
Hembusan angin malam hari ini terasa sampai ke tulang . Guntur menggelegar seperti menandakan jika hujan akan turun . Tapi gelapnya malam seakan tak membuat seorang wanita yang tengah meringkuk di atas ranjang empuknya merasa kan kantuk .
Menunggu suami pulang ?
Tidak bisa tidur karena suami belum pulang ?
Mengkhawatirkan suami yang belum pulang ?
Entah pertanyaan mana yang tepat untuk seorang istri yang tidak bisa tidur itu .
Apakah cinta itu sudah mulai hadir tanpa keduanya sadari ?
Cinta itu harus di ungkapakan atau hanya ya sekedar tindakan dan tidak perlu di ungkapkan .
" Kenapa aku tidak bisa tidur ?" tanya Nada kepada dirinya sendiri .
" Padahal sudah hampir tengah malam " gumam Nada lagi .
jeduarr
Suara guntur terdengar lebih nyaring dari sebelumnya .
" Aaaa " teriak Bella terkejut karena lampu apartemen jadi mati .
Seluruh ruangan menjadi gelap karena di luar pun sama gelapnya . Nada tidak berani untuk keluar , dia memilih untuk berdiam diri dengan ponsel yang di genggamnya dan menghidupkan senternya .
Nada mendengar suara pintu terbuka . Nada bersiap berjaga-jaga . Hingga tak berselang sorot lampu mendekat ke arah kamarnya . Dan sebuah bayangan ikut mendekat bersama lampu yang berjalan itu .
" Siapa itu ?" tanya Nada sedikit keras .
" Apa yang harus aku lakukan . Apartemen mewah tapi mati lampu . Apa-apaan ini " gerutu Nada .
Derap kaki terdengar semakin dekat . Nada menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya .
" Ini benar-benar seperti uji nyali " ucap Nada dengan tangan bergetar , tapi masih menekan tombol-tombol angka di ponselnya untuk menghubungi Meta
" Kenapa belum tidur " suara berat mengejutkan Nada .
Nada segera membuka selimutnya dengan perlahan . Dapat terlihat wajah lelah suaminya . Ada rasa lega seketika melihat suaminya berada di hadapannya .
" Kenapa belum tidur ?" tanya Marvin lagi .
" Aku takut " ucap Nada lirih .
" Aku membersihkan tubuh ku dulu . Setelah itu aku temani tidur " ucap Marvin melepas jas yang melekat di tubuhnya .
Nada tidak menjawab . Tapi merasa ada getaran aneh yang dia rasakan ketika suaminya berkata seperti tadi .
" Ada apa dengan ku ? Kenapa jantung ku berdegup sedikit cepat ? Apa aku ... Aihh membayangkan saja sudah membuat ku takut .. Besok aku harus memeriksakan kesehatan jantung ku " gumam Nada .
Ceklek
" Kenapa masih belum tidur ? Menunggu suami mu pulang ? " tanya Marvin dengan nada menggoda .
" Tidak . Aku hanya tidak bisa tidur saja . Dari tadi guntur terus menggelegar . Membuat ku takut " ucap Nada
__ADS_1
" Oke baiklah . Mau tidur atau .. " Marvin menaik turun kan alisnya .
" Apa ? " pertanyaan bodoh lolos begitu saja di bibir Nada .
Pertanyaan macam apa itu . kesal Nada merutuki kesalahan dirinya sendiri . Tapi sudah terlanjur ya bagaimana lagi .
" Hubungan suami istri pada umumnya " ucap Marvin lalu merangkak naik ke atas tubuh Nada .
Nada masih sama dengan posisi hanya sebatas dagu saja yang dia buka .
" Apa kamu tidak lelah ?" ucap Nada .
Pertanyaan bodoh apa lagi ini ..batin Nada .
" Jika menyangkut hal ini aku tidak merasa lelah " ucap Marvin lalu mencium kening istrinya dan menarik selimut istrinya secara perlahan .
Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Nada jika sudah begini .
Apa ungkapan cinta masih perlu jika sudah begini ? Tentu . Itu harus . Ungkapan cinta itu sebuah kata sederhana namun bisa membuat hati merasa tenang dan tersanjung . Ada rasa memiliki satu sama lain . Bukan hanya sekedar membutuhkan .
" I love you " bisik Marvin sebelum memulai penyatuannya.
Untuk sesaat Nada terdiam mencerna apa yang batu saja dia dengar . Meski hanya seperti sebuah bisikan tapi Nada yakin Marvin mengatakan itu . Tapi tidak mau berpikir lebih Nada tidak bertanya atau menjawab . Dia sendiri masih belum tahu apa itu cinta .
" Jangan di pikirkan . Nikmati saja " ucap Marvin lagi .
Terlihat rona merah di wajah cantik Nada .
Hujan malam ini cukup deras . Guntur seeing bersahutan . Gelapnya malam di tambah gelap akibat lampu yang entah kenapa semua menjadi padam .
Setelah malam panjang yang mereka lalui mereka berpelukan di balik selimut tebal tanpa mengenakan sehelai benang pun .
" Apa kamu masih memikirkan apa yang aku katakan tadi ?" ucap Marvin .
Nada diam untuk sesaat sebelum menjawab pertanyaan Marvin .
" Memangnya tadi kamu ngomong apa ? " tanya Nada yang memang sedari tadi ingin memastikan apa yang dia dengar .
" Aku ngomong apa.? Yang bagian mana ? Dan di saat apa ?" tanya Marvin mencoba menggoda Nada .
" Lupakan " Nada lalu berbalik memunggungi suami nya .
" I love you . Aku cinta kamu " bisik Marvin dengan lembut lalu mengecup bahu polos Nada
Tidak ada jawaban dari Nada .
" Apa kamu tidak mau menjawab ? " tanya Marvin .
" Baiklah jawab nanti setelah aku pulang dari luar kota . Oke " ucap Marvin lagi .
Tidak ada juga jawaban dari istrinya . Marvin menatap Nada yang ternyata sudah berada di alam mimpi .
" Ternyata tidur . Sia - sia gue ngomong panjang lebar " ucap Marvin .
" Ternyata sudah jam 3 . Baiklah , selamat malam sayang I love you " ucap Marvin dan ikut menyusul istrinya ke alam mimpi .
__ADS_1
Suara kicauan burung pagi ini sama sekali tidak mengganggu sepasang suami istri yang masih meringkuk di bawah gulungan selimut tebalnya . Ke duanya saling berpelukan seakan mencari kehangatan satu sama lain .
Dering alarm yang di pasang oleh Marvin pun tak berguna sama sekali .
Cuaca hari ini memang cukup dingin . Mungkin sisa hujan semalam yang membuat pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya .
drt drt drt
Suara dering ponsel milik Marvin terus berbunyi . Terlihat ada banyak panggilan masuk dan juga beberapa pesan . Namun semua itu tidak mengusik ke duanya . Rasa kantuk yang mereka rasakan masih lebih dominan .
ting tong ting tong .
Setelah menghubungi sang empu nya tidak juga membuahkan hasil . Sang asisten memutuskan untuk menghampiri sang pemilik kuasa atas kinerjanya .
" Sialan . Tumben banget sih nih anak belum juga bangun . Mentang-mentang mau pergi ke luar kota minta jatah dulu pasti " gerutu Bram .
ting tong ting tong .
Bel berbunyi hingga beberapa kali . Dan Nada lah yang bangun terlebih dahulu . Nada meregangkan ototnya dan mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran .
*tibg tong ting tong .
Dan bunyi bel untuk ke sekian kalinya . Hingga membuat si pemencet bel ingin sekali mendobrak pintu di depannya* .
" Kak ada yang datang kayaknya " suara serak Nada membangunkan Marvin .
" Hemm " jawab Marvin mencoba membuka matanya yang tidak bisa di ajak kompromi .
ting tong ting tong
" Tuh kan " ucap Nada .
" Baiklah . Aku akan melihat " ucap Marvin lalu bangun dari ranjangnya .
Nada bengong menatap apa yang hampir saja di lakukan Marvin . Sungguh lelaki di depannya ini belum sepenuhnya bangun .
" Kakak " ucap Nada sedikit meninggi .
" Apa ?" tanya Marvin dengan mata yang masih menyipit .
" Itu . Kamu mau keluar seperti itu " lirih Nada tanpa melihat pemandangan yang mubazir jika di lewatkan .
" Oh iya " ucap Marvin setelah mengecek keadaannya . Dengan cengengesan Marvin mengambil celana bokser miliknya .
Marvin segera berjalan menuju pintu apartemennya .
" Sialan lo ... gue udah lumutan ini nungguin lo . Dan lo enak-ensk masih tidur ? Lo hari ini harus ke luar kota . Kalau telat kayak gini , ini bukan lo banget tahu nggak . Dan bau-baunya semalam lo habis menghabiskan waktu yang panjang " cerocos Bram ketika melihat si pembuka pintu .
" Hati ini keluar kota? Kenapa sih lo nggak bangunin gue dari tadi " ucap Marvin lalu menutup pintunya lagi .
Bram yang hendak masuk terkejut saat Marvin sang sahabat tak tahu malu itu menutup pintu begitu saja .
" Marvin " teriak Bram begitu saja tanpa menghiraukan penghuni apartemen lain yang sedang berlaku lalang di sana
" Ya allah gini amat punya teman " ucap Bram lalu duduk lemas setelah lama menunggu pintu itu di buka untuknya .
__ADS_1