
Aira sangat shock dan bingung. Sungguh ia tidak ingat apapun kalau dirinya pernah punya pengasuh semasa kecil. Yang Aira ingat adalah almarhum kedua orangtuanya meninggalkan banyak hutang dan ia harus bekerja mati-matian banting tulang demi melunasi hutang-hutang tersebut yang mencapai milyaran meski sekarang sudah hampir lunas.
Gadis itu berjuang mati-matian bertahan hidup dengan dibantu ayah Aira yang memenuhi semua kebutuhan hidupnya sedari kecil hingga ia mendapatkan pekerjaan di kantor Bima. Bahkan sekolah Aira, Bimolah yang membiayai semuanya. Wajar jika Aira merasa sangat berhutang budi banyak pada ayah sahabatnya hingga ia rela meninggalkan Bima demi Anita meski ia tahu sahabatnya itu mencintai pria lain.
Hati gadis itu campur aduk sekarang, di sisi lain ada Bima, di sisi lainnya ada keluarga Anita. Dan sekarang masalah keluarganya ternyata belum usai juga. Aira tidak tahu, apa yang harus ia lakukan sekarang. Kenapa masalah dihidupnya begitu sulit sesulit melupakan Reyhan meski Aira tidak tahu siapakah Reyhan itu.
“Bi Iyem,” ujar Bima dengan tenang. Tangannya menggenggam erat tangan sekretarisnya yang gemetar.
Bukan karena takut, tapi Aira sudah lelah dengan masalah yang bertubi-tubi menimpanya. Petir diluaran sana sedang menyambar-nyambar dan terdengar sangat menakutkan seakan ikut merasakan gejolak hati seorang Aira.
“Iya, Tuan.” Bi Iyem menatap Bima.
“Tahukah Anda di mana lokasi yang bisa kami gunakan untuk menikah?” tanya Bima tanpa di nyana-nyana sehingga membuat Aira yang tadinya sedih langsung menatapnya marah. Bi Iyem pun juga kaget karena pria tak punya akhlak ini tiba-tiba bertanya soal tempat nikah.
“Apa maksudmu?” bentak Aira. “Apa kau tidak waras? Ini hutan! Diluar sana hujan lebat? Kenapa yang kau pikirkan cuma pernikahan? Tidak bisakah kau hanya punya satu istri?
Bima benar-benar kebangetan dan sama sekali tidak memahami situasi. Disaat seperti ini, bisa-bisanya kulkas 10 pintu itu menanyakan tempat yang pas untuk melangsungkan pernikahan.
“Aku memang hanya akan punya satu istri, yaitu kau,” terang Bima santai. Padahal dua wanita beda usia inis edang memelototinya.
“Lalu Anita mau kau kemanain?”
“Ya nggak dikemana-manain lah? Emang mau dikemanain?” Bima sengaja tak memberitahu kebenarannya dan membiarkan Aira salah paham.
__ADS_1
“Aku tidak mau menikah denganmu!” tandas Aira.
“Kau harus menikah denganku, karena kau sedang hamil anakku!” sergah Bima dan Bi Iyem langsung tersentak mendengar hal itu.
Tadinya, Bi Iyem akan mendukung apapun keputusan Nona mudanya bila gadis cantik itu tidak ingin menikah dengan Bima, tapi setelah mendengar pernyataan Bima, Bi Iyem menyarankan agar keduanya menikah saja.
“Nona Aira … benarkah Anda ….”
“Tidak Bi, itu bohong. Itu hanya akal-akalan si otak miring sebelah ini. Jangan percaya padanya,” sergah Aira.
“Aku tidak bohong, kalau tidak percaya, 2 minggu dari sekarang kita periksakan kandunganmu ke dokter, pasti hasilnya positif. Kita sudah melakukannya, Ai. Jangan lupakan malam indah kita berdua. Masa harus kuingatkan lagi di sini? Malu sama Bi Iyem.” Bima mengedipkan satu matanya sambil tersenyum simpul. Sama sekali tak menunjukkan kalau dirinya malu. Justru Bima sangat menyukai wajah marah Aira.
Dibandingkan melihat Aira sedih, CEO galak itu lebih suka kalau sekretarisnya ini marah padanya. Namun, dibalik sikap Bima yang bengek ini, ia menyimpan dendam membara pada orang-orang yang sudah membuat hidup calon istrinya menderita dan bertekad akan membereskan mereka semua dengan cara Bima. Seperti apa, tunggu saja tanggal mainnya. Yang penting sekarang Bima menikah dulu dengan Aira.
Sial! Dasar kamvret ini orang! Aku terjebak, umpat Aira kesal. Meski tak dapat di pungkiri, Aira sudah jatuh hati pada bos galaknya sendiri.
“Bagaimana Bi, begitu hujan reda, tolong antarkan kami ke tempat yang bisa kami gunakan untuk menikah. Tidak perlu mewah dan tak perlu pesta, yang penting kami resmi menikah dulu. Masalah yang lain bisa menyusul.” Bima benar-benar keukeuh ingin menikahi Aira di detik ini juga. Aira sendiri tak bisa melawan karena Bima punya kartu AS-nya.
“Bagaimana, Non. Apa Anda setuju?” tanya Bi Iyem ingin tahu pendapat Aira.
“Apa saya di posisi bisa menolak, Bi? Tapi saya tetap harus mengajukan syarat.” Aira akhirnya setuju menikah dan menatap lekat-lekat wajah Bima.
“Apa syaratnya,” tanya Bima siap menerima syarat apapun untuk mendapatkan wanita yang amat dikaguminya.
__ADS_1
“Ceraikan Anita dulu,” jawab Aira dan seketika tawa Bima meledak-ledak. “Aku tidak bercanda, Bim. Kau pikir aku senang kau menceraikan Anita di saat kau baru kemarin menikahinya. Ini berat bagiku. Aku merasa bersalah pada Om Bimo. Aku sangat berhutang budi padanya. Kenapa kau membuatku semakin buruk sekarang. Apa kau puas membuatku tersiksa seperti ini?” lagi-lagi Aira menangis.
Untuk kesekian kalinya ia mengkhianati ayah Anita. Namun hati tak bisa berdusta. Aira hanya ingin menjadi wanita satu-satunya untuk Bima. Ia tak mau berbagi dengan wanita lain sekalipun itu adalah sahabatnya sendiri dan jelas tidak mencintai Bima.
Tawa Bima mereda dan ia membantu mengusap sisa bulir air mata Aira. “Ai … aku tidak bisa menceraikan Anita,” ujarnya lembut meski ia mencoba menahan agar tidak tertawa.
“Kenapa? Kau mulai suka padanya? Aku tidak mau jadi istri kedua!” untuk pertama kalinya Aira merengek pada Bima.
“Siapa yang bilang kalau kau istri kedua? Kaulah satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku!”
“Apa maksudmu?” Aira mulai bingung begitupula dengan Bi Iyem. Namun, wanita paruh baya itu lebih memilih diam melihat pasangan sejoli yang sedang sibuk berdebat ini.
“Bagaimana aku bisa menceraikan Anita kalau aku tidak pernah menikah dengannya? Apa itu masuk akal?”
“Apa?” untuk kesekian kalinya mulut Aira kembali menganga. “Kau bilang apa? Kau … tidak pernah menikah dengannya? Tapi … bukankah … kau bilang dia … bulan madu?” alis Aira terangkat dan ia semakin bingung saja.
“Tentu saja dia harus bulan madu, tapi bukan denganku, melainkan dengan Excel. Yang menikahi Anita bukan aku, Ai. Tapi Excel. Begitu kau pergi, aku langsung menyusulmu. Kita berdua dalam kesulitan sekarang karena ayahku, pasti akan membunuhku. Dan Om Bimo, juga pasti akan marah besar padamu.” Bimapun langsung memeluk tubuh tegang Aira yang sudah tak bisa didefinisikan dengan kata-kata karena ia terlalu shock setelah mengetahui banyak hal yang terjadi dalam hidupnya selama ini. Termasuk fakta bahwa Bima ternyata masih lajang.
Gadis itu menangis haru dipelukan Bima. Tidak bisa digambarkan seperti apa perasaannya saat ini, yang jelas Aira bahagia sekali. Keduanya sama-sama saling memeluk untuk meluapkan perasaan mereka masing-masing.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1