Maaf, Pak Bima. Saya tidak bersedia menjadi istri Anda. Sudah saya katakan sebelumnya, kita berbeda kasta ….”
__ADS_1
“Aku tidak peduli. Satu-satunya wanita yang akan kunikahi hanyalah dirimu. Kau sudah jadi milikku luar dalam, titik!” tandas Bima dan Aira sama sekali tak bisa membantah. “Sekali lagi kau memanggilku ‘Pak’ akan kunikahi kau sekarang juga!” ancamnya.
Astaga, ini orang ketempelan setan apa sampai sebegitunya? Jerit Aira dalam hati.
“Katakan apa yang ingin kau katakan? Kau ingin aku menyatakan cinta di depan semua orang?”
“Tidak!” sahut Aira cepat. “ Tolong … jangan katakan apapun. Maksud saya … tidak untuk sekarang, saya belum siap.”
“Tidak ada yang perlu disiapkan. Aku belum menentukan tanggal pernikahan kita, keluargaku juga belum tahu. Kau ingin kutentukan sekarang?”
“Tidak! Jangan! Aduh … bagaimana ini?” Aira jadi bingung sendiri menghadapi Bima. Ini benar-benar diluar dugaannya. “Apa Anda tidak tahu? Semua kaum hawa di kantor tergila-gila dengan Anda. Jika mereka tahu hubungan kita, saya khawatir mereka akan menganggap saya yang bukan-bukan. Saya butuh waktu untuk menyiapkan diri menghadapi mereka semua. Bila dikantor, bersikaplah professional layaknya bos dan bawahan. Hanya itu yang saya minta.”
“Sampai kapan?” tantang Bima. Ia menatap tajam manik mata Aira.
“Eeee … sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan!”
“Satu minggu ….”
“Tiga bulan!” sela Aira cepat. “Saya minta waktu 3 bulan.”
“Kelamaan! 1 minggu! Titik! Tidak bisa ditawar lagi! Atau kuumumkan sekarang juga!” jurus ancaman mulai Bima keluarkan lagi untuk mendapatkan Aira, agar mau menjadi miliknya. Menurut CEO galak itu, lebih cepat lebih baik.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1